“Akhirnya ...”
Alexander berdiri dengan darah kering yang menutupi sekujur tubuhnya. Penampilannya tampak mengerikan, tetapi mata pemuda itu tampak jernih. Sama sekali tidak terlihat seperti orang yang sekarat.
Swoosh!
Alexander mengepalkan tangan kanannya lalu meninju udara dengan keras. Pada saat itu juga, suara tinju yang merobek udara terdengar. Melihat ke arah tinjunya, pemuda tersebut jelas merasa puas dengan tubuh barunya.
Setelah menyerap miracle root, seluruh luka di tubuh Alexander dipulihkan. Bukan hanya kembali seutuhnya, tetapi pemuda itu juga merasa tubuhnya beberapa kali lebih kuat. Sama seperti baja yang selesai ditempa oleh api, sekarang dia benar-benar bisa dianggap sebagai Hunter level 1 nyata!
Alexander mengulurkan tangannya. Energi berwarna biru semi transparan menyelimuti tangannnya. Pada saat itu juga, sebuah batu seukuran telapak tangan yang kokoh dan berat melayang ke arahnya. Pemuda itu menggapai batu tersebut dengan ekspresi heran.
“Ini bukan batasnya?” gumam Alexander.
Menurut ingatannya, seluruh keluarganya memiliki kemampuan telekinesis bawaan. Jenis kemampuan khusus umat manusia yang sangat jarang, tetapi masih ada beberapa yang memilikinya. Kemampuan tersebut juga terbagi sesuai dengan bakatnya. Semakin kuat bakatnya, semakin berat benda dan jauh yang bisa dikontrol.
Kemampuan itu bisa didapatkan dengan menyerap ghoul tipe khusus, membuat orang biasa mampu menggunakan telekinesis. Hanya saja, kemampuannya agak terbatas. Sedangkan jika memiliki bakat tersebut di awal, kekuatan telekinesis akan menjadi dua sampai tiga kali lebih kuat. Sama dengan melipatgandakan bakatnya!
Hanya dengan itu, kemampuan telekinesis bisa menjadi jauh lebih dan semakin kuat berdasar peningkatan level. Jadi Alexander benar-benar heran dengan kemampuannya yang meningkat beberapa kali lipat.
‘Jika pak tua dan kakak bodoh itu masih ada, bukankah mereka akan terkejut dan iri dengan bakat ini?’
Memikirkan hal tersebut, senyum lembut muncul di wajah Alexander. Pemuda itu buru-buru menggelengkan kepalanya.
Pada saat melihat penampilannya yang sangat berantakan dan mengerikan, Alexander tidak bisa tidak memasang senyum masam di wajahnya.
“Sepertinya aku harus bersih-bersih terlebih dahulu sebelum kembali,” gumamnya.
Melihat sinar mentari pagi yang membuat dunia terlihat kemerahan seperti dibasuh darah, Alexander pun memutuskan untuk pergi dari tempat itu. Bersih-bersih diri sebelum kembali ke Shelter 101.
(note : tempat berlindung sekarang disebut shelter agar tidak terlalu panjang.)
...----------------...
Sore harinya, di depan pintu gua tempat Shelter 101 berada.
“Aku tidak tahu apakah aku beruntung atau tidak. Yang jelas, panen kali ini tidak buruk.”
Alexander yang baru saja sampai di tempat tujuan menghela napas panjang. Sekarang dia memakai jubah. Di balik jubahnya, hanya ada celana panjang dengan beberapa robekan.
Selain itu, tiga bungkusan daun besar tampak di punggung pemuda tersebut. Bukan hanya tiga bungkusan daun yang diikat tali, tetapi juga kantong kulit sepanjang satu meter yang diisi air. Ada juga beberapa buah aneh yang dibungkus kain aneh di tangan kirinya.
Tidak tahu kenapa, Alexander bertemu dengan dua burung pipit dalam perjalanan kembali. Keduanya menyerangnya dengan ganas, tetapi dapat diselesaikan dengan mudah dengan kemampuannya saat ini.
Pada saat mengisi air, pemuda itu bertemu dengan monster level 2. Tidak ingin bertaruh dengan ceroboh, dia memutuskan untuk pergi melewati jalan memutar. Kebetulan, Alexander menemukan cukup banyak buah berry di sana. Dia juga menandai tempatnya sehingga lain kali bisa mengambilnya ketika berry lain sudah matang.
Bisa dibilang, kalimat ‘bahaya dan kesempatan datang berdampingan’ itu benar.
Pada saat Alexander masuk ke dalam Shelter 101, banyak orang langsung memandangnya dengan ekspresi terkejut. Tampaknya tidak menyangka kalau dirinya mendapatkan ‘panen’ yang luar biasa banyak. Setidaknya lebih banyak daripada yang dia dapatkan sebelumnya.
Meski iri, orang-orang itu tidak berani membuat masalah karena Alexander adalah orang yang dianggap ‘setengah langkah ke Hunter level 1’. Semakin kuat seseorang, semakin pula mereka dihormati dan ditakuti. Begitulah dunia sekarang ini.
Dapat disimpulkan, semakin tinggi level seorang Hunter, semakin tinggi pula status mereka. Kumpulan masa yang hanya memiliki jumlah tidak dapat menghentikan orang semacam itu. Jadi, orang-orang biasa memilih untuk diam karena takut kehilangan nyawa mereka.
Setelah masuk, Alexander langsung pergi ke area gua lebih dalam. Di sana, tampak ruang yang lebih luas. Bukan hanya tempat hidup orang-orang yang berstatus lebih tinggi, tetapi juga pusat dari Shelter 101.
Ruang pendataan, ruang pengumpulan barang, ruang penukaran, dan berbagai tempat penting ada di sana. Bukannya kembali, Alexander langsung mengunjungi beberapa tempat untuk melakukan sesuatu.
Di tempat dokumentasi, Alexander menyerahkan bungkusan yang berisi burung pipit yang pertama dia buru. Meski kualitas dagingnya masih bagus, tetapi pemuda itu lebih memilih dua yang baru.
“Seperti biasa, tukarkan sebagai poin. Gunakan poin untuk menambah masa tinggal satu bulan. Sisanya dicatat dalam catatan kontribusiku. Aku akan menggunakannya lain kali.” Alexander berhenti sejenak sebelum melanjutkan. “Potong juga poin untuk menggunakan ruang pengasapan.”
“Baik!” jawab resepsionis sambil mencatatnya dalam buku yang terbuat dari kulit.
Melihat bagaimana Alexander menukar makanan dengan poin, banyak orang di sekitar melihatnya dengan tatapan iri. Mengabaikan mereka, pemuda tersebut pergi ke ruang lebih dalam dan agak terpencil dimana ada sebuah ruang yang digunakan untuk pengasapan. Tentu saja, ada lubang buatan yang disalurkan ke luar agar asap tidak memenuhi gua.
Melihat lelaki tua dengan rambut tipis berwarna putih dan nyaris botak, Alexander langsung menyapa.
“Yo!” ucap pemuda itu.
“Hahaha! Panen lain? Kamu benar-benar semakin produktif. Tidak berniat untuk menukar berbagai benda aneh lagi kan?” Lelaki tua itu tertawa sambil menatap Alexander dengan ekspresi kagum.
“Aku akan merepotkanmu lagi, Old Woody!” Alexander mengangkat bahu.
“Tidak masalah. Kamu sama sekali tidak merepotkan, aku hanya melakukan tugas.” Old Woody menggelengkan kepalanya.
“Tetap saja, aku masih harus berterima kasih kepadamu.”
Setelah mengatakan itu, Alexander mengeluarkan delapan berry seukuran jempol pria dewasa lalu memberikannya kepada Old Woody. Tampaknya sedikit, tetapi sangat berharga. Lagipula, dengan sejumlah makanan seperti itu, lelaki seperti mereka bisa mengabiskan malam romantis dengan wanita cantik di Shelter 101.
“Kamu ...” Old Woody menatap ke arah Alexander dengan ekspresi rumit. Pada akhirnya dia menghela napas panjang lalu berkata, “Terima kasih.”
Old Woody adalah salah satu orang yang masih memiliki nurani. Meski tidak bisa dibilang sangat baik, tetapi dia menolong orang beberapa kali. Salah satunya membantu Alexander mendaftar ke Shelter 101 di awal dan memberinya bantuan makanan. Tentu saja, hanya sedikit bubur.
Meski begitu, Alexander mengingat kebaikannya. Sering kali, pemuda itu memberinya beberapa manfaat setelah kembali dari perburuannya. Terkadang sampai membuat Old Woody malu atas kebaikan Alexander.
Menatap ke arah Alexander yang membawa lebih banyak makanan dibandingkan sebelumnya, Old Woody tampak terkejut. Dengan ekspresi penuh keraguan, dia bertanya, “Al ... kamu?”
Alexander menatap Old Woody. Sedikit mengangkat sudut bibirnya, pemuda itu pun membalas.
“Seperti yang kamu lihat.”
“Aku telah melakukannya.”
>> Bersambung.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 169 Episodes
Comments
Iqbal Novran
kerennn
2023-12-14
0
Alva Gerald
keturunan anak nya ark sama silvia
2023-07-30
1
Zack The Lonewolf
Thor kayaknya suka main game LifeAfter
2023-07-12
0