. Sudah larut malam Arisa tak kunjung pulang, Yugito terus mondar-mandir tak karuan di teras rumah. Perasaannya sudah gelisah dan ingin mencari keberadaan putrinya. Ayah mana yang tak khawatir jika putrinya belum pulang di waktu yang sudah larut. Sedangkan di rumah Rama, Arisa tertidur menunduk di ruang tamu karena mengerjakan tugas sekolahnya. Ia tak sadar jika kantuknya membawanya langsung ke alam mimpi. Arisa perlahan mengerjapkan matanya dan melirik jam di tangannya. Matanya membulat mendapati bahwa waktu sudah menunjukkan pukul 11 malam. Arisa yang kalut segera membereskan buku-bukunya dan membangunkan Rama yang sama-sama tidur di atas meja. Kemudian terlihat Dimas baru pulang dari rumah sakit karena ia shift 2, lalu Arisa mengutarakan niatnya yang akan pulang sekarang.
"Tapi sudah malam Arisa." Protes Dimas yang merasa khawatir jika Arisa pulang sendiri di jam ini.
"Kalau aku tidak pulang sekarang, aku pasti dimarahi."
"Aris maaf. Aku juga ikut tertidur." Rama ikut menimpali obrolan pacar dan kakaknya.
"Kau juga Rama. Kalau kau mengajak wanita ke rumah, harusnya kau juga bertanggung jawab dengan keselamatannya." Dimas beralih memarahi Rama yang terlihat lebih santai dari mereka.
"Jangan salahkan Rama kak. Aris juga ikut salah, kalau saja Aris tidak ketiduran, mungkin Aris sudah pulang sejak tadi. Maaf ya! Sampaikan salam Aris pada ibu." Ucapnya segera berlalu meninggalkan rumah Rama. Ketika Dimas hendak menyusul Arisa ke luar, ia terbelalak melihat Rama yang terbatuk darah tepat di depannya. Bukan hanya sedikit, kali ini darah yang keluar lebih banyak dari biasanya. Dimas ingin memanggil ibunya atau Arisa yang sekarang sudah memasuki mobil, namun Rama melarangnya dan malah melambaikan tangan dari dalam agar Arisa cepat berlalu. Arisa yang lebih takut pada ayahnya pun bergegas melajukan mobil secepat yang ia bisa. Dan agar ia tak di ketahui ayahnya, Arisa mencoba menghubungi Tio selama di perjalanan.
"Kau dimana? Cepat pulang! Ayah sudah menunggumu di luar." Ujar Tio dari seberang telepon.
"Ih kakak jangan menakutiku. Aku sudah di jalan, tapi aku takut kak." Rengek Arisa yang mulai panik dibuatnya.
"Tenang Aris. Kau jangan panik kalau masih di jalan."
"Kakak yang membuatku panik."
"Iya tapi jangan begitu. Ayah tak akan memarahimu."
"Siapa yang menjamin. Kalau aku yang membuat salah, ayah pasti memarahiku terus."
"Kakak akan mencoba meyakinkan ayah agar kau tidak di marahi. Pokoknya kau harus tenang. Jangan panik!" Meski tak mudah mengikuti kemauan Tio, namun Arisa mencoba mengatur nafasnya agar tak terlalu memikirkan semua hal yang belum terjadi.
. Tio menggeliat di belakang Yugito yang masih menunggu kepulangan Arisa. Ia mencoba berpura-pura tidak tahu mengapa ayahnya masih di luar di jam ini.
"Ayah sedang apa?" Tanyanya berlagak polos.
"Apa kau tahu kemana Aris?"
"Loh.. memangnya dia belum pulang?"
"Kalau sudah, ayah tak mungkin menunggunya disini."
"Hemmm kemana dia?" Mendengar Tio yang bersikap tak tahu apa-apa, Yugito meliriknya dengan kesal lalu menatapnya dengan tajam.
"Kau tahu kemana dia kan? Tadi siang kau yang menyuruh Juju untuk membawa mobilnya ke sekolah, dan kau juga yang melarang Juju untuk mengawasinya. Kemana dia Tio? Jawab!" Tio mengerjap mendengar bentakan keras Yugito yang terdengar sampai pos depan.
"Aris ke rumah temannya ayah. Dia mau belajar kelompok."
"Ayah rasa bukan itu jawabannya."
"Aku serius."
"Lalu kenapa dia tidak meminta izin pada ayah?" Kali ini Tio berani membalas tatapan tajam ayahnya dengan senyum yang tersimpul di bibirnya.
"Kalau dia meminta izin pada ayah, apa ayah akan mengizinkan atau sekedar mengucapkan hati-hati padanya?"
"Apa maksudmu? Kau kira ayah tidak peduli padanya?"
"Bukankah ayah memang tak peduli? Bukan pada Aris saja, tapi padaku juga kan?"
"Tio. Kau semakin berani pada ayah? Kau mau jadi anak durhaka?"
"Mana mungkin aku berani pada ayah? Dan juga dimana letak kesalahan yang membuatku durhaka? Ayah saja yang tidak terima dengan ungkapan Tio. Ketika Yugito hendak menceramahi Tio lebih lanjut, pandangannya tertuju pada sebuah mobil yang memasuki pekarangan rumahnya. Tio mendadak panik saat Yugito begitu tajam menatap Arisa yang turun dari mobil. Arisa tahu ayahnya sudah menyimpan amarah untuknya saat ini.
"Dari mana saja kau?" Geram Yugito mencoba menahan amarah yang sudah membara di dadanya.
"A-Aris... dari..."
"Apa kau tak lupa sandi nya?" Sontak Arisa menoleh pada Tio yang ikut menimpali, namun pertanyaan itu membuatnya tak mengerti maksud dari kakaknya.
"Sandi apa?" Tanya Yugito beralih menatap pada Tio.
"Aris dari apartemenku ayah. Siang tadi, aku bilang pada Aris untuk tidur di apartemenku saja kalau pulangnya malam."
"Lalu kenapa kau tak memberitahu ayah?" Yugito semakin geram mendengar alasan yang Tio ungkapkan padanya.
"Memangnya ayah peduli?" Lagi-lagi Tio tak memberikan jawaban yang di harapkan oleh Yugito, sehingga Yugito berubah geram dan hendak melayangkan tamparan pada putra sulungnya.
"Ayah jangan!" Teriak Arisa yang menghalangi Tio dengan tubuh mungilnya.
"Kenapa kau menghalangi ayah?"
"Kak Tio tidak salah. Aris yang salah. Kak Tio mencoba melindungiku, tapi aku yang bersikeras ingin pulang karena takut ayah marah."
"Kau takut ayah marah, tapi kau membuat kesalahan? Apa kau sadar Aris?"
"Aris sadar ayah. Maaf sudah membuat kacau di rumah karena Aris."
"Kalau begitu, mobilmu ayah sita. Kau jangan memakai mobil sampai lulus." Arisa terhenyak mendengar penuturan ayahnya tersebut.
"Apa tidak terlalu lama?" Protes Tio yang lebih keberatan dari pada Arisa.
"Apa kau yang akan menggantikan hukumannya?"
"Oke. Lebih baik Tio saja yang di hukum dari pada Aris. Ayah sudah memotong uang jajan Aris, dan sekarang ayah juga malah menyita mobilnya? Apa ayah tidak berpikir bagaimana Aris berangkat sekolah, sedangkan ayah saja tahu kalau aku jarang berangkat dengan Aris."
"Kalau begitu mobilmu yang akan ayah sita." Tegas Yugito sehingga kedua anaknya terdiam membisu.
. Di waktu yang sama, Dimas menangis sesenggukan di kamar Rama setelah keduanya membersihkan darah yang berceceran di ruang tamu.
"Kenapa kau menangis terus? Nanti ibu dengar." Tegur Rama yang mencoba menenangkan tangisan kakaknya.
"Kenapa kau keras kepala? Biarkan ibu tahu, dan kau bisa berobat." Meski Dimas memelas, namun Rama hanya tersenyum dan menggeleng menanggapi ucapan Dimas.
"Jangan. Biaya pengobatannya mahal. Ibu akan kesulitan mencari uangnya nanti."
"Pacarmu kaya kan? Kenapa kau tidak meminta bantuannya?"
"Kakak tak tahu dia bagaimana."
"Dia pasti anak yang tak mau membantu orang lain kan?"
"Tidak. Justru dia anak yang jauh lebih prihatin dariku."
-bersambung
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 70 Episodes
Comments