Plakk!!!
Sebuah tamparan yang begitu keras mendarat sempurna dipipi mulus Freya. Wanita itu baru menginjakkan kakinya dirumah dan langsung mendapatkan hadiah yang mengejutkan dari Ayahnya. Freya hanya diam meski saat ini pipinya terasa begitu pedas.
"Mau jadi wanita apa kau! Setiap hari kerjaannya hanya mabuk-mabukan dan tidak pernah dirumah! Kau ingin membuat Ayah malu?!" Hardik Morgan begitu murka karena semalaman Freya tidak pulang kerumah.
"Kenapa Ayah harus malu? Aku bahkan tidak malu saat Ayah menikahi ja la ng murahan ini!" seru Freya menunjuk batang hidung Andriana dengan begitu kesal.
Menurut Freya, Ibu tirinya itu yang membuat Ayahnya berubah 180 derajat. Semenjak menikah dengan wanita itu, Ayahnya sering kali marah dan sering menghukum Freya, tapi Ayahnya akan sangat memanjakan wanita yang sepantasnya yang menjadi Kakaknya itu.
"Kurang ajar! Semakin hari kau semakin tidak bisa diatur, kemari," geram Morgan langsung menarik tangan Freya dengan kasar.
"Lepaskan aku Ayah!" teriak Freya berontak.
"Mas, mau dibawa kemana Freya? Jangan terlalu memarahinya Mas, dia masih anak muda, sudah sewajarnya dia keluar," ujar Andriana ikut menimpali, seolah sedang membela Freya, padahal Freya tahu jika wanita itu hanya berpura-pura saja.
"Diam kau wanita hina! Bukannya kau senang melihatku seperti ini? Puas kau sekarang? Kau ingin menguasai harta Ayahku 'kan? Dasar wanita sampah!" teriak Freya begitu kesal, tatapannya begitu tajam seolah bisa membunuh Andriana.
"Freya! Jaga bicaramu!" bentak Morgan mencengkram lengan Freya dengan sangat kuat. "Cepat minta maaf dengan Ibumu," titahnya lagi.
"Ayah memintaku minta maaf padanya? Cih ..." Freya malah meludah kelantai dan menantang tatapan mata Ayahnya. "Aku tidak akan sudi, lebih baik aku membunuh diriku sendiri daripada aku harus melakukannya. Wanita sampah sepertinya-"
Plak Plak!!
Dua tamparan kembali dilesatkan Morgan ke pipi Freya sebelum wanita itu mengucapakan kata-kata yang membuat darahnya mendidih. Andriana saja sampai syok melihat apa yang dilakukan Morgan, tapi dalam hati ia tertawa puas karena hal itu menurutnya sangat pantas Freya dapatkan.
"Kau memang anak tidak tahu diri! Mulai detik ini, Ayah akan menghukummu, kau tidak boleh keluar rumah untuk alasan apapun. Jika kau melanggar, Ayah akan mengirimmu keluar negeri," ujar Morgan sama sekali tidak peduli putrinya itu kesakitan atau tidak.
Freya tersenyum penuh ironi, ia mengusap air matanya yang tiba-tiba meleleh begitu saja. "Ayah jahat, hanya karena wanita ini Ayah menyakiti putri Ayah sendiri? Aku membencimu Ayah," lirih Freya menarik tangannya dengan kasar lalu berlari menuju kamarnya dilantai atas.
Morgan menghela nafas panjang, ia benar-benar dibuat pusing dengan kelakuan Freya yang akhir-akhir ini berubah sangat drastis.
"Mas, yang sabar ya. Aku juga minta maaf karena aku hubungan Mas dan Freya jadi tidak baik, maafkan aku, Mas," ucap Andriana mendekati suaminya, ia memasang wajahnya yang bersalah didepan suaminya.
"Kenapa harus minta maaf? Ini semua bukan salahmu Ana, aku rasa aku hanya terlalu memanjakan Freya, makanya dia jadi seperti ini," kata Morgan mengusap pipi Andriana.
"Apa aku pergi saja dari rumah ini Mas? Aku tidak mau setiap hari Mas akan bertengkar dengan Freya," kata Andriana masih dengan wajah bersalahnya.
"Tidak perlu, lagipula aku yakin, suatu saat nanti Freya pasti bisa menerimamu. Dia hanya butuh waktu saja, percayalah dia akan menyukai Ibunya yang cantik ini," ucap Morgan menjawil dagu istrinya, menggoda dengan tatapan matanya.
"Ih Mas, jangan seperti itu. Aku malu Mas," ucap Andriana tersipu-sipu.
"Malu kenapa? Kita 'kan sudah suami istri? Ayo, berikan aku saku sebelum berangkat ke luar kota," ujar Morgan menarik pinggang istrinya menggoda.
"Eh? Mas mau ke luar kota?" tanya Andriana cukup kaget mendengar kabar itu.
"Ya, ada beberapa hal yang harus aku kerjakan. Tidak apa-apa 'kan kalau aku meninggalkanmu dirumah sendiri bersama Freya?" ujar Morgan.
"Ya tidak apa-apa Mas, tapi bagaimana kalau Freya memaksa ingin pergi dari rumah?" kata Andriana tersenyum manja pada suaminya.
"Tidak akan, aku akan memerintahkan kepala pelayan untuk menguncinya dikamar saja. Kau sudah tenang 'kan?" kata Morgan dengan begitu entengnya, ia menenggelamkan wajahnya dileher Andriana, terlihat sekali pria tua itu sudah sangat bernafsu.
"Ah Mas, geli, jangan disini," kata Andriana mencoba mendorong suaminya.
"Kalau begitu, kita pindah ke kamar sekarang," bisik Morgan mencium bibir Andrian sebelum menggendong wanita itu menuju kamarnya.
Andriana tentu saja membalasnya, ia tidak merasa jijik meski harus bercinta dengan Morgan yang umurnya cukup jauh berbeda dengannya. Toh ia hanya butuh uang dari pria tua itu dan kemewahan hidup, jika ia bosan dan ingin mencari sensasi, ia bisa saja menyewa jasa gigolo untuk menuntaskan hasratnya.
******
Malam mulai datang, Sean sudah riwa-riwi di club' malam untuk mencari targetnya. Sebenarnya juga tidak perlu mencari, ia hanya duduk diam pun pasti sudah ada yang akan menghampirinya. Jadi ia hanya duduk menunggu dengan menyulut rokoknya.
"Baby, akhirnya kita bertemu lagi." Baru beberapa menit saja, sudah ada seorang Ibu-ibu muda yang menghampiri Sean, wanita itu memakai baju kurang bahan yang menunjukkan propertinya yang luber-luber.
"Hai baby, senang bertemu denganmu juga," sahut Sean tanpa canggung langsung mencium bibir wanita itu.
"Aku menagih janjimu baby, malam ini bersamaku," kata wanita itu mulai menggesekkan benda kebanggaannya ke lengan Sean untuk menggoda pria itu.
"Boleh saja, tapi aku ingin menikmati waktuku sebentar, tidak masalah 'kan Baby?" kata Sean merasa belum saatnya ia masuk kedalam kamar dan membagi peluh, ia sedang menunggu seseorang.
"No problem Baby, aku selalu sabar menunggumu," kata wanita itu sama sekali tidak keberatan jika harus menunggu pria setampan Sean.
Sean tersenyum tipis, ia memberikan bonus sebuah kecupan manis dibibir wanita itu agar membuat wanita itu semakin tersipu-sipu olehnya. Dan ia kembali mengedarkan pandangannya untuk mencari wanita yang semalam ditemuinya.
"Kemana dia? Apa dia tidak datang?" gumam Sean.
"Baby, apakah masih lama?" tanya wanita yang sejak tadi menggelayuti lengan Sean.
"Sebentar lagi baby, mungkin kau bisa memulai pemanasan dulu," ucap Sean sedikit merayu wanita itu, ia menarik lembut tangan wanita itu untuk menyentuh rudal kebanggaannya.
Wanita itu berbinar cerah saat bisa menyentuh benda yang akan membuatnya men de sah itu, pikirannya langsung liat dan tanpa ragu langsung membuka resleting celana Sean.
Namun, disaat bersamaan ada wanita lain yang datang menghampiri Sean dan duduk disisi lainnya.
"Sayang manis, malam ini sama Tante ya? Tadi Tante sudah menghubungi Anton, katanya lagi free," ujar wanita cantik sosialita yang berambut pirang dan baru saja datang itu.
Sean baru ingin menjawab namun wanita yang sebelumnya datang langsung mendorong wanita pirang itu dengan kasar.
"Tidak bisa, malam ini dia bersamaku, carilah pasangan lain," sergah wanita itu tidak rela jika Sean akan bermain dengan wanita lain.
"Eh? Siapa kau ini? Aku harus bersamanya malam ini," tukas wanita pirang tidak mau kalah. "Sayang manis, malam ini sama Tante ya, Tante akan bayar dua kali lipat," ujar wanita pirang merayu Sean.
"Aku akan membayar 3 kali lipat," sahut wanita satunya.
"Aku 5 kali lipat."
Kedua wanita itu malah saling berebut menaikkan harga yang akan diberikan pada Sean membuat pria itu semakin kesenangan. Dan tentunya ia akan memilih dengan harga yang paling tinggi karena akan sangat menguntungkan.
"Aku akan membayar 10 kali lipat." Terdengar suara seroang wanita yang menyahut, namun bukan kedua wanita tadi, melainkan ada orang lain yang datang membuat semua perhatian jatuh kepadanya.
Happy Reading.
TBC.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 95 Episodes
Comments
Ita rahmawati
laki² yg mnjijik kn 🤮🤮
2023-06-04
3
Nona Muda❤️
Waduh waduh, Sean jadi rebutan 🙈
2023-05-07
1