Keadaan benar-benar kacau, suara teriakan dan makian terdengar memenuhi tempat bilyard itu. Freya sendiri sangat sibuk mencari tempat untuk bersembunyi, tapi sepertinya semua tempat sudah dikepung membuat ia kebingungan.
"Kemana, kemana?" Freya bergumam-gumam sendiri, tubuhnya sejak tadi terdesak orang-orang yang sibuk menyelamatkan dirinya.
Duarrrr!!!
Suara tembakan kembali terdengar membuat kepanikan Freya meningkat, ia langsung berlari tapi tidak sengaja ia ditabrak oleh seseorang dan kakinya terinjak.
"Akhhhhhh! Apa kau tidak punya mata, brengsek!" Freya memaki sangat kesal, ia berusaha bangkit tapi orang-orang itu malah tidak memperdulikannya membuat Freya terjepit diantara banyak orang yang sibuk menyelamatkan dirinya itu.
Freya sampai kesusahan bernafas dan merasa tidak sanggup lagi. Ia hanya melihat lorong yang tadi dilewatinya itu cukup sepi, karena orang-orang tadi sudah keluar.
"Sebelah kanan! Coba geledah!" Terdengar suara teriakan polisi yang mendekat, membuat Freya kembali panik.
"Aku harus pergi, arghhhhhhhh ..." Freya akhirnya mencoba bangkit dengan berpegangan pada tembok. Namun, kakinya yang tadi terinjak tiba-tiba terasa sangat sakit hingga tubuhnya langsung limbung.
Freya pikir akan terjatuh, namun ia terkejut saat ada tangan yang tiba-tiba melingkari perutnya.
"Kau!" Freya semakin kaget, karena yang telah menangkap tubuhnya adalah Sean, pria yang tadi ditinggalkan diluar sendirian.
"Kau benar-benar ceroboh, ayo kita pergi darisini," ketus Sean tanpa menunggu persetujuan Freya, ia menarik tangan wanita itu.
"Aku tidak bisa, kakiku sakit," kata Freya menahan tangannya, kakinya begitu nyeri seperti terkilir.
Sean mengerutkan dahinya, ia melihat kaki Freya yang terlihat memerah dan ada sedikit luka disana. Melihat hal itu Sean sadar jika wanita itu sedang tidak membohonginya. Sementara itu suara polisi itu semakin dekat membuat Sean tidak memikirkan apapun lagi, ia langsung menggendong Freya dan membawanya pergi.
"Ehhhh! Kau mau membawaku kemana?" Freya memekik kaget, ia sontak langsung memeluk leher Sean karena takut akan dijatuhkan.
"Diam jika ingin selamat, kita harus pergi," kata Sean datar dan ketus.
Freya mengerucutkan bibirnya, terlihat kesal tapi juga tidak berdaya. Ia akhirnya mengunci mulutnya rapat-rapat selama Sean membawanya pergi. Karena posisinya yang sangat dekat itu juga membuat Freya bisa mencium bau parfum Sean yang entah kenapa seperti membiusnya.
"Sial!" umpat Sean tiba-tiba.
"Ada apa?" tanya Freya bingung.
"Tempat ini benar-benar sudah dikepung, kita tidak punya pilihan lain," sahut Sean menatap Freya.
"Maksudmu kita harus menyerah?" Freya membulatkan matanya kaget saat melihat tatapan mata Sean itu.
Sean hanya menggeleng pelan, tapi ia menunduk bagian gudang yang terlihat terbuka sedikit. "Kita harus kesana," kata Sean langsung saja membawa Freya kedalam gudang itu.
Sean memperhatikan dengan seksama, tidak ada tempat lain, selain lemari dan juga barang-barang yang tidak berguna lainnya. Sean akhirnya memutuskan membawa Freya ke dekat lemari itu dan menurunkannya.
"Masuk kedalam sekarang juga," perintah Sean.
"Ha? Masuk kedalam lemari ini? Tapi-"
"Aku bilang masuk!" bentak Sean sama sekali tidak sabar, ia langsung mendorong tubuh Freya agar masuk lalu disusul olehnya. Tapi karena tubuhnya yang cukup tinggi, ia harus duduk agar muat.
"Kau-"
"Sssstttt ..." Sean reflek menarik tangan Freya sampai wanita itu duduk dipangkuannya dan ia membungkam mulut wanita itu.
Freya terkejut, ia membulatkan matanya dan menatap Sean yang sangat dekat dengannya. Ia ingin protes tapi terdengar suara polisi lagi dari luar membuat ia bungkam seribu bahasa. Ia malah mencengkram dada Sean karena takut jika polisi itu akan menangkapnya.
"Kosong! Sepertinya sudah tidak ada lagi orang didalam sini, kita pergi saja," ujar salah satu polisi melihat seluruh gudang itu dengan tatapan tajamnya.
"Coba cek lagi, siapa tahu ada yang bersembunyi. Aku dengar kabar tadi ada transaksi, mereka pasti ada disekitar sini," ujar satunya lagi masih merasa belum puas.
Freya mencengkram dada Sean semakin kuat membuat pria itu meringis. "Lepaskan tanganmu," bisik Sean.
"Aku takut," kata Freya memberanikan diri menatap mata Sean, selain takut polisi, ia takut dengan gelap, sedangkan didalam lemari itu cukup gelap, hanya ada cahaya sedikit yang masuk kedalam dari celah lemari yang rusak.
"Asalkan kau diam, kau tidak akan tertangkap," ujar Sean.
Freya mengigit bibirnya, ia mencoba menenangkan dirinya dan mencoba mengintip dari celah lemari itu, melihat dua orang polisi yang masih sibuk menggeledah tempat itu. Namun, tiba-tiba ia merasakan ada sesuatu yang bergerak di punggungnya.
Freya membesarkan matanya, dan reflek langsung berteriak keras karena takut akan benda itu. Tapi Sean sudah lebih dulu sigap dengan membungkam mulut Freya dengan ciumannya.
Freya semakin membesarkan matanya, tapi sesaat kemudian ia memejamkan matanya karena masih takut dengan sesuatu yang menempel dipunggungnya. Hingga perlahan-lahan ia merasakan Sean menyentuh punggungnya dan menyingkirkan benda itu, tapi mereka sudah terlalu larut dalam ciuman mengejutkan itu sampai Freya seperti terbuai.
Untung saja Sean sangat pintar mengendalikan dirinya, ia segera melepaskan Freya saat mendengar suara polisi itu menghilang.
"Sepertinya mereka sudah pergi, coba kau lihat," kata Sean biasa saja, padahal pria itu baru saja mencium bibir Freya begitu panas.
Freya mengangguk singkat, mencoba mengabaikan rasa malu yang luar biasa setelah apa yang terjadi diantara keduanya. Freya mengintip dari celah lemari tadi dan sudah tidak menemukan para polisi itu.
"Mereka sudah pergi," ujar Freya menghela nafas lega.
"Hah, ayo kita keluar sekarang. Kakiku kram," kata Sean, ternyata sejak tadi ia menahan kram di kakinya saat digunakan duduk oleh Freya.
"Maaf." Untuk pertama kalinya Freya meminta maaf terlebih dulu, padahal kata maaf adalah kata yang paling anti dia katakan, tapi entahlah, ia hanya merasa berhutang budi pada Sean.
"Hmmm ..." Sean hanya membalas dengan gumaman rendah, ia membantu Freya untuk bangkit lalu diikuti dirinya sendiri dan setelah itu mereka segera pergi meninggalkan tempat itu.
******
"Aduh, Aduh jangan dipijat seperti itu, sakit!" Freya berteriak kesakitan tatkala Sean memijat kakinya yang mulai bengkak. Wanita itu kini sedang berada dirumah pribadi Sean karena tadi Sean mengajaknya kesana.
"Ini sepertinya terkilir, harus diurut biar sembuh," ujar Sean mengoleskan minyak pada kaki Freya, berharap tidak terlalu membengkak.
"Tapi ini sakit, aku tidak tahan," kata Freya merengek dengan suaranya yang manja.
Sean mengerutkan dahinya, tanpa sadar ia tersenyum tipis mendengar suara itu yang menurutnya mendayu-dayu ditelinganya.
"Baru segini saja sudah menangis, bagaimana kalau aku tiduri," ujar Sean asal saja.
"Apa?" Freya melotot mendengar ucapan Sean itu.
"Aku tahu kau mendengarnya, aku rasa kakimu sudah lebih baik, kau sudah bisa pulang nanti," kata Sean menyahut dengan santai.
"Aku tidak mau pulang," timpal Freya melipat tangannya diatas perut, ia juga memandang Sean dengan tatapan yang cukup serius.
Happy Reading.
TBC.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 95 Episodes
Comments
Bucinnya Rajendra 💞
nggak mau pulang maunya sama mas sean, hahaha
2023-05-17
1
Nona Muda❤️
Freya sama Sean punya kisah yang buruk, smoga mereka bisa bersama 🥰
2023-05-08
1
Ig: @putriaayu_98
Sudah up ya Kak, masih review
2023-05-08
0