Malam harinya Sekar tak bisa tidur, akhirnya gadis itu memilih sholat dan mengaji, malah tertidur saat bersandar.
Hingga dia di kejutkan oleh Mbah Tejo yang membangunkannya, "tidur di kamar nduk,"
"Inggih Mbah," jawab gadis itu.
Sekar langsung menuju ke kamarnya dan memilih untuk tidur dan bagaikan tersihir gadis itu tertidur begitu lelapnya.
Sedang di rumah ustadz Abdullah Arifin, sedang melakukan rapat mendadak dengan semua anaknya.
Pria itu mengumpulkan ketiga putranya untuk membahas sesuatu yang penting.
"Zakaria, Abi sudah menjelaskan di awal ya le, tugas mu itu sangat berat, bukan hanya sekedar menikahi Sekar tapi ada juga misi rahasia yaitu untuk memutus rantai pesugihan yang di anut oleh teman ku itu, dan itu sudah aku setujui bersama Mbah Tejo," kata ustadz Abdullah.
"Baiklah Abi saya mengerti, tapi bagaimana saya bisa menghancurkan fondasi kuat yang sudah mengakar bertahun-tahun itu," kata Zaka yang memang tak memiliki pengalaman seperti itu.
"Kamu harus mengambil pusaka yang ditanamkan pada gadis itu, karena sebenarnya Sekar itu di persiapkan untuk menjadi wadah bagi iblis yang mereka sembah, dan saat kamu bisa mengambil pusaka itu dan memberikannya pada Mbah Tejo,biar pria itu yang menghancurkan pusaka iblis itu, dan setelah itu kamu bisa memiliki keluarga yang sakinah mawadah warahmah bersama Sekar karena Abi yakin,gadis itu memiliki akhlak dan pengertian agama yang baik le," kata ustadz Abdullah.
"baiklah Abi, saya akan mengikuti semua permintaan dan tugas dari Abi," jawab pemuda itu dengan yakin.
Kedua adik dari Zaka tak menyangka kakak mereka akan menurut seperti ini, padahal mereka tau jika Zaka menyukai seseorang.
"Abi apa ini tidak keterlaluan, padahal mas Zaka sudah memiliki wanita yang dia cintai," kata Yusuf putra ketiga dari ustadz Abdullah.
"Di dalam keluarga kita tak mengenal apa itu pacaran, jika memang dia mencintai wanita itu, seharusnya dia bilang dan meminta izin untuk melakukan ta'aruf dengan gadis itu, dan nanti Abi akan menimbang dan melihat gadis itu apa pantas menjadi menantu keluarga ini," kata ustadz Abdullah.
"Sangat pantas Abi, dia adalah cucu dari ustadz-"
"Hentikan ucapan kalian, dan jangan mengatakan apapun lagi, karena ini keputusan ku, aku yang meminta Abi untuk meminang Sekar cucu Mbah Tejo, jadi kalian berhenti ikut campur," kata Zaka.
"Kalian dengar sendiri, jadi pembicaraan kita berhenti di sini, dan jika kalian membocorkan rahasia ini, Abi akan menghukum kalian dengan apa yang tidak pernah kalian bayangkan," kata ustadz Abdullah yang berhasil membuat dia putranya itu diam.
Zakaria pun bangkit dan segera menuju ke kamarnya untuk menulis surat yang terakhir kalinya.
Karena setelah ini, dia akan menjadi milik wanita lain dan tak baik jika tetap berhubungan seperti ini dengan wanita lain.
"Mas..."
"Tolong kirimkan padanya, dan bilang jika aku sudah membakar segalanya, dan sekarang dia juga harus mengikuti keinginan orang tuanya, dan berbahagia dengan pria yang di pilihkan oleh orang tuanya," kata Zaka pada Adam.
"Baiklah mas, aku mengerti," jawab adik Zakaria itu.
Pak Junaidi sudah sampai di desa pukul enam pagi, agar istrinya itu tak curiga.
Mbah Tejo menyambut kedatangan putranya itu dengan senang hati, karena pria itu terlihat begitu lelah.
"Masuk dulu, Mak mu sudah membuatkan kopi, minumlah," kata Mbah Tejo.
"Terima kasih pak,"
Sekar sudah bangun dan menyuguhkan gorengan untuk sarapan.
"Assalamualaikum ayah,"
"Apa kamu bahagia di sini nduk?" tanya pak Junaidi memukul putrinya itu.
"iya ayah,aku lebih bahagia di sini bersama dengan Mbah dan Mak, dan lagi tolong restui pernikahan ini ya yah," mohon Sekar yang tak ingin kakeknya itu malu.
"Tentu saja nak, karena dulu ayah dan ustadz Abdullah susah punya perjanjian saat kami muda dulu, jadi ayah pasti setujui nduk, apa kamu yakin bisa bahagia dengan pernikahan ini, karena ayah tak ingin kamu terluka nantinya,"
"Insyaallah dengan restu semua orang, Sekar pasti bisa bahagia ayah," kata gadis itu dengan yakin.
Mbah Tejo melihat sosok anaknya itu, "apa kamu tau konsekuensinya le?"
"Kalau begitu saya minta tolong ya pak, saya sudah lelah karena saya sudah tak sanggup melihat anak saya terluka lagi, terlebih aku hanya memiliki Sekar dan Rudi sekarang," kata pak Junaidi melihat putranya yang masih tidur di dalam kamar.
Bocah berusia dua belas tahun itu, bisa lari karena bocah itu tadi mengamuk karena ingin ikut.
Itulah kenapa Bu Siti mengizinkan suaminya membawa Rudi untuk belanja, tentu itu bohong.
Sedang di rumah, Bu Siti bersikap biasa karena hari itu juga sangat sibuk seperti biasa.
Pukul sembilan pagi, rombongan keluarga dari ustadz Abdullah datang.
Mereka pun di sambut dengan hangat, pak Junaidi berpelukan dengan tenang lamanya dulu.
Mbah Tejo memblokir semua aura buruk yang ingin masuk agar tak ada gangguan selama acara.
"jadi kedatangan kami kesini untuk meminang nak Sekar, apa di terima?" tanya ustadz Abdullah
"insyaallah di terima, tapi jika bisa tolong nikahkan secara agama saat ini, aku takut tidak bisa menjadi wali putriku saat aku pulang nanti," kata pak Junaidi jujur.
"Saya siap ayah, Abi..."
"Baiklah aku setuju, dan bismillah ya gok nanti kita cari jalan keluarnya agar bisa lepas dari apa yang membelenggu dirimu," kata ustadz Abdullah.
"Semoga bisa," jawab pria itu.
Sedang di kota, Bu Siti merasa ada yang aneh, karena suasana warungnya rame tapi rasanya sesak dan panas tapi ternyata bagi dirinya saja.
pelayan ada yang melihat Bu Siti sedikit gelisah pun merasa aneh, "ibu kenapa, apa tidak nyaman?" tanya pegawai itu
"sepertinya saya sedikit lelah, saya istirahat di lantai tiga ya, dan jangan ada yang masuk," kata wanita itu yang langsung lari ke lantai tiga.
sesampainya di sana Bu Siti langsung memanggil sodok yang menjadi pelindung tempat itu selama bertahun-tahun, ya sosok yang mereka sembah.
"Siti apa yang ingin di lakukan suamimu, aku tak bisa merasakannya, dia pergi Siti!!" marah dodok makhluk berwujud manusia setengah ular.
"Maaf kajeng prabu, saya juga tidak tau tadi malam pamitnya ingin Belanja di tempat langganan tapi saya telpon tidak bisa, dan kenapa saya merasa tubuh saya sangat tak nyaman dan panas," tanya wanita itu bingung.
"Itu terjadi karena pengantin ku tak bisa aku dekati, dan ada orang yang berusaha melepaskan ikatan kemi Siti, ingat siri jika ikatan kami lepas kamu dan Junaidi yang akan mati,"
"Tidak ada yang bisa melepaskannya kanjeng, kecuali dia pria bodoh yang tak mengerti jika di tubuh Sekar itu di tanami pusaka yang bisa merenggut banyak pria," kata wanita itu tertawa.
"Juga tapi kamu lupa, jika mertua mu itu bukan keturunan orang sembarangan,"
"Tenang saja Kanjeng pria itu tak akan berani melecehkan cucunya sendiri, hanya demi menolong gadis itu," kata Sekar yang memang tak memiliki empati lagi.
Karena baginya yang terpenting itu hanya uang uang dan uang.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 132 Episodes
Comments
Menteng Jaya
anak kok fijadikan tumbal itu mah orang tua gila
2024-12-30
0
AGhanteng
Oalah ibunya sekar gila uang ya. Sampe tega menjerumuskan anak perempuannya juga
2024-01-25
2
Ekayadi
maaf ya KK aothor masih banyak kata kata yg tidak nyambung dgn cerita ny...jgn tergesa gesa menulis ny KK pelan pelan aj santai d baca dulu bru up... jujur cerita ny seru tp kata kata ny banyak yg salah... maaf ya jgn tersinggung KK saya gk bermaksud lain hanya saran aj...makasih semangat menulis ny...
2024-01-13
3