"Aku sudah membayar semua hutangnya, mulai sekarang jangan coba-coba lagi menganggu keluargaku. Kau juga sudah menandatangani surat perjanjian diatas materai, jika kau berani melanggarnya, kau akan tahu akibatnya."
Sean berbicara sangat tegas dan begitu dingin kepada Bibinya yang bernama Anita itu. Wanita berumur 40 tahunan, itu tampak hanya memandangnya malas. Penampilannya yang modis membuat wanita itu masih seperti layaknya wanita yang belum berumur 40 tahun.
"Ah, kau ini memang sangat sombong ya? Sebelum seperti ini, apa kau lupa siapa yang sudah mengajarimu caranya memuaskan wanita?" cetus Anita gregetan rasanya, melihat anak kecil yang dulu masih gemetaran saat pertama kali ia mengajaknya bercinta, kini malah menentangnya terang-terangan.
Sean mengepalkan tangannya erat, seketika ingatannya langsung melayang pada saat ia masih duduk di bangku SMP. Dimana ia dipaksa untuk memuaskan Bibinya yang menjijikan itu.
"Bi, aku tidak mau, aku tidak bisa Bibi," pinta Sean berontak saat Bibinya itu menyuruhnya membuka baju.
"Jangan banyak bicara, daripada kau sering mimpi basah, ayo Bibi kasih tahu rasanya," ujar Anita tetap memaksa Sean untuk membuka baju serta celananya.
Sean terus saja menolak, ia memang sudah mengerti tentang pendidikan s e x, tapi ia tidak ingin melakukan hal itu sebelum menikah atau mengenal wanita yang ia cintai. Sayangnya Bibinya yang mempunyai nafsu yang sangat besar itu tetap memaksa Sean dengan menyesap lolipop milik Sean.
"Bibi ...,"
"Kau suka 'kan? Ayo kita lakukan Sean, Bibi janji tidak akan memberitahukan ini kepada Ibumu," ujar Anita mendorong tubuh kurus Sean ke ranjang lalu menunggangi keponakannya yang kala itu masih perjaka ting-ting.
Sean mengepalkan tangannya sangat kuat, perutnya seketika langsung bergejolak ingin muntah saat itu juga. Tapi Sean menahannya sekuat tenaga agar tidak terlihat lemah didepan Bibinya.
"Hentikan omong kosong mu Anita! Ingat kata-kataku baik-baik, jika kau masih mencoba mendekati keluargaku, kau pasti habis. Ingat, aku bukan Sean yang dulu lagi," bentak Sean menggebrak meja didepannya dengan kasar lalu pergi meninggalkan rumah Bibinya bersama Adiknya Mayka.
Sean masih terus menahan rasa mual dan pusing diperutnya meski saat ini hatinya sudah lega karena sudah menyelesaikan urusannya dengan Bibinya yang menjijikan itu.
"Sialan!" umpat Sean begitu geram, saat sadar jika saat ini ia masih menyimpan trauma yang mendalam kepada Bibinya.
Pasalnya, pemaksaan itu bukan kali pertama Sean melakukan hubungan, tapi Bibinya itu sering mengajaknya bercinta sampai Sean muak dan memilih pergi meninggalkan rumahnya.
Namun, takdir seolah tidak mengizinkan Sean untuk bisa menjalani kehidupan dengan tenang, karena pergi dari Bibinya, justru semakin semakin terjerumus kedalam belenggu dosa yang mematikan.
*****
"Sayang, sudah aku duga kau pasti datang. Aku sudah sangat tidak sabar dengan liburan kali ini."
Andriana menyambut kedatangan Sean dengan sangat antusias, ia bahkan tanpa canggung langsung memeluk dan mencium mesra bibir Sean itu.
"Aku juga sudah tidak sabar baby, kemana kita akan pergi?" Sean menyahut dengan wajah yang penuh senyum, ia kembali memposisikan dirinya sebagai gigolo yang harus menyenangkan wanita yang menyewa jasanya.
Untungnya tadi ia sudah meminum obat dan berhasil meredakan rasa traumanya. Sehingga saat ini ia bisa melanjutkan pekerjannya dan yang paling penting sebagai bayaran uang yang telah dipinjamnya kemarin untuk melunasi hutang dirumah Bibinya.
"Liburan kali ini kita akan pergi menggunakan kapal pesiar, kita bisa bercinta sepuasnya disana tanpa takut akan ketahuan oleh suamiku, ayo," ujar Andriana langsung saja menggandeng tangan Sean dan mengajaknya pergi.
Sean tersenyum kecil, sudah terbiasa memang para tante-tante loyal itu mengajaknya pergi berkencan. Namun kali ini pengalaman pertama Sean pergi menggunakan kapal pesiar yang bisa dipastikan bukan orang sembarangan yang bisa menaikinya.
"Malam ini aku ingin kau bermain lebih agresif Sayang, yang kemarin itu ... aku sangat menyukainya," ucap Andriana sudah mulai belingsatan menggoda Sean dengan menciumi dada pria itu.
"Tenang saja Baby, akan aku pastikan kau akan menjeritkan namaku berkali-kali dan kau akan memohon ampun padaku," bisik Sean mengigit pelan tangan Andriana yang menggodanya itu.
Andriana terperanjat, ia tersenyum sangat manis lalu segera me lu mat bibir Sean dengan penuh nafsu. Padahal saat ini mereka masih berada di mobil dan perjalanan ke pelabuhan, tapi sepertinya Andriana sudah tidak sabar untuk merasakan tusukan rudal Sean.
"Sayang ...," lirih Andriana menatap Sean dengan raut wajah memohonnya.
Sean tersenyum tipis, ia lalu menutup sekat antara kursi supir dan penumpang agar tidak ada yang melihat apa yang dilakukannya. Setelah itu, Sean segera membuka celananya dan menunjukkan rudalnya yang mengacung tegak, bersikap untuk dilesatkan.
"Sssshhh ...," Andriana membasahi bibirnya, semakin bergairah melihat hal itu, tanpa menunggu waktu lama, ia segera duduk dipangkuan Sean dan memasukkan miliknya.
"Oughhhh ... ini sangat besar, aku suka emhhh ...," Andriana men de sah tidak karuan dan langsung saja menaikturunkan tubuhnya dengan sangat cepat.
"Kau suka Baby?" tanya Sean me re mas kasar bokong Andriana dan sesekali menamparnya agar wanita itu semakin menjerit.
"Yeah ... aku suka, kiss me slowly Baby .." Andriana menyahut diiringi de sa hanya, ia lalu mengarahkan buah melonnya untuk dinikmati Sean dan memecut gairahnya agar keluar.
Sean tentu saja langsung melahapnya dengan kasar, ia sudah tahu tipe wanita seperti Andriana ini sangat suka dikasari. Sean juga menjambak rambut wanita itu agar membuat Andriana semakin menjerit keasikan.
"Oughhh ... lebih cepat ... ahhhh ..."
Andriana terus men de sah dan bergerak sangat liar sampai dirinya puas dan lemas. Padahal saat itu mereka masih berada didalam mobil, tapi tidak memupuskan semangat Andriana untuk menggali nikmat dunia itu.
Andrian sangat puas sekali dengan permainan Sean, apalagi pria itu sangat tampan membuat gairah Andriana berpacu dengan cepat. Selama seminggu ini, ia sudah membayangkan akan bercinta dengan sangat panas bersama gigolo sewaannya itu.
******
Sementara itu, di rumah Sean. Freya terlihat baru bangun dari tidurnya. Wanita itu tampak sangat kebingungan mencari Sean yang tidak ada dimana-mana. Kakinya yang masih sakit bertambah nyeri karena ia harus berjalan mencari Sean.
"Ih, ini kemana sih orangnya? Main ninggalin anak orang aja, memangnya dia tidak khawatir kalau ada yang mau menculikku?" Freya menggerutu sangat kesal, ia sudah cukup lelah dan lapar tentunya.
"Ah, biarin lah, mendingan gue nyabu buat nyegarin otak. Nggak ada gunanya juga ngurusin itu orang. Palingan nanti juga pulang," ucap Freya mengambil obat terlarang miliknya dan mengkonsumsinya. Dengan meminum obat itu, Freya bisa tidak makan selama seharian dan tubuhnya tidak mudah lelah. Hanya saja terkadang Freya mengkonsumsinya terlalu berlebihan sehingga membuat ia tidak ingat apapun.
Freya hanya tidak tahu jika saat ini Sean sedang liburan bersama Ibu tirinya dan akan pulang entah kapan.
Happy Reading.
TBC.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 95 Episodes
Comments
Shyfa Andira Rahmi
ngga takut kena pnyakitkah si Sean ini...kayanya ngga pernah pke pengaman ishh ngeri x bayanginnya 😬😬😬
2025-03-02
0
Setiaji Muhammad
dassar anita gila
2023-11-03
1
Bucinnya Rajendra 💞
OMG Andriana 😪
2023-05-18
1