saat semua orang pulang dari pemakaman umum, beberapa warga memilih memutar untuk menuju ke rumah
salah satunya adalah Hudi dan Nasikin. keduanya ini tak bisa pulang karena harus melanjutkan pekerjaannya di sawah yang Tati di tinggal sebab panggilan melayat
"gok, kamu sadar gak sih tadi pria yang di tendang mas Junaidi, itu kok kayak pernah lihat ya," kata Nasikin.
"kamu mimpi mungkin, tapi iya juga kayak itu lo anak-anak yang kemarin melakukan KKN di desa kita, kamu ingat gak," tanya Hudi.
"loh iya, itu kan yang kemarin tahun tanya tentang pertanian kita, wah aku jadi ingat gok, tapi kenapa dia bisa selingkuh sama Bu lurah..." Kata Nasikin terhenti karena melihat sesuatu yang membuatnya kaget.
"gok, itu... itu..." kata Nasikin yang terus memukul bahu dari Hudi.
"opo se, loro goblok," marah Hudi yang melihat apa yang di tunjuk oleh temannya itu.
mata Hudi melotot melihat itu, bagaimana tidak ada sosok yang tergantung di cabang pohon.
"mayat!!" teriak keduanya yang langsung lari balik untuk mencari pertolongan.
"tolong ada mayat," teriak mereka berdua
mendengar suara jeritan itu, para warga yang memang belum jauh pun berhenti dan berbalik.
"ada apa?" tanya pak Junaidi mendekat kearah pria itu.
"haduh tolong pak, itu ada mayat tergantung di pohon gayam yang ada di dekat area persawahan, dan itu mas-mas yang tadi,"
"iya dari baju yang dia kenakan itu mas yang tadi membuat kerusuhan saat pemakaman Bu lurah," tambah pak Nasikin.
mendengar itu, para warga pun berbondong-bondong ke tempat yang di maksud.
tapi saat sampai di sana, mereka tak menemukan jasad yang tergantung itu.
"mana? tidak ada kok," kata pak Junaidi dan semua warga.
"tau nih, kalian salah lihat mungkin," kata pak Yono.
"beneran pak, sumpah demi Allah," jawab pak Nasikin.
tapi pak Hudi juga tak berani bicara, jelas-jelas tadi dia melihatnya, tapi dia menutup mulutnya karena tatapan dari Mbah tejo.
"sudah sudah, mungkin pak Nasikin dan nak Hudi ini kecapekan, sudah pulang saja untuk istirahat," kata Mbah Tejo
"iya Mbah," jawab Hudi yang mencubit Nasikin
mereka semua pun memutuskan untuk pergi, karena tak baik jika mereka terus seperti ini, di tambah tak ada yang percaya dengan ucapan mereka.
di sisi lain, zaka sudah membuat istrinya itu istirahat dan memastikan wanita itu tak akan mengalami hal yang membuat tak nyaman.
dia juga mendapatkan pesan dari Mbah Tejo untuk datang ke rumah, tapi dia tak bisa meninggalkan istrinya.
jadi Zaka meminta Mbah Tejo dan yang lain untuk datang ke tempat zaka jika memang ada urusan penting.
di perjalanan pak Junaidi sebenarnya ingin bertanya, tapi melihat reaksi ayahnya sepertinya ada hal besar yang tak bisa sembarangan mereka bahas.
keduanya sampai di rumah, ternyata benar sudah ada pak lurah dan tiga orang kepercayaannya.
"woh ada tamu, silahkan masuk kenapa menunggu di luar," kata Mbah Tejo yang tau niat pria itu.
"tidak usah Mbah, saya hanya ingin bilang pada Mak Ijah dan Anda, tolong jangan mengatakan apapun jika ada yang bertanya, terlebih apa yang Mak lihat saat di tempat pemandian tadi atau saya tak segan lagi untuk menyingkirkan kalian," kata pak lurah yang menunjukkan sikap aslinya.
"ternyata anak e loso wes wani ngertak aku, opo nyoeo mu akeh ke, kok wani tenan," kata Mbah Tejo yang duduk sambil bersila dengan santai.
karena dia tak takut untuk menghadapi siapapun demi melindungi keluarganya.
"tentu saja saya bukan tandukan Mbah Tejo yang terkenal dengan ilmu Kanuragan, tapi saya juga bukan orang suci, jadi tolong ingat perkataan ku, karena apapun yang aku inginkan pasti akan aku dapatkan," jelas pak lurah sebelum meninggalkan rumah pria itu.
Mak Ijah pun tak menyangka jika pria yang selama ini di kenal sangat baik, ternyata menyimpan sisi gelap seperti ini.
pak Tejo hanya tersenyum santai saja, "jangan berani menyentuh cucu menantu ku, atau aku akan menunjukkan bagaimana pria tua ini marah,"
tiba-tiba angin berhembus kencang, pak lurah menoleh tanpa mengatakan apapun dan memilih pergi begitu saja.
pak Junaidi dan Mak Ijah pun merasa aneh, "apa maksudnya pak?"
"kamu kira sryriah kehilangan istrinya itu, pak lurah akan duduk manis saja, tidak mungkin, terlebih aku tadi melihat tatapan matanya pada Sekar," jawab Mbah Tejo.
pak lurah pun menyeringai saat di dalam mobil, "tak ku sangka pria tua itu sudah mengetahui niat ku,"
mobil itu pun meninggalkan rumah dan menuju ke suatu tempat, dan di bagasi belakang.
ada sosok yang tertelungkup di tutupi kain, pak lurah merasa kesal karena orangnya malah membiarkan itu seperti bunuh diri.
padahal dia sudah memberikan perintah dengan jelas untuk menyingkirkannya dengan benar, karena tak ingin ada masalah nantinya.
"pak bos mayat itu akan kita apakan?"
"kenapa tanya, tentu saja seperti biasa, jangan banyak tanya," jawab pria itu
di sebuah tempat yang baru saja kedatangan daging segar, pria yang memegang pisau itu sedang menguliti barang itu.
bahkan tetesan darah di lantai tak membuat pria itu jijik, dan dengan santai pria itu mengecek kwalitas daging itu.
tentu dia butuh daging terbaik minim lemak untuk membuat bakso yang enak.
"daging yang bagus, aku akan membuat bakso enak dengan ini," kata pria itu melirik seseorang.
aku tunggu uang itu ke rekening ku," jawab seorang pria yang berdiri sambil menikmati rokoknya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 132 Episodes
Comments
Emy Bundanya Aisyah
😱 ngga kbyng bakso daging manusia hoeex
2024-03-06
1
Astiah Harjito
tetep aja typo, cerita yg bagus sebenarnya, tapi sayangnya gk sesuai dgn kaidah penulisan. Terlihat sangat amatiran
2023-08-24
0
Susanto santo
👍
2023-06-09
2