Bab 19

. Tio membuka mata lalu melihat pada sosok yang berada di depannya, ia penasaran mengapa Diana tidak menanggapi ungkapannya ini. Ketika melihat siapa yang ada di depannya, Tio terbelalak dan ia malu sendiri dibuatnya.

"Eh.. I-Ibu.. Di-Di-Diana nya ada?" Tanyanya dengan terbata dan gugup seketika.

"Ada nak. Sebentar ibu panggilkan." Jawab ibu Diana dengan sedikit tersenyum, dan jelas itu sedang menahan tawa akibat tindakan Tio yang di luar dugaan. Tio mematung di tempatnya seakan ia tak ingin bergerak sama sekali. Wajahnya sudah merah padam karena malu, bisa-bisanya ia bertindak tanpa berpikir.

Di dalam, Diana menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut, ia memejamkan matanya meski tak terasa mengantuk sama sekali.

"Di. Ada tamu."

"Siapa bu?" Tanya Diana terkejut dan langsung beranjak seketika.

"Pacarmu." Jawab ibunya dengan singkat. Diana yang merasa tidak punya pacar pun merasa penasaran siapa tamu yang mengaku pacarnya. Jika Seno itu tidak mungkin, dan jika Tio pun juga tidak mungkin. Pikirannya terus berkecamuk sepanjang ia berjalan menuju teras rumah.

"Ya... siapa?" Tanyanya pada pria yang membelakangi pintu, dan hanya terlihat tubuhnya bagian belakang saja. Tio ragu-ragu membalikkan tubuhnya dan memperlihatkan wajah malunya pada Diana.

"Tio?" Pekiknya merasa terkejut. Ia mengingat kembali ucapan ibunya yang menyebutkan tamu itu adalah pacarnya, dan nyatanya tamu itu Tio. Namun ketika melihat bunga dan coklat di tangan Tio, Diana langsung mengerti dan ia menatap tajam pada Tio yang ia kira hanya ingin mempermainkan perasaannya saja.

"Di... aku minta maaf kalau aku salah." Ucap Tio dengan mencoba mengatur nafasnya agar tak terasa gugup.

"Kalau salah? Apa dia gila? Sudah jelas dia salah." Batin Diana menaikkan alisnya sebelah.

"Iya tak apa." Jawab Diana dengan ketus, dan bisa di simpulkan bahwa Diana memang marah pada Tio. Tio yang sudah bertekad untuk mendapatkan Diana, ia menghela nafas kembali dan meyakinkan dirinya bahwa Diana akan memaafkannya.

"Tadi, aku rasa kau salah faham Di."

"Oh."

"Ayolah Di. Percaya padaku."

"Kenapa kau memintaku percaya padamu."

"Karena.... kau hanya salah faham."

"Salah fahamnya dimana?"

"Ya pokoknya kau salah faham."

"Salah faham karena berpikir kau mencintaiku, nyatanya tidak. Begitu kan?"

"Itu lebih salah faham Di. Aku mencintaimu."

"Terus kenapa kau bilang aku harus melupakan ungkapanmu tadi?"

"Itu karena aku kira kau masih mencintai Seno." Mendengar jawaban Tio kali ini, Diana termangu dan ia mendadak diam seketika. Jadi benar, mereka hanya salah faham saja.

"Di... karena aku tak tahu harus berbuat apa jika kau marah, jadi aku bertanya pada Aris. Dan Aris bilang, kalau ada salah faham, laki-laki harus datang menemui perempuannya dan menjelaskan semuanya. Dan juga, Aris menyarankan agar aku membawa bunga dan coklat. Kau suka coklat kan?" Diana mengangguk menanggapi pertanyaan Tio. "Aku hanya ingin bertanya sekali lagi Di. Apa kau mau jadi pacarku?"

'Deg!' Diana membeku mendengar hal ini terucap dari Tio sekarang. Ia pikir kedekatan yang di maksud Tio bukanlah ikatan pacaran.

"Di..." kembali Tio membuyarkan lamunan Diana dan berharap gadis di depannya ini menjawab segera.

"Tio... aku...."

"Kau masih mencintai Seno?" Tio menyela dengan cepat membuat Diana geram dan memukul lengan Tio dengan keras.

"Dengarkan dulu!" Tio mengangguk mendengar perintah Diana.

"Kenapa kau bodoh Tio? Sudah jelas tadi aku menerimamu sebagai pacarku, tapi kau malah berpikir aku masih mencintai Seno. Dasar kau bodoh... ihhh" Diana terus memukul lengan Tio dengan keras, ia meluapkan emosinya yang tertahan pada Tio. Tio sendiri hanya mengangguk saja, kemudian ia baru tersadar bahwa Diana pun bersedia menjadi pacarnya.

"Kau terima? Kita pacaran?" Tanya Tio dengan berbinar. Diana mengangguk pelan seraya memalingkan sedikit wajahnya dengan malu-malu. Tio tiba-tiba memeluk Diana karena kegirangan.

"Diana... kenapa tidak di bawa masuk tamunya?" Tanya ibunya dari dalam dengan setengah berteriak. Sontak Diana dan Tio mendadak panik sehingga keduanya saling mendorong dan saling melempar bunga. Saat ibunya keluar, situasi canggung terlihat ketika Tio dan Diana saling diam dengan bunga sudah berada di atas sofa.

"Kenapa malah diluar? Ayo masuk. Diana! Kamu ini ya! Pacar datang ke rumah bukannya di suruh masuk." Diana yang mendengar teguran ibunya tersebut hanya tersenyum kaku seraya melirik Tio yang mendadak gugup.

"Hehe iya bu. Dari tadi sudah di ajak masuk, tapi banyak alasan." Jawab Diana dengan asal. Tio melongo menatap Diana yang jelas tidak sesuai dengan kenyataannya. Diana pun mengusap wajah Tio dengan kasar namun tatapan matanya masih tertuju pada ibunya, dan ia masih tertawa kikuk menyembunyikan bahwa ia memfitnah Tio.

"Anu bu... saya tidak lama, jadi saya pamit pulang bu." Ucap Tio dengan begitu sopan, sangat jauh dengan rumor bahwa Tio adalah anak yang sangat cuek dan arogan.

"Aih? Kenapa buru-buru?"

"Adik saya sedang sakit, dan tadi saya sudah berjanji akan pulang cepat."

"Kalau begitu maafkan Diana ya nak."

"Tak apa bu. Justru saya ke sini untuk meminta maaf pada Diana."

"Hanya itu saja?"

"Hehe iya bu." Diana hanya menyimak obrolan penutup dari ibu dan pacarnya yang seakan-akan melemparkan kesalahan pada dirinya. Setelah mendapat izin, Tio segera berlalu dan memberi tatapan penuh arti pada Diana sebelum ia pergi.

. Di sisi lain, Arisa tak henti-henti meringis saat ia sudah terlelap tidur, namun lukanya selalu terasa sakit saat ia tak sengaja beralih posisi tidurnya. Kembali ia menangis dalam diamnya dengan mata terpejam, berharap ia akan masuk ke dalam dunia mimpi. Alih-alih mendapatkan perhatian dari kedua orang tuanya, Arisa malah sendirian di kamar selepas kepergian Tio. Perlahan ia kembali membuka mata, lalu beranjak dan berjalan menuju balkon. Arisa mendongak menatap bulan yang kini tinggal separuh. Kemudian ia beralih menunduk dan menatap ke bawah dengan lekat. Ia berpikir apakah jatuh dari sana akan membuatnya mati seketika atau tidak. Meski masih bertanya-tanya, Arisa naik ke pembatas dan duduk dengan air mata yang sudah berderai. Ketika Arisa sudah siap mendorong tubuhnya sendiri, tubuhnya di tarik seseorang kembali ke dalam balkon. Arisa terduduk seketika dan termenung di sana.

"Bibi kenapa menggangguku?" Lirihnya menutup wajahnya dengan menahan tangis yang sebenarnya sudah menyesakkan dadanya.

"Non mau apa? Non jangan bertindak yang aneh-aneh. Bibi tak suka. Kalau non ada masalah, cerita pada bibi. Jangan begini." Seketika itu, Arisa langsung memeluk Bi Ina dengan erat seraya menangis lebih keras.

Anak malang!

-bersambung

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!