Melihat puluhan kutu daun raksasa yang terbang di sekitarnya, Aurora menarik napas dalam-dalam. Mencengkeram erat rapier (pedang) berujung tajam dengan tangan kanannya, wanita itu langsung membuat gerakan yang begitu cepat.
Jleb! Jleb! Jleb!
Menggunakan bagian tubuh pedang untuk menangkis serangan kutu daun raksasa sambil menusuk titik fatal makhluk itu ketika memiliki kesempatan, Aurora membunuh banyak kutu daun raksasa dengan cepat dan elegan.
Wanita itu mengalihkan perhatiannya, menyempatkan diri untuk melihat rekan-rekan satu timnya.
Muddy terbunuh, Rocky bertarung dengan putus asa, dan Clayton menyerang dengan ganas. Tampak agak gila.
Sam, pria tinggi dan kekar tetapi pendiam itu menggunakan pedang panjangnya dengan mantap. Tidak terburu-buru, tetapi berhasil menangkis serangan kutu daun raksasa dan membunuh beberapa.
Sementara itu, Paul menggunakan perisai bulat untuk menangkis serangan makhluk-makhluk itu sambil mengayunkan kapaknya. Jelas, pria paruh baya itu memiliki pengalaman yang banyak dalam menghadapi situasi semacam itu.
Pada saat melihat ke arah Alexander, mata Aurora terbelalak. Pupilnya menyusut, benar-benar terkejut dengan apa yang dilihat olehnya.
Dibandingkan dengan dirinya, Sam, dan Paul, Alexander jelas memiliki kekuatan yang tidak seberapa karena baru saja naik ke level 1. Bahkan belum mulai meminum ramuan level 2. Meski begitu, dibandingkan dengan mereka semua, pemuda itu benar-benar membunuh jauh lebih banyak kutu daun bermutasi.
‘Tidak menangkisnya? Membunuh setiap kutu yang menyerang? Ditambah lagi, gerakan itu ...’
Aurora benar-benar tidak ingin mempercayai apa yang dilihatnya.
‘Gerakan dasar berpedang?’
Ya. Bukan berbagai trik indah atau skill yang luar biasa, tetapi hanya gerakan dasar biasa.
Alexander langsung menebas kutu yang menyerangnya. Tebas secara vertikal, horizontal, atau diagonal tetap di titik vital. Jika tidak tusuk lalu lemparkan ke samping. Benar-benar tampak sangat sederhana, tetapi tidak mudah dilakukan.
Alasannya sederhana ...
Ketepatan waktu!
Melakukan satu gerakan dasar untuk membunuh satu musuh memerlukan ketepatan waktu. Entah itu kecepatan reaksi tangan, menargetkan titik vital musuh, dan beberapa hal lain harus dihitung dengan tepat.
‘Sebenarnya siapa pemuda itu?’
Pada saat itu, Aurora tiba-tiba mendengarkan suara kepakan sayap. Melirik ke arah tertentu, dia langsung berteriak.
“Ada yang datang!”
Mendengar teriakannya, semua orang menatap hampir tiga puluh burung pipit raksasa yang baru saja datang. Jumlah mereka terlalu banyak untuk dilawan lima orang. Belum lagi, masih ada puluhan, bahkan ratusan kutu daun yang belum terselesaikan.
Saat itu, Aurora merasa kalau beberapa teman satu timnya putus asa. Melihat burung-burung yang sulit dihadapi itu, dia menggertakkan gigi.
‘Yang benar saja! Aku baru saja mulai! Aku tidak bisa berhenti di tempat seperti ini!’
Pada saat Aurora dan beberapa rekan satu tim lain merasa tertekan dan putus asa, suara setengah bercanda terdengar di telinga mereka.
“Bukankah seharusnya hanya belasan? Aku rasa itu hampir tiga puluh, kan?”
“Tampaknya banyak tamu yang tertarik untuk datang ke pesta menyedihkan ini.”
Mendengar itu, orang-orang melirik ke arah Alexander yang menatap ke arah kawanan burung pipit tanpa kehilangan senyum di wajahnya. Walau tidak tahu bisa menang atau tidak, bisa melarikan diri dari sini atau tidak, setidaknya pemuda itu sama sekali terlihat gentar.
Seolah-olah ... dia pernah melihat sesuatu yang lebih mengerikan dari itu.
Pada saat semua orang mengembalikan semangat untuk bertarung, apa yang mereka tidak duga tiba-tiba terjadi.
“ARGH!”
Teriakan Sam terdengar dan menarik orang-orang menoleh ke arahnya.
Di sana, tampak Sam yang jatuh ke tanah dengan luka mengerikan di punggungnya. Di belakangnya, tampak Paul yang memiliki ekspresi mengerikan di wajahnya.
“Maaf! Aku tidak bisa mati di sini, jadi kamu harus dikorbankan di sini. Salahkan dirimu sendiri karena paling dekat denganku, Sam!”
Setelah mengatakan itu, Paul langsung berbalik dan berlari menuju ke gua tempat mereka sebelumnya datang.
Melihat pemandangan semacam itu, Clayton berteriak dengan ekspresi terdistorsi di wajahnya.
“PAUL! DASAR K-PARAT! AWAS SAJA JIKA AKU MENANGKAPMU!”
Pada saat itu juga, kutu daun raksasa langsung bergegas ke arah Sam dengan gila. Para burung yang belum lama tiba juga langsung bergegas ke arah mereka semua.
“Kerjasama tidak mungkin dilakukan. Kemungkinan hidup lebih tinggi jika semua orang berpencar.”
Alexander berkata dengan ekspresi datar. Setelah mengatakan itu, sosoknya langsung berlari menuju ke tebing dengan tinggi kurang lebih 20 meter. Melihat banyak kutu dan burung bergegas ke arahnya, dia mengeluarkan beberapa bola aneh lalu membantingnya ke tanah.
BOOM!
Ledakan asap tercipta. Aroma aneh dari campuran herbal yang tidak disukai serangga dan binatang langsung menyebar ke sekitar. Itu membuat kutu dan sekelompok burung pipit mengalihkan target mereka.
Pada saat melihat bayangan hitam melompat ke bawah tebing, Aurora menggertakkan giginya.
‘Orang-orang ini ...’
Lupakan betapa tidak tahu malu dan kejamnya Paul. Bahkan Alexander yang tampak ramah benar-benar menyiapkan langkah untuk melarikan diri. Benar-benar meninggalkan ‘rekan-rekannya’ tanpa sedikitpun belas kasihan.
Aurora merasa hampir mustahil selamat jika melompat ke bawah tebing, jadi dia berbalik dan bergegas ke tempat Paul melarikan diri.
“Pergilah terlebih dahulu, Ketua!” teriak Rocky.
Mendengar ucapan pria yang tampak konyol tetapi setia itu membuat Clayton agak linglung.
“Tapi-“
“Aku hanya akan menjadi beban. Kamu hampir tidak bisa melarikan diri sendirian, jadi jangan bawa beban! Setidaknya ...” Rocky tersenyum ke arah Clayton. “Biarkan aku memberimu sedikit waktu!”
Setelah mengatakan itu, Rocky langsung meraup beberapa bebatuan kecil di tanah lalu melemparkannya ke arah para kutu dan sekelompok burung yang terbang. Dia kemudian berlari ke arah yang berlawanan dengan mulut gua sebelumnya.
Melihat senyum tulus dari sosok teman yang selama ini hanya dia anggap sebagai antek, Clayton berbalik lalu berlari sekuat tenaga. Air mata tumpah membasahi pipinya. Pria itu menggigit bibirnya sendiri sampai berdarah, benar-benar merasa sangat marah, tertekan, tetapi juga tidak berdaya.
‘BUNUH! AKU AKAN MEMBUNUH PAUL DAN MEMBALASKAN DENDAM KALIAN!’
Mendengar teriakan penih Rocky, Clayton meraung dalam hatinya. Pria itu segera mencapai mulut gua hanya untuk melihat Paul dan Aurora yang berhadapan.
Klang!
Kapak dan rapier (pedang) berbenturan dengan keras. Mereka jelas berebut tempat untuk melarikan diri.
Merasakan kebencian di hatinya, Clayton langsung melemparkan pedangnya sekuat tenaga ke arah Paul.
KLANG!
Paul menggertakkan gigi. Pada saat dia menangkis pedang Clayton, Aurora mendekat lalu memotong lengan kirinya.
Slash!
Saat itu juga, Clayton melewati mereka berdua dan melarikan diri ke gua sempit itu terlebih dahulu.
Paul meraung marah. Dengan kekuatan yang jauh lebih tinggi dibandingkan Aurora, dia langsung mengayunkan kapaknya sekuat tenaga. Membuat wanita itu terpental mundur beberapa meter.
Baru saja keduanya hendak terburu-buru menuju gua, mereka melihat Clayton menatap ke arah mereka dengan penuh kebencian. Saat itu juga, pria tersebut mengayunkan pedangnya sekuat tenaga. Menghancurkan pintu masuk gua dan membuat bebatuan di atanya runtuh.
Benar-benar menutup jalan keluar bagi mereka berdua!
Mendengar suara sayap serangga dan kicauan burung dari belakang, Paul dan Aurora menoleh dengan ekspresi tertekan, marah, dan sedih.
Jelas merasa kalau tidak ada jalan lain kecuali melawan makhluk-makhluk itu secara langsung!
>> Bersambung.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 169 Episodes
Comments
Iqbal Novran
menegangkan
2023-12-14
0
Sie Gung
penasaran akan kelanjutan nya
2023-12-01
0
Kang_Wah_Yoe
👍👍👍👍🍦
2023-06-21
0