Hari ini Mila sudah kembali bekerja di club, dia kembali menjadi gadis penghibur di dunia hitam berteman dentuman keras musik yang mengalun.
Mila menghampiri Fera yang sedang duduk santai di sebuah kursi setelah dia mengakhiri penampilannya.
"Mil, apa kamu pernah berpikir kalau Tuan Daniel benar benar menyukaimu?" tanya Fera.
"Menurut Kakak apa itu mungkin?" ucap Mila menjawab pertanyaan Fera.
" Itu mungkin saja Mil, secara Tuan Daniel dan Tuan Jimmy itu bukan tipe orang yang bisa di kecewakan, setelah kamu menumpahkan minuman di bajunya bukan di hukum malah kamu di bawa ke rumah sakit, apa itu kurang membuktikan," ujar Fera.
"Jangan berpikir macam-macam Kak, wanita seperti kita ini menjadi wanita ketiga atau keempat orang sekaya Daniel dan Jimmy itu saja syukur, apa lagi berpikir untuk ikut masuk kamar dengan mereka itu hanya mimpi," ucap Mila menertawakan dirinya sendiri.
" Kamu dan kami berbeda Mila, kami hanya sisa sisa bunga layu sedangkan kamu adalah bunga yang masih segar dan mekar, kamu masih memiliki kesempatan itu," sahut Fera.
"Sudahlah Kak jangan bahas ini lagi, perutku lapar ayo traktir aku," rengek Mila.
" Bocah tengil, makin hari kulit wajahmu makin tebal ya, makin berani kamu morotin aku," ucap Fera.
" Kakak tidak mau mentraktirku? Baiklah aku yang mentraktir, ayo kita pergi ke restoran Perancis aku ingin makan masakan Perancis hari ini," ucap Mila semangat.
" Baiklah ayo, tapi ganti dulu bajumu !" ucap Fera.
Mila mengangguk dan berjalan menuju ruang pribadinya, tidak berapa lama dia kembali dengan menggunakan kaos lengan panjang dan celana jeans favoritnya.
"Ayo Kak, kita berangkat!" ujar Mila.
Mila menarik tangan Fera membawanya keluar dari club dan menuju mobilnya yang terparkir di halaman club.
Setelah menempuh perjalanan selama 20 menit akhirnya mereka sampai di restoran Perancis yang terkenal di kota ini.
Mila menggandeng Fera untuk masuk ke dalam restoran, Mila memanggil pelayan dan memesan makanan.
Mila memesan sup seafood, anggur merah, siput Perancis, salad kaviar, dan steak foie gras jamur hitam.
Fera memakan sup seafood, dia merasa sup itu sangat lezat dan beda dari sup di tempat lainnya.
Fera memandang Mila dan berkata,
" Mil, sup ini sangat lezat, lebih lezat dari sup yang kita pernah kita makan di restoran Perancis yang pernah kita kunjungi," ucap Fera.
" Tentu Kak, restoran ini merupakan restoran terkenal yang ada di kota ini," ucap Mila.
"Melihat kamu yang sepertinya sudah sangat hafal dengan beberapa menu andalan di sini sepertinya sudah sering kamu datang kemari," ucap Fera.
" Mungkin enam sampai tujuh kali terhitung hari ini," ucap Mila santai.
" Apa sudah sebanyak itu kamu baru mengingatku !" ucap Fera pura pura marah.
" Maaf Kak, oke aku janji lain waktu aku akan mengajakmu kesini lagi," ucap Mila sambil tersenyum.
" Itu lebih baik dan aku harap dua kali lagi cukup impas," ujar Fera.
" Baiklah ... aku setuju," Mila tersenyum senang.
" Ngomong ngomong kamu tahu restoran ini dari mana?" tanya Fera.
" Dari salah satu costumer, waktu itu mereka sedang berbincang-bincang membicarakan restoran ini, katanya makanan di sini sangat lezat, terutama hati angsanya maka aku pun iseng iseng datang kemari ternyata benar, hati angsa di sini sangat lezat kapan kapan Kakak bisa mencobanya," ucap Mila.
"Itu ide yang bagus," jawab Fera.
" Makanya Kakak itu jangan sering menghilang jadi aku bisa mengajak Kakak ke restoran ini," ucap Mila.
" Alasan saja kamu, sudah begitu masih menganggap aku sebagai Kakak kandunganmu, bohong itu namanya," ucap Fera sambil mengerucutkan bibirnya.
Mila yang melihat ekspresi Fera pun tersenyum dengan mata penuh binar kegembiraan.
Tanpa mereka sadari sejak tadi ada seseorang yang memperhatikan mereka dari salah satu kursi pelanggan.
Pria itu tersenyum dan berkata tanpa sadar.
" Baru kali ini aku melihat senyum yang sangat menawan," ucap Pria itu yang tidak lain adalah Jimmy.
Pria yang ada di sebelah Jimmy pun tidak mengerti dengan apa yang di katakan olehnya.
" Kamu bilang apa?" tanya Pria itu yang tidak bukan adalah Daniel.
" Itu lihat senyum Mila sangat menawan, pantas saja banyak pria yang tergila gila padanya," ucap Jimmy masih tetap melihat ke arah Mila dan Fera.
Mila, satu nama itu sanggup membuat Daniel menoleh ke arah yang di lihat oleh adiknya, di sana dia melihat Mila yang sedang tersenyum mata indah membentuk bulan sabit karena senyum itu sungguh sangat menawan, Daniel pun mengalihkan pandangannya ke arah Jimmy, wajah Jimmy sedang nampak terpukau melihat ke arah Mila, melihat situasi seperti itu membuat aura dingin dari Daniel menguar.
Mila yang baru saja memotong steak dan bersiap memakanya tiba tiba merasakan hawa dingin menerpanya, dia meletakkan kembali alat makanya dan menggosok kedua lengannya menggunakan tangan.
" Mengapa tiba-tiba aku merasa kedinginan," kata Mila.
Fera yang merasakan hal yang serupa pun meletakkan alat makannya dan mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru restoran dan tiba tiba Fera berbisik kepada Mila.
"Aku melihat orang yang tidak asing bagi kita," bisik Fera.
"Siapa Kak?" tanya Mila.
" Tuan Daniel dan Jimmy ada di restoran ini, mereka berada di samping kanan kita terpisah oleh tiga meja," ucap Fera.
Mila pun mengarahkan pandangannya ke ara yang di sebutkan Fera, benar saja di sana duduk Daniel dan Jimmy yang sedang menikmati makan malam.
Mila kembali menunduk seakan-akan tidak melihat mereka.
" Kita harus menyapa mereka Mila, agar mereka tidak semakin tersinggung dengan kita, bisa berbahaya itu," ucap Fera.
" Tidak usah Kak, kita tinggal pura pura tidak melihat mereka saja sudah cukup," ujar Mila sambil melanjutkan memakan makanannya.
Fera pun mengikuti apa yang di katakan Mila.
Tiba tiba sebuah suara membuat mereka berdua mendongak memandang asal suara tersebut.
" Hai, Nona Fera apa kabar," suara Orang itu.
Fera memandang orang itu, sosok tinggi besar sedang berdiri di samping meja mereka. Fera tersenyum ramah menyapa orang itu walau sebenarnya Fera ingin sekali pergi dari sana untuk menghindari orang ini.
"Tuan Johan, apa kabar? Lama tidak pernah bertemu dengan Anda, sedang sibuk apa saat ini?" sapa Fera basa basi.
"Tidak perlu seformal itu santai saja biasanya kamu memanggilku Kak Johan, oh ya siapa gadis cantik di sebelahmu itu?" tanya Johan.
"Dia Mila temanku," jawab Fera.
" Bunga baru di Night club ya ? Oke berhubung kita sudah bertemu apa aku harus bergabung dengan kalian?" tanya Johan.
" Tidak perlu kami sudah selesai," ucap Mila dan hendak berdiri.
" Tidak usah tergesa-gesa Nona, lebih baik kamu duduk lagi dan kita berkenalan," ucap Johan menarik tangan Mila hingga Mila terduduk kembali.
Johan pun duduk di antara Mila dan Fera, tanpa mereka sadari ada seseorang yang sejak tadi memperhatikan mereka dengan tatapan dingin.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 45 Episodes
Comments
R Ni
mila itu maya kah?
2020-08-12
1
Reanza
Lanjut baca
2020-07-16
0
Di hapus
semangat
2020-07-15
0