“Maaf membuat kalian menunggu.”
Sampai di tempat yang dijanjikan, Alexander menyapa dengan senyum ramah di wajahnya. Di sana sudah ada Clayton, Rocky, Muddy, Sam, dan Aurora. Termasuk dirinya, tinggal Paul yang belum datang.
“Kamu datang tepat waktu, Alexander. Hanya saja, tampaknya Mr Paul agak terlambat karena suatu alasan.” Clayton berkata santai, tetapi tampak kurang puas karena Paul terlambat.
Alexander tampak santai. Sementara menunggu, dia mengamati rekan satu tim yang akan pergi bersamanya.
Clayton, Rocky, dan Muddy memakai perlengkapan standar. Pakaian kulit yang relatif tebal, pelindung siku dan lutut, sepatu, sarung tangan, dan satu pedang di pinggang.
Sam dan Aurora juga menggunakan perlengkapan mirip. Bedanya, mereka menggunakan pelindung dada.
Sementara itu, pakaian Alexander mirip dengan mereka berdua. Bedanya, dia membawa dua pedang dan satu belati. Pemuda itu meninggalkan tombaknya di rumah karena merasa tidak begitu diperlukan.
Tentus saja, perlengkapannya masih biasa karena dua bahan utama pembuatan pedang belum diproses. Mungkin perlu waktu lebih lama untuk mengumpulkan bahan-bahan lainnya.
“Maaf, aku terlambat karena ada sedikit masalah di jalan.”
Mendengar itu, mereka berenam menoleh ke arah Paul yang membawa perlengkapan yang lebih lengkap. Mirip dengan Alexander, tetapi tidak ditutupi oleh jubah. Hanya saja senjatanya diganti kapak besar dan sebuah belati di pinggang.
Sementara sebagian besar anggota merasa kurang puas, mata Alexander menyempit.
‘Berkeluarga, kah?’
Untuk usia Paul yang sudah paruh baya, mungkin sekitar pertengaan empat puluhan, berkeluarga dan memiliki anak itu normal. Hanya saja, tidak semua orang ingin berkeluarga karena dianggap merepotkan. Bukan hanya menambahkan kelemahan, tetapi juga membuat beban pikiran. Belum lagi harus menafkahi mereka.
Itu adalah beberapa alasan kenapa sebagian Hunter tidak memilih untuk menikah.
“Baiklah, tidak apa-apa! Ayo berangkat!”
Clayton bangkit lalu mulai memimpin kelompok. Beberapa orang lain mengikuti. Sementara itu, Paul yang tahu kalau dirinya salah hanya bisa mengangguk ringan dengan senyum masam di wajahnya. Masih memilih mengikuti meski sedikit lelah setelah berlarian.
“Apakah ada yang salah Alexander?” tanya Clayton yang melihat Alexander diam saja.
“Hm? Tidak apa-apa,” jawab Alexander yang baru saja tersadar dari lamunannya.
Pemuda itu menggelengkan kepalanya. Berjalan mengikuti enam orang lainnya, dia menghela napas panjang. Dia terus berjalan sambil mengingatkan dirinya sendiri.
‘Jangan memikirkan hal-hal bodoh di saat seperti ini. Itu sama sekali tidak penting!’
---
Sore harinya.
“Hari ini kita berhenti di sini.”
Mendengar ucapan Clayton, anggota kelompok lainnya saling melirik lalu mengangguk. Mereka pun mulai mencari tempat yang cocok untuk beristirahat.
Clayton dan kedua bawahannya mendirikan tenda berukuran sedang. Paul juga ikut mendirikan tenda. Sementara itu, Sam, Aurora, dan Alexander sama sekali tidak mendirikan tenda. Bahkan mereka bertiga tidak membawanya.
Menurut mereka, tidak perlu tinggal di tenda selama mereka membawa jubah tebal atau selimut. Beberapa benda itu sudah cukup. Daripada membawa tenda, mereka menyiapkan tempat untuk membawa berbagai bahan yang akan mereka bawa kembali. Tentu saja, Clayton dan Paul juga membawa wadah semacam itu.
“Kenapa kita tidak melanjutkan perjalanan, Ketua?” tanya Rocky dengan ekspresi bingung.
“Bukankah kita bisa menempuh jarak yang lebih jauh dalam satu atau dua jam?” tambah Muddy.
Mendengar pertanyaan kedua bawahannya, Clayton langsung memijat pelipisnya. Dia berperilaku layaknya orang yang kesusahan karena memiliki dua bawahan bodoh.
“Tentu karena tempat ini lebih aman. Jika kita terlalu jauh dan memilih lokasi acak, sulit untuk beristirahat di malam hari.” Clayton menggelengkan kepalanya.
“Meski kita berjaga bergantian di malam hari?” tanya Rocky.
“Apa gunanya berjaga jika musuhnya terlalu banyak atau lebih kuat?” Pria itu menatap Rocky dengan ekspresi aneh.
“Jadi begitu ...” Kedua bawahannya mengangguk serempak.
Melihat pemandangan itu, empat anggota lain menggelengkan kepalanya. Mereka sedikit bertanya-tanya dimana Clayton menemukan bawahan konyol tetapi begitu penurut seperti mereka.
Seperti biasa, Alexander memilih batu besar yang terlihat mencolok. Dia duduk bersandar di antara bebatuan rapat. Dengan jubah kelabu dan menutup bagian kepala dengan tudung, pemuda itu menjadi lebih sulit dideteksi. Mirip dengan kamuflase monster, tetapi lebih buruk.
Sembari bersandar, Alexander memejamkan mata. Dia mengatur napasnya dengan baik. Berusaha segera mengistirahatkan tubuhnya. Pemuda itu tak lupa memakan beberapa makanan kering untuk mengembalikan energi.
“Kenapa tidak santai saja, Kawan-kawan? Ini masih zona aman. Itulah kenapa kita bermalam di sini, kan?” ucap Clayton yang melihat orang-orang yang waspada.
“Apa yang dikatakan Clayton benar. Kalian masih muda, jadi waspada agak wajar. Namun di tempat seperti ini, ada baiknya lebih santai sebelum pergi ke tempat berikutnya.” Paul menambahkan.
“...”
Alexander mengangguk ringan dengan senyum di wajahnya. Namun, dia sama sekali tidak melepaskan kewaspadaannya.
‘Santai? Apakah hal semacam itu benar-benar boleh dilakukan?’
Pemuda itu berpikir dengan cara skeptis. Entah itu di luar atau di dalam shelter, dia selalu waspada. Bahkan ketika tidur, Alexander tidak memeluk bantal atau guling, tetapi memeluk pisau agar merasa aman.
Memalingkan wajahnya untuk melihat ke arah mentari terbenam, pemuda itu bergumam, “Melihat dunia dengan cara mudah dan indah seperti itu ... benar-benar membuat iri.”
Sementara yang lain sibuk, Aurora yang mengawasi Alexander tampak bingung. Melihat pemuda yang melihat pemandangan mentari terbenam sambil tersenyum, dia sama sekali tidak merasakan kebahagiaan darinya. Sebaliknya, di mata pemuda itu ...
Aurora merasakan jejak kesedihan.
Wanita itu menggelengkan kepalanya, tidak ingin terlalu memikirkan hal yang tidak ada hubungannya dengan dirinya sendiri. Setelah menemukan tempat yang cocok, barulah dia segera beristirahat.
Mereka pun mulai beristirahat. Makan perbekalan dan mulai membagi tugas, malam hari yang sunyi pun berlalu begitu saja.
---
Keesokan harinya.
Sebelum tengah hari, Alexander dan enam orang lainnya tiba di depan gua kecil. Ukurannya bahkan tidak bisa menampung dua orang sekaligus. Pemandangan semacam itu jelas membuat orang-orang dalam kelompok itu curiga.
Memang, tempat itu terpencil. Bukan daerah yang sangat berbahaya, tetapi benar-benar tersembunyi dengan baik.
“Kamu tidak membohongi kami kan, Clayton?” Sam langsung menarik keluar senjatanya, siap bertarung kapan saja.
Bukan hanya Sam, tetapi Paul dan Aurora juga menarik keluar senjata mereka. Sementara itu, Alexander menatap dengan senyum ramah. Benar-benar terlihat santai dan tidak sesuai dengan situasi tegang di tempat itu.
“Tenang! Sabar dulu, Kawan-kawan! Aku sama sekali tidak berbohong!”
Clayton buru-buru mencegah pertempuran terjadi. Dia langsung menjelaskan dengan ekspresi gugup di wajahnya.
“Aku menemukan tempat ini secara tidak sengaja, itulah kenapa banyak hal baik di sana. Benar-benar belum diambil oleh orang lain. Jika masih tidak percaya, aku akan berada di depan dan menunjukkan jalannya.”
Penjelasan Clayton membuat mereka saling memandang lalu mengangguk. Meski begitu, mereka tidak mengembalikan sejata mereka. Tampaknya siap bertarung kapan saja.
Pada akhirnya, Clayton benar-benar membimbing mereka melewati lorong yang sempit. Tidak begitu lama, mereka sampai di sisi lain dari lorong tersebut.
Ketika kegelapan hilang dan cahaya menyilaukan mata mereka mulai reda, Alexander dan orang-orang lainnya langsung memasang ekspresi terkejut di wajah mereka. Tepat di depan mereka, tampak pemandangan yang begitu subur dimana banyak buah-buahan berry dan berbagai bunga warna-warni.
Benar-benar tempat indah yang begitu tersembunyi!
Alexander langsung melirik ke arah Clayton dengan ekspresi rumit. Orang itu jelas tidak pintar, tampak sembrono, dan kurang bisa diandalkan. Namun dia benar-benar beruntung untuk menemukan tempat seperti ini.
Hal tersebut tidak bisa tidak membuat pemuda itu mengeluh dalam hati.
‘Dugaanku seharusnya benar. Ternyata orang bodoh juga memiliki kelebihan mereka sendiri.’
>> Bersambung.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 169 Episodes
Comments
Iqbal Novran
man tapp
2023-12-14
0
Sie Gung
panen besar ni,kayanya
2023-12-01
0
Kang_Wah_Yoe
👍👍👍👍🐳
2023-06-21
0