Berjalan di bawah pepohonan, Alexander masih merasakan teriknya matahari. Walau masih musim semi, tetapi suhu memang lebih tinggi. Bisa dibilang, lebih tinggi daripada ratusan tahun sebelumnya.
Tentu saja, itu juga terpengaruh dengan lingkungan tempat mereka berada. Meski tidak disadari, tetapi dunia benar-benar mengalami perubahan drastis hanya dalam ratusan tahun.
“Keputusan meninggalkan lumut penyaring di rumah memang tepat. Jika dibawa di kondisi seperti ini, kemungkinan bertahan memang kecil.”
Alexander bergumam sambil menyeka keringat di dahinya.
Lumut penyaring, begitulah orang-orang memanggilnya. Selain digunakan untuk pencahayaan, ada fungsi khusus yang membuatnya diberi nama sedemikian. Lumut itu memiliki kemampuan untuk menyerap zat-zat berbahaya di air, membuat air bisa diminum.
Air di alam liar tidak bisa langsung diminum. Jika tidak, bisa membuat orang keracunan. Ada juga kemungkinan terkena parasit tertentu. Jadi lumut penyaring itu dianggap sangat berharga. Sekarang, tidak banyak orang memilikinya karena jumlahnya tidak begitu banyak. Bahkan jika ada tempat yang memiliki banyak lumut, itu adalah pihak atasan clan yang memonopoli berbagai bahan strategis.
Untuk orang biasa seperti Alexander dan Claude yang bersikap netral tanpa memihak manapun, mereka harus menukarkan poin kontribusi yang lebih banyak untuk segenggam lumut penyaring. Mahal, tetapi memang menguntungkan dalam jangka panjang.
Tentu saja, ada cara lain agar orang-orang bisa langsung minum air dari alam liar. Caranya adalah memecah batasan (evolusi), menjadi Hunter asli sehingga kekuatan mereka meningkat. Bukan hanya kekuatan, tetapi juga daya tahan dan atribut lainnya.
Alexander sendiri tidak berani langsung minum karena menganggap hal ceroboh seperti itu sama dengan bunuh diri.
“Tempat ini sepertinya cocok. Lain kali aku akan mencobanya di sini.”
Melihat tanah berbatu luas tidak jauh di depannya, Alexander kembali bergumam. Pemuda itu berencana untuk berburu di sana. Lebih tepatnya, menjebak burung untuk diambil dagingnya.
Meski beberapa ratus tahun ini manusia mengalami penurunan, tetapi ada juga beberapa bidang yang mengalami peningkatan. Salah satunya adalah farmasi. Manusia mulai menemukan cara untuk menetralkan racun dalam tubuh beberapa binatang bermutasi. Tidak membuatnya terasa enak, tetapi setidaknya masih bisa dimakan.
Sesekali Alexander akan berburu burung pipit agar bisa makan daging dan mengganti konsumsi protein hariannya.
Tentu saja, burung pipit berbeda dengan burung pipit di masa damai. Burung pipir yang Alexander maksud memiliki tinggi lebih satu meter, total rentang sayap lebih dari dua meter. Ukurannya mirip elang harpy di dunia sebelum apocalypse, tetapi lebih agresif dan memiliki cakar tajam. Dapat merobek daging dan membunuh manusia dengan mudah.
Meski tampaknya ganas, binatang itu hampir tidak memenuhi syarat agar dianggap monster level 1. Jenis makhluk yang berada di garis paling bawah rantai makanan.
“Berhenti di sini sebentar.”
Setelah berjalan lebih dari lima kilometer, Alexander memilih tempat untuk beristirahat sejenak. Dengan fisiknya sekarang, melakukan perjalan jauh sebenarnya tidak masalah. Hanya saja, pemuda itu memastikan tubuhnya dalam kondisi paling prima sehingga bisa bertarung atau melarikan diri kapan saja. Jadi dia sama sekali tidak terburu-buru.
Alexander duduk di atas batu besar di tempat yang lebih terbuka. Pemuda itu sama sekali tidak memilih tempat yang tersembunyi seperti dekat semak atau bawah pohon rimbun, khususnya ketika berada di alam liar.
Tempat terbuka tampak mencolok dan menarik perhatian. Namun jika dipikirkan baik-baik, itu jauh lebih baik daripada semak atau kanopi pohon dimana bisa saja beberapa jenis serangga racun bersembunyi. Meski tempat dimana Alexander berada gersang dan hampir tidak ada binatang, tetapi mencegah lebih baik daripada terlambat dan menyesal di akhir.
Setelah meminum seteguk air, Alexander mulai mengatur napasnya. Pemuda itu melihat sekitar dengan ekspresi serius di wajahnya. Ketika berada di luar tempat perlindungan, semua orang membiasakan diri untuk waspada kapan saja. Kecuali memiliki kekuatan di tingkat tertentu, mereka tidak bisa santai.
“Perasaan ini ...”
Alexander bergumam. Dia mengawasi sekitar tetapi tidak menemukan apa-apa. Pemuda itu melihat ke bawah. Di bawah teriknya sinar matahari, dia melihat bayangannya sendiri. Saat itu juga titik hitam bergerak dengan cepat.
Pada saat mendongak, Alexander melihat seekor burung pipit dengan lebar sayap lebih dua meter melesat ke arahnya. Pemuda itu langsung bangkit dan mencengkeram erat tombaknya.
“Datang sendiri tanpa diberi jebakan? Tampaknya tidak sabar untuk mati,” gumam Alexander.
Swoosh!
Melihat burung pipit menyerangnya, Alexander langsung mengayunkan tombaknya. Dia berniat langsung menusuk leher makhluk itu, tetapi burung tersebut langsung berakselerasi. Berhasil menghindari serangan tombaknya, bahkan cakar tajamnya nyaris mengenai wajahnya.
Walau tidak begitu mengerikan, tetapi cakar makhluk itu masih beracun. Lebih baik untuk menghindarinya. Lagipula, akan merepotkan jika sampai terluka.
Pemuda itu kemudian melihat burung pipit yang lebih besar daripada ukuran biasanya. Tingginya hampir 1,3 meter dan lebar sayapnya hampir mencapai 2,5 meter. Tampaknya sudah cukup tua. Namun itu bukan yang dilihat olehnya.
Alexander lebih fokus pada tubuh makhluk itu yang cukup kurus. Jelas, burung pipit tersebut kekurangan makanan. Hanya saja, itu tidak membuatnya merasa simpatik.
Di dunia yang kejam ini, khususnya di bagian bawah rantai makanan, jika tidak ingin mati ... maka kekejaman adalah sebuah keharusan.
Melihat burung pipit menukik di udara, bergegas dengan cepat membuat mata Alexander menyempit.
‘Tiga, dua, satu ... sekarang!’
Melihat cakar burung pipit yang mengarah ke tenggorokannya, Alexander langsung menghindar. Tangan pemuda itu langsung berayun. Bubuk hitam langsung menghantam wajah burung pipit, membuat makhluk itu terkejut.
Saat itu juga, Alexander langsung menusuk bagian lehernya dengan tombak di tangan kanannya. Dia membantingnya ke tanah, menancapkan tombak ke tanah keras.
Suara pekikan burung pipit terdengar. Namun pemuda itu sama sekali tidak peduli. Melepaskan pegangannya pada tombak, dia menarik satu pedang lalu menebas salah satu sayap burung tersebut. Langsung memotong dan membuatnya kehilangan kemampuan terbang.
Sambil menghindari cakaran burung yang sedang meronta, Alexander mulai menikam tubuh itu berkali-kali. Dia sama sekali tidak menahan diri. Darah burung pipit itu memercik ke segala arah.
Beberapa saat kemudian, tubuh burung pipit itu berkedut beberapa kali sebelum sepenuhnya berhenti bergerak.
Melihat pemandangan itu, Alexander mundur beberapa langkah. Pemuda itu mengatur napasnya yang berantakan sambil menyeka keringatnya. Melihat tubuh burung pipit dengan banyak bekas luka yang tampak mengerikan, dia merasa agak lega.
“Jika agak irit, maka daging bisa dimakan enam atau tujuh hari ke depan.”
Setelah mengatakan itu, Alexander mengikat kedua kaki burung dengan tali lalu menggantungnya di cabang pohon. Pemuda itu kemudian memotong lehernya, membuat darah terus mengalir.
Sebelum bisa dimakan, sebaiknya darah pada monster dikuras sebanyak mungkin sebelum membeku. Selain untuk kesehatan, itu memang agak mempengaruhi rasanya.
Menunggu beberapa waktu, darah akhirnya berhenti menetes. Alexander menurunkan tubuh burung pipit itu. Dia kemudian mencari tempat datar untuk mulai mencabuti bulunya.
Direbus air panas terlebih dahulu? Sama sekali tidak ada kemewahan semacam itu.
Setelah mencabuti semua bulu, Alexander memotong kedua kakinya tepat di lutut. Pemuda itu juga mengeluarkan jeroan dan membuangnya. Tentu saja, tidak lupa memakai sarung tangan kulit dalam prosesnya.
Usai menyelesaikan pembersihan, Alexander mengeluarkan botol berisi cairan hijau lalu mulai menggosok seluruh bagian tubuh burung pipit tersebut dengan cairan tersebut. Bukan hanya untuk menetralkan kandungan rendah racun di tubuh makhluk tersebut, cairan ini juga berguna sebagai pengawet. Bahkan bisa digunakan untuk menjauhkan beberapa binatang yang biasanya memburu bangkai karena aromanya.
Alexander kemudian mengambil beberapa daun lebar untuk membungkus tubuh burung pipit itu lalu mengikatnya dengan tali. Setelah itu, dia mulai menggali di tempat yang tidak mencolok lalu menguburnya. Tidak lupa, pemuda itu membuat tanda.
Alexander melakukannya karena merasa repot jika harus membawa barang seberat itu untuk bertarung. Dia menyembunyikannya agar tidak ditemukan oleh orang lain yang sedang mencari makanan. Tidak ingin orang lain mengambil keuntungan darinya.
Sedangkan untuk darah, bulu, dan organ dalam dia buang secara acak. Binatang liar akan membersihkannya untuknya.
“Karena sudah beres, waktunya melanjutkan perjalanan.”
Setelah mengemas peralatannya, Alexander pun mulai melanjutkan perjalanannya.
>> Bersambung.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 169 Episodes
Comments
Iqbal Novran
wow
2023-12-13
0
Sie Gung
waw primitif
2023-12-01
0
Kang_Wah_Yoe
sippppp
2023-06-12
0