Mereka bertiga menikmati makanan sederhana ini, meski tanya sambal teri, dan berbagai sayur lalapan yang sudah di masak.
Setelah selesai, Sekar membersihkan piring kotor dan kemudian mandi untuk siap ke masjid.
Saat terdengar suara adzan magrib ,mereka pun berangkat bersama ternyata banyak orang yang juga berangkat ke masjid.
Semua orang membawa jajan atau mungkin nasi di ancak, ya setiap Kamis malam Jum'at mereka selalu kirim doa dan membawa makanan untuk di bagi bersama.
Sesampainya di masjid, mereka menaruh makanan di pojok masjid, kebetulan Mak Ijah, Sekar dan Nur ini satu baris dan ada satu ibu lagi.
Saat sholat berjamaah, semua orang khusyuk, dan setelah sholat selesai mereka berdoa bersama baru makanan yang tadi di bawa di bagi.
Semua orang makan yang berat dulu, baru kemudian di lanjutkan dengan yang ringan sambil berbincang menunggu waktu sholat isya' datang.
"Aduh ini Mendut telo enak, siapa yang bawa, uh... begitu pas gitu rasanya," terang salah satu wanita.
Mak Ijah tersenyum melihat makanan buatan cucunya itu di puji oleh semua orang.
"Sepertinya tadi Mbah Tejo yang bawa,buatan mak ya?" tanya Nur yang setuju jika Mendut itu enak.
"Bukan kok,ini buatan dari cucu Mak, yaitu neng Sekar," kata Mak Ijah merangkul cucunya itu.
"Aduh tak sangka anak kita bisa buat makanan enak seperti ini," puji Bu Lurah yang kebetulan ikut kumpul juga.
"Iya Bu lurah, orangnya boleh kota, tapi kalau hati ya tetap anak desa," kata Mak Ijah tersenyum.
Setelah sholat isya' berjamaah, mereka semua berpencar untuk pulang ke rumah masing-masing.
Tapi saat di jalan, tak sengaja Mbah Tejo, mak Ijah dan Sekar melihat ada bola api yang terbang menuju ke arah rumah mereka.
Tapi saat sudah dekat tiba-tiba bila api itu meledak begitu saja, "sudah tenang saja, insyaallah kita akan," kata Mbah Tejo.
Malam hari tiba-tiba hujan turun dengan lebat, seorang gadis berjalan sendirian karena tadi dia lupa tidak minta jemput kekasihnya.
Dia melihat ada seorang pria yang berpakaian mencurigakan berjalan di belakangnya.
Dia lari ketakutan hingga tak sadar dia berlari ke arah jalan raya dan akhirnya tertabrak mobil dan sayangnya mobil itu lari.
Dan wanita itu menggelepar sebelum akhirnya mati di tempat, sedang pria yang mengikutinya itu tak peduli karena pria itu hanya sedang berjalan santai.
Terlebih dia memakai headset dan dia berbelok sebelum wanita itu lari ke tengah jalan.
Di rumah,pak Yadi merasa hatinya tak tenang karena putri pertamanya belum menelponnya padahal sudah jam sembilan malam.
Ya meski pun gadis itu merantau di kota dan biasanya mereka akan saling menghubungi saat jam delapan malam.
Tapi kali ini putrinya itu tak ada kabar, "tenang atuh pak, mungkin si mbak masih lembur," kata Bu tadi menenangkan suaminya itu.
"Tidak mungkin Bu, karena bapak kenal baik dengan putriku, jadi dia pasti akan bilang tadi sebelum lembur, tapi ini tidak ada Bu," kata pak Yadi yang panik.
Semalaman pria itu tak bisa tidur,bahkan telpon dari putrinya pun tak bisa di hubungi.
Pak Yadi ketiduran di sofa ruang tamu, saat pukul tiga di i hati,sebuah ketukan pintu mengejutkannya.
"Assalamualaikum... pak Yadi pak, ini saya pak lurah!" teriak pria itu dari luar rumah.
"Wa'alaikumussalam salam,ada apa pak lurah kok begitu panik,dan kenapa datang pagi buta begini pak," kata pak Yadi yang bingung melihat pria itu.
"Anu pak Yadi, saya datang mau kasih kabar, ya Allah bagaimana bilangnya, jika putri bapak mengalami kecelakaan dan sekarang jenazahnya ada di rumah sakit," kata pak lurah.
"Pak lurah bercanda nih, tak lucu pak," kata pak Yadi mulai marah.
"Saya tidak bohong pak, tadi ada polisi yang menghubungi saya dan mengatakan hal itu pak, demi Allah pak," kata pak lurah dengan sungguh-sungguh.
"Tidak mungkin,ayo antar saya ke sana pak, saya tidak percaya jika tidak melihatnya secara langsung," kata pak Yadi
Dia dan pak lurah pun menuju ke kota yang butuh setidaknya dua jam perjalanan.
Saat sampai di rumah sakit, ada seorang polisi yang menunggu kedatangan keduanya dan langsung mengajak mereka ke kamar mayat.
Pak Yadi dengan gemetar menuju ke arah ruangan itu,dan melihat ada sesosok tubuh yang di tutupi kain putih.
Dengan tangan gemetar dan tubuh yang sudah tak bisa di ajak kuat,dan dengan tenaga tersisa pak Yadi membuka kain penutup itu dan melihat putrinya yang sudah terbujur kaku tak bernyawa.
"Laila!!" teriaknya dengan sangat keras sambil memeluk putrinya itu.
Wajah gadis itu ada luka jahitan yang cukup luas bahkan hampir separuh kepala.
"Silahkan di urus adminitrasi dan mau di sucikan di rumah atau di sucikan di rumah, terserah anda," kata polisi itu.
Pak lurah pun membantu pak Yadi yang hanya bisa duduk terus menangis, dan di putuskan untuk menyucikan Jenazah di rumah
Karena pak lurah tak percaya dengan cara kerja rumah sakit,maklum mereka ini orang kampung jadi masih mengedepankan ajaran agama dengan kuat.
Jadi pak lurah menghubungi orang kepercayaannya untuk menjemput Mak Ijah dan menyiarkan tentang kematian dari Laila putri pak Yadi.
Bahkan istri pak Yadi tak percaya dengan berita yang di beritahu suaminya, dan wanita itu pun menjerit histeris mendengar kabar itu.
Dan pingsan, jadi yang mengurus semuanya di rumah adalah anak kedua pak Yadi yang baru kelas dua SMA
Dia benar-benar mempersiapkan semuanya untuk menyambut kedatangan jenazah kakaknya.
Mak Ijah, Sekar dan Nur sudah menyiapkan semua peralatan untuk memandikan jenazah.
Tapi saat berdiri di area yang akan di gunakan untuk memandikan jenazah, tercium aroma wangi dan bau silih bergantian.
Sekar menahan saja dan tak berani membuka mulutnya, akhirnya mobil jenazah itu datang.
Dan ternyata saat turun dari kendaraan itu, Mak Ijah meminta langsung untuk di sucikan karena sudah dari semalam.
Saat para perawat itu menaruh jenazah itu ke tempat pemandian khusus yang sudah di alasi daun pisang.
mereka bertiga kaget, karena melihat kondisi jenazah yang terdapat luka jahitan.
di tambah perut dari gadis ini ukurannya tak normal, seperti sedang hamil muda terlebih ciri wanita hamil juga benar-benar terlihat di tubuh itu.
"Mak ini .."
"Sudah mandikan saja, karena kita tak tau apa yang terjadi sebenarnya," kata Mak Ijah.
mereka pun menyucikan Jenazah, tapi saat memiringkan tubuhnya, ternyata Mak Ijah sedikit kaget melihat ada sebuah tato yang membuatnya mundur beberapa langkah.
"Astaghfirullah... apa ini, apa yang harus di lakukan, ya Allah tolong berikan petunjuk mu," kata Mak Ijah yang terdiam sebelum melanjutkan tugasnya.
Dia pun keluar dan mencari pak Yadi dan keluarganya, karena ingin bertanya-tanya, karena tidak mungkin jika jenazah harus di makamkan secara Islam jika gadis itu memiliki agama yang dia pilih dan anut sendiri.
"Permisi pak Yadi,saya ingin bertanya sesuatu, apa bisa?" kata Mak Ijah perlahan-lahan karena takut keluarga itu tersinggung.
"Sudah Mak saya tau,tolong kuburkan sesuai agama kura saja, karena saya tak pernah merestui dia memilih agamanya," kata pak Yudi yang ternyata sudah tau.
Mak Ijah pun terdiam, ini salah karena akan membuat jenazah tak di perlakukan dengan seharusnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 132 Episodes
Comments
Kardi Kardi
apakah murtadddd ma, ASTAGFIRULLAH ALADZIM
2024-06-04
2
Alvian Vian
haduh typo
2024-03-06
1
Rini Astuti
agama kura kyk mna?
2024-02-03
2