Freya langsung mengamuk begitu pintu kamarnya dibuka, ia hampir saja menampar habis wajah Andriana karena sangat-sangat kesal. Semalaman ia dibiarkan dikamar tanpa makan dan minum membuat saat ini kondisi Freya cukup acak-acakan.
"Ja la ng sialan! Beraninya kau mengunciku di kamar, kau cari mati!" hardik Freya begitu geram.
"Cih, aku hanya mengikuti perintah Ayahmu. Sekarang kau sudah bisa bebas, dasar gadis liar," tukas Andriana malas sekali bermanis-manis dengan Freya, anak sambungnya itu tetap akan membangkang padanya.
"Akhirnya kau menunjukkan sifat aslimu ini Andriana, apa kau belum puas jika belum menghabiskan harta Ayahku?" kata Freya tersenyum sinis.
"Kalau aku sudah puas, tentu aku akan pergi," sahut Andriana begitu santai, ia segera meninggalkan Freya setelah mengatakan hal itu, menurutnya hanya membuang waktu jika berbicara dengan Freya, karena anak itu hanya akan memaki-maki dirinya saja.
"Pergi, pergi yang jauh sana, kalau bisa jangan kembali lagi," teriak Freya semakin kesal, ia membanting pintu kamarnya dengan keras setelah itu.
Freya langsung mandi dan bersiap-siap, sudah dari semalam ia hampir gila karena kehabisan stok pil ekstasi yang sering diminumnya. Hari ini ia harus menemui Devan itu meminta obat itu lagi.
******
Freya mendatangi sebuah tempat bilyard dimana Devan biasanya berada. Hari itu terlihat sangat ramai dari biasanya membuat Freya cukup kesusahan mencari temannya itu. Ia juga harus melewati para pria yang juga sibuk bermain bilyard.
"Nona manis, sedang mencari siapa? Sini dong, main sama kita," goda seorang pria muda yang berpenampilan urakan, tapi cukup lumayan wajahnya, pria itu sampai menghadang langkah Freya untuk menggodanya.
"Menyingkirlah, aku tidak punya urusan apapun denganmu," sergah Freya mendorong tubuh pria itu dengan kasar.
"Sok jual mahal sekali, ayolah temani aku bermain. Jika aku menang nanti, aku bisa memberikan apa yang kau mau Nona manis," kata pria itu masih tidak melepaskan Freya, ia bahkan dengan kurang ajar menjawil dagu Freya membuat wanita itu murka.
"Kurang ajar! Beraninya kau!" seru Freya tanpa ragu langsung menampar wajah pria itu dengan keras.
"Kau!" Pria itu terlihat sangat marah, ia langsung mencengkram lengan Freya dengan begitu kuat. "Wanita tidak tahu diri, kau pasti menyesal telah melakukan ini padaku!" teriak Pria itu terus mencengkram lengan Freya, ia sangat marah karena merasa dipermalukan seperti itu. Apalagi banyak sekali orang yang melihat.
"Lepasin brengsek!" seru Freya terus menarik tangannya tangannya agar terlepas.
Namun, pria itu mencengkeramnya terlalu kuat membuat Freya cukup kesakitan. Pria itu lalu mengangkat tangannya dan ingin membalas tamparan Freya.
"Akhhhhhhhh!" Freya reflek berteriak dan menutup wajahnya dengan kedua tangan. Sayangnya setelah beberapa detik, Freya tidak merasakan apapun membuat ia membuka tangannya untuk melihat apa yang terjadi.
Ternyata Sean datang dan menangkap tangan pria itu sebelum sempat menampar Freya.
"Jangan memalukan diri sendiri Bro, kau seorang pria, bagaimana bisa kau ingin memukul wanita?" kata Sean menatap pria itu tajam.
"Siapa kau? Apa kau pacarnya sampai kau membelanya seperti ini?" sergah pria itu menghempaskan tangan Sean dengan kasar.
"Jika aku pacarnya, apa aku boleh membelanya? Baiklah, mulai sekarang dia adalah pacarku," ucap Sean begitu enteng, padahal ucapannya itu membuat Freya terkejut bukan kepalang.
Belum hilang rasa terkejutnya, ia kembali dikejutkan saat Sean tiba-tiba meraih pinggangnya.
"Kita pergi darisini," ujar Sean tanpa canggung menggandeng Freya melewati pria itu begitu saja dan mengajaknya keluar dari tempat bilyard.
Freya masih diam karena kebingungan, ia melirik Sean yang begitu santai. Ia cukup tidak menyangka akan bertemu dengan pria ini lagi.
"Apa kau tidak bisa menjaga dirimu dengan benar?" ujar Sean tiba-tiba.
"Apa maksudmu?" Freya mengerutkan dahinya bingung.
Sean menghentikan langkahnya, ia menatap Freya dari atas sampai bawah. "Kau, sudah dua kali aku melihatmu dalam keadaan yang hampir sama. Apa kau sengaja bersikap ceroboh seperti ini agar aku menolongmu lagi?" kata Sean sekenanya saja.
"Apa?" Mata Freya membulat kaget, tapi sesaat kemudian berubah kesal. "Apa kau pikir semenarik itu sampai aku melakukan hal seperti ini?" sergah Freya.
"Lalu apalagi? Artinya kau memang ceroboh kalau begitu," kata Sean.
"Terserah kau mau menyebutku apa, tapi aku tidak merasa berhutang apapun padamu. Mulai sekarang jika melihatku lagi, anggap saja kau tidak mengenalku dan jangan menyelamatkanku," kata Freya menjauhkan dirinya dari Sean dan kembali lagi kedalam tempat bilyard itu karena ia belum menemukan Devan.
"Hei wanita ceroboh, untuk apalagi kau masuk kedalam sana? Lebih baik kau pergi saja darisini," kata Sean lagi, entah kenapa tidak bisa membiarkan Freya kembali ketempat seperti itu.
Padahal sebelumnya ia tidak peduli dengan wanita manapun, tapi Freya seperti punya magnetnya tersendiri yang membuat Sean begitu tertarik padanya.
Freya tidak menggubrisnya, ia malah mengacungkan jari tengahnya kepada Sean dan tetap melanjutkan langkahnya untuk mencari Devan.
"Dasar wanita keras kepala," gerutu Sean kesal sendiri akhirnya.
******
"Devan, sialan lu! Gue nyari lu udah kayak orang gila, buruan kasih gue barangnya!" Freya langsung memaki temannya itu saat sudah menemukan Devan diantara banyaknya pria didalam bilyard itu.
"Astaga Freya, lu dari kemarin udah gue tungguin. Kenapa lu baru datang?" Devan juga menggerutu kesal.
"Gue nggak bisa keluar kemarin, buruan kasih barangnya, gue buru-buru," ujar Freya sama sekali tidak sabar, baru sehari tidak meminum obat itu kepalanya terasa begitu pusing sekali.
"Duitnya dulu lah," kata Devan menengadahkan tangannya kepada Freya seraya mengulas senyum tipisnya.
"Bang sat lu," umpat Freya semakin jengkel, ia segera membuka tasnya dan mengambilkan apa yang diinginkan Devan.
"Nah, sekarang kau boleh mengambil ini," ujar Devan mengembangkan senyumnya.
Freya tidak begitu perduli, ia memegang benda itu dengan tatapan yang sangat senang sekali seolah ia baru saja mendapatkan hadiah ulang tahun dari pacarnya. Ia bahkan mencium benda itu karena merasa harumnya membuat ia tenang.
"Ingat Frey, itu harus cukup seminggu. Sekarang lumayan susah karena lagi rame," kata Devan mengingatkan.
"Iya gue tahu." Freya menyahut malas, ia juga langsung pergi begitu saja setelah mendapatkan apa yang dia inginkan.
Saat Freya pergi, wanita itu juga terlihat biasa saja, tapi ia tidak menyangka jika beberapa saat kemudian terdengar sebuah tembakan yang memekakkan telinga. Disusul orang-orang yang berlarian kearahnya.
"Polisi!"
"Anjing, buruan keluar darisini!"
"Jangan bergerak kalian!
Duarrrrr!!!!
Freya masih mematung, karena bingung dengan apa yang sedang terjadi. Hingga sesaat kemudian ia sadar dan mencoba berlari menyelamatkan dirinya. Jika sampai ia tertangkap, bisa-bisa ia akan mati karena sedang membawa narkoba ditangannya.
Happy Reading.
TBC.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 95 Episodes
Comments
⁽⁽ଘ[🐾©️le🅾️🦋]ଓ⁾⁾
Dua duanya bermasalah 🤪🤪🤪
2023-05-27
3
Bucinnya Rajendra 💞
Wah seru nih, lanjut ahhh
2023-05-17
1
Nona Muda❤️
Dua-duanya sma nggak bener, tpi seruuu, lanjut thoe
2023-05-07
1