Keesokan harinya, Freya terbangun saat matahari sudah sangat tinggi. Cuaca terlihat panas terik tapi Freya merasa sangat kedinginan. Ia menatap sekelilingnya, mencari pria yang sejak semalam terus memeluknya, tapi sudah tidak ada Sean disana.
Freya lalu turun dari ranjang, dan pada saat itu ia menyadari jika tubuhnya masih polos. Ia juga merasakan daerah intinya cukup perih meski tidak terlalu parah, mungkin karena semalam rudal Sean gagal menjebol gawangnya.
"Ssshhh ... Rasanya sakit sekali, kenapa semua orang sering melakukannya jika seperti ini," ucap Freya mendesis pelan, baru pertama kali ini ia merasakan bagaimana bercinta meski belum sepenuhnya. Dan Freya merasa tidak ada hal yang mengenakkan dari itu semua.
Perlahan-lahan Freya mengambil salah satu milik Sean dan memakainya tanpa menggunakan dalaman. Freya juga dengan santainya langsung turun untuk mencari dimana Sean. Ternyata pria itu sedang ada di dapur.
Mendengar suara derap kaki yang mendekat, Sean langsung menoleh, ia mengulas senyum tipisnya saat melihat Freya.
"Selamat pagi, bagaimana keadaanmu?" tanya Sean.
"Kau masih bertanya setelah kau gagal membobol gawang ku?" sahut Freya terdengar santai, namun jawabannya itu membuat mata Sean terbelalak lebar.
"Kau?" Sean menggaruk kepalanya yang tidak gatal, ia seperti kelimpungan sendiri karena tidak menyangka jika Freya akan berbicara sefrontal itu. "Itu juga salahmu, aku tidak akan melakukannya kalau tidak ada celah," kata Sean mencari-cari alasan.
"Lupakan, sekarang aku mau pinjam uang," kata Freya bangkit dari duduknya lalu menghampiri Sean yang terlihat sedang memanggang roti.
"Apa?" Sean melirik Freya seraya mengangkat alisnya.
"Ya, kau baru pulang bekerja, pasti memiliki banyak uang 'kan? Ayo pinjamkan dulu padaku uangmu, nanti aku akan ganti," kata Freya to the point saja.
Sean menggelengkan kepalanya pelan. "Tidak, aku tidak punya uang. Sekarang aku tanya padamu, sebenarnya kau ada masalah apa sampai tidak mau pulang? Apa kau tidak berpikir kalau mungkin saja orang tuamu khawatir dirumah?" ucap Sean.
"Ck, aku meminjam uang, bukan meminta kau menceramahiku," ketus Freya begitu jengkel, sudah dua hari ini badannya seperti ditusuk-tusuk jarum karena tidak mengkonsumsi obatnya, Freya yakin jika ia tidak segera meminumnya ia bisa gila nanti
"Dan aku menolak memberimu uang, sekarang apa yang akan kau lakukan?" ucap Sean tak kalah ketusnya.
"Ayolah Sean, jangan terlalu naif, berikan saja aku uangnya, aku janji pasti akan menggantinya nanti. Ya, meskipun butuh waktu," kata Freya menarik-narik baju Sean, bermaksud merayu pria itu.
"Tidak!" Sean menggeleng tegas. "Darimana kau tahu namaku?" tanyanya seraya mengernyit, kini ia sudah selesai memanggang roti dan menatanya di pantry.
"Entah, aku lupa darimana aku tahu namamu. Yang jelas sekarang ayo berikan uangnya, kau tidak kasihan melihatku seperti kemarin?" ujar Freya mengikuti Sean layaknya itik yang mengikuti induknya, ia harus mendapatkan uang itu bagaimanapun caranya.
"Justru aku akan lebih kasihan jika kau seperti ini, berhentilah mengkonsumsi obat itu. Nyawamu bisa berada dalam bahaya, lebih baik sekarang kau pulang, aku akan mengantarmu. Jika kau takut orang tuamu akan marah, aku akan membantu menjelaskannya, bagaimana?" ucap Sean, sekali lagi mencoba membujuk Freya untuk tidak lagi terjerumus dalam pergaulan yang salah, pasalnya ia tahu jika Freya adalah wanita baik-baik. Terbukti di dunia hedonisme seperti ini, Freya masih bisa mempertahankan kesuciannya.
"Ck, kalau kau memang tidak mau membantuku, ya sudah. Tidak perlu menceramahiku seperti itu, aku akan pergi dari rumahmu ini. Itu 'kan yang kau inginkan? Baik, aku akan pergi, dasar pria sombong," sergah Freya langsung saja emosi, ia mendorong tubuh Sean dengan kasar lalu berjalan pergi seraya menghentakkan kakinya ke lantai.
Sean mengangkat alisnya, malah ingin tertawa melihat tingkah Freya yang menurutnya seperti anak kecil. Apalagi dengan menggunakan kaosnya yang kedodoran membuat Freya semakin lucu.
"Dia benar-benar akan pergi?" gumam Sean menatap kearah pintu tengah rumahnya yang kosong. "Biarlah, justru itu bagus, aku tidak perlu repot mengurusinya lagi," sambungnya lagi, lalu memilih untuk menikmati sarapannya.
Namun, baru saja ia mengigit rotinya terdengar suara derap kaki yang melangkah. Dari jarak lima meter, Sean sudah tersenyum geli melihat Freya yang kembali lagi dengan wajahnya yang bersungut-sungut kesal.
"Kenapa kembali lagi? Bukannya kau ingin pulang?" ujar Sean mengulas senyum mengejeknya.
Freya memainkan mulutnya, wajahnya sudah memerah malu, tapi tidak ada jalan lagi selain ia kembali lagi ke rumah ini. Freya lalu mengangkat dagunya dengan angkuh.
"Aku memang ingin pergi, tapi ... aku butuh ongkos pulang, berikan aku ongkos pulang sekarang," kata Freya menengadahkan tangannya pada Sean.
Sean semakin tersenyum. "Kau tidak salah? Aku 'kan pria sombong, untuk apa juga aku membantumu?" ucap Sean sengaja memainkan emosi Freya, ia suka sekali melihat wajah Freya yang memerah kesal itu.
"Sean, ayolah, jangan mempermainkanku. Cepat berikan aku uang agar aku bisa secepatnya meninggalkan rumahmu ini," kata Freya menyerah juga akhirnya, ia mendekati Sean lalu duduk disamping pria itu. "Berikan ya? Siapa tahu juga kau mau memberi bonus, 2 juta saja Sean, itu sudah cukup untuk membeli sedikit amunisiku, ya ..." ucap Freya mengedipkan matanya berkali-kali, membuat ekspresi sangat lucu sekali.
Sean hampir saja tersenyum, tapi ia menahannya sekuat tenaga agar terlihat wajahnya sangat datar. "Kau tahu, semua yang ada didunia ini tidak ada yang gratis," kata Sean.
"Aku tahu, memangnya apa yang kau inginkan? Bukankah aku sudah tidak punya apa-apa kecuali yang aku bawa saat ini, itupun kau sudah mencicipinya," ujar Freya melirik Sean dengan matanya yang indah.
Kali ini Sean tidak mau menahan dirinya untuk tidak tertawa. Ia terbahak-bahak mendengar ucapan Freya. "Astaga, aku baru mencicipinya sedikit, belum sepenuhnya masuk tapi kau sudah menangis duluan, dasar payah," ucap Sean semakin mengejek Freya.
"Hei, itu juga karena tongkatmu itu yang terlalu besar, kalau tidak pasti bisa masuklah," sergah Freya tidak terima diejek seperti itu.
"Jadi, kau mengakuinya?" Sean semakin melebarkan senyumnya mendengar jawaban polos dari Freya.
"Eh, bukan seperti itu. Maksudku ..."
"Sudah akui saja kalau memang besar, kau pasti suka 'kan? Apa kau mau merasakannya lagi?" ucap Sean mengerlingkan matanya menggoda. Namun sedetik kemudian ia terkejut sendiri karena tingkahnya langsung berubah sangat drastis saat bersama Freya, kapan ia bisa secair ini pada seorang wanita?
"No! Kau pikir aku bodoh, aku akan memberikannya kalau kau juga memberikan apa yang aku mau, bagaimana?" kata Freya entah kenapa mendadak punya ide gila dikepalanya.
"Maksudmu?" Tanya Sean mengangkat alisnya, masih belum terlalu paham ucapan Freya.
"Ya, seperti hubungan timbal balik. Aku akan memberikan kesucianku padamu, tapi sebagai gantinya kau berikan aku uang," kata Freya sudah tidak memikirkan apapun lagi, saat ini yang ia butuhkan hanya pil ekstasi dan ganja agar ia bisa menghilangkan rasa menyakitkan ditubuh dan juga hatinya. Baginya tidak masalah jika harus kehilangan kesuciannya, toh Sean juga sudah melihat segalanya.
Happy Reading.
TBC.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 95 Episodes
Comments
⁽⁽ଘ[🐾©️le🅾️🦋]ଓ⁾⁾
Oh Tidaakkk🙈🙈🙈🙈
2023-05-27
3
Marsiana Lodovika
lanjut kak
2023-05-17
1
may
semangat lanjut
2023-05-17
1