Setelah cukup lama ada di ruang tamu, sekarang sudah waktunya ke ruangan berikutnya yaitu kamar utama, aku agak nderedeg masuk ke kamar ini, karena mengingat hasil kamera Sumadi yang ngeblur.
“Pukul sepuluh lima puluh menit kami masuk ke kamar utama” kataku sambil melihat jam tangan digitalku
“Sekarang pengamatan kami akan lanjut ke bagian kamar… sebuah kamar yang artistis karena baik dipan maupun lemari semuanya menggunakan ukiran khas daerah sini, sebentar akan saya buka dulu pintu kamar yang tadi siang saya tutup itu”
Sumadi selalu siap dengan kamera videonya, yang sekarang menyorot ke pintu yang aku sedang buka….
Perlahan lahan pintu kamar aku buka, bersamaan dengan senter yang menyorot bagian dalam kamar…..
“Allahuakbar!....” desisku
Tiba-tiba cahaya senter menyorot sekelebat sesuatu, hanya sekelebatan saja dan sesuatu itu langsung menghilang.
Kaget…. tentu saja!
“Kamar ini saya buka, dan tadi saya sempat dikejutkan oleh sinar cahaya senter saya yang menyinari sekelebat benda atau entah apa itu yang langsung menghilang ke atas”
“Saya tidak tau apa itu, tetapi yang pasti itu adalah sesuatu yang patut kami catat”
“Kamar utama….kamar utama ini tidak seberapa besar, namun cukup unik karena perabotannya yang khas. Dan mungkin dengan perabotan ini cocok untuk wisatawan mancanegara”
“Untuk saat ini saya sedang membiasakan diri atau sedang merasakan apakah di dalam kamar ini sama dengan keadaan di ruang tamu”
“Sejauh ini masih sama, gelap dan pengab, belum ada sesuatu yang berubah hingga beberapa menit saya dan teman saya berdiri di sini”
“Hmmm tapi perlahan-lahan saya merasakan adanya perbedaan…”
“Perbedaan apa ya,...... seperti ada perasaan yang perlahan-lahan berubah menjadi mencekam dibanding dengan ketika saya dan teman saya masuk kesini beberapa menit tadi tadi”
“Suhu udarapun rasanya sekarang juga berubah menjadi lebih dingin daripada tadi… saya rasa ada yang sedang ada di sekitar kami”
“Sumadi coba arahkan ke tangan saya kamera videomumu, coba perhatikan kulit lengan saya yang mulai merinding… bagaimana dengan kamu Sumadi?”
“Sama No, saya juga merasa udara disini lebih dingin daripada ketika tadi kita pertama kali masuk ke kamar ini”
“Dan ini kulit lengan saya konturnya sudah mulai berubah… seperti nya kita ada di lingkup sesuatu yang tak kasat mata” kata Sumadi sambil menyorot kameranya ke lengannya
“Ya… saya dan Sumadi sepakat bahwa kita ada di antara makhluk tak kasat mata…”
“Dan saya harus tetap terlihat bersahabat bagi mereka panghuni kamar ini”
“Tapi…. Ada yang berubah lagi, setelah kami merasakan adanya perbedaan aura dan hawa di sekitar kami……sekarang telinga saya rasanya berdengung”
“Seperti ada yang menekan gendang telinga, berdengung seperti kalau kita naik secara tiba-tiba ke ketinggian yang tinggi, atau secara tiba-tiba kita turun dari ketinggian ke tempat yang rendah.. Nah seperti itu yang saat ini saya rasakan dengan telinga saya”
“Aaahh sakit juga rasanya!, bagaimana dengan kamu Sumadi, apakah merasa seperti yang saya rasakan?” aku nggak tau apa yang harus aku perbuat, selain terus menerus menutup kedua telingaku dengan telapak tangan
“Iya sama Paino, telinga saya rasanya berdengung seperti ada yang menekan gendang telinga saya” kata Sumadi yang masih kuat memegang kamera handycamnya.
“Uuugh kami masih ada di dalam kamar tidur utama, tetapi entah kenapa saya merasakan gangguan, eh mungkin bukan gangguan, mungkin bisa juga merupakan gesekan antara makhluk tak kasat mata dengan kami yang kasat mata….”
“Saya uughh saya tidak mengatakan ini aarrhgg sebagai gangguan, tetapi bisa saja akibat dari energi dari makhluk yang ada disini aarrgh sakit sekali.. Dimana energi mereka tidak sinkron dengan kami”
“Saat ini pukul uugh sebelas lewat lima belas malam.. Dan kami merasa bahwa tubuh kami mengalami penolakan…”
“Bersamaan uughhh dengan telinga saya yang masih sakit, sekarang yang bisa saya rasakan adalah rasa mual yang luar biasa……”
“Sumadi.. Bagaimana,.... kita hentikan sampai disini atau tetap lanjut dengan apa yang kita rasakan di sini?” aku mulai tidak tahan dengan gangguan yang menyakitkan tubuh kami
“Malam ini kita explorasi kamar dan kamar mandi yang ada disini saja dulu No, hingga kita paham apa yang sedang ada bersama kita, apabila sudah kita rasa cukup, baru kita beranjak ke lokasi berikutnya yang ada di rumah ini”
Sebenarnya aku sudah tidak kuat dengan yang aku alami ini, selama aku melakukan eksplorasi di tempat-tempat yang mengerikan, baru kali ini aku dan Sumadi mendapat penolakan yang mengakibatkan tubuh kami kesakitan.
Aku tau ini adalah penolakan, tetapi aku tetap berusaha berkata bahwa ini masalah energi yang tidak sinkron dengan kami berdua.
Dan sekarang…. kamar ini semakin mencekam, aku bisa merasakan,..... bukan melihat dengan panca indera penglihatanku, tetapi aku bisa merasakan ada yang sedang mengawasi kami.
“Kami akan bertahan di kamar ini dulu, dan untuk diketahui kami tidak ada maksud untuk menantang atau ingin melakukan pengujian kekuatan” aku lanjutkan dengan bicara di alat perekamku
“Kami bertahan disini karena kami ingin agar penghuni tak kasat mata yang ada di kamar ini tau bahwa kami datang kesini tidak untuk melakukan hal yang jahat, kami hanya ingin bertamu dan hanya ingin berinteraksi secara baik kepada yang ada disini”
Aku harus tetap bicara pada alat perekam yang tergantung di leherku, padahal aku sudah tidak kuat, dengungan yang ada di telingaku semakin menekan gendang telinga, dan mengakibatkan keseimbanganku mulai terpengaruh.
Tanganku yang memegang senter mulai gemetar.. Cahaya senter yang aku pegang bergerak gerak sendiri… aku tidak tau apakah memang aku sendiri yang menggerakan senter ini atau memang ada yang berusaha menggerakan tanganku.
“Kini tangan saya mulai bergerak sendiri…. Di coba arahkan ke tanganku handycam kamu Di, shoot tanganku yang bergerak gerak ini, untuk diketahui saya sama sekali tidak menggerakan tangan kanan saya, saya sudah terlalu lemah untuk menggerakan tangan”
“Aaaahhkkk perut saya semakin mual, telinga semakin berdengung keras, tetapi saya masih bisa bertahan… bagaimana dengan kamu Sumadi, aaagghhh”
“Saya masih bisa bertahan No, dan beberapa kali saya mendengar ada sesuatu yang seperti sedang bicara di belakang saya, tapi saya rasa itu hanya ilusi saya saja yang sekarang sedang merasakan kesakitan”
Rasa sakit ini memang menimbulkan halusinasi, mungkin apa yang dikatakan Sumadi itu benar, karena aku sekarang juga mulai merasakan hal yang sama.
Aku merasa bahwa aku sedang dikelilingi oleh cahaya samar yang bergerak dengan cepat.
Dan tiba-tiba sekarang senterku mati dengan sendirinya!.
Sumadi sempat berteriak ketika cahaya senterku mati.
Aku dan Sumadi sekarang ada di sebuah kamar yang gelap gulita!
“Saya masih bisa bertahan, tetapi tiba-tiba senter yang sedang saya bawa mati dengan sendirinya. Saya tidak mematikan senter ini, dia mati dengan sendirinya”
“Kami dalam keadaan gelap gulita, tetapi untungnya Sumadi membawa handycam yang bisa digunakan dalam keadaan gelap. Bagaimana Sumadi… apa kamu masih bisa mengoperasikan handycam itu?”
“M..masi..masih bisa No, t..tetapi saya tidak berani melihat layar monitor handycam ini” jawab Sumadi dengan suara terbata-bata”
Sumadi sedang ketakutan, baru kali ini aku merasa Sumadi begitu ketakutan, tidak seperti biasanya dia tidak merasa takut sama sekali, malah kadang dia menantang ghaib untuk muncul di kamera videonya.
“Ya sudah Di, tenangkan diri dulu” aku mendekatkan alat perekam suara lagi, kudekatkan ke mulutku agar aku bisa merekam suara dengan berbisik”
“Untuk malam ini, kami berdua hanya akan ada di kamar ini saja, kami bukan menantang, tetapi kami hanya ingin berkomunikasi dan berinteraksi dengan kalian yang ada disini”
“Kami tidak mempunyai kekuatan apapun, kami sangat lemah….!”
“Kami hanya makhluk ciptaan Tuhan yang hanya ingin tahu apa, siapa, dan mengapa dengan rumah ini” aku tetap berusaha merendah, merendah hanya agar mendapatkan simpati dari penghuni ghaib di kamar ini”
“Kami berdua ijin duduk di lantai kamar ini, kami ulangi lagi bahwa kami tidak ada niatan untuk menantang kalian”
Telingaku masih terasa sakit… sakit yang menekan gendang telinga, tetapi rasa mual yang ada di lambungku berangsur angsur hilang.
Aku nggak tau hilangnya rasa mual ini apa ada hubunganya dengan perkataanku tadi atau memang aku sudah sembuh dari sakitku.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 118 Episodes
Comments
Bunda Titin
makin nderedeg...........😱😱
2024-08-06
0
Iin Irmawita
Ikut deg deg an...
2023-06-05
1
MAUT TAK DIUNDANG
duh..kok gitu sih
2023-05-28
3