Sekar yang berada di rumah, baru sadar dari pingsannya, dan merasa jika tubuhnya sangat ringan.
Dia pun keluar dan melihat ternyata hari sudah mulai siang menjelang sore, jadi dia memutuskan untuk mulai menyapu.
Sedang di toko kelontong, Mak Ijah dan Mbah Tejo bingung, karena tak mengira jika belanjaan mereka bisa sebanyak ini.
"Ini kok bisa sebanyak ini sih Bu ne, kamu khilaf atau bagaimana?" tanya Mbah Tejo.
"Entahlah pak e,ibu juga bingung, tadi ini cuma ambil seperlunya saja kok, tapi kenyataannya kenapa malah banyak begini," jawab Mak Ijah.
"Ya wes tak apa-apa, sekarang ayo kita pulang busa kan bawa belanjaan ini?"
"Insyaallah bisa pak e,"
keduanya pun mulai berkendara menuju ke rumah, tadi juga sempat berhenti untuk beli.tempr di rumah tetangga.
sesampainya di rumah, ternyata Sekar sudah selesai menyapu dan mengepel rumah.
"Assalamualaikum ..."
"Wa'alaikumussalam Mak, Mbah," jawab Sekar yang langsung mencium tangan kedua orang tua itu.
"Aduh kamu sudah selesai bersih-bersih memang tak lelah ya, mending istirahat dulu," kata Mak Ijah.
"Tidak kok Mak, ini malah mendingan rasanya jadi aku bergerak," jawab Sekar yang membawa belanjaan itu masuk kedalam rumah.
Mbah Tejo seperti melihat sesuatu sebelum menyusul kedua wanita itu masuk.
Setelah memastikan hal yang tak kasat mata, pria itu ikut masuk dan menemani para wanita yang sedang membereskan semua belanjaan.
"Loh Mak kok beli tepung- tepungan sebanyak ini,memang mau di buat apa?" tanya Sekar bingung.
"Ya takutnya kamu ingin buat camilan, jadi majelis banyak," kata Mak Ijah.
"Aduh Mak ini tau saja jika aku suka buat makanan, tapi aku boleh tidak tanam sayuran di belakang rumah, kan lumayan bisa hemat untuk sayurannya," kata Sekar yang meminta izin.
"Tentu bisa nduk, nanti bilang saja, Mbah akan bantu menanamnya agar bisa cepat tumbuh itu sayurannya," kata Mbah Tejo.
"Baik Mbah, terima kasih banyak ya, sudah menyayangi ku," kata Sekar memeluk Mak Ijah.
Tiba-tiba dia menangis lirih, dia sendiri bingung dengan perasaannya.
"Ada apa nduk, kenapa menangis?" tanya Mak Ijah yang merasa jika cucunya itu begitu sedih.
"Aku mimpi buruk Mak, aku melihat orang tua ku di rantai dengan api yang membara dan mereka terus berteriak meminta tolong, tapi tidak bisa, aku tak bisa melihat siapa yang memegang rantai api itu, tapi perlahan orang tua ku Mak..." lirih gadis itu.
"Sudah nduk mimpi itu cuma bunga tidur, jadi tak perlu di pikirkan, jamu hanya perlu berdoa saja semoga orang tua mu segera sadar, dan kembali kejalan yang benar ya,"
"Baiklah Mbah, aku mengerti," jawab Sekar
Sore itu, Sekar mencari resep masakan baru yang mungkin bisa dia contoh.
Dan ternyata dia menemukan sebuah resep yang bisa di bilang resep rumahan yang enak.
Dia pun punya semua bahan kecuali ayam ataupun daging, "emm... di ganti telur sepertinya enak," gumamnya.
Gadis itu sudah sibuk dari tadi di dapur, sedang Mak Ijah dan Mbah Tejo ketiduran karna lelah.
"Oh iya, hari ini kan Kamis malam Jum'at, sepertinya Mbah biasanya bawa makanan untuk ke masjid, karena Mak sedang tidur,biar aku saja yang buat, semoga warga desa tak keracunan karena masdjan ku," gumam Sekar.
Gadis itu mengambil ubi yang kemarin baru di panen dan mengukusnya setelah di kupas dan di bersihkan.
Belum lagi dia mengambil kelapa yang sudah setengah tua kemudian memarutnya secara manual.
Meski tangannya terluka dia tak menyerah dan segera membuat isian dari kue itu.
Dia mencampur kelapa parut dengan gula pasir dan daun pandan wangi dan memanaskan sambil terus di aduk hingga matang.
Setelah matang dia pun segera membulatkan adonan isian itu menjadi enten-enten kelapa.
Setelah ubi ungu itu matang, dia segera mengangkatnya dan menumbuknya hingga lembut.
Kemudian mencampurnya dengan tepung kanji, setelah adonan Kalis dia pun mulai membuat mendut telo ungu.
Tapi sayangnya dia bingung bagaimana cara membungkusnya, tapi dia mencoba mengingat bagaimana dulu ibunya membuat makanan itu.
Setelah ingat dia pun membungkus dan menata makanan itu untuk di kukus, dan akhirnya dia tinggal menunggu satu jam untuk memastikan mendut itu matang.
"Terus sekarang aku harus ngapain ya, karena aku bingung," gumamnya yang bosan karena tinggal menunggu camilannya itu matang.
Jadi dia ke kebun belakang, dan matahari mulai tenggelam dan menujukkan warna jingga yang indah.
Beberapa orang yang pulang dari kebun menyapa Sekar dengan sopan.
"Pak itu bawa apa?" tanya Sekar melihat beberapa warga yang membawa keranjang yang berisikan karung di dalamnya.
"Owh ini ya neng, ini bapak bawa pelompong talas, sampean mau?" tawar pria itu menurunkan keranjang yang dia bawa.
"Wah apa itu, dan jika bisa di masak itu enaknya di buat apa?" tanya Sekar penasaran.
"Tinggal di cuci dengan air garam,tapi kulitnya yang keras di buang dulu,mau di santan enak maupun di buat sayur lalapan juga enak," kata pria itu.
"Pasti di rebus dulu kan,"
"Ya pasti lah neng, kalau di makan mentah keroken engko," kata pria itu tertawa.
Mendengar itu Sekar juga tersenyum dan minta dua tangkai saja, karena dia belum pernah memakannya, jadi mau coba dulu.
Dia pun segera membersihkan sayuran itu dan setelah itu dia mengikuti ucapan bapak itu dengan mencucinya dengan air garam kasar beberapa kali dan mencucinya setelah itu.
Karena dia takut akan gatal, setelah memastikan semuanya bersih,dia pun merebusnya dengan air mendidih yang di taburi garam.
Tak lupa dia membakar terong kesukaan Mbah Tejo dan Mak Ijah, untuk makan malam nanti.
Tanpa terasa semua masakan gadis itu matang hampir bersamaan, dia menyelesaikan masakan lalapan sehatnya itu.
Baru merapikan Mendut telo ungu yang tadi dia buat, dan untungnya saat dia mencicipi jajanan basah itu.
Rasanya sangat enak meski bentuknya sangat tak baik karena dia membungkusnya sendirian.
"Mak, Mbah bangun yuk aku sudah masak sambel teri kesukaan nih," panggil gadis itu yang sibuk menata jajanan yang akan di bawa ke masjid.
"Aduh, maaf ya Mak gak ikut bantu karena ketiduran, ya Allah nduk... kamu buat semua ini sendiri," kaget Mak Ijah.
"Aku belajar Mak, nanti jajan Mendut bisa di bagikan di masjid ya, kan ini Kamis malam Jum'at Mak,"
"Gadis pintar, terus kamu dapat lompong talas ini dari siapa?" tanya Mak Ijah.
"Ah itu ya, aku di kasih oleh Mbah Sarji Mak, katanya ini enak, aku sudah cuci dengan garam kasar tiga kali dan merebusnya dengan air garam juga kok, terus tadi aku sudah mencobanya, dan sepertinya aman," jawab gadis itu.
"Gadis pintar, ya sudah kita makan,dan saat sholat Maghrib nanti kita jama'ah di masjid ya, semoga tidak hujan, tapi kamu buat berapa nduk?" tanya Mbah Tejo penasaran karena melihat tumpukan Mendut telo itu.
"Ada sekitar lima puluh Mbah, itu aku sisakan lima buat Mbah dan Mak nanti jika ingin coba, tapi maaf itu tadi yang daunnya bocor," kata Sekar.
"Ya sudah tidak apa-apa, sekarang Mak mau makan masakan cucu Mak yang cantik ini, sepertinya sangat enak dengan nasi jagung ini," kata Mak Ijah.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 132 Episodes
Comments
Kardi Kardi
good and sholehah girllll
2024-06-04
3
Rini Astuti
majelis?
2024-02-03
2
QueenDevil
nama Telo lebih baik di ganti ketela
2024-01-11
1