Sore harinya.
Setelah melakukan perjalanan yang cukup panjang dan beristirahat beberapa kali agar tidak kelelahan, Alexander sampai di tempat tujuannya. Tempat yang sebelumnya Claude sebutkan kepadanya.
‘Claude seharusnya tidak menipuku. Jika dia membuat lelucon sehingga aku berjalan sejauh ini dengan sia-sia, aku pasti akan menghajarnya ketika kembali.’
Alexander mengeluh dalam hati. Melihat ke arah mentari condong ke barat mewarnai langit sore dengan warna jingga kemerahan nan indah, pemuda itu bergumam pelan.
“Karena berurusan dengan burung pipit, aku malah tertunda. Jika harus bertarung di malam hari ...”
Alexander menggelengkan kepalanya. Ekspresi penuh tekad kembali muncul di wajahnya. Tidak peduli siang atau malam, pemuda itu berencana melawan ghoul itu jika menemukannya. Lagipula, dia tidak ingin menyia-nyiakan lagi waktunya.
Menarik napas dalam-dalam, Alexander menenangkan diri. Pemuda itu kemudian mencari tempat untuk beristirahat. Dia berniat untuk mengembalikan energinya sebelum melakukan pencarian. Terlalu berbahaya berada di area musuh dalam keadaan lelah karena pertempuran bisa terjadi kapan saja.
Alexander beristirahat hampir satu jam. Tidak ada yang terjadi ketika dia beristirahat. Sama sekali tidak ada serangan mendadak atau semacamnya.
“Tampaknya aku benar-benar membuat keputusan yang buruk.”
Alexander bergumam pelan. Ketika cahaya mulai redup, pemuda itu merasakan firasat tidak menyenangkan. Dia merasa sedang diawasi oleh berbagai binatang buas. Meski tidak melihat apa-apa setelah mengamati sekeliling, pemuda itu masih merasa khawatir.
‘Lupakan ide ceroboh sebelumnya. Cari tempat untuk berlindung malam ini. Lanjutkan pencarian besok pagi.’
Alexander tersenyum masam. Meski pemuda itu telah meminum 10 ramuan evolusi tingkat 1 dan setengah langkah menuju level 1, tetapi dia tidak memiliki kemampuan spesial.
Kondisi fisik Alexander meningkat pesat, entah itu kekuatan, kecepatan, daya tahan, bahkan penglihatan. Hanya saja, pemuda itu masih tidak bisa melihat dengan jelas di malam hari. Lagipula, dia tidak memiliki kemampuan night vision atau semacamnya.
Sekitar pukul delapan malam, Alexander yang berbaring di dekat bebatuan terjal dengan jubah kusam sebagai kamuflase tiba-tiba melihat ke langit dengan ekspresi rumit di wajahnya.
Rembulan dan bintang-bintang bersinar begitu terang. Walau bukan purnama, tetapi masih cukup cerah sehingga pemuda itu bisa melihat cukup jauh.
‘Apakah keberuntungan sedang berpihak padaku? Atau mungkin takdir sedang bermain-main denganku?’
Walau Alexander tidak kehilangan visinya, tetapi pemuda itu kembali berpikir jernih setelah cukup lama merenung. Dia jelas tidak cukup percaya diri untuk melawan berbagai monster yang keluar di malam hari. Di antara mereka, banyak monster yang berada di level 2 atau lebih. Bisa dibilang, melawan makhluk-makhluk itu secara langsung hanya meminta kematian.
Pada saat itu, tangan Alexander mengepal. Menarik napas dalam-dalam, pemuda itu akhirnya memutuskan.
“Bahkan jika takdir sedang bermain denganku ...” Alexander menggertakkan gigi. “Sekarang aku hanya bisa maju.”
Walau sekarang berada di tempat gersang dengan sedikit kehidupan, Alexander sadar kalau ada kemungkinan beberapa monster level 1 atau 2 yang mencari mangsa di tempat seperti ini. Jadi lebih baik terus berjalan dengan hati-hati daripada tinggal di satu tempat.
Setelah berkemas, Alexander pun kembali berjalan. Pemuda itu terus berjalan memeriksa daerah sekitar.
“Menurut Claude, kemunculan ghoul itu tidak begitu jauh dari tempat perlindungan 104. Aku harap makhluk itu belum ditangkap oleh orang-orang dari tempat itu. Juga, sebaiknya menghindari mereka.”
Sambil berjalan, Alexander bergumam pelan. Dia terus mengingat lokasi dimana Claude bertemu dengan makhluk itu. Meski tidak mungkin ada sarang di sana, tetapi setidaknya bisa menjadi tempat dimana beberapa ghoul beraktivitas untuk mencari mangsa.
“AAAHHH!!!”
Mendengar teriakan di kejauhan, Alexander terkejut. Pemuda itu kemudian pergi menuju ke lokasi dengan terburu-buru. Namun bergerak perlahan ketika hampir tiba di lokasi agar bisa menyembunyikan diri ketika melihat situasi.
Sesampainya di sana, Alexander tiba-tiba tertegun di tempatnya. Pupil matanya menyusut dan tubuhnya sedikit gemetar. Bahkan napasnya mulai tidak terkendali.
‘AKHIRNYA KETEMU!!!’
Pandangan Alexander tertuju pada makhluk humanoid jelek dengan tubuh tanpa bulu. Memiliki mata merah, taring dan cakar yang tajam. Namun berbeda dengan ghoul biasa, makhluk itu memiliki kulit hitam seperti arang. Lebih tepatnya, kulit berkerut seperti kayu mati yang dibakar sampai hangus.
Alexander langsung menenangkan diri ketika melihat belasan ghoul lain di sekitar makhluk itu.
Di sana, tampak belasan ghoul yang sedang berpesta dengan daging manusia. Dari penampilan orang-orang itu, dia menduga kalau mereka adalah beberapa orang dari tempat perlindungan 104 yang terlambat kembali setelah mencari air. Mereka semua orang biasa tanpa Hunter, jadi tidak mungkin dianggap sebagai regu pemburu.
‘Jumlahnya 12 tidak termasuk makhluk itu, melakukannya sendirian pasti merepotkan.’
‘Hanya saja, aku rasa tidak sia-sia berhemat selama ini.’
Berbeda dengan Claude yang mulai hidup boros ketika menjadi semakin kuat, Alexander masih hidup seperti sebelumnya. Kecuali memperbaiki apa yang dia makan, pemuda itu lebih memilih menukar poinnya dengan berbagai barang aneh, khususnya berbagai jenis racun.
Sementara para ghoul sibuk berpesta, Alexander mulai mengambil bungkusan dari dalam tas. Pemuda itu kemudian menyebarkan bola berduri dengan ukuran bola pingpong di area sekitar. Itu adalah jenis buah yang kulitnya keras dan penuh duri. Bagian dalamnya terkadang bisa dimakan monster burung tingkat rendah, tetapi sering dijadikan jebakan karena kekerasan dan ketajamannya.
Jebakan Alexander sendiri berbeda karena pemuda itu telah merendamnya dengan campuran berbagai racun. Jika tidak ditangani hati-hati, itu juga bisa membuatnya celaka. Namun dia tidak peduli dan malah mengumpulkan berbagai perlatan yang sengaja dia gunakan untuk berburu.
Alexander percaya, persiapan yang tepat membuat semuanya berjalan lebih lancar.
Selain memasang jebakan di tanah, pemuda itu juga menggunakan sisa tali. Mengikatnya agak tinggi di antara pepohonan. Tentu saja, dia melakukannya secara diam-diam.
Untungnya, para ghoul berada di kejauhan dan fokus makan. Jadi perilakunya yang terlalu berani dan agak ceroboh tidak diketahui lawan.
Sedangkan untuk orang-orang yang terbunuh, Alexander sama sekali tidak merasakan apa-apa. Lagipula dia tidak mengenal mereka. Selain itu, pemuda tersebut sedikit bersyukur karena mereka bisa menunda waktu. Mungkin kejam, tetapi begitulah cara dunia ini bekerja.
Untuk bertahan, terkadang perlu mengorbankan orang lain. Di dunia yang kacau ini, mungkin tidak ada orang yang benar-benar baik. Setiap orang pasti memiliki sisi buruk mereka, dan tidak ada yang merasa aneh soal hal tersebut.
Setelah menyiapkan semuanya, Alexander menarik napas dalam-dalam. Ketika sudah tenang, pemuda itu akhirnya membuat keputusan. Dia mengangkat batu acak tinggi-tinggi lalu membantingnya ke semak-semak tidak jauh di depannya.
CRASH!!!
Mendengar suara dahan dan bebatuan yang dihancurkan, para ghoul yang sebelumnya makan dengan lahap tiba-tiba menghentikan gerakan mereka. Mereka semua melirik ke arah yang sama. Pada saat itu juga, mereka langsung menuju ke sumber suara ... tempat Alexander berada.
Mendengar pergerakan para ghoul, Alexander yang bersembunyi memegang erat tombaknya. Matanya berangsur-angsur menjadi lebih dingin. Pemuda itu jelas telah membulatkan tekadnya. Menatap ke arah para ghoul yang mendekat, dia berseru dalam hati.
‘MAJULAH!’
>> Bersambung.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 169 Episodes
Comments
Iqbal Novran
kerenn
2023-12-13
0
Sie Gung
ayo alex
2023-12-01
0
Z3R0 :)
fantasi ku kek goblin ya
2023-06-22
0