. Tio langsung ke kamar Arisa setelah ia tiba di rumah. Namun, yang membuatnya heran ialah keberadaan Arisa yang masih berada di luar bersama Bi Ina padahal malam sudah larut. Yang membuatnya lebih terheran, mengapa Arisa memeluk Bi Ina dengan terisak keras. Tio segera meraih Arisa dan secepatnya ia melihat luka di tangan Arisa apakah semakin parah atau tidak, mengapa Arisa sampai menangis seperti sekarang?
"Aris! Bi, Aris kenapa Bi?" Tanya Tio mendadak panik saat Arisa tak ingin melepaskan pelukannya dari Bi Ina.
"Anu.... emmm Mas Tio... non Aris...."
"Aris kenapa Bi?" Pertanyaan Tio kian menekan ketika Bi Ina tengah bimbang harus menjawab apa. Terlihat Arisa menggeleng secara tak langsung meminta Bi Ina untuk diam dan tak memberitahu Tio tentang rencananya yang gagal.
"Bi! Jawab Tio Bi. Jangan dengarkan Aris." Kini Tio semakin menekan, dan suaranya pun terdengar lebih keras.
"Non Aris mau bunuh diri Mas." Akhirnya jawaban itu pun terungkap juga. Setelahnya, Bi Ina merasa bersalah karena telah memberitahu Tio tentang rencana bodoh Arisa.
Tio memberi kode pada Bi Ina untuk melepaskan pelukan dari Arisa, dan dengan menurut Bi Ina menjauh dari Arisa yang jelas tak ingin terlepas darinya. Kini Tio yang menggantikan Arisa untuk memeluk adik kecilnya yang mungkin tengah merasakan hal yang ia rasakan juga.
"Ingat pada kakak saja. Kau harus berpikir bagaimana kakak hidup tanpamu. Asal kau tahu, kakak bertahan hidup karena dirimu Aris. Kalau kakak tidak memikirkan kamu, kakak juga mungkin sudah mati sejak lama."
Deg! Arisa terhenyak mendengar pengakuan Tio tentang ini, ia mendongak dan menatap wajah kakaknya yang ternyata sudah berlinang air mata. Kesakitan Tio tak ada apa-apanya di banding melihat Arisa menangis karena masalah yang sama dengan yang ia alami.
"Kakak harap, hanya kakak yang merasakannya. Tapi kenapa kau juga?" Arisa menggeleng menanggapi ucapan Tio tersebut. Ia sendiri tidak tahu mengapa ia mengalami ini. Tanpa ingin mengungkapkan dengan kata, keduanya memilih menangis berdua sampai akhirnya mereka masuk dan tertidur.
. Esoknya, seperti biasa, Arisa dan Tio berangkat bersama. Bahkan pagi ini, keduanya terlihat begitu sangat dekat. Dan seperti biasa pula, Raisa selalu merasa dadanya sesak melihat pemandangan tersebut. Meski demikian, Tio sudah tak mempedulikan perasaan Raisa lagi, ia memilih untuk lebih fokus pada Arisa yang jelas kesepian dari pada Raisa.
Di persimpangan jalan, Arisa menyernyit mengapa Tio memilih jalan lain yang tak seharusnya mereka lalui. Yang semakin membuatnya heran, mobil ini memasuki sebuah perumahan dan terhenti di depan salah satu rumah berwarna putih. Arisa melirik pada Tio yang beberapa kali menghela nafas dalam sebelum ia keluar dari mobil. Tak lama, Arisa mendapati seorang gadis keluar dari rumah tersebut dengan melirik sinis dan bersikap angkuh pada Tio. Arisa semakin heran melihat sikap Tio yang jauh dari rumornya yang bilang bahwa Tio merupakan pewaris yang arogan dan sangat dingin. Setelah gadis itu semakin dekat dengan mobil, Arisa terbelalak lantaran ia mengetahui siapa dia.
"Loh.. itu kan pacar kak Seno." Ucapnya dari dalam mobil. Tio membukakan pintu belakang untuk Diana, namun Arisa segera keluar dan beralih ke kursi belakang agar Diana bisa duduk di kursi depan.
"Aih.. kenapa pindah?" Tanya Tio yang keheranan.
"Tak apa kak. Aris di belakang saja." Jawabnya seraya memasangkan sabuk pengaman.
"Aris ya? Apa kabarmu? Terakhir kita bertemu saat di taman ya?" Sapa Diana seraya memeluk Arisa dengan akrab.
"Hehe iya kak. Kakak pacar...."
"Pacar kakakmu." Jawab Diana cepat. Ia tahu Arisa akan mempertanyakan tentang Seno padanya.
"Ohhh iya." Hanya begitu tanggapan Arisa. Namun, ia tak ingin berpikir yang tidak-tidak dan memilih acuh terhadap urusan mereka.
Sampai di sekolah, Arisa turun dan berpamitan pada kedua orang yang ada di mobil sebelum ia memasuki kawasan sekolah. Seperti biasa, Rama sudah menunggu di ujung lorong perpustakaan. Terlihat Arisa mengadu pada Rama tentang luka di tangannya, lalu Rama mengelus kepala Arisa dan merangkul pundaknya menuju kelas. Hal itu berhasil membuat Tio tersenyum penuh kelegaan, pasalnya di kondisi Arisa yang membutuhkan kasih sayang orang tuanya, Rama hadir dan memberi perhatian-perhatian kecil yang membuat Arisa sedikit lebih kuat dan sedikit memiliki alasan untuk hidup. Mengingat kejadian tadi malam, Tio masih merasa bahwa Arisa begitu tertekan dengan situasi yang menimpa adiknya itu. Diana sedikit penasaran mengapa Tio menatap Arisa sampai begitu.
"Ada sesuatu dengan adikmu?" Tanya Diana berhasil membuyarkan lamunan Tio. Tio sendiri mendadak gugup dan berusaha menyembunyikan apa yang terjadi padanya dan Arisa. Ia perlahan melajukan mobil tanpa menjawab pertanyaan Diana.
"Tio. Kau menganggapku pacar atau tidak?" Suara Diana lebih tinggi sebab ia sudah terlanjur kesal pada Tio yang terus diam seribu bahasa.
"Apa gunanya aku yang kau bilang pacarmu, tapi kau sendiri menutupi masalahmu dariku." Keluh Diana kemudian, ia mendadak sendu seraya berpaling ke luar jendela.
"Tidak semua masalah harus di ceritakan pada orang lain kan?" Pertanyaan Tio tersebut berhasil membuat Diana menoleh dan menatap penuh arti pada Tio. Ia tak habis pikir dengan anggapan Tio tersebut.
"Berhenti!" Pinta Diana dengan ekspresi datar, namun Tio tak mendengar dan terus melajukan mobilnya sehingga Diana berdecak kesal lalu berteriak pada Tio "ku bilang berhenti!". Dan teriakan itu akhirnya membuat Tio menghentikan mobilnya di pinggir jalan. Ketika Tio hendak protes dan mungkin akan memarahi Diana, tiba-tiba Diana meraih wajah Tio sehingga mata Tio membulat meski terlihat sendu.
"Masalah mana yang akan selesai jika hanya di pendam?" Tio masih diam dan tak menanggapi apapun. "Meski tak bisa membantu, setidaknya kau akan merasa lebih tenang setelah masalah di dalam hatimu sudah kau katakan pada orang lain. Bukankah aku pacarmu? Dan aku berjanji akan menemanimu, lalu kau pun sama, jadi seharusnya kau tahu artinya itu." Seketika itu, air mata Tio meluruh jatuh di antara pipinya. Ia meraih tangan Diana lalu membenamkan wajahnya seakan telapak tangan Diana lebih menenangkan dari apapun sekarang. Diana termangu, ia pikir bahwa rasa sakit yang di alami Tio bukanlah hal biasa. Diana yang merasa tersentuh pun beralih memeluk Tio dengan erat. Pasalnya Tio tak seperti orang yang lemah, ia selalu bersikap kuat di hadapan semua orang. Diana seakan ikut merasakan sesak ketika tangis Tio kian menunjukkan rasa sakit yang teramat dalam.
"Jangan tinggalkan aku Diana. Tetap temani aku. Aku tak sanggup jika kau pergi."
-bersambung
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 70 Episodes
Comments