Semakin lama aku mendengarkan apa yang terekam di alat perekam yang ada punggung Sumadi, aku merasa semakin merinding, karena ruang tamu itu rasanya sangat ramai sekali.
Selain berisik dengan suara yang campur aduk dan tidak jelas, aku juga mendengar suara lain yang lebih menonjol dan lebih jelas daripada yang lainnya. Suara seperti sesuatu yang sedang memukul mukul…
Dug…dug….dug. Seperti suara benda yang tidak keras memukul benda yang keras…. Dan suara itu bercampur aduk dengan suara berisik.
“Perhatikan suara yang sebentar lagi ini No. kamu akan terkejut”
“Suara memukul mukul itu kah Di?”
“Bukan itu No, selain suara pukulan pukulan yang aneh ada suara lagi, sebentar lagi dengarkan aja” jawab Sumadi
Aku terus mendengarkan apa yang Sumadi katakan….
Perlahan-lahan dan akhirnya aku mendengar suara yang menonjol dari pada suara yang lainnya.
…..PERGI!....
Hanya satu kata pergi, dan suara itu terdengar sedikit serak dan agak bergema…. Pokoknya suara jenis itu berbeda apabila diucapkan oleh manusia normal.
Aku semakin merinding ketika mendengar satu kata yang menurutku seperti disuarakan di alam lain yang sangat jauh..
“Gimana menurutmu No…. satu buah kata yang berarti penolakan, yang artinya kita diusir dari tempat itu”
“Iya… memang itu pengusiran Di, tapi kita kan jelas, yang namanya makhluk astral itu kan juga punya rumah, dan ketika kita secara langsung masuk ke dalam rumahnya, pasti mereka nggak suka kan, yang ada adalah pengusiran”
“Mereka kira kita sebagai manusia hanya mempunyai satu tujuan untuk mendatangi tempat yang angker, para mahluk astral pasti mengira kita sedang meminta sesuatu, bisa juga mereka mengira kita akan mengusir mereka, atau bisa juga kita menantang ilmu dengan mereka”
“Jadi Di, menurut aku kita tetap ada disana saja, dan kita harus bisa bicara bahwa kita ke sana tidak untuk hal-hal yang menjadi kebiasaan manusia apabila datang ke tempat yang sakral atau mengerikan”
“Hmmm ya, masuk akal juga apa yang kamu omongkan No, mungkin mereka akan membiarkan kita apabila kita datang kesana tanpa ada maksud tertentu selain hanya silaturahmi dan merasakan apa yang ada disana”
“Sekarang suara dug…dug …dug itu No, gimana menurutmu?”
“Itu suara benda yang tidak keras dipukulkan ke permukaan benda keras, coba kamu pikirkan Di”
“Heheh permukaan tangan yang mengepal dipukulkan ke tembok rumah No hehehe, sederhana saja kan “ jawab Sumadi
“Iya benar, tangan yang mengepal Di. itu juga dugaanku tadi”
“Sedangkan yang dipukulkan adalah bagian dari telapak tangan yang tidak ada tulangnya, berarti bagian sisi samping yang sebaris dengan kelingking, kemudian dikepalkan dan dipukulkan ke arah tembok”
“Bisa jadi seperti itu No, dan itu masuk akal juga”
“Tapi kayaknya untuk malam ini kita gak kesana dulu Di, badanku kayaknya tidak sehat, kita harus cari klinik, aku ingin minta vitamin dan periksakan rasa pusing di kepalaku ini”
“Tolong kamu email ke lolokcicing, setelah apa yang kita rekam kamu edit, laporkan segera ke dia. Setelah itu katakan untuk hari ini kita ingin istirahat dulu untuk memulihkan kesehatan kita”
“Sekalian katakan bahwa kita perlu extend kamar di hotel ini, karena eksplorasi kita baru saja sampai di kamar utama. Bahkan di kamar utama itu kita belum selesai”
“Ok akan aku emailkan ke mereka sekalian apa yang kita dapatkan akan kita sampaikan ke mereka lagi No”
“Di, alat perekam ketika kita ada di kamar utama bagaimana?”
“Nanti kamu dengarkan bersama saja apa yang terekam di kamar itu…karena aku belum sempat mendengarkan yang selanjutnya, soalnya dari tadi aku kan hanya menganalisa video dan mendengarkan hanya sebagian yang ada di ruang tamu dulu”
“Mungkin kayaknya yang ada di kamar utama akan lebih seru lagi hehehe”
Sumadi memperdengarkan lagi alat perekam yang dia gantung di bagian punggung…
Sejauh ini tidak ada yang aneh di ruang tamu, yang ada hanya suara berisik saja hingga kemudian suara ku berkata bahwa kami akan masuk ke dalam kamar.
Ketika aku dan Sumadi masuk ke dalam kamar, tiba-tiba alar perekam itu hening, yang terdengar hanya suara nafas Sumadi dan suaraku yang sedang menjelaskan ada apa saja di dalam kamar itu.
Kemudian ada suaraku yang kaget karena ada benda yang melayang ke atas…
Setelah itu tidak ada suara apa-apa lagi selain suaraku yang berusaha menjelaskan keadaan udara di sekitar sini yang semakin dingin, tetapi setelah penjelasanku, ada suara yang aneh…
“Coba ulang lagi Di, sepertinya ada suara langkah kaki ya…”
“Hmm sebenar No, aku ulang lagi ya….
Ketika Sumadi memperdengarkan lagi alat perekam yang ada di punggungnya, ternyata benar, aku mendengar suara langkah kaki yang samar.
Aku yakin suara itu tidak berasal dari kamar ini.
“Iya No, itu suara langkah kaki, dan bukan dari kamar itu No…. “ kata Sumadi
“Apa mungkin dari arah ruang tamu Di?”
“Kalau dari ruang tamu pasti suaranya tidak akan sepelan ini, dan kalau dari luar jelas tidak mungkin, karena di luar kan hanya tanah saja, dan tidak akan menimbulkan suara langkah kaki”
“Bener asumsimu Di, suara ini menurutku berasal dari ruangan lain atau di bawah kamar ini ada ruangan lain hehehe”
“Gini aja Di, persetan dengan kesehatan, malam ini kita kembali ke sana, tetapi kita datang kesana jam sepuluh atau jam sebelas gitu, gimana Di?”
“Jam sepuluh saja kita start dari pom bensin, nanti kita tetap ada di kamar utama dulu atau kita eksplorasi ruangan lainya?”
“Jangan ke ruangan lain, kita di kamar utama dulu, aku kepingin kasih penjelasan bahwa kami datang ke sana itu tidak ada niat apa-apa selain ingin berinteraksi dengan penghuni yang ada disana”
“Ayo lanjutkan apa yang ada di alat perekam itu hingga selesai Di”
Sumadi memperdengarkan lagi apa yang terekam di alat perekam yang digantungkan di punggungnya.
Tidak ada suara apapun yang aneh, kecuali suara ku yang sedang menggambarkan situasi dan suasana di kamar utama, hingga beberapa menit tidak ada yang aneh, ketika aku dan Sumadi mulai merasa kesakitan, dan aku mulai merasa bahwa di depanku ada sesosok makhluk yang besar.
Tapi ketika aku dan Sumadi mengerang kesakitan, tiba-tiba alat perekam yang sedang memperdengarkan apa yang ada di kamar utama itu diam…
Silent….
Tidak ada suara apapun baik itu suaraku, suara nafas Sumadi atau detak jantung Sumadi.. Sepi sunyi, seperti ada yang mematikan alat perekam itu.
“Di kok mati… apa alat perekam itu dimatikan”
“Nggak No, lihat ini masih berputar, tetapi hening. Kalau seandainya alat ini dimatikan, pasti akan skip kejadian yang ada disini, tapi ini masih berputar kan, hanya saja tidak ada suaranya sama sekali” kata Sumadi
“Iya benar Di, seandainya waktu kita ada di kamar utama alat perekam ini dimatikan, maka pasti sekarang tidak akan memperdengarkan keadaan hening seperti ini kan, bahkan suara nafasmu aja gak ada Di”
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 118 Episodes
Comments
Bunda Titin
mba'e bisa banget bikin kita deg2 blas tp tetep maksa baca trs soale penasaran..........tak ksh 3 jempol untuk mu..........👍👍👍🙏😊
2024-08-06
0
Kasih
q baca sendiri ikhh merinding 😄😄😄
2024-03-15
0
Isnaaja
kalau aku gak akan balik lagi ke rumah itu,,takut🏃🏃
2023-05-10
3