Alexander membungkus kedua tulang rusuk tebal dengan panjang sekitar 50 cm tetapi agak tebal dan ringan tersebut dengan hati-hati. Dia mengikatnya lalu membawa bungkusan itu di belakang punggungnya.
“Setelah ini, tinggal ke tempat pemberhentian terakhir untuk hari ini.”
Alexander melepas topengnya, membalik jubahnya dimana bagian abu-abu gelap yang awalnya di dalam menjadi bagian luar. Sedangkan bagian hitam legam di luar menjadi bagian dalam.
Pemuda itu menepuk pipinya beberapa kali sambil merubah ekspresinya beberapa kali. Sesaat kemudian, barulah dia mengangguk puas.
“Ini seharusnya terlihat bagus.”
Memasang ekspresi pemuda ramah, baik, dan mudah didekati di wajahnya, Alexander akhirnya pergi. Menghilang dalam gang sempit dan gelap.
Sekitar setengah jam kemudian, Alexander muncul di depan sebuah bangunan besar. Tempat itu adalah sejenis pub dimana banyak orang akan berkumpul di sana untuk bersenang-senang, minum, atau melakukan beberapa hal lainnya.
Baru saja melangkah melewati pintu, Alexander langsung menarik perhatian banyak orang. Kebanyakan dari mereka duduk di kursi sambil memegang segelas jus anggur atau berry yang difermentasi. Bukan jenis alkohol kuat karena lebih mahal. Namun, jus semacam itu saja sudah terbilang mahal karena kebanyakan orang biasa tidak mampu meminumnya.
Untuk membeli satu botol jus fermentasi terburuk, setidaknya perlu 15 kupon. Nilai itu sudah cukup digunakan untuk membeli bahan baku bubur untuk dikonsumsi beberapa hari.
Nilai bahan level 2 sendiri tidak begitu tinggi. Contohnya tulang ekor kadal cambuk level 2 yang dijual Alexander. Tidak bisa dianggap terlalu tinggi, tetapi untuk membuat senjata, perlu berbagai bahan lain. Itulah yang membuat biaya senjata meningkat. Belum lagi, tidak semua orang bisa membuat senjata yang baik.
Senjata Alexander sendiri hanya terbuat dari tulang monster serta bahan level 1 paling rendah. Benda itu biasanya hanya digunakan para ‘magang’. Untuk para Hunter level 1 sendiri, biasanya mereka membuat senjata dari bahan level 1 yang lebih baik. Terlihat cukup layak untuk status mereka.
Menurut Alexander sendiri, senjata ‘magang’ dan Hunter level 1 memiliki kualitas yang tidak terlalu jauh berbeda. Selain bahan lebih langka dan terkesan agak berkelas, dia merasa tidak perlu menghabiskan uang untuk hal-hal semacam itu.
Pemuda itu pergi ke konter untuk memesan. Melihat wanita yang berdiri di belakang konter dengan hanya dua kain yang menutup bagian atas dan bawah sehingga membuatnya menonjol, dia sama sekali tidak merubah ekspresinya.
Dari pengamatan Alexander, para pelayan pub ini memang mengenakan ‘seragam’ penari semacam ini untuk menarik pelanggan. Namun dia asama sekali tidak peduli.
“Tolong satu botol, em ... jus fermentasi berry merah.”
Setelah mengatakan itu, Alexander mengeluarkan kupon senilai 20 untuk membayar. Pemuda itu kemudian pergi ke sudut dan duduk di kursi yang tidak mencolok. Meja yang biasanya digunakan untuk dua orang.
Dengan sebotol jus fermentasi dan satu gelas kayu kecil di atas meja, Alexander memasang ekspresi ‘bahagia’ dan ‘ceria’ di wajahnya.
Melihat bagaimana Alexander minum sendiri dengan santai tanpa menghiraukan sekitar, orang-orang menggelengkan kepala. Bagi mereka, Alexander tampak seperti pemuda yang menghabiskan waktu untuk minum sebagai pelepas stres dan masalah. Pemuda yang tertekan karena mengejar cita-cita menjadi Hunter dan mendorong dirinya sendiri sampai hampir mati berkali-kali.
Merasakan tatapan penuh ejekan atau cibiran dari orang-orang itu, Alexander sama sekali tidak menghiraukannya. Dia menyesap jus fermentasi sambil memejamkan mata. Sementara itu, telinganya mulai mendengarkan perkataan orang-orang di sekitar.
Orang yang mencibir, orang yang datang untuk bersenang-senang, dan pembicaraan kurang penting lainnya langsung Alexander abaikan. Sebaliknya, dia fokus pada pembicaraan yang ada hubungannya dengan penjelajahan. Entah itu tempat berburu, monster, tanaman berharga, atau orang yang membentuk kelompok sementara
‘Tidak ada, ya?’
Alexander menggelengkan ringan setelah menegak setengah gelas kecil jus. Dari apa yang pemuda itu dengar sebelumnya. Hanya ada beberapa pemuda yang membuat kelompok sementara. Hanya saja kelompok itu berisi orang yang baru saja setengah jalan menuju ke Hunter resmi. Kira-kira mengonsumsi 5-8 ramuan evolusi level 1.
Ada tiga kelompok kecil yang dibuat sementara, tetapi jelas tidak memenuhi syarat Alexander.
‘Jika tidak bergabung dengan Blood Cross, apakah aku masih harus melakukannya sendiri?’
Alexander menyesap jus fermentasi. Membuka matanya, dia menghela napas rendah. Meski begitu, pemuda tersebut tetap mencoba menjaga ekspresi ramah di wajahnya.
Pada saat itu, suara langkah kaki kembali terdengar. Sosok pria berjalan melewati pintu. Dia adalah pria kurus berambut hitam. Wajahnya tidak terlalu tampan dan tampak kotor. Dia mengenakan pakaian indah tetapi juga kotor. Sama halnya dengan sebuah pedang di pinggangnya. Jelas, pria itu adalah Hunter level 1 nyata.
Di belakangnya, ada dua pria kekar. Dari penampilan mereka, keduanya jelas bawahan dari pria sebelumnya.
‘Minum 6 potion? Tidak, setidaknya 7 potion level 1? Dia sendiri ... baru menjadi Hunter belum lama ini?’
Melirik ke arah mereka, Alexander langsung merasa melihat Claude dan para anteknya. Hanya saja versi lebih licik dan tidak terlalu ceroboh.
“Dua botol jus fermentasi! Tentu saja berry hitam yang seharga 20 kupon.”
Pria itu berkata dengan keras, jelas sengaja menarik perhatian. Beberapa orang melirik lalu mengabaikannya. Namun banyak yang tertarik padanya.
“Aku ingin membuat kelompok sementara. Aku menemukan tempat yang cukup baik, jadi kalian bisa datang jika menginginkannya. Kelompok membutuhkan 7 orang. Sudah ada aku dan kedua bawahanku, jadi butuh empat orang lagi.”
Mendengar bagaimana orang itu menarik perhatian, kebanyakan veteran tahu kalau pria itu hanyalah amatir. Meski begitu, masih ada beberapa orang yang tertarik. Mungkin bukan pekerjaan spesial dengan banyak pendapatan, tetapi setidaknya masih bisa dilakukan untuk menyambung hidup.
Saat itu, Alexander sendiri kurang tertarik. Dia melihat beberapa orang mendekat. Kebanyakan dari mereka masih ‘magang’, dan berakhir ditolak. Namun, di antara mereka ada juga beberapa Hunter yang bisa dianggap veteran.
Seorang pria paruh baya dengan kumis dan jenggot berjalan mendekat, tubuhnya tidak terlalu tinggi dan agak pendek. Namun kapak besar yang ada di punggungnya membuatnya terlihat cukup kuat.
“Namaku Paul, Hunter level 1. Aku akan bergabung dengan kelompok sementara yang kamu buat.”
Seorang pria di usia akhir dua puluhan dengan tinggi hampir dua meter dan tubuh kekar berjalan mendekat sambil berkata, “Sam, Hunter level 1.”
“Selamat datang ke kelompok ini, Kawan-kawan. Aku yang akan menjadi ketua kelompok sementara ini, Clayton.” Pria kurus itu berkata dengan ekspresi puas di wajahnya.
Sesaat kemudian, sosok berjubah hitam berjalan mendekati kelompok itu. Langkahnya terasa ringan, jelas telah berlatih secara khusus.
“Aurora, Hunter level 1.”
Mendengar suara perempuan dari sosok berjubah hitam itu, banyak orang tampak terkejut. Lagipula, meski ada, tetapi Hunter perempuan itu jarang.
Saat itu, Alexander tertegun sejenak. Fokusnya bukan pada suara atau sosok perempuan itu, tetapi pada matanya. Melihat mata dingin yang menahan emosi dan kebencian itu, dia benar-benar yakin.
‘Jenis yang sama dengaku, kah? Benar-benar menarik!’
Alexander bangkit dari kursinya. Pemuda itu berjalan mendekat, membuat banyak orang merasa agak bingung.
Saat sampai di depan kelompok kecil itu, Alexander yang memegang botol jus di tangan kiri dan gelas kecil di tangan kanannya membungkuk ringan. Di depan tatapan terkejut banyak orang, pemuda itu tersenyum ramah sembari berkata,
“Hunter level 1 ... Alexander.”
>> Bersambung.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 169 Episodes
Comments
◌⑅⃝AnglaWPutri♡◌
seperti nama anggotanya Evan
2024-04-23
0
Iqbal Novran
keren thor
2023-12-14
0
Sie Gung
sejenis padahal beda jenis
2023-12-01
0