Sean terbangun saat matahari terasa begitu menyilaukan, pria muda itu tampak sedikit mengernyit saat menyadari jika saat ini masih berada dikamar yang digunakannya semalaman bersama Andriana.
Padahal selama ini Sean paling tidak suka jika harus menginap dengan lawan mainnya, tapi semalaman Andriana benar-benar membuatnya tidak berkutik karena wanita itu juga sangat lihai memuaskannya.
"Sean, kau sudah bangun?"
Sean mengerutkan dahinya saat mendengar suara Andriana, ia menoleh dan melihat wanita itu baru saja keluar dari kamar mandi hanya dengan menggunakan bra dan celana da lamanya saja.
"Ya, aku harus pulang sekarang. Dan kenapa kau lancang sekali membuka dompetku?" kata Sean bangkit dari kasur, mengambil baju-bajunya yang berserakan lalu memakainya.
"Hanya ingin tahu siapa nama pria hebat yang semalam memuaskanku saja, kau tidak marah 'kan?" Andriana menanggapinya dengan santai, ia bahkan langsung memeluk Sean dari belakang, berusaha merayu pria itu lagi.
"Jam kerjaku sudah habis, aku sudah memberikan nomor rekeningku, aku tunggu sampai nanti siang," ujar Sean tidak terlalu menanggapi, ia tetap memakai bajunya karena hari ini ia ada urusan penting.
"Tenang saja Sean, aku pasti memberikan uang itu padamu, aku juga akan memberimu bonus kalau kau ..." Andriana menggantung ucapannya, ia menarik tangan Sean lalu membawa pria itu ke ranjang kembali. "Mau melakukannya sekali lagi denganku," sambung Andrian membasahi bibirnya menggoda.
Setelah apa yang terjadi semalam dengan Sean, wanita itu justru semakin tergila-gila dengan pria muda yang menjadi gigolonya itu. Andriana benar-benar sangat suka dan merasa selalu ingin bercinta dengan Sean, karena pria itu sangat perkasa dan punya banyak cara untuk membuatnya keluar berkali-kali. Berbeda dengan suaminya yang maunya mau dipuaskan tanpa mau memuaskannya.
Sean menipiskan bibirnya, ini yang paling tidak ia suka dari para wanita itu, mereka pasti suka merengek meminta Sean untuk tetap tinggal, padahal semalaman penuh Sean sudah menggempurnya habis-habisan. Tapi sepertinya mereka belum puas.
"Kau belum cukup mengenalku, sekarang biar aku beritahu, aku tidak suka mengulangi apapun setelah kita menyelesaikan semuanya. Jika kau ingin melakukannya lagi, temui aku nanti malam," kata Sean mendorong Andriana kesampingnya lalu ia bangkit dan pergi meninggalkan tempat itu.
Andriana berdecak kesal, baru pertama kali ini ia bertemu dengan pria seperti Sean. Padahal dulu para pria yang disewanya akan menuruti semua perkataannya.
"Dia sangat berbeda, membuat aku penasaran. Sepertinya aku harus mencari cara untuk menaklukkan pria itu," gumam Andriana menatap bayangan Sean dengan tatapan yang sulit diartikan. Wanita itu benar-benar sudah mabuk kepayang dengan ketampanan Sean.
*****
Matahari bersinar cukup terik, Sean terlihat mendatangi sebuah rumah minimalis yang terletak dipinggiran kota. Terlihat juga ditangannya sedang menenteng berbagai macam paper bag.
"Kak Sean! Kak Sean pulang! Yeeayy ... Kak Sean pulang." Seorang anak kecil berumur delapan tahunan tampak menyambut kedatangan Sean dengan sangat antusias. Anak itu melompat-lompat kegirangan membuat Sean ikut tertular akan senyumnya.
"Mayka ...," Sean langsung berjongkok untuk meraih Mayka, adik kecilnya yang begitu senang itu.
"Kak Sean tahu aja do'a Mayka, apa Tuhan yang memberitahu Kakak? Kalau Mayka sangat rindu sama Kakak," cetoleh Mayka menggelayuti leher Kakaknya.
"Wah benarkah Mayka berdoa? Itu namanya do'a Mayka terkabul dong. Sekarang ayo kita masuk, dimana yang lainnya?" Sean menanggapinya tak kalah antusias, tidak ingin membuat gadis kecil yang sangat bersemangat itu kecewa.
"Ibu dirumah, lagi nunggu Ayah. Katanya Ayah sakit," sahut Mayka.
"Ayah sakit?" Sean cukup terkejut mendengar ucapan Adiknya, ia menurunkan Mayka lalu memberikan paper bag yang dibawanya tadi. "Ini untuk Mayka, Kak Sean lihat Ayah dulu," ucap Sean, ia lalu masuk kedalam rumahnya yang terlihat sangat sederhana itu dan mencari Ayahnya.
Setelah melewati ruang tengah, Sean melihat Ibunya keluar dari kamar Ayahnya, wanita itu tampak cukup tertekan dari wajahnya.
"Ibu, Ayah kenapa? Kata Mayka sakit," ujar Sean langsung saja.
"Kau sudah pulang? Tumben tidak mengabari dulu, apa Bibimu tahu?" Bunga, ibu Sean tampak cukup cemas karena putranya datang tanpa kabar.
"Untuk apa Ibu menanyakan wanita itu, katakan saja bagaimana keadaan Ayah?" Sean tidak menjawab pertanyaan Ibunya tentang Bibinya, ia lebih mengkhawatirkan kondisi Ayahnya.
"Ayahmu masih seperti itu saja, kau tahu sendiri kalau penyakitnya tidak akan sembuh kalau tidak dioperasi, Sean." Bunga menghela nafas lelah, wanita yang sebenarnya masih berusia cukup muda itu terlihat sangat sedih sekali karena bertahun-tahun harus mengurus suaminya yang menderita penyakit gagal ginjal.
"Kalau begitu, kita operasi saja. Kita bawa Ayah kerumah sakit, Bu. Kita akan konsultasi pada Dokter," ujar Sean.
"Aneh-aneh aja, mau pakai uang darimana Sean? Kalau kau memang punya uang, lebih baik kau lunasi saja hutang keluarga kita kepada Bibimu. Ibu sudah lelah dengan sikapnya yang selalu menganggu keluarga kita, apalagi kemarin ..." Bunga menghentikan ucapannya, rasanya tidak sanggup untuk mengatakan pada Sean.
"Kemarin kenapa? Apa wanita itu berulah lagi? Jika iya, sebaiknya Ibu pindah saja, ikut dengan tinggal bersamaku, Bu. Disana Ibu juga bisa mencari pengobatan yang terbaik untuk Ayah," kata Sean lagi.
Sudah berulang kali Sean mengajak Ibunya untuk tinggal di ibukota, tapi wanita yang telah melahirkannya itu selalu menolak dengan alasan jika sayang dengan rumah peninggalan keluarga neneknya. Tapi jika terus berada disana, Bibinya yang berhati iblis itu pasti akan selalu menganggu keluarganya.
"Tidak usah, kau kerja saja baik-baik di Ibu kota, nanti kalau kau sudah sukses, bisa mengangkat derajat Adikmu. Ayah dan Ibu sudah gagal menyekolahkanmu sampai selesai, sekarang Ibu hanya berharap Mayka bisa bersekolah dengan benar nantinya," kata Bunga mendudukkan tubuhnya dikursi, memijit pangkal hidungnya yang pegal. Ia sangat menyesal karena tidak bisa memberikan yang terbaik untuk putranya Sean. Sampai-sampai pria itu harus merantau ke Ibu kota saat umurnya masih 22 tahun.
"Untuk apa menunggu aku sukses, Bu? Sekarang aku sudah punya semuanya, Ibu tidak perlu berpikir tentang akan makan apa besok. Ayo kita ke Ibu Kota Ibu, aku yakin disana Ayah bisa mendapatkan pengobatan yang terbaik," bujuk Sean mendekati Ibunya, meyakinkan wanita itu untuk mau ikut dengannya ke Ibu Kota.
"Nak, Ibu tahu kau sudah bekerja sangat keras selama ini. Simpan saja uang itu untuk membayar hutang kita kepada Bibi Tika. Ibu hanya ingin kita semua hidup tenang, tanpa drama apapun lagi dan bisa berkumpul bersama-sama," ucap Bunga tanpa sadar menitihkan air matanya, mengingat kenangan manis keluarganya dulu sebelum badai besar mengguncang.
Sean menghela nafas panjang, ia menarik Ibunya kedalam pelukannya. Tatapan pria itu tampak menerawang jauh, mengingat apa yang telah dialami keluarganya lima tahun yang lalu.
Happy Reading.
TBC.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 95 Episodes
Comments
Ita rahmawati
mf thor gk sanggup 🤣🤣🙏🙏🙏🙏🙏
2023-06-04
3
Nona Muda❤️
Keluarga Sean sepertinya bukan orang berada, apa itu yang membuat Sean jadi gigilo?
2023-05-07
1
Bucinnya Rajendra 💞
Kayaknya Sean punya masa lalu buruk
2023-05-07
1