Aku ndak ngerti dengan orang yang sedang balas berbalas email dengan Sumadi, siapa dia dan kenapa dia begitu serius dan misterius.
Aku dan Sumadi sedang mulai mempersiapkan segala sesuatu yang akan kami bawa ke sana, semua yang kami punyai kami bawa ke sana. Apa yang kami punyai……
Cuma alat perekam suara, handycam kuno, camera foto, beberapa alat pencahayaan, dua buah laptop lawas, dan beberapa alat yang tidak begitu penting.
Kadang ada pertanyaan, kenapa kita tidak bawa dupa, kemenyan dan sejenisnya? Jawabanya adalah kami tidak berniat untuk adu nasib dengan ghaib, kami bukan mau menantang dan mau mengusir mereka, kami hanya melakukan dokumentasi dan merasakan sesuatu yang ada disana, sudah hanya itu saja.
Ketika kami sibuk berberes, aku mendengar suara pintu pagar yang diketuk dari luar…
“Di Sumadi….. koyoke ada orang yang ketok ketok pintu pagar, kamu disini aja list apa saja yang akan kita bawa, biar aku yang bukakan pintu rumah”
“Aku gak dengar ada yang ketuk-ketuk pagar No.. ya dah sana, siapa tau dia yang akan kirim kita uang, jadi kamu kan bisa tanya-tanya ke dia”
Aku berjalan keluar, dari dalam rumah… ketika aku buka pintu rumah, ternyata tidak ada siapapun di depan rumah, tidak ada orang yang ada di depan rumah….
Tapi hanya ada sebuah paket yang dibungkus koran dan tergeletak di halaman rumah.
“Opo iku…..”
“Ojok-ojok itu uang, tapi mosok cuma dilempar gitu aja, apa gak takut hilang hehehe”
Bungkusan koran itu tidak aku ambil, ku perhatikan dengan seksama dulu apa yang ada di halaman rumahku…sekiranya aman dan tidak meledak atau tidak gimana gimana baru aku akan ambil.
Satu dua menit aku perhatikan, ternyata aman…
Aku ambil paket yang terbungkus koran, kemudian aku timbang-timbang.
“Agak berat…….”
Jelas gak mungkin kalau paket ini isinya uang… berapa banyak uang yang ada di dalam paket ini kalau benar paket ini berisi uang
Kuambil paket yang terbungkus kertas koran, dan kemudian aku bawa ke dalam rumah, sementara iu Sumadi sudah selesai dengan list barang-barang yang akan kita bawa ke tujuan kita.
Sumadi orangnya paling teliti kalau untuk urusan administratif dan sejenisnya, sedangkan aku lebih ke penelitian dan sejenisnya.
“Coba buka ini Di, siapa tau isinya memang uang hehehe, tapi aku kok ragu ya di, mosok sih uang dibungkus koran gitu aja, terus dilempar ke halaman rumah”
“Yah jangan heran No, wong emailnya aja aneh, pasti orangnya juga aneh lah, dan bisa saja cara dia kirim uang juga aneh… bawa sini bungkusan korannya No”
Dengan menggunakan pisau cutter Sumadi membuka bungkusan koran yang tadi aku temukan di halaman rumah.
Sumadi merobek bungkusan itu dengan hati-hati satu persatu lapisan koran dia lepas hingga di dalamnya ada sebuah kotak kardus kecil yang tentu saja di dalamnya ada sesuatunya.
Kotak kardus itu dibuka Sumadi….
“Masyaallah.. No Paino, isine uang c*k”
“Lho wih.. Satu bendel uang seratus ribuan yang berjumlah sepuluh juta c*k”
“Di, apa gak ada suratnya atau tulisan apa gitu, mosok cuma gini aja ngasih uangnya”
“Sabar No,... tapi memang gak ada apa-apanya, eh lebih baik aku email saja dia, aku katakan kita sudah menerima uangnya”
Aku masih tidak percaya, ada orang yang mau membiayai kami untuk melakukan riset atas sebuah rumah yang kata pemilik akun email lolokcicing rumah yang berhantu, karena letak rumah itu ada di bawah kuburan.
“No, orangnya ngemail lagi, bia bilang katanya gunakan uang itu sebaik mungkin, nanti setelah semua selesai dan kita sudah menguak informasi tentang rumah yang dia maksud, dia akan kirim uang lagi sebagai ucapan rasa terima kasih”
“Email ini juga dilampirkan pembayaran di hotel atas nama Paino untuk tiga malam, dia bilang kalau penyelidikan kita memerlukan waktu yang lama, maka kita jangan segan-segan untuk extend kamar”
“Ini barusan aku balas bahwa kami sudah menerima uangnya, dan dua hari lagi kita akan berangkat kesana menggunakan mobil kita”
*****
Dua hari kemudian aku dan Sumadi sudah bersiap berangkat, tapi sebelumnya Sumadi kirim email kepada lolokcicing bahwa kami berangkat saat ini jam ini juga.
Perjalanan mungkin memakan waktu sekitar dua belas jam, kami tidak akan ngebut dan ngoyo, karena kami akan membutuhkan tenaga kami ketika sudah ada disana.
Kami berangkat malam hari setelah sholat maghrib, dengan asumsi bahwa jalan malam akan lebih sepi lalu lintasnya. Aku memegang kemudi, sedangkan Sumadi sibuk dengan laptopnya untuk berkomunikasi email dengan lolokcicing.
Perjalanan setelah maghrib tengah malam berjalan lancar, tidak ada gangguan yang berarti selain gangguan ngantuk dan terpaksa berhenti untuk minum segelas kopi.
Tengah malam mobil kami akan memasuki hutan… sebuah hutan yang katanya mengerikan, sudah banyak orang-orang yang mengadakan adu nyali di hutan itu. Dan katanya mereka banyak mendengar suara-suara mengerikan selain beberapa penampakan.
“No, kita akan masuk hutan B…ini tengah malam c*k, apa gak nunggu kendaraan yang menuju ke sana juga saja, kita bisa iring iringan lah”
“Hehehe di belakang kita gelap, sama sekali tidak ada lampu kendaraan atau sejenisnya, lalu kita harus nunggu apa Di?”
“Gimana Di, kita langsung aja atau tetap menunggu kendaraan yang menuju ke arah yang sama dengan kita?”
“Langsung aja No, bismillah dulu c*k”
Baru saja aku berdoa ketika akan masuk hutan B, tiba-tiba dari arah belakang ada sepasang lampu sorot yang sangat terang, ternyata sebuah bus dengan lampu yang terang dan kecepatan tinggi menyalip mobil kami.
Bus itu aneh, karena lampu di dalam kabin nyala semua, tetapi aku tidak bisa melihat bagian dalamnya, karena bus itu melaju sangat kencang, dan dalam sekejap bus itu hilang di belokan kiri.
“Ayo kejar No, kita jalan bareng bus itu aja…” kata Sumadi
“C*k bus ngawur itu, bus setan itu hahahaha, gendeng, bus itu bisa lari sekencang itu”
Kujalankan mobil dengan kecepatan yang lebih kencang dari pada sebelumnya, lampu jauh selalu kupasang agar aku bisa melihat sesuatu yang jauh di depan.
Tapi tidak nampak bus yang tadi menyalip mobil kami, tidak nampak cahaya lampu bus lagi… aneh kok bisa malam bus itu melaju sekencang itu.
Aku tambah gas mobil belokan dan tikungan aku lalui dengan lumayan cepat, karena saat ini hanya mobil ini saja yang melaju di jalan yang memotong hutan B.
Lampu jauh tetap aku gunakan terus menerus hingga tiba-tiba lampu mobil menyorot sebuah bus yang terparkir di pinggir jalan, seluruh lampu bus itu dalam keadaan mati……
Kukurangi kecepatan mobil, aku penasaran dengan keadaan bus yang sekarang beberapa belas meter di depan mobil kami dan dalam keadaan berhenti, semua lampu bus yang tadinya terang benderang sekarang sudah mati.
“Kok kamu pelankan laju mobil ini No?”
“Iya Di, aku penasaran dengan bus yang ada di depan itu, yang sedang terparkir di pinggir jalan itu”
Kami akhirnya melewati bus yang sedang terparkir di bahu kiri jalan, tapi aku tidak bisa memperhatikan dengan jelas, karena aku harus fokus dengan jalan di hutan ini.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 118 Episodes
Comments
nath_e
fix mobil hantu itu mah😱
2023-06-05
0
nath_e
weeh rejeki 🤭betul orangnya aja aneh ok masa iya caranya nda aneh
2023-06-05
0
Liani Purnapasary
aneh tuh BUS 😱😱
2023-05-23
3