Kecelakaan

Sore ini Fera, Maya dan ibunya pergi berbelanja bersama, mereka pergi ke mall dekat rumah ibu Maya, mereka berjalan kaki sambil menikmati angin sore.

Sesampainya di mall mereka berbelanja semua keperluan rumah tangga. Fera dan Maya melihat lihat gaun yang terpasang di sebuah toko hingga mata Fera menangkap keberadaan sebuah gaun pengantin yang sangat cantik.

Fera menarik tangan Maya mengajaknya melihat gaun itu. Maya pun mengikuti langkah kaki Fera hingga tiba di toko gaun itu.

" Lihat ini Maya, aku ingin membeli gaun pengantin ini," ucap Fera sambil melihat gaun itu.

Maya yang mendengar itu pun tersenyum.

" Memang kapan Kakak akan menikah?" tanya Maya menggoda Fera.

Fera yang mendengar godaan Maya pun menoleh dan memandang Maya.

" Jika Kakak tidak sempat memakai gaun pengantin ini maka kamu yang harus memakainya," ucap Fera.

" Mengapa harus begitu? Kan Kakak yang ingin menikah dan memakai gaun itu," ucap Maya.

" Ya aku sangat ingin menikah, membina rumah tangga mengurus anak dan suami tapi entah Tuhan berkenan mengabulkan atau tidak," ucap Fera sambil menerawang entah kemana.

"Sudahlah Kak, jangan di pikirkan pasti Tuhan telah menyiapkan jodoh terbaik untuk kita, ayo kita beli kalau Kakak menyukai gaun itu," jawab Maya.

Fera pun tersenyum dan memanggil seorang pelayan toko gaun pengantin itu memintanya untuk membungkus gaun pilihan Fera.

Setelah mendapatkan apa yang diinginkan Fera mengajak Maya mencari keberadaan ibunya.

Fera melihat ibu Maya sedang memilih sayuran, Fera pun mengajak Maya menghampiri ibunya.

" Apa ada yang perlu saya bantu Bu?" tanya Fera.

" Tidak usah Nak, sebentar lagi juga selesai, ayo kita ke sana untuk memilih buah!" ajak Ria.

" Ayo Bu, aku ingin membeli buah kiwi," ucap Maya girang.

Ria pun tersenyum melihat tingkah putrinya yang masih seperti anak kecil kalau bersamanya.

Mereka pun memilih buah buahan yang di inginkan, setelah mereka menyelesaikan belanjaannya, Maya pun mendorong troli belanja ke arah kasir dan membayarnya.

Sementara itu Daniel dan Sofia kekasihnya bersiap siap untuk berjalan jalan ke mall.

Daniel menjemput Sofia ke rumahnya.

" Apa kamu sudah siap Sayang?" tanya Daniel.

" Ya aku sudah siap, ayo kita berangkat!" ucap Sofia.

Mereka memasuki mobil mewah milik Daniel dan bergegas menuju mall terbesar di kota ini.

Di sepanjang perjalanan mereka bercanda bersenda gurau melepaskan rindu.

Sofia menutup mata Daniel dengan kedua tangannya sambil terus tertawa.

Daniel yang mendapat perlakuan seperti itu dari Sofia pun memprotesnya.

" Jangan begini Sayang, ini sangat berbahaya," ucap Daniel.

Bukannya melepas tangannya dari mata Daniel malah semakin mengeratkanya. Daniel yang tidak bisa mengendalikan laju mobilnya pun mengenjak rem mobil itu tapi naas mobil itu terlanjur menabrak tiga orang pejalan kaki.

Mobil itu terbalik dan berguling guling beberapa kali, sedangkan ketiga orang yang di tabraknya terpelanting jauh dan terhempas ke jalanan beraspal.

Orang orang yang berlalu lalang di sana pun segera menolong mereka dan membawa ke rumah sakit terdekat.

Ketiga pejalan kaki tersebut adalah Fera, Maya dan ibunya. Dokter segera memberikan pertolongan kepada para korban kecelakaan.

Tetapi di sayangkan tiga orang korban kecelakaan itu tidak bisa di selamatkan.

Fera, Ria, dan Sofia meninggal dunia karena luka parah di kepalanya. Sedangkan Daniel hanya mengalami luka luka lecet yang tidak begitu parah dan juga luka benturan di kepalanya yang tidak fatal.

Sedangkan Maya masih belum sadar dari komanya, Kaki Mila mengalami kelumpuhan, Dokter mendapati bahwa lumpuh di kaki Maya itu untuk selamanya tidak bisa di sembuhkan kembali.

William dan Jimmy datang ke rumah sakit untuk melihat bagaimana keadaan anaknya bersama dengan kedua orang tua Sofia.

Orang tua Sofia shock ketika mendapati anaknya sudah tidak bernyawa lagi, Ibu Sofia jatuh pingsan.

William melihat keadaan putranya melalui kaca rawat inap, Daniel masih belum sadar karena pengaruh obat bius.

Dokter menghampiri William dan mengajaknya berbicara di ruangan Dokter itu.

" Bagaimana keadaan putra saya, Dok?" tanya William.

" Putra Tuan hanya mengalami luka ringan dan luka benturan di kepalanya yang tidak serius dalam 3 hari keadaannya akan pulih kembali," jelas Dokter itu.

"Syukurlah ... ," ucap William.

" Tapi Tuan ada yang ingin saya sampaikan kepada Anda tentang kecelakaan ini, masih ada tiga korban lagi dalam kecelakaan ini, dua di antaranya meninggal dunia, dan yang satu masih belum sadarkan diri dari komanya, mereka bertiga pejalan kaki yang di tabrak putra Anda," ucap Dokter itu.

William yang mendengar penjelasan itu pun shock, dia tidak bisa membayangkan bagaimana keadaan gadis korban kecelakaan itu ketika mengetahui kondisi keluarganya.

" Dan satu lagi Tuan, gadis itu mengalami kelumpuhan permanen pada kakinya," ucap Dokter itu.

William semakin merasa bersalah pada gadis itu, dia pun ingin melihat para korban kecelakaan itu.

" Bisakah saya melihat para korban, Dok?" tanya William.

" Tentu Tuan, mari ikuti saya!" ucap Dokter itu.

Mereka pun berjalan menuju ruang mayat terlebih dulu untuk melihat korban yang meninggal dunia, setelah melihat kedua korban kecelakaan itu William menyuruh orang kepercayaannya untuk mengurus pemakaman kedua orang itu.

William pun kembali melanjutkan langkahnya menuju kamar inap gadis yang selamat dalam musibah itu.

William bersama Dokter itu memasuki sebuah ruang inap, di sana berbaring seorang gadis cantik yang wajahnya pucat, tubuhnya tertempel bermacam-macam alat medis, dan selang oksigen terpasang di hidungnya untuk membantu dia bernafas.

William memperhatikan gadis itu, dia membayangkan bagaimana nanti keadaan gadis itu setelah mengetahui keluarganya meninggal dunia dalam kecelakaan ini.

" Dokter apa tidak bisa di upayakan untuk gadis ini agar bisa berjalan kembali ?" tanya William.

" Kami sudah berusaha semaksimal mungkin Tuan, tapi kami gagal, kami tidak bisa membuat gadis ini bisa berjalan kembali," ucap dokter itu dengan nada kecewa.

William pun menghela nafas kembali, dia menyentuh kening gadis itu dan di belainya dengan penuh kasih sayang.

" Maafkan anakku Nak, kami pasti bertanggung jawab, tidak akan aku biarkan kamu semakin menderita setelah kepergian orang tuamu," ucap William dalam hati.

William kembali ke ruang rawat anaknya, dia memperhatikan wajah putranya yang pucat.

" Aku tidak menyalahkan kamu Nak, tapi Ayah menyayangkan mengapa ini sampai terjadi," ujar William.

Tidak beberapa lama terdengar pintu rawat putranya di ketuk oleh seseorang, William pun menyuruh orang itu masuk, tidak beberapa lama muncul orang kepercayaannya di sisinya.

" Tuan persiapan untuk pemakaman kedua orang itu sudah siap, apakah Anda ingin menghadiri pemakaman tersebut?" tanya orang itu.

William pun mengangguk tanda dia akan mengikuti pemakaman kedua orang tersebut.

Terpopuler

Comments

Sulaiman Efendy

Sulaiman Efendy

HUBUNGI DOKTER SEAN,, PSTI BSA SEMBUHKN MAYA...

2023-06-24

0

Sulaiman Efendy

Sulaiman Efendy

KLO LUMPUH PRMANEN GITU, GMN BSA URUS RESTO NYA..

2023-06-24

0

Sulaiman Efendy

Sulaiman Efendy

KASIAN MAYA, KHILANGAN ORG2 TRSAYANGNYA..

2023-06-24

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!