Bab 11

. Esoknya, Arisa melihat Tio memakai jaket dan tas keluar dari kamarnya. Ia segera menyusul Tio dengan berlari menuruni tangga. Tio menyadari kedatangan Arisa, sehingga ia menoleh dan menunggunya di depan pintu.

"Jangan lari-lari. Nanti jatuh bagaimana?" Tegur Tio kemudian meraih dan mengelus kepala Arisa dengan gemas.

"Kakak mau kemana?"

"Mau ke kantor."

"Kenapa tidak pakai baju kerja?"

"Kakak mau naik ojek online. Kalau pakai stelan kerja, nantinya bisa kotor. Jadi kakak bawa baju ganti."

"Hemmm Aris kira pakai taksi."

"Memangnya kenapa?"

"Aris mau ikut dengan kakak."

"Loh memangnya mobilmu kenapa?"

"Aris simpan di rumah."

"Iya kenapa?"

"Kan kakak di hukum gara-gara Aris. Jadi Aris juga harus ikut simpan kunci mobil Aris di meja ayah."

"Aris jangan begitu. Kau harus pakai mobilmu. Kalau kakak yang di hukum, kakak tak masalah. Tapi kamu, lambungmu sudah parah Aris."

"Urusannya dengan lambung apa?"

"Kalau pakai taksi, nanti kau akan terlambat ke sekolah, dan kau tak sempat sarapan."

"Aku memang tak pernah sarapan." Tio menghela nafas berat menyikapi adiknya yang terus mencari alasan agar bisa ikut dengannya naik taksi.

"Ayolah kak! Aris ikut ya.... kita berangkat sama-sama." Arisa terus membujuk agar kakaknya bisa mengizinkan dirinya ikut berangkat bersama.

"Haih... ya sudah. Tapi hari ini saja." Sontak Arisa langsung melompat kegirangan lalu menggandeng tangan kakaknya berjalan menyusuri taman menuju jalan raya untuk menghentikan taksi yang lewat.

Raisa menggigit bibir bawahnya menahan kesedihan melihat kebersamaan Arisa dan Tio yang semakin hari semakin terlihat dekat. Di waktu yang sama, Yugito pun melihat Arisa dan Tio begitu bahagia meski keduanya tengah di hukum olehnya. Yugito keluar dari ruang kerja lalu melirik sebuah kunci yang tergeletak di atas meja kerjanya yang berada di ruang keluarga. Kunci dengan gantungan boneka stitch itu terletak di samping kunci ferarri milik Tio. Yugito beralih menoleh pada Raisa yang terlihat murung mencengkram tali tas sekolahnya.

"Kenapa? Kau sakit?" Pertanyaan yang terlontar setiap kali Raisa terdiam seperti sekarang. Ketakutan terbesar Yugito adalah melihat Raisa kembali mengalami kesakitan yang teramat menghadapi penyakit mematikan yang hampir merenggut nyawanya.

"Tidak ayah. Rais baik-baik saja." Jawabnya memasang senyuman riang meski Yugito tahu bahwa Raisa tengah menyembunyikan perasaannya. Kemudian Raisa bergegas berangkat sekolah di antar oleh mang Ujang karena Yugito tak mengizinkan Raisa untuk mengemudi sebelum lulus SMA.

Di perjalanan, Raisa menatap sepasang kakak beradik yang tengah bercanda di dalam taksi yang kacanya di biarkan terbuka. Ia kembali menahan sesak melihat mereka begitu akur, tak seperti dirinya yang terus merasa sendirian.

Arisa dan Tio berpisah di depan sekolah Arisa, setelah itu Tio beralih menuju kantor dan bekerja tanpa memikirkan ayahnya mau bagaimana nantinya. Arisa berjalan dengan terus mencari keberadaan Rama yang tak terlihat. Biasanya Rama selalu menunggu di depan peepustakaan, namun hari ini ujung rambutnya pun tak nampak. Setelah bertanya pada Reski dan Naufal, ternyata kedua temannya pun tak tahu kemana Rama. Sampai Arisa mencoba menghubungi nomor Rama beberapa kali, dan sayangnya tak mendapat jawaban sama sekali. Hari-hari berikutnya pun sama, sudah 3 hari Rama tidak masuk sekolah tanpa adanya keterangan izin ataupun sakit. Arisa mencoba ke rumah Rama, dan di sana hanya ada Gilang saja.

"Bang Rama di rawat mbak. Memangnya mbak tidak di beritahu?" Arisa menggeleng menanggapi pertanyaan Gilang.

"Di rawatnya dimana ya?"

"Kalau rumah sakitnya tempat Bang Dimas magang, tapi kalau kamarnya Gilang tidak tahu mbak. Semenjak Bang Rama di rawat, ibu pulang larut malam dan ke rumah sakit lagi pas subuh. Terus Bang Dimas juga belum pulang 3 hari ini, kata ibu Bang Dimas nunggu Bang Rama." Jelasnya membuat Arisa sedikit putus asa. Gilang saja yang merupakan adik kandung Rama tak tahu, bagaimana caranya mencari keberadaan Rama.

"Ya sudah. Terima kasih ya Gilang. Mbak permisi. Mau coba cari Rama." Setelah berpamitan, Arisa segera berlalu menuju rumah sakit yang di maksud Gilang.

. Di sisi lain, Rama dengan sendu menatap nama pacarnya di layar ponsel yang sudah 3 hari tidak ia hubungi. Ia merasa bimbang dan tak tahu harus bagaimana sekarang. Jika ia mengabari Arisa, mungkin gadis itu akan terus mendesaknya agar memberitahu dimana ia berada. Lalu, jika ia tak mengabari Arisa, kemungkinan Arisa akan marah padanya saat mereka bertemu nanti. Dimas menatap nanar pada adiknya yang begitu lemas tak bertenaga.

"Apa kau akan begini terus? Kau tak berniat memberitahu ibu?" Lagi, Dimas mencoba membujuk agar Rama mengatakan penyakitnya pada ibunya.

"Jangan Bang."

"Tapi mau sampai kapan?"

"Sampai tahun depan." Jawab Rama seraya tersenyum pada Dimas yang sudah mulai kesal akan sikap Rama yang keras kepala.

"Apa yang tahun depan?" Tanya ibu mereka dari ambang pintu. Sontak Rama terkejut dan mendadak menjadi gugup.

"Itu bu... anu...."

"Kau mau menikah tahun depan?" Ibunya menyela sebelum Rama benar-benar selesai menjawab pertanyaannya.

"Tidak bu... Ali masih muda. Mana mungkin langsung menikah. Lagi pula, Ali belum bekerja, dan Aris juga belum tentu mau menikah dengan Ali." Jawabnya mengelak.

"Ya bisa saja kan? Ibu pikir kamu sudah mau menikah karena Aris itu anak yang baik. Sejujurnya ibu kurang setuju kalau kamu sama Aris. Aris itu anak orang terpandang, sedangkan kita?"

"Ibu tenang saja. Dimas akan berusaha mengangkat derajat keluarga kita. Doakan terus agar Dimas bisa cepat-cepat menjadi dokter sungguhan." Ucap Dimas menimpali seraya meraih kedua tangan ibunya.

"Abang kan sudah jadi dokter sungguhan Bang." Timpal Rama selanjutnya.

"Iya tapi belum resmi. Abang harus menjalani pelatihan lagi, dan setelah itu Abang bisa bantuin kamu sembuh."

"Rama pasti sembuh. Asal teratur minum obat, pasti asma nya sembuh. Iya kan pak dokter?" Ibunya melirik Dimas dengan sedikit mengejek, kedua anaknya tersenyum menyembunyikan kenyataan pahit yang mungkin saja akan membuat ibu mereka hancur seketika jika semuanya terungkap.

"Permisi..." suara seseorang berhasil membuat ketiga orang di dalam kamar menoleh bersamaan ke arah pintu yang perlahan terbuka.

"Aris?" Pekik ketiganya merasa terkejut mengapa Arisa tahu mereka ada di sana.

"Wahhh bu... kita cari makan di luar yu! Tak baik ganggu anak muda pacaran." Dimas menarik tangan ibunya keluar dari kamar dengan bercanda agar Arisa tidak tersinggung. Setelah ibu dan anak berlalu, Arisa mendekat menghampiri Rama yang sudah tersenyum menyambut kedatangannya.

"kau kenapa?"

"Tidak apa-apa... sakit rindu saja." Jawab Rama diiringi tawa.

-bersambung

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!