Mdk Ijah memilih pulang kaki bersama Nur, mereka juga mendapatkan dalam tempel yang di berikan oleh pak Jono.
Meski nominalnya tak besar, itu cukup untuk membeli beras, "aku masih merinding Mak, gimana ini kalau aku gak bisa lupa," kata Nur yang ketakutan.
"Sudah jangan terus di ingat, ini minum air putihnya dan jangan lupa bismilah dulu," kata mak Ijah.
"Terima kasih mak, padahal dku sudah sering menerima dan membantu Mak ya, tapi kenapa aku masih sering ketakutan," kata Nur
"Ya namanya juga bekerja seperti ini nduk, kan Mak sudah sering bilang, kerja ikhlas nduk, ya sudah Mak duluan ya kamu sudah sampai di rumah begitu," kata Mak Ijah.
"Iya Mak, tidak mampir dulu," kata Nur yang merasa tak enak jika tak menawari wanita itu.
"Sudah, Mak mau pulang itu di Mbah pasti ngomel kalau Mak tak ada di rumah,maklum sekarang dia makin cerewet," kata Mak Ijah.
"Aduh tak ku sangka istriku ini suka menjelek-jelekkan suaminya, sedihnya hatiku," kata Mbah Tejo yang berhenti di samping istrinya itu.
"Aduh bapak ini ngomong apa, sudah ayo pulang pak, permisi ya Nur," pamit kedua orang tua itu.
Mbah Tejo pun membonceng istrinya itu dengan penuh perasaan, dia tak mau jika istri tercintanya itu terluka.
"Aduh aku kok iri ya melihat mereka, meski sudah tua tapi tetap mesra, sedang aku, huh..." kata Nur yang masuk kedalam pekarangan rumah
Kebetulan suaminya dari samping rumah dan tak sengaja mendengar ucapan istrinya.
"Ibu menyesal menikah dengan bapak?"tanya pak Hudi suami Nur.
"Bapak ini ngomong apa, kok ya aneh sudah ibu mau masuk dan masak," ketus Nur.
"Idih, sekarang kamu ketus gitu sih," kata pak Hudi.
Sedang di jalan, Mak Ijah berpegangan erat pada pinggang suaminya yang sedang menggowes sepeda ontel nya.
Sesampainya di rumah, terlihat ada seorang gadis cantik yang sedang berdiri di sana, "Mbah dok .. Mbah kung!!" teriak gadis itu yang langsung lari dan memeluk Mak Ijah.
"Astagfirullah Sekar, kenapa kok bisa kesini, bukannya tak ada omongan mau pulang ya," kata Mak Ijah.
"Sebenarnya itu Mbah dok, aku di marahin ayah, katanya anak gadis kelakuan preman, jadi aku di suruh pulang kesini untuk tinggal dengan Mbah dok, karena ayah harus mengurus usaha di tambah ibu tak bisa membantu karena harus mengurus adikku," kata gadis cantik itu yang memang penampilannya seperti preman.
"ya sudah masuk dulu, Mbah mau ambil singkong buat makan malam," kata Mbah Tejo.
"Apa, ih... Mbah kung,kan ayah setiap bulan kirim uang begitupun dengan anak Mbah yang lain, kenapa malah milih makan singkong," protes Sekar.
"Ya Mbah lebih suka makanan alami begini, sudah tak usah protes nanti kamu rasain dulu,oh ya selama di desa, bantuin Mbah uti saja, lumayan nanti bisa dapat uang," kata Mbah Tejo.
"Gak mau, ngeri tapi ya sudah deh aku belajar, itung-itung jagain Mbah dok juga," kata Sekar yang membuat Mbah Tejo merasa aman.
Akhirnya mereka semua masuk ke dalam rumah, saat masuk sekar merasakan hawa yang begitu adem dan nyaman.
Dia tak bisa merasakan kenyamanan ini selama tinggal di rumah orang tuanya.
"Ada apa nduk?" tanya Mak ijah.
"Tidak apa-apa Mbah dok, aku mau gunakan kamar yang tengah ya, boleh," jawab Sekar yang langsung mengalihkan perhatian dari neneknya itu.
"Boleh saja, oh ya ini kartu ATM yang di kasih om mu, kamu pegang ya, Mbah gak tau cara pakainya, jadi kamu yang bawa, nanti kalau butuh Mbah pasti minta," kata Mbah Tejo.
"Iya Mbah," jawab Sekar
Saat gadis itu mulai menata semua pakaian yang dia bawa, dia tak menyangka akan kabur begitu saja dari rumah.
Sebab dia tak tahan lagi karena aura dari rumah orang tuanya yang panas dan mengerikan.
Di tambah usaha yang semakin hati semakin laris tapi membuat kedua orang tuanya semakin kehilangan hati nurani mereka.
Tiba-tiba hujan deras turun membasahi bumi, Sekar melihat ada sedikit hal yang aneh karena kondisi saat ini sedang panas.
Dia pun buru-buru keluar dari kamarnya, "Mbah dok, itu kenapa di luar panas tapi terdengar suara petir dan hujan dengan deras sih, aneh banget?"
"Itu namanya hujan panas, orang dulu percaya jika ada hujan seperti ini ada hantu yang melahirkan, tapi entah itu mitos dari mana," kata wanita itu dengan senyum.
"Lah kok gitu, aku taunya hujan dengan mendung putih, itu pasti sudah bisa di kira-kira akan hujan sangat lama," kata Sekar yang membantu mengupas singkong.
"Ya mau bagaimana lagi, namanya juga di kampung, sudah ini sudah Mbah cuci, tolong di rebus terus buatkan sambal ya," kata Mbah Tejo yang memberikan daun singkong muda.
"Wah ini kita makan singkong sambel ya Mbah?"
"Iya nduk, Mbah lagi kepingin makan itu," jawab pria sepuh itu.
Dengan segera Sekar mulai memasak daun singkong itu, dan membuatkan sambel dadak.
Setelah semuanya matang, mereka bertiga makan dengan sangat lahap, bahkan Sekar yang awalnya protes, kini malah paling lahap.
Setelah itu mereka semua beristirahat, Sekar tertidur setelah membaca tata cara untuk mengurus jenazah.
Sedang Mak Ijah dan Mbah Tejo baru akan bersiap untuk tidur saat mereka mendengar suara kaca di ketuk.
Pasti seperti ini, dan setelah tiga kali ketukan akhirnya tak terdengar lagi, dan mereka pun tidur.
Keesokan harinya, Sekar yang terbiasa lari pagi pun tetap melakukan aktifitasnya.
Dia berkeliling desa untuk berolahraga, sedang Mak Ijah bersih-bersih rumah.
"Bu ne, bapak kok gak lihat Sekar, mana gadis itu?" tanya Mbah Tejo yang baru selesai mencari rambanan untuk kambing.
"Lah ibu tidak tau, mungkin sedang olahraga, bapak kan kata tau jika cucu mu itu suka lari," kata Mak Ijah tersenyum.
Tanpa terduga sekar kembali sambil mengendong rambanan di belang tubuhnya.
"Mbah... aku bawa pakan dari rumah pak haji Dardak,"
"Ya Allah gadis ini," kaget Mak Ijah.
Karena cucunya itu membawa ikatan rambanan berukuran besar, Mbah Tejo kaget melihat cucu perempuannya itu.
Dia pun segera mengambil rambanan itu dari punggung Sekar, setelah itu mereka pun sarapan.
Pagi ini mereka makan nasi tiwul dan lagi-lagi Sekar menerima keadaan di desa.
Karena dia tak mau merepotkan kakek dan neneknya, "Mbah kalau sedang senggang begini, Mbah dok biasanya ngapain,gak mungkin dong berharap ada yang mati setiap hari," kata Sekar dengan lancar.
"Mbah dok itu biasanya memilih untuk bantu-bantu di sawah milik kami,meski kecil tapi Alhamdulillah loh nduk," kata Mak Ijah dengan lembut.
"Oke Sekar bantu,"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 132 Episodes
Comments
Defrin
tak ada kejadian aneh-aneh gitu thor
2024-05-05
1
Eni Antarini
heran bnyak banget typo nya
2024-02-29
0
Michelle Ardina
lanjuttt kk
2024-02-28
0