“Membuat kelompok? Denganmu?”
Bukannya langsung menjawab, Alexander malah balik bertanya sambil memiringkan kepalanya.
“Ya! Dengan gabungan kita berda sebagai duo jenius, maka masa depan kelompok kita-“
“Ditolak,” balas Alexander datar.
Mendengar jawaban datar tetapi tegas dari mulut Alexander, Claude langsung tercengang. Matanya berkedip beberapa kali, tampaknya otak pemuda itu sedang mencoba untuk memroses apa yang sedang terjadi.
Beberapa saat kemudian, barulah Claude tersadar.
“Kenapa? Apakah kamu merasa tidak puas dengan sesuatu?” tanya pemuda itu dengan ragu.
“Bukan apa-apa.” Alexander menggelengkan kepalanya.
“Ugh. Biarkan aku memikirkannya sejenak,” ucap Claude sambil mengelus dagu. “Apakah kamu tidak puas dengan posisi wakil ketua? Meski agak enggan, kamu bisa menjadi ketuanya. Santai saja, bilang saja jika kamu ingin menjadi ketua.”
Alexander terdiam sejenak. Melihat seringai Claude yang penuh percaya diri, pemuda itu memijat pelipisnya dengan ekspresi tertekan.
“Bukan itu yang aku maksud,” ucap Alexander sebelum menghela napas panjang.
“Lalu apa? Bilang saja!” balas Claude.
“Aku belum berniat membuat kelompok atau semacamnya.”
“Hey, hey, hey. Jangan malu-malu seperti itu. Jika ada sesuatu yang kamu inginkan, katakan agar aku mengerti." Claude merentangkan tangannya sambil menatap ke arah Alexander dengan senyum penuh pengertian. “Apakah kamu ingin mendapatkan rekomendasi wanita berkualitas sebagai bonus? Katakan saja.”
Ekspresi Alexander berubah menjadi lebih muram. Menahan diri agar tidak marah karena hal yang konyol, dia berkata, “Aku sudah menjelaskannya. Aku tidak berniat bergabung dengan kelompok manapun. Bahkan jika ingin membuatnya, aku akan melakukannya dengan caraku sendiri.”
“Kenapa?” Claude mengerutkan kening.
Melihat ekspresi bingung di wajah Claude, Alexander mulai menjelaskan perlahan.
Tidak ada yang mengetahui sifat manusia yang sebenarnya. Belum lagi, di dunia kacau dan dipenuhi orang-orang bersikap buruk seperti ini. Walau Claude membantu orang untuk mencari poin bahkan memburu ghoul, orang itu belum tentu akan membalas kebaikannya. Bisa saja orang itu berkhianat, memilih bergabung dengan kelompok lebih besar setelah menjadi Hunter.
Membantu mereka dengan sukarela? Tidak hal-hal baik semacam itu. Jika ingin membantu seseorang, pasti ada keinginan dan harapan. Begitulah realitanya. Jika membantu orang menjadi Hunter resmi, maka mereka berharap orang itu menjadi anggota dan rekan setia, bukan jenis pengkhianat yang langsung memalingkan wajahnya.
Setelah mendengarkan penjelasan Alexander yang bisa dibilang hampir tidak mempercayai siapa-siapa, Claude yang tidak tahan langsung menyela.
“Bukankah itu berlebihan Al?” Pemuda itu mengangkat bahu. “Memang banyak orang semacam itu. Namun tidak semua orang seperti itu kan?”
“Mencegah lebih baik daripada mengobati. Berhati-hati lebih baik daripada menyesalinya di kemudian hari.” Alexander tidak setuju dengan pemikiran Claude.
“Setiap orang memiliki hati. Kita harus saling mempercayai dan menghormati. Partner sempurna jelas tidak ada. Memangnya kamu pikir mereka bukan manusia? Hanya alat yang bisa dimanipulasi?”
“Alat? Mungkin itu lebih baik daripada orang yang memiliki kemungkinan berkhianat.”
Sembari berkata dengan datar, tatapan Alexander tampak agak suram. Iris matanya terlihat agak kosong. Ekspresinya benar-benar berbeda dengan orang yang selama ini Claude kenal. Membuatnya terkejut, bahkan sedikit takut.
“Kalau begitu tidak ada yang perlu didiskusikan lagi. Aku akan membuat kelompokku sendiri. Kamu akan membuat kelompokmu sendiri. Lalu kita buktikan, jalan mana yang benar!” ucap Claude.
“Kekanak-kanakan,” gumam Alexander.
“Aku satu tahun lebih tua dibandingkan denganmu!” teriak Claude tidak puas.
“Tidak ada yang benar atau salah, setidaknya itu yang aku pikirkan.”
Setelah mengatakan itu, Alexander berbalik pergi. Dia datang untuk memberi hadiah Claude. Karena tidak ada alasan lain, pemuda itu pun akhirnya pergi kembali ke tempat tinggalnya. Meninggalkan Claude yang duduk dengan ekspresi gelap di wajahnya.
...----------------...
Tanggal 03, bulan 04, tahun 398 kalender bulan hitam.
Tanpa terasa, satu bulan berlalu begitu saja. Sebagai manusia yang hidup di bawah rantai makanan, waktu berlalu dengan cara yang membosankan. Tentu saja, masih ada beberapa pengecualian.
Dalam satu bulan ini, ada beberapa hal yang terjadi.
Pertama, Claude yang terkenal sebagai bocah sia-sia karena menghamburkan makanan dan poin untuk berfoya-foya berhenti melakukan hal semacam itu. Dia mulai melatih tiga orang yang bisa dianggap sebagai teman sekaligus antek yang paling setia kepadanya. Dengan menghemat biaya makan untuk empat orang, Claude menyisakan poin untuk membeli satu botol ramuan evolusi level 1 dan memberikannya kepada Kid.
Kedua, berita tentang Alexander yang menjadi Hunter level 1 telah menyebar ke seluruh Shelter 101. Meski begitu, pemuda tersebut masih melakukan kegiatan harian seperti biasa. Mungkin menambah intensitasnya. Bukan hanya berlatih lebih berat, tetapi dia juga lebih sering keluar untuk berburu. Menghasilkan poin untuk ditukarkan dengan barang-barang berguna.
Ketiga, beberapa Hunter yang berada di bagian dalam Shelter 101 mulai mengawasi Claude dan Alexander yang sedang naik daun. Karena keduanya menolak untuk bergabung dengan pasukan dan dianggap sebagai orang luar, mereka dicurigai dan terus diawasi pergerakannya.
Ada juga beberapa berita lain, tetapi tidak begitu penting atau menggemparkan.
“Ini menjadi semakin menyebalkan,” gumam Alexander.
Setelah menyelesaikan latihan pagi, pemuda itu melirik ke beberapa tempat sembari berjalan kembali ke kamarnya. Dia jelas merasa jijik dan agak kesal kepada beberapa prajurit yang mengawasinya. Meski mereka baru meminum beberapa ramuan evolusi, mungkin hanya 2 atau 3, tetapi mereka merepotkan karena alasan lainnya.
Sekarang Alexander tinggal di wilayah Blood Cross.
Blood Cross sendiri bisa dianggap sebagai guild atau sebuah keluarga besar. Ada total 19 shelter yang dibawah kekuasaan mereka.
Tentu saja, jika ada Blood Cross, ada juga guild lainnya. Namun lokasinya benar-benar sangat jauh karena bisa dianggap sebagai kerajaan lain. Sebagai orang yang tidak termasuk sebagai anggota Blood Cross, ada persyaratan untuk tinggal di wilayah mereka.
Pajak dua kali lipat, pengawasan lebih ketat, dan sebagainya. Semakin tinggi levelnya, semakin dicurigai sebagai mata-mata guild lain. Jadi wajar saja jika orang-orang bebas seperti Alexander dan Claude diawasi dengan ketat.
Ketika menyerap satu botol ramuan evolusi pertama, orang-orang dari pihak atas akan mulai merekrutnya. Setidaknya, merubah status mereka dari pengungsi sebagai warga mereka sendiri. Namun, mereka akan dianggap sebagai orang luar dan dicurigai jika menolak ajakan tersebut. Namun Alexander masih memilih jalan tersebut karena memiliki alasan tersendiri.
Sedangkan Claude, selain agar terlihat mencolok dan keren, pemuda itu memang kurang bisa diatur dan mencintai kebebasan. Sama sekali tidak ada alasan rumit di dalamnya.
Usai memakan sarapan, Alexander pergi ke ruang kontribusi. Dia berniat menukar jumlah poinnya dengan beberapa hal yang dia anggap bermanfaat. Namun ekspresi pemuda itu berubah ketika sampai di sana karena ...
Apa yang Alexander butuhkan tidak ada di sini.
Melihat kalau benda yang dia butuhkan benar-benar tidak ada, pemuda itu menghela napas panjang. Dia tidak bisa tidak menyimpulkan dalam hatinya.
‘Setelah beberapa tahun hidup tenang di sini, tampaknya sudah waktunya untuk pergi.’
>> Bersambung.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 169 Episodes
Comments
Iqbal Novran
/Good//Good/
2023-12-14
0
Sie Gung
kemana nich
2023-12-01
0
Anonymous
h
2023-06-02
0