Ketika kami sudah ada di seberang, aku mulai lebih detail merekam dan menggambarkan apa yang kami lakukan melalui alat perekam.
“Kami akan berjalan melalui jalan setapak yang letaknya ada di samping sebelah kiri kuburan, jalan setapak ini hanya selebar dua meter saja, dan mungkin hanya bisa dilalui dengan motor atau sepeda saja”
“Ok lanjut, jalan setapak yang kami lalui hanya berupa tanah dan kerikil…. Ehmm kini kami sudah setengah perjalanan di jalan setapak samping kuburan”
“Suasana mistis kini mulai menyelimuti kami berdua, saya nggak tau ini perasaan saya atau memang suasana dan hawa disini terasa lain”
“Selain itu udara yang tadinya agak panas di sekitar pom bensin sangat berbeda disini, disini mulai dingin dan lembab, semakin kami berjalan mendekati rumah itu, suhu udara disini semakin berubah”
“Bau tanah basah dan bau seperti sesuatu yang hangus tercium dari sini, sekarang kami lanjutkan perjalanan menuju ke rumah yang tidak jauh dari tempat kami”
Ketika aku dan Sumadi lanjutkan perjalanan, tiba-tiba ada seperti cahaya remang-remang yang lewat begitu saja di depan kami…
“ALLAHUAKBAR….!.”
Aku matikan alat perekamnya sebentar, karena aku kaget, dan aku akan bicara dengan Sumadi yang ada di belakangku, Sumadi yang dari tadi sudah siap dengan handycamnya.
“Di, tadi kamu rasakan sesuatu nggak, seperti ada cahaya kecil yang lewat di depan kita?”
“Ada No, dan udah masuk ke dalam rekaman handycam. Ayo teruskan lagi” jawab sumadi dengan suara lirih
Aku nyalakan alat perekam yang aku pegang, kemudian aku mulai lagi menggambarkan apa yang aku lihat.
“Barusan saya melihat ada secercah cahaya kecil yang lewat di depan kami, saya tidak tau cahaya apa itu, bisa saja itu penampakkan dari penghuni ghaib disini…. tapi yang pasti kami sampai sini baik baik saja”
“Rumah yang kami maksud sudah ada di depan kami, rumah yang keadaanya sangat gelap, dan di sebelah kanan rumah ada sebuah pohon beringin yang besar”
“Sampai disini saya merasakan hawa mistis semakin naik daripada di jalan setapak tadi, di sekitar halaman rumah ini sangat gelap, saya tidak bisa melihat apapun, tapi sebentar lagi, kami akan gunakan satu senter untuk melihat apa saja yang ada disini”
“Sebelum kami melakukan kegiatan di dalam rumah, kami harus meminta ijin dulu dengan penghuni tak kasat mata yang ada di sekitar sini”
“Permisi… kami disini hanya ingin tau tentang rumah ini, kami tidak ada maksud untuk menantang siapapun yang ada disini, kami juga tidak ada maksud untuk mengusir yang ada disini, kami menghormati dan meyakini ada dunia lain selain dunia kami, jadi kami mohon ijin untuk masuk ke rumah ini”
Aku tau pekerjaan seperti ini pasti banyak sekali gangguannya. Yah namanya juga ghaib kan juga punya rumah, dan kemudian kami masuk dengan tiba-tiba ke rumah itu. Jadi ya sebisa mungkin kita minta izin dengan penghuni tak kasat mata di tempat yang kami tuju.
Aku ambil satu senter yang tadi aku simpan di celana ku, sementara itu alat perekam kecil yang hanya sebesar ponsel namun tebal itu aku gantungkan di leherku, agar aku tidak perlu memegang terus menerus.
Senter sudah aku nyalakan.. Dan sekarang cahaya senter itu menyinari bagian kiri dari rumah yang gelap gulita ini.
“Di sebelah kiri hanya ada semak belukar saja, saya berharap tidak ada hewan malam yang melata disana, semak belukar yang saat ini biasa saja, dan tidak menunjukan keanehan sama sekali”
“Sekarang cahaya senter saya arahkan ke pohon beringin yang ada di sebelah kanan kami…. Wuiiih penampakan pohon yang luar biasa dengan sulur-sulur yang menyentuh tanah… hmm sebentar..”
“Saat ini tidak ada angin disini, berbeda dengan ketika siang hari kami ada disini, saat ini tidak ada angin, tetapi ada beberapa bagian dari daun dan sulur pohon beringin itu yang bergerak gerak sendiri, gerakan yang senada dan terus menerus”
“Ok baiklah, saya tau kalian sedang mengucapkan selamat datang kepada kami berdua. Kalian gerakan daun dan sulur pohon beringin itu, dan terima kasih” aku berusaha menyapa dengan baik apa yang terlihat janggal disini
Aku sudah terbiasa dengan gerakan daun yang tiba-tiba dan bergerak terus menerus, padahal di sekitar tidak ada hembusan angin sama sekali, dan hal itu aku anggap sebagai pertanda bahwa mereka yang ghaib berusaha berkomunikasi dengan kami.
Setelah selesai dengan pohon beringin yang beberapa daunnya bergerak teratur dengan sendirinya, sekarang fokus cahaya senterku aku arahkan ke bagian depan rumah.
“Bagian depan rumah yang masih bersih, dan terlihat baru, sekarang kami akan masuk ke dalam rumah, kebetulan kunci rumah ini sekarang sedang saya bawa, jadi kami bisa masuk ke dalam rumah dengan mudah”
“Tetapi ada yang aneh, lampu teras yang tadi siang nyala, sekarang sudah mati, apa mungkin ada orang yang mematikan atau mungkin ada orang yang bertugas mematikan?”
“Tapi seharusnya lampu itu nyala pada malam hari, dan mati pada pagi hingga sore hari, tetapi yang ada disini berbeda….tapi biarlah, terserah yang menyalakan dan mematikan”
Aku tetap sebisa mungkin menggambarkan apa yang menjadi objek visualku, sehingga aku tidak akan kehilangan sebuah moment pun ketika menulis novel.
Kumasukan anak kunci kemudian aku putar untuk membuka pintu rumah, daun pintu yang berukir indah itu bisa aku buka, keadaan didalam gelap.
Aku terangi semua bagian ruang tamu dengan menggunakan senter yang aku bawa.
“Sekarang kami akan masuk ke dalam rumah, dan perhatikan sekali lagi keindahan dari daun pintu yang berukir dan terbuat dari kayu keras…” aku dan Sumadi berjalan masuk ke dalam ruang tamu
“Sekarang kami ada di dalam dan di tengah ruang tamu, di dalam ruang tamu ini terdapat seperangkat meja kursi yang juga berukir indah.. “
“Sebuah ruang tamu yang…..”
…..BRAAK....!!
“ALLAHUAKBAR!”
Tiba-tiba pintu ruang tamu menutup dengan keras!
Aku kaget dan sejenak aku belum bisa berpikir apa-apa. Bulu kudukku berdiri, aku tau pintu itu pasti tidak menutup dengan tidak disengaja.
Beberapa saat aku masih diam di dalam ruang tamu, aku dan Sumadi masih kaget dengan pintu ruang tamu yang tiba-tiba menutup dengan sendirinya.
“Barusan suara tadi adalah pintu ruang tamu yang tadi kami biarkan terbuka, tiba-tiba menutup dengan sendirinya… yah mungkin itu adalah ucapan selamat datang untuk kami berdua” kataku dengan suara lebih pelan
“Jangan dikata kami tidak takut, kami kaget dan takut, tetapi kami harus ingat bahwa kami sekarang sedang ada di rumah yang mungkin ditempati banyak mahluk tak kasat mata, dan mungkin kami kurang sopan masuk ke sini” aku terus saja merekam pembicaraanku untuk mengurangi rasa takut.
Tapi kemudian kumatikan alat perekamku, ketika aku lihat Sumadi hanya diam saja, dia tidak merekam apapun yang ada disini, Sumadi berdiri mematung sambil melihat ke arah pintu yang tadi tertutup dengan sendirinya.
“Di, kamu nggak papakan…. Ayo sini Di, kita mulai kerja lagi” kataku lirih sambil memegang bahu Sumadi
“Aa…aku masih terkejut No… tadi kenapa pintu itu bisa menutup sendiri” kata Sumadi
“Sudahlah Di, kita yakini disini ada penghuni tak kasat matanya, dan sekarang mereka sedang memperhatikan dan menguji kita Di”
Padahal kami sudah biasa dengan segala keanehan ketika sedang menyelidiki tempat-tempat yang horor juga, tetapi kadang Sumadi masih surprise dengan keadaan yang seperti ini.
Setelah aku tenangkan Sumadi akhirnya kembali dengan handycamnya, dia terus merekam tiap sudut ruangan tanpa ada satupun yang terlewatkan.
Aku kembali menyalakan alat perekam suara yang tadi aku sempat matikan..
“Pukul sepuluh tiga puluh kami berdua sudah ada di dalam ruang tamu rumah, hawa mistis ruang tamu ini sebenarnya sangat kental, hanya saja saya berusaha untuk menjalin pertemanan dengan yang ada disini”
“Ruang tamu yang cukup menegangkan karena dengan tiba-tiba pintu ruang tamu itu menutup sendiri. Tapi tidak apa-apa saya anggap itu sebagai ucapan selamat datang setelah masuk ke dalam rumah”
“Keadaan ruang tamu sejauh ini tidak ada yang ganjil, hanya tadi pintu yang tertutup dengan sendirinya saja yang membuat kami kaget…. Ehm tapi tunggu sebentar”
“Di, tadi siang waktu kita kesini…letak kursi itu tidak disana kan, kursi berukir yang cukup diduduki satu orang itu harusnya menghadap ke meja ruang tamu kan?”
“Tapi kenapa sekarang kursi itu menghadap ke arah pintu yang tadi tertutup itu”
Sumadi hanya diam saja, dia tetap menyorotkan handycamnya ke kursi yang berubah posisi itu.
“Saya anggap ini adalah pekerjaan mereka yang ghaib itu, saya yakin mereka yang ghaib pasti yang merubah posisi kursi itu”
“Untuk ruang tamu ini saya anggap selesai, sekarang kami akan menuju ke kamar utama….”
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 118 Episodes
Comments
Bunda Titin
bener2 senam jantung neh........😱😱🤦🥴🤪
2024-08-06
0
One Tea
Baca sambil merinding thorr.. Gila bnr
2023-06-26
1
Anik New
tegang thorrr
2023-06-19
1