Hari ini Mila telah memutuskan untuk kembali menjalani hidupnya bersama sang ibu, Mila pun mengajak Fera bersamanya.
Penerbangan mereka akan berangkat setengah jam lagi, Mila dan Fera sudah berada di bandara, Mila mengedarkan pandangannya ke segala arah seperti ingin merekam semua yang ada di sini ke otaknya agar dia bisa selalu mengingat kota ini.
" Ayo kita segera masuk ke pesawat sebentar lagi pesawat akan segera lepas landas!" ajak Fera.
Mila pun mengangguk dan mengikuti Mila masuk ke dalam pesawat.
Setelah menempuh perjalanan di udara selama 12 Jam akhirnya mereka tiba di kota S sudah ada orang yang menunggu mereka di bandara, Mila pun segera menghampiri orang yang membawa papan bertuliskan namanya.
" Maaf Pak, apa Anda orang suruhan Ibu untuk menjemput?" tanya Mila.
" Nona Maya? Ya Nona, saya salah satu pegawai di restoran Nyonya Ria," jawab orang itu sambil menunduk memberi hormat.
" Sudahlah Pak, tidak perlu seformal itu, mari kita pulang!" ajak Mila.
Mereka pun segera menuju mobil yang sudah terparkir di luar bandara dan segera pergi menggunakan mobil itu.
Setibanya di rumah Mila dan Fera di sambut hangat oleh ibunya.
"Nak, Ibu kangen ... ," ucap Ria memeluk putrinya.
" Maya juga kangen Bu, bagaimana ibu sehat, Kan?" tanya Mila.
" Ibu sehat-sehat Nak, oh ya siapa gadis cantik yang ada di sampingmu ini?" tanya Ria.
" Dia temanku Bu, tapi sudah ku anggap sebagai Kakak, dia orang yang selalu menolongku ketika aku jauh dari ibu, maukah ibu menganggapnya sebagai putri Ibu?" tanya Maya.
" Tentu Nak, ibu senang sekali mempunyai anak gadis yang cantik cantik seperti kalian," ucap Ibu Maya.
" Ayo masuk, ibu sudah menyiapkan makanan kesukaanmu !" ajak Ria.
Mereka pun berjalan menuju meja makan, sedangkan barang bawaan mereka sudah di taruh di kamar mereka oleh para pelayan di sini.
Hidup keluarga Maya sudah berubah, uang yang di kirimkan Mila pada ibunya di gunakan modal untuk usaha restoran dan hasilnya sangat memuaskan.
Kini mereka memiliki rumah yang sangat besar dan mewah, restoran yang memiliki dua cabang, dan juga Pelayan yang berjajar memenuhi ruang tamu.
Fera dan Maya memakan masakan Ria dengan sangat lahap, Maya sudah lama tidak merasakan makanan seperti ini.
" Bagaimana rencana mu selanjutnya, Nak?" tanya Ria.
" Aku akan mengelola salah satu cabang restoran bersama Kak Fera Bu, dan kami akan berusaha agar restoran itu semakin maju," ucap Mila bersemangat.
" Bagus, tapi mengapa kamu tidak mengelola restoran pusat saja?" tanya ibu Maya.
" Tidak Bu, kami ingin memulainya dari Nol," jawab Mila sambil tersenyum manis.
" Ya sudah terserah kamu saja, oh ya bagaimana jika kamu bertemu dengan Ardan juga Raisya, mereka sudah bertunangan kemarin ," ucap Ria.
" Sudahlah Bu, Ibu tidak usah memikirkan itu, aku bisa mengatasinya," ucap Maya.
Ibu Maya pun tersenyum ke arahnya.
Setelah mereka menghabiskan makanan yang tersedia, Fera dan Maya pun segera menuju kamar masing-masing untuk beristirahat.
Mila membuka pintu kamar yang sudah lama dia tinggalkan. Suasana di kamar itu masih sama ketika Maya meninggalkan rumah ini.
Mungkin Ibunya tidak pernah memindahkan barang barang yang ada di sana.
Maya berbaring di tempat tidurnya, rasa nyaman itu semakin dia rasakan hingga tanpa sadar Mila pun tertidur.
Pagi ini Mila dan Fera mengunjungi restoran yang akan menjadi tempat mereka memulai babak baru kehidupan.
Mila dan Fera merasa sangat senang dengan restoran ini selain tempatnya yang sangat strategis diantara gedung gedung perkantoran dan juga universitas terkenal di kota ini membuat pelanggan yang datang lumayan ramai, tempat ini juga sangat nyaman dan asri karena di depan dan samping restoran ada taman kecil yang penuh dengan bunga beraneka ragam.
Maya dan Fera pun memutuskan untuk mulai bekerja hari ini. Siang ini restoran sangat ramai, apalagi hari ini ada menu baru buatan Maya dan Fera. Pelayan di restoran ini pun kuwalahan melayani para pengunjung yang jauh dari biasanya.
Maya dan Fera yang melihat pun turun tangan untuk membantu mereka, walaupun Maya dan Fera sekarang merupakan bos di restoran itu tidak membuat mereka congkak dan berpangku tangan melihat para pelayan yang kuwalahan, itu membuat para pelayan di sana menyukai mereka.
Maya pun berjalan menghampiri sebuah meja pelanggan untuk menanyakan apa yang akan mereka pesan, tapi betapa kagetnya Maya ketika mengetahui kalau yang ada di meja itu adalah Ardan juga tunangannya Raisya.
Sebisa mungkin Maya bersikap tenang dan biasa, dia menghela nafas panjang sebelum menyapa kedua orang itu untuk menanyakan mereka ingin memesan apa.
" Siang Tuan dan Nona, Anda berdua ingin memesan apa? " tanya Maya setenang dan seramah mungkin.
Ardan yang mendengar suara seseorang pun mengalihkan perhatiannya dari buku menu dan melihat siapa yang sedang berdiri di sampingnya.
Manik mata Ardan tanpa sengaja bertemu dengan manik mata Maya, mata mereka saling beradu pandang hingga Mila memutuskan untuk mengalihkan pandangannya.
Ardan mengernyitkan dahinya seperti meyakinkan apakah yang di depannya itu benar-benar Maya atau bukan.
Maya yang menyadari kalau saat ini Ardan sedang memperhatikannya pun berusaha tetap tenang walaupun sebenarnya hati Maya terasa amat perih bagai tertusuk beribu jarum.
" Maaf Tuan dan Nona, Anda ingin memesan apa ?" ucap Maya mengulangi pertanyaannya.
Raisya pun menatap Maya dia membelalakkan matanya menatap ke arah Maya, dia kaget apa mungkin orang suruhannya beberapa tahun lalu membohonginya ? Mengapa Maya masih hidup? Itu yang ada dalam pikiran Raisya saat ini.
" Saya mau pesan sekelas coklat panas, kopi hitam dan dua porsi martabat manis rasa kacang susu," jawab Ardan masih dengan menatap Maya lekat.
Raisya yang melihat itu pun menjadi geram karena tingkah Ardan, dia pun segera bersuara agar pelayan itu segera pergi.
" Ingat pesanan kami tidak pakai lama!" ucap Raisya dengan nada ketusnya.
Maya pun mengangguk dan berjalan menuju dapur untuk menyerahkan catatan pesanan Ardan dan Raisya pada koki yang akan menyiapkan semua.
Setelah menyerahkan daftar pesanan Maya pun duduk di sebuah kursi yang ada di dapur itu, hatinya terasa sakit kembali ketika melihat Raisya dan Ardan, dia mengingat perbuatan Raisya yang tega mengkhianati persahabatan mereka hanya karena seorang laki-laki seperti Ardan. Dan Ardan sendiri tega mengkhianati Maya hanya karena kejadian yang belum terbukti kebenarannya, tanpa menyelidiki terlebih dahulu.
Tanpa di sadari air mata Maya mengalir di pipi putihnya.
Fera yang sejak tadi memperhatikan Maya pun segera menepuk bahu Maya dan tersenyum pada Maya untuk memberikan semangat untuk bisa mengendalikan hatinya.
Maya pun mengangkat wajahnya dan mengangguk ke arah Fera sebagai tanda kalau dia sanggup melewati ini semua.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 45 Episodes
Comments
Tika Mutiara
ardan raisa buang aj ke udara thor biar di makan sma brung kutilang sabel deh ma mrka, 😡
2020-07-27
0
Anggriani
next thor
2020-07-22
0
HIATUS
Hai kk aku udah mampir bawa like, semngat selalu ya!😊💪salam dari BETRAYAL OF LOVE🌷
2020-07-21
1