Semakin Dekat

Bab 8

“Lo belum pakai laptopnya?” tanya Virza saat bangun melihat laptop darinya masih di posisi yang sama.

“Belum,” jawab singkat Safira.

“Kenapa? Lo lebih milih laptop dari Raka?”

“Enggak, gue belum ngerjain. Gue nggak bisa pakai laptopnya. Bingung,” ujar Safira.

“Bilang dong,”

“Gimana mau bilang, orang lo katanya mau tidur,” kata Safira.

Virza membuka laptop bermerek semangka itu. Dia mengajari Safira dengan telaten. Tiba-tiba…

“Vir…”

“Hemm…”

“Gue izin nggak masuk kuliah ya hari ini, kan jam pertama pelajaran elo,” ucap Safira.

“Lo mau kemana?” tanya Virza yang masih tidak berpaling dari layar laptop di depannya.

“Ikut jemput ayah,” jawab Safira.

“Oh, serah lo lah.”

“Yeiiyeee!” seru Safira seperti anak kecil yang mendapatkan mainan baru.

Virza melihat Safira begitu bahagia merasa sangat senang. Tingkah lucunya membuat Virza tersenyum gemas tetapi senyum itu langsung hilang ketika Safira menoleh kearahnya. Dia tidak ingin Safira tahu kalau dia tersenyum karena tigkahnya.

Drttt..

Ponsel Safira berdering di atas meja saat pemiliknya tengah bersiap di dalam kamar. Virza yang kepo meliriknya. ‘Raka’ nama yang tertera di layar ponselnya. Virza menunjukkan wajah jijik dengan mengangkat ujung bibirnya dan mengabaikannya begitu saja.

“Siapa yang telepon?” tanya Safira. Virza haya megangkat dua bahunya menandakan dia tidak tahu. saat Safira memegang ponslenya panggilan itu berakhir.

“Nih, laptopnya sudah selesai. Lo bisa bua skripsi di rumah ayah. Hari ini kita nginep disana,” kata Virza dengan bangkit dari tempat duduknya.

“Gue sore kerja, Vir.”

“Kerjalah, Lo bisa pulang ke rumah ayah kan?”

Safira mengangguk dan kembali ke kamarnya untuk melanjutkan siap-siapnya. Begitu pula Virza yang juga lekas mengirim pesan kepada kepala dosen untuk meminta ijin tidak masuk hari ini dan memberikan tugas kepada muridnya.

Safira yang tidak hadir dan bersamaan dengan dosen itu membuat Raka bertanya-tanya. Sejak pertemuan di depan toko itu Raka sering mengawasi mereka berdua dan sering melihat Virza datang menjemput Safira. Hanya beberapa hari terakhir saja tidak terlihat Virza menjemputnya. Meskipun begitu Raka tidak menceritakan kepada Sasha ataupun kepada Rafa. Dia belum bisa mendefinisikan kedekatan mereka sebagai apa.

“Sha…” panggil May.

“Ya!” sahut Sasha dan menoleh kearah belakang melihat gadis cantik tengah berlari kecil kearahnya.

“Safira mana?” tanya Maysha yang sering di panggil May.

“Nggak masuk, Kenapa?”

“Oalah. Gue mau nitip ini. gue tadi lihat di parkiran nggak ada mobilnya pak Virza. Sedangkan nanti siang gue ada praktik di laboratorium,” jelas May.

“Lo kenapa selalu nitip ke Safira sih?” sahut Raka kesal.

“Lah, emang kenapa? Dia aja nggak keberatan,” tukas May kesal.

“Lo aja yang nggak tahu diri, Safira nggak enak buat nolak elo. Harusnya elo sadar diri,” hardik Raka dengan ketus.

“CK!” May berdecak kesal dan meninggalkan mereka bertiga begitu saja. Sasha yang merasa terbantu dengan Raka mengacungkan dua jempol kepadanya. “Terbaik!” ucapnya dengan nyengir puas.

Sedangkan disisi lain Safira dan Virza tengah bersikap romantis di depan ayahnya. Mereka tengah merapikan barang-barang milik ayahnya. Benny menatap mereka berdua dengan senyuman bangga. Safira dan Virza berhasil membuat Benny percaya. Terlebih saat ini Mbok Ijah tengah pulang ke rumah anaknya. Sehingga meraka juga harus memasak berdua. Sebenarnya ini juga taktik dari Benny untuk mereka berdua. Safira memotong beberapa sayuran sedangkan Virza yang memasak dan menggoreng. Terbalik memang, Tapi Virza lebih lihai memasak ketimbang Safira. Almarhum ayahnya tidak pernah meminta Safira untuk masak dia sangat di manjakan oleh ayahnya. Selain itu Safira sudah mengurus rumah dan mencuci baju sehingga sang ayah tidak menuntutnya untuk masak.

“Saf, hari ini lo berangkat kerja gue antar,” ucap Virza.

“Kenapa? Gue juga bisa sendiri kok.”

“Ayo taruhan sama gue, pasti ayah nanti nyuruh gue antar elo,” bisik Virza. Mereka menatap pria yang tengah duduk menonton berita di televisi.

Safira mengangguk paham seraya melanjutkan memotong sayur. Tiba-tiba…

Plek…

Tangan Virza melingkar di pinggangnya diikuti dagu Virza bertopang di bahunya. Jantung Safira berdegup lebih kencang, tangannya mengatung memegang pisau. Perasaannya di campur aduk tak karuan. Tangan Virza merambat memegang tangan Safira membantunya memotong sayuran di depannya.

“Vir…” panggil Safira.

“Sssttt!!!”

Terpopuler

Comments

bahtiar ilmi ilmi

bahtiar ilmi ilmi

kok semangka bukannya apel di cokot ya 🤪

2023-05-21

1

dewi

dewi

raka mulutnya mewakili

2023-05-03

1

Lilis Diansari

Lilis Diansari

terbaik lah mulut si Raka 😎😎

2023-05-02

3

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!