Kami meninggalkan rumah ini setelah selesai dengan pengamatan yang hanya sebagian kecil saja, Sumadi juga selesai dengan berbagai dokumenter siang harinya.
Kami sekarang kembali ke hotel C, untung Sumadi sudah menulis rute danjalan apa saja yang kita lalui tadi siang waktu dijemput Gungde. Tetapi arus lalulintas di kota ini kebanyakan satu arah saja, sehingga kami harus menggunakan GPS ponsel untuk mendapatkan arah yang benar menuju ke hotel kami.
*****
Sore hari ini kami hanya meneliti berbagai foto dan beberapa video tentang keadaan rumah itu. Ada beberapa foto yang aneh, kenapa aku bilang aneh, karena hasil foto itu ngeblur
“Ada lima foto dari dua puluh foto yang hasilnya ngeblur Di. tadi kamu waktu ambil gambar apa goyang atau gimana?”
“Ya nggak goyang lah No. coba kamu bandingkan hasil foto dengan yang ada di video… kayaknya kamu bakal komentar lagi kalau aku ambil videonya goyang hihihi”
Ternyata benar juga… di tempat dimana Sumadi mengambil Foto, ketika dilihat videonya juga seperti ada asap dan ngeblur juga.
Kami mempunyai kebiasaan mengambil foto dan memvideo, jadi kami mempunyai dua bukti antara foto dan video, fungsinya untuk jaga-jaga saja apabila ada yang kurang jelas ketika kami mengambil foto atau video.
Tapi kalau tidak sempat mengambil dengan foto, kami cukup menggunakan handycam saja.
“Bagian dapur dan meja makan, kamar belakang eh bukan kamar tetapi ruangan yang ada tangganya, kemudian kamar utama juga, tebing sungai, dan pohon beringin yang ada di depan… itu semua yang hasilnya ngeblur No”
“Wah kayaknya untuk kali ini kita akan mendapatkan pengalaman yang lebih menyehatkan dari pada penelitian kita sebelum sebelumnya hehehe”
“Aku makin gak sabar untuk segera ke sana Di”
“Ingat No, jangan sembrono, penampakan blur di foto dan di video ini ingin menunjukan kepada kita bahwa mereka ada disana, dan bisa saja mereka sedang memperingatkan kita agar tidak mendekati tempat itu”
“Iyalah Di, nanti kita permisi dulu dan niat kita kan tidak untuk mengusir mereka, kita hanya ingin merasakan kehadiran mereka dan hal itu yang akan kita tulis di novel kita berikutnya”
“Pada intinya kita harus permisi dan hati-hati dengan langkah dan apa yang akan kita lakukan nanti malam No”
“Kita bawa apa saja untuk nanti malam Di?’
“Ya seperti biasanya, perekam suara yang sensitif, handycam untuk bikin video, camera saku, ponsel hehehe. Sama senter…beberapa senter yang terang cahayanya”
“Oh iya..coba kamu cek email Di, siapa tau lolokcicing kirim email lagi”
Aku sedang cek peralatan apa saja yang akan kami bawa nanti malam, sementar itu Sumadi sedang cek email…sepertinya peralatan sudah lengkap. Tinggal kesiapan mental kita saja yang harus disiapkan dengan kuat.
“No, dia minta laporan tentang pengamatan siang ini” kata Sumadi yang selesai melihat email
“Jawab saja keadaan baik baik saja, hanya saja ada sebagian foto yang ngeblur ketika kita ambil gambar di sana dan tambahkan foto-foto yang ngeblur itu. Jangan bicara tentang suara pintu yang menutup dengan keras, karena sampai detik ini kita belum tau pintu mana yang menutup itu”
“Ok No, untuk video apa juga kita kasih liat ke mereka?”
“Kalau kamu sudah edit dan potong mana bagian yang ngeblur ya gak papa, kasih saja ke dia, agar dia tau apa yang kita dapat siang ini”
Sore ini kami usahakan untuk makan dulu, karena jelas tidak mungkin kalau kami makan malam disana, untung di sekitar hotel ini ada orang jual makanan, sehingga kami tidak kesulitan untuk mencari makan malam.
“No, kita bisa berapa hari ada disini” kata Sumadi sambil mengunyah nasi bungkus
“Kayaknya banyak yang harus kita teliti, mungkin bisa tiga atau empat hari Di, pokoknya tiap ada sesuatu yang tidak semestinya akan kita usahakan ungkap hingga mendekati pemikiran kita”
“Kita kan bukan pemburu hantu atau pengusir roh halus, kita disana kan untuk meneliti apa saja yang ada disana, dan kenapa ada disana, dan mungkin juga apakah mereka itu berasal dari kuburan yang ada di atasnya…. Pokoknya kita usahakan sebaik mungkin lah Di”
Kami mempunyai kebiasaan yang berbeda dengan para pencari tempat ghaib, biasanya orang-orang itu hanya uji nyali saja, tanpa melakukan penelitian kenapa, apa, dan bagaimana…
Biasanya satu tempat aneh kami memerlukan waktu dua hingga tiga hari, hingga kami sudah merasa tidak ada apa-apa lagi disana, atau lebih tepatnya kami sudah merasa hampa, tidak ada lagi yang harus diteliti.
“Oh iya Di, untuk kali ini kita butuh satu lagi alat perekam suara dan satu handycam yang bisa untuk mode gelap, jadi nanti untuk alat perekam selain aku yang biasa pegang, kamu juga pegang satu”
“Kamu cukup kamu nyalakan saja dan gantungkan di bagian belakangmu ketika kamu mengambil video, jadi nanti aku juga perlu suara-suara yang ada di belakang kita ketika kita sedang fokus dengan yang ada di depan kita”
“Jadi nanti kita akan mencari suara-suara terlemah sekalipun, dan akan kita analisa suara itu Di, handycam untuk mode gelap bisa kita gunakan di area yang tidak bercahaya. Selama ini kita pakek handycam kuno milik kita, tapi untuk mode gelap hasilnya kurang maksimal Di”
Setelah makan, kami sempatkan pergi sebentar ke toko elektronik untuk membeli handycam dan alat perekam satu lagi yang akan digunakan Sumadi.
Semua sudah kami persiapan, untuk kali ini kami bawa tiga buah senter, dua alat perekam, sebuah handycam yang bisa digunakan untuk keadaan tanpa cahaya, sebuah kamera foto dan beberapa baterai cadangan untuk alat perekam kamera foto dan handycam… udah hanya itu saja yang akan kami bawa.
Jam delapan lewat lima puluh menit malam kami start dari hotel menuju ke arah rumah dibawah kuburan…. Berhubung Sumadi sudah mencatat arah ke sana, jadi kami tidak kesulitan untuk mencari arah.
Karena lalu lintas yang agak macet sehingga jam sembilan lewat empat puluh lima menit kami baru sampai di pom bensin seberang kuburan. Kami titipkan mobil disini sesuai dengan pesan dari Gungde
Untungnya manager pom bensin ada disini sehingga kami tidak kesulitan menitipkan mobil disini.
“Ok Di ini saatnya… eh mana alat perekam yang akan aku gunakan, dan untuk alat perekammu siapkan juga di bagian punggungmu Di”
“Ok semua sudah siap No, handycam sudah aku nyalakan juga. Handycam dan camera foto sudah dalam keadaan standby” kata Sumadi sambil menepuk tepuk slingbag yang dia bawa
Aku nyalakan alat perekam yang aku bawa, kemudian aku kasih beberapa kata pengantar agar semua jelas dan terperinci.
“Selamat malam.. Saat ini tepat pukul sepuluh malam. Kami Paino dan Sumadi mulai dengan kegiatan penyelidikan rumah dibawah kuburan” aku rekam dengan perkataan setiap langkah dan apa saja yang aku lihat, agar semua menjadi terperinci
“Kami saat ini masih ada di sekitar pom bensin, dan sedang berjalan menuju ke titik point yang letaknya ada di belakang dan agak dibawa kuburan” aku mulai merekam perkataanku
Kami berjalan menyeberang jalan menuju ke arah kuburan yang letaknya ada di seberang pom bensin.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 118 Episodes
Comments
Ree Prasetya
jadi inget kenangan pas kuliah di Bali dulu hehe
2025-01-11
0
Zhilla Senja
mantap
2023-07-07
1
MAUT TAK DIUNDANG
mulai
2023-05-28
2