“Bagaimana kamu menjual tulang-tulang ini? Berapa harganya?”
Alexander berdiri di depan seorang penjual tulang. Seperti namanya, orang tersebut menjual tulang-tulang dari para monster. Hanya saja, orang semacam itu tidak memburu monster secara khusus. Hanya memungutnya.
Para penjual tulang yang membuka lapak di tempat seperti ini biasanya ‘mencuri’ tulang-tulang itu dari sarang monster yang kosong. Tentu saja, itu berarti tulang-tulang tersebut acak dan kebanyakan tidak berguna.
Untuk membuat senjata atau armor, diperlukan bagian khusus dari monster. Kebanyakan adalah taring, cakar, tanduk, sisik, dan kulit. Namun ada beberapa pengecualian. Terkadang ada juga tulang ekor dan rusuk hewan. Bagian-bagian itulah yang biasanya dijual oleh para penjual tulang.
Walau harganya cukup murah, tetapi kebanyakan dari mereka tidak berguna. Jadi, itu sering disebut dengan judi tulang. Banyak orang yang putus asa karena hal semacam itu.
“Harganya 100 kupon. Ini adalah barang terbaik yang aku miliki. Kamu pasti tidak akan rugi,” ucap pedagang tersebut.
“Mahal!” ucap Alexander dengan nada tertekan yang terdengar alami.
“Kamu bisa merasakan beratnya. Ini seharusnya bukan barang biasa. Jika beruntung, kemungkinan besar bisa menjadi bahan dari makhluk level 2 atau di atasnya.”
Mendengar ucapan pedagang tersebut, Alexander menggelengkan kepalanya. Walau itu tulang dari makhluk level tinggi, jika tidak bisa digunakan tetap saja dianggap sia-sia. Untungnya dia memiliki beberapa pengetahuan tentang bahan semacam itu.
‘Ekor kadal cambuk level 2. Jika dijual dengan harga pasaran, seharusnya 170-180 kupon. Jika dijual kembali, seharusnya bisa laku 150 kupon.’
Alexander diam-diam berpikir. Setelah beberapa saat, tatapannya menuju ke tumpukan tulang rusuk yang tidak mencolok. Dia pura-pura ragu sejenak sebelum kembali menawar.
“Tulang acak sebesar itu biasanya dijual 50 kupon, karena beratnya ... aku akan membelinya seharga 60 kupon. Seharusnya itu untung bagimu,” ucap pemuda itu dengan nada tertekan.
“Itu ...” Penjual tampak ragu. Setelah beberapa saat, dia berkata, “Minimal 80 kupon dan aku akan memberimu bonus tulang rusuk. Pilih lima sesukamu.”
“Bukankah itu penipuan?” gumam Alexander tanpa daya. “Maksimal 75 kupon dan aku akan memilih tulang rusuknya sendiri.”
“SEPAKAT!” ucap si penjual tulang dengan terburu-buru. Tampaknya takut Alexander melarikan diri.
Alexander sendiri menghela napas panjang, pura-pura tertekan. Dia menggertakkan gigi lalu menunjuk beberapa tulang rusuk secara acak.
“Ambil saja 5 tulang itu.”
“EH? Dua tulang ini ringan, tampaknya keropos. Apakah kamu mau menggantinya?”
“Keropos atau tidak sama sekali tidak ada bedanya. Lagipula, itu semua tidak berguna. Ambil saja itu! Aku hanya berharap tulang ekor ini sepadan dengan harganya!” ucap Alexander sambil menggertakkan gigi.
Melihat Alexander yang marah, penjual tulang itu menggeleng ringan. Dia mengemas semua tulang dengan senyum tipis di wajahnya.
Setelah membayar dan mengambil tulang itu, Alexander pergi dengan ekspresi muram. Orang-orang yang melihatnya hanya menggelengkan kepala mereka. Berpikir ada satu lagi pemuda bodoh dan putus asa yang tertipu dengan trik murahan semacam itu.
Sementara itu, Alexander yang pergi tiba-tiba mengangkat sudut bibir di balik topengnya.
‘Didapatkan! Ini benar-benar untung besar!’
Alexander sendiri menghitung kalau dirinya hanya memiliki 105 kupon. Setelah dikurangi 75 kupon, hanya tersisa 30 kupon. Melihat ke arah tulang ekor dan rusuk dalam bungkusan kain usang, dia segera merasa lega.
‘Selain untung 75 kupon, aku benar-benar mendapatkan jackpot!’
Memikirkan itu, sudut bibir Alexander kembali naik. Pemuda itu kemudian berjalan memutar beberapa kali. Setelah memastikan tidak ada yang mengikuti, barulah dia pergi ke area ramai di Distrik Hiburan.
Alexander langsung pergi ke arah toko pembuatan senjata. Dia kemudian pergi ke konter dimana ada seorang pria paruh baya kekar yang menjaganya.
“Aku ingin menjual sesuatu. Ini seharusnya tulang ekor dari kadal cambuk level 2.”
Alexander mengeluarkan tulang ekor yang telah sedikit menguning lalu meletakkannya di atas konter.
Pria paruh baya kekar itu menatap Alexander yang tampak misterius. Menatap ke arah tulang yang sudah menguning, dia mengangkat alisnya.
“Perlu diidentifikasi terlebih dahulu. Biaya identifikasi adalah 20 kupon. Tentu saja, kupon tidak akan dikembalikan bahkan jika ini bukan tulang yang berharga,” ucap pria paruh baya tersebut.
“Lakukan,” balas Alexander sambil meletakkan 20 kupon.
“Menarik!”
Pria paruh baya itu menatap Alexander dengan seringai di wajahnya. Dia mengambil kupon dan tulang lalu pergi ke belakang.
Beberapa saat kemudian, pria itu kembali dan menatap ke arah Alexander sambil tersenyum.
“Itu memang tulang kadal cambuk level 2. Namun harganya akan turun karena sudah sedikit menguning. Aku akan memberimu 130 kupon.”
“Tidak mungkin.” Alexander menggelengkan kepalanya. “Meski menguning, tulang itu tidak keropos. Itu sama sekali tidak berpengaruh dalam pembuatan senjata. Kamu seharusnya bisa menjualnya seharga 180 kupon. Lebih untung lagi jika langsung dibuat senjata.”
Mendengar ucapan Alexander, pria paruh tersebut sadar kalau pemuda misterius itu bukanlah amatir. Dia mengangkat alis sambil bertanya, “Berapa banyak yang kamu inginkan?”
“160 kupon,” balas Alexander.
“Terlalu berlebihan!” Pria paruh baya itu mengerutkan kening. “Paling banyak 140 kupon.”
“Kalau begitu harga normal, 150 kupon.” Alexander mengangkat bahu.
“Karena sedikit kuning dan tidak terjamin, paling banyak 145 kupon.”
Alexander dan pria paruh baya itu saling memandang sejenak. Beberapa saat kemudian, pemuda itu akhirnya berkata, “Sepakat!”
Kedua orang itu berjabat tangan. Setelah itu pria paruh baya tersebut membayar Alexander 145 kupon.
‘Biaya beli seharga 75 kupon dan identifikasi 20 kupon, total 95 kupon. Dengan harga jual 145 kupon, aku mendapatkan untung 50 kupon.’
Alexander tersenyum di balik topengnya. Pemuda itu tahu kalau sekarang dia untung, tetapi tidak bisa melakukan hal semacam ini secara terus-menerus.
Jika dilakukan, banyak orang yang akan menatapnya dengan curiga. Orang-orang dari kelompok kuat atau bahkan guild pasti menyadari kemampuannya dalam identifikasi bahan. Pada akhirnya, mereka akan menargetkanya. Menangkapnya secara paksa agar bisa digunakan untuk keuntungan mereka sendiri.
Untuk mencegah hal semacam itu, Alexander tidak berencana melakukan hal semacam itu secara terus-menerus. Lebih baik melakukannya sesekali untuk mendapatkan hasil tambahan. Tetap saja, mencari bahan langsung ke hutan belantara adalah pekerjaan utamanya. Dengan begitu, dia bisa mendapatkan banyak keuntungan dan pengalaman bertempur.
Memikirkan rencana selanjutnya, Alexander menganggukkan kepala dengan senyum puas di balik topengnya.
Baru saja hendak keluar dari toko, suara pria paruh baya itu tiba-tiba terdengar.
“Namaku Jones. Siapa namamu, Bung?”
Mendengar itu, Alexander menoleh sambil membalas.
“Hanya pejalan kaki biasa.”
Setelah mengatakan itu, Alexander pun berjalan keluar dari toko tersebut.
Dia kembali berjalan-jalan mengitari Distrik 3 untuk menghindari orang-orang yang mencoba membuntutinya. Ketika yakin kalau tidak ada orang yang membuntutinya, pemuda itu membuka bukusan kain.
Alexander membuang tiga tulang rusuk ke sudut gang secara acak. Dia kemudian menatap dua tulang yang tersisa dengan tatapan penuh cinta.
‘Tempat ini memang penuh harta karun. Lagipula, siapa yang akan menyangka ...’
Mata Alexander menyempit.
‘Hunter level 1 yang tidak mencolok akan mendapatkan bahan utama pembuatan senjata level 3.’
>> Bersambung.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 169 Episodes
Comments
Iqbal Novran
mantap
2023-12-14
0
Sie Gung
jackpot
2023-12-01
0
Z3R0 :)
🗿jones : jomblo ngenes berapa tahun lajang bro
2023-06-23
0