Sean akhirnya bisa bernafas lega setelah bebas dari para wanita haus akan belaian itu. Ia kini sudah perjalanan pulang kerumahnya dengan hati riang dan rekening aman. Setelah malam bersama Clara waktu itu, Sean langsung mendapatkan uang yang sangat banyak, bahkan wanita itu sempat meminta nomor teleponnya karena masih merasa kurang dengan service yang diberikannya.
Namun, Sean tidak memberikannya, ia harus menenangkan dirinya setelah seminggu ia terus mengeluarkan benih-benih unggul yang tiada henti. Selain itu, Sean juga sudah sangat tidak sabar ingin bertemu dengan wanita asing yang selalu memenuhi otaknya itu.
"Kira-kira apa dia masih ada di rumah?" gumam Sean menatap pemandangan kota yang begitu padat merayap.
Tidak sampai 1 jam, mobil yang membawa Sean akhirnya sampai didepan rumahnya. Sean langsung turun dan masuk kerumahnya dengan menggunakan kunci cadangan miliknya.
Sepi, itulah yang Sean rasakan begitu masuk rumah. Namun, ia harus menghela nafas panjang saat melihat ruang tamunya sangat berantakan sekali. Menandakan jika Freya masih berada di rumah itu.
"Hei wanita asing, dimana kau? Beraninya kau mengotori rumahku seperti ini," kata Sean mempercepat langkahnya untuk masuk lebih dalam kerumahnya.
Sesampainya diruang tengah, ruang makan, semuanya sama saja, sangat berantakan dengan bungkus snacks dan juga piring, gelas kotor yang berserakan. Sean berdecak kesal, jika ruang bawah sekacau ini keadaannya, bagaimana keadaan kamarnya, pasti akan lebih kacau.
"Dasar wanita itu, dia benar-benar sangat ceroboh dan tidak tahu kebersihan," gerutu Sean mempercepat langkahnya menuju kamarnya, ia sudah bersiap memaki wanita itu jika sampai menemukannya di kamar.
Namun ternyata di kamarnya juga kosong, memang kondisinya tidak jauh berbeda dengan ruang bawah, tapi sangat sepi dan tidak ada tanda-tanda Freya disana.
"Hei, apakah ada orang?" teriak Sean menatap sekeliling kamarnya dengan tatapan tajamnya.
Hingga ia seperti mendengar seseorang yang merintih dari kamar mandi membuat matanya seketika langsung membulat sempurna.
"Kamar mandi," kata Sean membuang tas miliknya lalu berlari ke kamar mandi, entah kenapa ia merasa sangat khawatir dan kekhawatirannya itu terbukti saat sampai di kamar mandi, ia melihat Freya yang berendam didalam bath up dengan tangan yang tersayat dan mengeluarkan banyak darah.
"Astaga, kau!" Sean berteriak syok, ia langsung berlari dan menyumbat tangan Freya yang terus mengucurkan darah itu.
"Obat gue ... mana ... obat gue ... kasih obat gue ..." Freya tampak merancau dengan mata yang terpejam, bibir wanita itu bergetar hebat, entah kedinginan atau karena sakaw tidak meminum obatnya.
Sean semakin cemas, ia buru-buru merobek kemejanya lalu mengikatnya ke tangan Freya untuk menghentikan pendarahannya. Dari gejalanya Sean tahu jika Freya sedang sakaw karena tidak meminum obatnya dan hal itu membuat ia sangat cemas.
"Obat gue ... mana ... dingin ... obat ... dingin ..." Freya terus merancau dengan mata terpejam.
Sean sendiri tidak mengatakan apapun, ia langsung mengangkat tubuh Freya dari dalam bath up lalu membawanya ke luar dan merebahkan wanita itu ke kasur.
"Bajunya basah, aku harus menggantinya," gumam Sean memegang tangan Freya yang sangat dingin, jika dibiarkan terus-terusan seperti itu, bisa jadi Freya akan sakit.
Sean bergegas mengambil kaos miliknya di lemari, ia tidak memikirkan apapun lagi dan langsung saja melepaskan baju basah yang dipakai Freya.
Namun, tiba-tiba tangannya bergetar hebat saat melihat tubuh mulus Freya terekspos didepannya dan berbaring pasrah. Sean sempat menelan ludahnya kasar, padahal ini bukan kali pertama ia melihat tubuh te la njang seorang wanita, tapi melihat tubuh Freya yang putih mulus membuat jantungnya berdetak kencang.
"Brengsek!" umpat Sean mencoba mengendalikan dirinya, ia harus fokus menolong Freya, bukan malah berpikiran mesum.
Daripada dibuat ketar-ketir melihat tubuh molek dan ranum milik Freya, akhirnya Sean menutup tubuh wanita itu dengan selimut lalu memakaikan bajunya. Setelah itu ia segera mengganti bajunya tapi sebelum ia beranjak tiba-tiba Freya menarik tangannya hingga ia terjatuh kedalam mendidih wanita itu.
"Dingin ...," lirih Freya dengan mata terpejam, ia merasa seperti berada di dalam lemari es dan ingin sekali mencari kehangatan.
"Aku akan mencarikanmu obat, tetaplah disini," kata Sean mencoba melepaskan Freya.
"Dingin ... jangan pergi ... obat ..." Bukannya melepaskan Sean, tapi Freya justru memeluk pria itu sangat erat, ia benar-benar butuh sumber kehangatan dan merasa Sean yang bisa menghangatkannya.
Sean tertegun, ia tidak bisa melakukan apapun lagi selain balas memeluk Freya, apalagi ia juga bisa merasakan tubuh wanita itu mengigit hebat. Dalam posisi sangat dekat seperti ini, Sean bisa melihat wajah Freya yang begitu cantik meski dalam keadaan pucat. Perlahan tangannya terulur untuk menyentuh pipi wanita itu, lalu mata dan terakhir mengusap bibirnya yang tipis.
"Dia benar-benar cantik," ucap Sean begitu terpesona melihat wajah Freya yang begitu sempurna, tangannya tanpa sadar terus saja mengusap bibir tipis yang pernah ia rasakan itu.
Hingga tanpa sadar ada sesuatu yang bangkit dalam diri Sean yang membuat ia harus menarik nafas panjang berkali-kali. Apalagi Freya yang terus memeluk tubuhnya sangat erat membuat setan dalam diri Sean seolah menggodanya untuk melakukan hal yang tidak seharusnya.
"Maafkan aku ..."
Happy Reading.
TBC.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 95 Episodes
Comments
Bucinnya Rajendra 💞
semoga Freya cepat sembuh
2023-05-19
2