Sean menarik nafas panjang-panjang lalu menghembuskannya perlahan. Ia harus mempunyai stok kesabaran yang melimpah untuk menghadapi tingkah Freya yang sangat menyebalkan itu.
"Rumahku bukan tempat penampungan yang bisa seenaknya kau tinggali. Sebaiknya kau pergi darisini sekarang," ujar Sean beranjak menghampiri Freya lalu menarik tangan wanita itu dan menyeretnya keluar rumah.
"Aku tidak mau, aku pokoknya ingin tetap disini. Kau ini pacar macam apa sih?" teriak Freya berusaha berontak.
"Pacar, pacar, aku bukan pacarmu," sergah Sean semakin muak saja rasanya.
"Kalau begitu sekarang kau adalah pacarku, dan kau tidak boleh menolak," kata Freya masih dengan sikapnya yang sangat keras kepala.
Sean mengertakkan giginya erat. Ia menghempaskan tangan Freya dengan sangat kasar. "Sejak tadi aku biarkan kau sangat ngelunjak, kau pikir siapa dirimu ha!" Sean membentak penuh amarah, sudah cukup ia bersabar sejak tadi menghadapi sikap Freya yang menyebalkan. Apa wanita itu tidak tahu kalau dirinya saat ini sedang sangat pusing karena memikirkan masalah yang ada.
Freya terkejut, bentakan Sean terdengar tidak begitu keras, tapi entah kenapa ia malah sangat takut. Apalagi melihat tatapan mata pria itu yang menyeramkan.
"Ck, aku akan pergi kemana jika kau mengusirku? Kau tidak lihat aku seorang wanita, bagaimana nanti jika ada orang yang ingin berniat buruk padaku? Izinkan aku tinggal disini ya?" pinta Freya menarik-narik kemeja Sean dengan manja.
"Tidak, kau pasti sudah terbiasa berkeliaran, pergilah sekarang juga. Jangan menambah beban hidupku," sergah Sean sama sekali tidak perduli, ia segera menutup pintu rumahnya, tapi dengan cepat Freya menahannya.
"Ayolah, aku janji tidak akan merepotkanmu. Aku pasti akan pergi kalau sudah waktunya, untuk malam ini biarkan aku tinggal disini ya," kata Freya masih kekeh dan mencoba merayu Sean untuk mau mengizinkannya tinggal di rumah itu.
"Tidak!" Sean pun bersikukuh, ia segera menyingkirkan tangan Freya lalu masuk kedalam rumah. Sudah cukup masalah yang dilewatinya hari ini, tidak ingin menambah beban lagi dengan membiarkan Freya tinggal dirumahnya.
Sean langsung masuk ke kamarnya, ia ingin membersihkan dirinya, bersamaan hujan yang tiba-tiba turun membasahi bumi. Memang cuaca negaranya tidak bisa ditebak, terkadang sangat panas, terkadang juga hujan secara tiba-tiba. Saat Sean melihat hujan itu, langkahnya tiba-tiba berhenti seperti berpikir sejenak.
"Untuk apalagi aku memikirkan wanita menyebalkan itu, kalau hujan yang biarkan saja. Dia juga bukan siapa-siapaku," gumam Sean menggelengkan kepalanya, mengusir pemikirannya tentang Freya yang mungkin saja kehujanan.
Sean akhirnya melanjutkan langkahnya untuk membersihkan dirinya, ia menguyur seluruh tubuhnya dengan air dingin, berharap hal itu bisa membuat ia lebih tenang. Sayangnya waktu ia memejamkan matanya ia malah teringat akan sorot mata sendu Freya yang tadi sempat dilihatnya.
"Sial!" umpat Sean kesal sendiri rasanya, terlalu tidak bisa mengabaikan wanita menyebalkan yang memiliki senyuman manis itu.
Setelah memakai kimono handuknya, Sean bergegas berlari menuruni tangga rumahnya. Ia berharap tidak terlambat untuk menyusul Freya, apalagi ia teringat akan pertemuan mereka yang terakhir kali Freya lagi-lagi ingin dilecehkan orang. Sean tidak ingin hal itu terjadi karena ia juga punya adik perempuan, ia hanya menempatkan dirinya jika Adiknya yang dilecehkan seperti itu.
"Kau!" Sean berseru kaget tatkala melihat Freya masih duduk seraya memeluk dirinya sendiri di depan rumahnya.
Happy Reading.
Tbc.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 95 Episodes
Comments
Bucinnya Rajendra 💞
akhirnya luluh juga si Sean 😁
2023-05-17
1