Bab 9

. Setelah berhasil membuat riuh seisi kelas, Rama kembali dengan wajah santai duduk di kursi miliknya. Ia baru tersadar jika selama ia di toilet, waktu sudah berlalu hampir 15 menit. Namun, ia tak mendapati satu orang pun guru yang masuk ke kelasnya.

"Jam kosong kah?" Tanyanya pada Naufal yang mengedikan bahu karena tak tahu.

"Mana aku tahu. Aku kan denganmu." Sontak Rama langsung tertawa terbahak-bahak seraya memukul bahu Naufal dengan keras.

"Sakit eh." Protes Naufal mengusap bahunya dengan melirik kesal pada Rama. Rama termangu melirik Arisa yang ternyata tengah mengobrol dengan Reski. Ada rasa cemburu ketika melihat senyum Arisa di perlihatkan pada orang lain selain dirinya. Terlihat Reski melambaikan tangan menyuruh Rama menghampirinya. Dan terlihat pula wajah Arisa yang sudah lebih baik jika di bandingkan dengan sebelumnya.

"Kau kenapa Rama?" Tanya Reski beralih ke sisi yang lain agar Rama lebih dekat dengan Arisa.

"Yahhh biasa Res... mimisan." Jawab Rama di iringi tawa pecicilannya yang khas.

"Kau tak apa-apa?" Tanya Arisa menolehkan wajah Rama dari Reski.

"Tak apa dong sayang. Tak perlu khawatir. Aku baik-baik saja." Mendengar jawaban Rama tersebut, Arisa menghela nafas lega dan kembali tersenyum.

"Syukurlah..." lirihnya sehingga Rama pun tersenyum menanggapi. Reski membungkuk dan menarik telinga Rama untuk membisikkan sesuatu.

"Dia sangat mengkhawatirkan mu loh." Rama seketika tersenyum mendengar bisikan Reski yang membuat Arisa menyipit penasaran akan sikap kedua laki-laki di depannya.

"Ehhh apa tidak belajar?" Tanya Rama setelahnya.

"Katanya bu Mela ada urusan, jadi tidak bisa mengajar sekarang." Jawab Arisa ditanggapi anggukan oleh Rama.

"Baguslah. Emmm Aris. Nanti pulang...." Rama ragu-ragu mengungkapkan hal yang sudah ada di benaknya.

"Kenapa? Ada apa nanti pulang? Kau mau mengajakku ke suatu tempat?" Sontak Rama langsung mengangguk dengan semangat lalu menatap harap pada Arisa yang merasa penasaran kemana Rama ingin mengajaknya pergi.

"Sejujurnya..... ibu selalu menanyakanmu. Katanya dia ingin bertemu. Tapi aku ragu, apa kau mau ke rumahku yang jauh dari kata mewah." Tutur Rama mendadak sendu. Arisa menepuk kedua pipi Rama sehingga keduanya saling berpandangan.

"Jangan pernah bicara begitu. Kau punya keluarga yang saling mengerti. Jika boleh, aku lebih menginginkan hidup sepertimu yang selalu berkumpul dan bercanda dengan semua anggota keluarga. Jangan merendah seolah hidupku lebih baik darimu. Kau sudah tahu aku kesepian, aku tak pernah bercanda dengan keluargaku yang lain selain kak Tio."

"Jadi kau mau ke rumahku?"

"Tentu saja. Aku juga sudah rindu pada adikmu."

"Awas kalau kau jatuh cinta pada Gilang."

"Hemmm sepertinya begitu. Kalau di ingat-ingat Gilang itu lebih tampan darimu ya?"

"Ohhh jadi begitu? Baiklah... aku marah sekarang."

"Eh... tak baik marah pada pacar loh! Nanti pacarnya di ambil orang."

"Ya janganlah. Aku kan sayang." Keduanya terus bercanda di tengah riuhnya anak-anak lain yang tengah ribut karena jam kosong.

"Cie cie... Arisa tertawa. Momen langka ini. Boleh aku minta fotomu?" Terdengar salah satu temannya begitu terpesona pada senyuman dan tawa Arisa yang jarang terlihat. Seketika itu pula, seluruh teman sekelasnya mengerumuni Arisa dan memastikan bahwa Arisa memang tertawa tanpa ada paksaan. Namun yang mereka dapatkan hanyalah senyum gugup Arisa, dikarenakan mereka berkumpul dan mendesak agar Arisa tersenyum sekarang.

"Aih Arisa. Kenapa tak mau senyum? Kan tadi kau tertawa dengan Rama." Protes Gina yang sedari tadi sudah memperhatikan setiap gerik Arisa dari jauh bersama teman-temannya yang lain.

"Lalu apa bedanya kita dengan Rama?"

"Hei jelas beda lah. Rama kan pacarnya." Melihat teman-temannya protes, Arisa hanya tertawa kecil dan seketika pandangan kembali tertuju pada Arisa. Sontak mereka ikut tertawa hingga salah satu guru menegur mereka untuk diam. Reski selaku ketua kelas, mengajak para pengikutnya untuk menghabiskan waktu pelajaran kosong ini di perpustakaan saja. Dan atas izin dari guru, mereka bergegas untuk segera ke perpustakaan dan beberapa dari mereka memutuskan untuk mengerjakan tugas yang belum sempat mereka kerjakan.

Momen inilah yang menjadi momen dimana Arisa bisa berinteraksi dengan baik bersama teman-temannya yang lain selain Rama, Naufal dan Reski. Momen ini juga mereka gunakan untuk lebih dekat dengan Arisa. Arisa dan Rama yang di kenal sebagai siswa terpintar di kelas mereka pun tak jarang mendapat pertanyaan mengenai materi dari beberapa buku pelajaran. Apa lagi matematika yang menjadi pelajaran favorit Arisa, sehingga ia dengan mudah menjelaskan apa yang ditanyakan teman-temannya.

"Arisa. Kau ini orangnya asyik, tapi kenapa kau selalu menyendiri?" Tanya salah satu temannya yang mewakili perasaan seluruh teman sekelasnya.

"Bagaimana ya? Semenjak Rais sakit, aku tak tahu cara berbicara dengan orang lain." Jawab Arisa mencoba mencari jawaban yang tak menyinggung siapapun.

"Rais? Apa maksudmu Raisa?" Arisa mengangguk menanggapi pertanyaan temannya.

"Tapi kau dan Raisa sepertinya berbeda." Timpal yang lainnya.

"Memang aku dan Rais berbeda. Dia lebih sempurna dariku." Rama sedikit menyipit ketika mendengar jawaban Arisa yang terasa menekan.

"Hei. Kenapa kalian mewawancarai pacarku?" Rama dengan angkuh menatap teman-temannya satu persatu.

"Huuu dasar. Arisa hanya milikmu." Ejek mereka yang tak menerima kenyataan Rama yang menjadi pacar Arisa.

"Hei Arisa! Kenapa kau mau berpacaran dengan Rama?"

"Karena aku tampan, baik hati, dan tidak sombong." Rama menjawab sebelum Arisa menghela nafas.

"Aku tidak bertanya padamu..." Rama yang menyadari kekesalan teman-temannya pun tertawa kikuk seraya menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Arisa sama-sama tertawa kecil melihat kekonyolan Rama dengan yang lain.

. Sampai akhirnya waktu pulang telah tiba, Arisa yang sudah memberitahu Tio bahwa ia ingin ke rumah Rama, segera mengambil mobil yang di bawa bawahan Yugito agar Arisa pergi dengan mobilnya. Tio melarang bawahan ayahnya untuk mengawasi Arisa yang jelas menolak di awasi oleh siapapun. Meski mereka menyamar pun, Arisa pasti tahu sebab ia sudah menghafal semua bawahan ayahnya.

Ketika mereka sampai, Arisa sudah tersenyum dengan sumringah sejak tadi. Ia terlihat tak sabar bertemu dengan ibu Rama. Sebelumnya Arisa baru bertemu dengan keluarga Rama hanya sekali, dan itu pun tanpa kehadiran Dimas yang tengah menjalani magang di rumah sakit.

Kedatangannya di sambut hangat oleh ibu Rama dan sudah menyiapkan beberapa hidangan untuk Arisa. Momen inilah yang Arisa inginkan di rumahnya. Seorang ibu yang menyambut kepulangannya, lalu menyuruhnya makan dengan hidangan seadanya, namun mereka makan bersama sampai mereka puas. Arisa benar-benar teeharu ketika ibunya Rama memperlakukan dirinya seperti putrinya sendiri.

-bersambung

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!