Bab 6

. Paginya, Raisa menahan langkah Tio di ujung tangga. Terlihat tatapannya begitu tajam, namun Tio tak pernah mempedulikan apapun sikap Raisa. Ia memilih kembali memasuki kamar, dan dengan cepat Raisa menyusul Tio sehingga Tio meliriknya dengan sinis.

"Kakak ini kenapa? Selalu saja mendiamkanku seperti sekarang? Apa salahku kak?" Dan, Tio enggan menjawab celotehan Raisa yang menurutnya tak penting.

"Melihat kakak yang begini, aku merasa tidak punya kakak." Teriak Raisa mulai meluapkan emosinya. Tio yang tak terima dengan pengakuan Raisa pun beralih menghampiri Raisa.

"Kau merasa tidak punya kakak?" Tanya Tio dengan suara pelan. "Aku dan Aris merasa tidak punya orang tua!" Kali ini Tio berteriak sampai Rahma dan Yugito masuk kedalam kamarnya.

"Kenapa? Kalian ini bisa tidak sehari saja tidak bertengkar?" Tegur Rahma yang terlihat sudah lelah pada mereka karena sering bertengkar.

"Tanya saja pada anak kesayangan mama ini." Tio meraih jas dan tas kerjanya lalu bergegas pergi menarik tangan Arisa yang kebetulan baru turun dari kamarnya.

"Berangkat dengan kakak." Tio masih berteriak sembari terus melangkah keluar rumah. Yugito memilih untuk berlalu tanpa ingin menegur Raisa yang tengah menunduk membelakangi mereka. Rahma yang sangat menyayangi Raisa pun menghampiri putrinya lalu memeluknya dengan penuh kehangatan.

Selama perjalanan, Tio terus menghembuskan nafas kasar, ia terlanjur kesal pada orang rumah. Bahkan terlintas di benaknya ia ingin mengakhiri hidup jika ia tak ingat pada Arisa yang mungkin akan kesepian jika kehilangannya.

Ketika sampai di depan sekolah Arisa, seluruh siswa yang melewatinya menatap dengan kagum pada Tio yang begitu menarik perhatian. Mobil Ferrari, wajah tampan, anak orang kaya, itulah beberapa alasan Tio sangat di kagumi banyak perempuan. Tio memberikan uang cash pada Arisa dengan jumlah yang lebih dari seharusnya.

"Untuk apa kak?"

"Untuk jajan. Uang saku di potong ayah kan? Ini dari kakak. Jangan telat makan, makan makanan bergizi, jangan yang pedas terus, lihat tubuhmu sudah kurus begini."

"Iya kak."

"Kakak pergi ya. Kalau ada apa-apa hubungi kakak saja. Jangan hubungi siapapun. Apa lagi ayah. Dia bukan ayah yang baik untuk kita. Mulai sekarang, kakak yang akan menjadi walimu. Jadi, kalau ada masalah di sekolah, langsung saja diskusikan dengan kakak ya!" Tio menasehati dengan mengelus rambut Arisa, lalu ia sengaja mengacaknya dengan gemas membuat Arisa merajuk lalu tertawa kecil, Tio merasa tawa itu adalah tawa pertama yang ia lihat setelah Raisa dinyatakan sakit parah. Tio berlalu, dan Arisa bergegas menuju kelasnya.

Namun, tepat di depan kelas, ia mendapati Gibran yang tengah meraih kerah kemeja Rama dan menghimpitnya ke tembok.

"Sudah ku bilang aku tidak mengancam Aris." Pekik Rama mencoba membela diri.

"Ahhh alasan. Tak mungkin Arisa mau padamu yang miskin. Aku saja dia tolak, apa lagi kau." Geram Gibran mengangkat tangan hendak memukul Rama.

"Gibran jang--" seketika semua anak perempuan berteriak, bahkan ada anak laki-laki yang ikut berteriak menyaksikan pukulan Gibran yang sudah mendarat. Namun, bukan pada Rama. Melainkan pada pelipis Arisa yang mencoba menghalangi dan berharap Gibran tidak jadi memukul jika melihat wajahnya. Wajah Arisa masih berpaling dengan rambut berantakan karena jepitannya terlepas dan jatuh entah kemana. Rama dengan sigap meraih Arisa yang terhuyung dan ambruk ke arahnya.

"Rama cepat bawa....." Naufal mendadak panik melihat Arisa yang terlelap dengan luka memar yang begitu jelas.

"Rama bawa Aris ke UKS. Anak ini biar aku yang urus." Ucap Reski terlihat menantang Gibran yang masih merasa terkejut. Seluruh teman sekelas Arisa mengerumuni Gibran sehingga salah satu guru datang menghampiri mereka.

"Ada apa ini? Kenapa berkumpul di sini?" Sontak semua siswa menunjuk ke arah Gibran yang gugup dan kalap menghadapi guru BK datang tiba-tiba.

"Gibran! Kenapa mereka menunjukmu?" Guru beralih bertanya pada Gibran.

"Dia memukul Arisa pak." Reski lebih dulu menjawab sebelum Gibran membela diri. "Saya harap kali ini semua guru bersikap tegas pada anak orang kaya." Lanjut Reski terdengar begitu tegas. Pasalnya, guru selalu mencabut kasus anak-anak dari keluarga berada. Tapi selalu mempersulit anak yang masuk dengan jalur prestasi yang kebanyakan dari keluarga yang sederhana.

"Kau juga anak orang kaya Reski." Geram Gibran menahan amarahnya yang kian memuncak.

"Tapi aku tak pernah membuat masalah sepertimu." Reski menjawab dengan menyeringai puas membuat Gibran merasa di rendahkan.

"Gibran. Kamu ikut saya ke ruangan BK. Jelaskan di sana!"

"Saya ikut pak. Sebagai saksi mata dan sebagai juru bicara Gibran." Reski kembali menimpali.

"Aku tak butuh juru bicara. Aku bisa bicara sendiri."

"Oh maaf Gibran Wijaya. Aku tidak percaya padamu. Kau pasti akan mengelak dan memutar balikkan fakta. Jadi, kau pilih saja! Aku ikut ke ruang BK, atau kau akan kami buat malu? Oh jangan khawatir. Teman sekelas ku semuanya baik, paling mereka akan mengikatmu di alun-alun kota dengan memajang tulisan 'PEWARIS WIJAYA YANG INGIN MEMPERMALUKAN KELUARGA'." Seringai licik tersimpul di bibir Reski saat mengancam Gibran. "Hemm tapi menurutku kurang bagus. Apa ya?" Lagi-lagi ungkapan Reski kian memperkeruh suasana.

"Gibran, Reski! Kalian ikut saya." Kali ini Reski tersenyum penuh kemenangan mendengar dirinya di izinkan ke ruang BK.

. Di UKS, Rama yang terluka karena sempat terkena pukulan sebelumnya pun di beri izin untuk tidak mengikuti pelajaran pertama. Ia terus menunggu Arisa sadar dan segera meminta maaf, karena dirinya Arisa bisa terluka. Tak lama, terlihat Arisa mengerjapkan mata lalu meraih pelipisnya yang terasa berdenyut-denyut.

"Aris..." pekik Rama ketika Arisa terbangun dengan meringis pelan. "Kenapa kau menghalangi pukulan Gibran?" Tanya Rama selanjutnya.

"Kau baik-baik saja?"

"Aris. Siapa yang mengkhawatirkan siapa?"

"Tadi kau di pukul juga kan?"

"Iya tapi tidak separah lukamu."

Jam pelajaran kedua, Arisa dan Rama kembali ke kelas untuk mengikuti pelajaran setelah mereka di istirahatkan di UKS.

Belum sampai 10 menit mengikuti pelajaran, seorang guru memanggil Arisa dan Rama ke ruang kepala sekolah. Keduanya bergegas cepat dan Arisa terkejut mendapati Tio tengah mengamuk meraih kemeja seorang pria tua berjas rapi dan terlihat bukan orang sembarangan.

"Adikku tak seperti yang kau bilang pak Wijaya. Tarik ucapanmu atau--"

"Kau mengancam orang tua? Apa Yugito tidak mendidikmu dengan baik?"

"Jangan bawa-bawa ayahku. Dia tidak tahu apa-apa."

"Orang tua murid. Tolong hentikan tindakan kalian." Tegur seorang guru perempuan yang sudah muak melihat keributan di ruang kepala sekolah ini.

"Kak Tio." Panggil Arisa segera berlari menghampiri kakaknya.

-bersambung

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!