Bab 12

. Setiap hari selama satu pekan, Arisa menjenguk Rama selepas pulang sekolah. Hingga hari terakhir, Arisa dengan setia menemani Rama sampai rumah. Kali ini Arisa di temani oleh Juna, atau Juju yang merupakan pengawal yang mengawasi Arisa secara diam-diam. Juna tak sedikitpun memudarkan senyumnya saat menyaksikan Arisa yang begitu ceria di luar rumah. Tepatnya di hadapan keluarga Rama. Juna tahu bagaimana Arisa dengan keluarganya. Apa lagi dengan ibunya, Arisa selalu di anggap salah. Bahkan setelah Raisa di nyatakan mengidap penyakit kanker, Juna menyaksikan pertumbuhan Arisa yang hanya di temani oleh Bi Ina dan Tio saja.

Melihat kebersamaan Arisa dengan keluarga Rama, Juna bisa menghela nafas lega. Pasalnya, ia akan lebih mudah untuk melapor pada Yugito tentang keluarga Rama.

Arisa yang di kawal secara langsung, baru jam 5 sore pun ia harus segera pulang karena jadwal dari ayahnya. Meski malas, Arisa tak bisa melawan dan hanya bisa menurut. Dengan berat hati, Arisa berpamitan pada Rama dan ibunya bahwa dirinya akan pulang sekarang.

Sepanjang perjalanan, Juna kembali tersenyum menyaksikan Arisa yang terus tertawa kecil ketika memainkan ponselnya. Ia menebak bahwa Arisa tengah berbalas pesan dengan Rama. Namun saat mobil sudah memasuki pekarangan rumah, Arisa mendadak menjadi orang yang berbeda. Tatapannya menjadi dingin, dan wajahnya tanpa ekspresi. Keduanya keluar dan memasuki rumah dengan berbeda tujuan. Arisa yang langsung ke kamar, sedangkan Juna ke ruang kerja Yugito.

"Keluarga pacar non Aris tak ada yang perlu di khawatirkan tuan." Jelas Juna ketika melapor.

"Hemmm." Hanya begitu tanggapan Yugito mendengar laporan dari Juna.

"Kondisinya memang...."

"Jika Aris merasa nyaman, jangan membahas tentang masalah kondisi keluarganya."

"Baik tuan." Setelahnya, Juna kembali ke posisinya dan melanjutkan pekerjaannya.

. Hari demi hari, waktu bergulir terasa cepat, Tio kembali menggunakan mobilnya dan ia teringin mengantarkan Arisa ke sekolah. Dan dengan senang hati, Arisa ikut dengan Tio meski hari ini ia akan keluar selepas pulang sekolah bersama Rama. Ketika keduanya hendak memasuki mobil, perhatian mereka tertuju pada ayahnya dan Raisa yang sudah berdiri di depan pintu.

"Tio. Hari ini apa kau bisa mengantar Rais?" Sontak Tio langsung melirik Arisa yang sudah siap memasuki mobilnya.

"Tio dengan Aris." Jawabnya menunjuk Arisa yang sama-sama menatap ke arah Yugito.

"Rais belum bisa mengemudi seperti Aris, dan ayah ada keperluan pagi ini. Berhubung lokasi sekolah Rais satu arah dengan kantor, jadi ayah pikir kau bisa membawanya sekalian." Tio kembali melirik Arisa yang membalas lirikannya dengan tersenyum.

"Ya sudah Rais saja yang berangkat dengan kak Tio. Aris bawa mobil. Dan sekalian meminta izin ayah. Nanti setelah pulang sekolah, Aris mau ke perpustakaan kota dengan Rama. Pulangnya akan sore kalau jalan tidak macet."

"Kenapa harus ke perpustakaan kota?" Arisa yang semula sumringah pun mendadak sendu mendengar pertanyaan Yugito yang seperti tengah protes akan permintaannya.

"Karena di sana lebih lengkap ayah. Jadi Aris bisa mempelajarinya dengan leluasa." Jawabnya menjadi gugup dan menunduk tak berani menatap pada ayahnya.

"Oke Aris. Kakak izinkan. Sampaikan salam kakak pada Rama ya. Ajak dia main lagi, kakak merindukannya." Canda Tio membuat Arisa kembali bersemangat meski hanya sedikit. Arisa berlari memasuki rumah lalu mengambil kunci mobilnya dan segera berangkat karena hari sudah semakin siang.

. Sesuai rencana, selepas pulang sekolah, Arisa dan Rama bergegas ke perpustakaan kota untuk mencari buku yang di perlukan. Dan seperti biasa, Yugito menugaskan Juna untuk mengawasi Arisa dan memastikan putrinya baik-baik saja. Kali ini, Juna membawa kamera untuk melaporkan langsung gerak-gerik Arisa selama bersama Rama. Yugito termangu, pandangannya begitu dalam menatap canda tawa Arisa dari layar laptopnya. Tak terasa, air matanya jatuh begitu saja melihat senyum putrinya yang sejujurnya sangat ia rindukan. Ia kembali menyalahkan dirinya yang merasa gagal menjadi seorang ayah untuk Arisa. Di rumah, Arisa tak pernah tertawa atau tersenyum sekalipun. Mungkin hanya dengan Tio saja Arisa bisa bercanda ria tanpa ada sebuah kesedihan apapun.

Malamnya, Yugito menatap Arisa yang tengah berada di gazebo taman, dan Tio berada di gazebo lainnya. Terlihat Arisa tengah mengobrol lewat sambungan telepon yang di rasa itu adalah Rama. Yugito semakin lekat menatap Arisa yang lebih ceria akhir-akhir ini, namun wajahnya selalu datar jika berada di hadapannya.

"Oh iya Rama, apa kau lihat bulan malam ini?" Tanya Arisa yang menatap bulan dengan wajah yang berseri.

"Ya... sudah setengah lagi. Sekitar 2 minggu lagi purnama." Balas Rama pun ikut menatap bulan dengan mata yang semakin sayu.

"Emm Rama. Kenapa kau menyukai bulan purnama?" Tanya Arisa setelah ia diam beberapa saat.

"Kenapa ya? Karena..... emmmm.... aku rasa.... karena saat melihat purnama, aku merasa sedang melihat wajahmu."

"Aih? Permukaan bulan itu tidak halus loh pak."

"Ahaha maaf sayang. Aku tak bermaksud menyamakan wajahmu dengan permukaan bulan."

"Terus tadi apa?" Protes Arisa terdengar manja.

"Maksudku, keindahannya yang sama. Purnama itu bersinar dengan cahaya di seluruh permukaan bulan, dan kau bersinar di sisa hidupku yang sudah mulai pudar."

"Hemmm apa kau sedang merayuku?"

"Tidak juga. Hanya merayu bidadari." Arisa tak menanggapi lagi dengan kata-kata, ia terlalu salah tingkah mendengar candaan Rama yang membuatnya semakin berbunga. Rama yang sudah merasa tidak nyaman dengan kondisi tubuhnya pun memilih memutuskan panggilan telepon dengan Arisa. Meski begitu, Arisa sendiri tidak merasa keberatan jika Rama memutuskan panggilan lebih dulu.

Setelah usai bercanda lewat telepon, Arisa kembali menatap bulan dengan hati yang tenang. Namun ketenangan itu kembali hilang ketika ayahnya tiba-tiba duduk tepat di sampingnya. Arisa yang semula menikmati me time nya sendiri, kini menjadi canggung dan gugup karena kehadiran ayahnya.

"Kau sedang melihat bulan?" Tanya Yugito di tanggapi anggukan oleh Arisa. Yugito benar-benar tak bisa menyangka bahwa ekspresi Arisa bisa secepat itu berubah ketika dirinya datang dan berada di sisi putrinya itu.

"Aris. Apa keluarga Rama bisa membuatmu lebih nyaman?" Sontak Arisa menyernyit dan belum paham sepenuhnya maksud ayahnya. "Maksud ayah begini. Kata Juju, kau sangat bahagia setiap bersama keluarga Rama. Dan jelas itu sangat terbalik dengan saat kau berada di rumah. Apa itu artinya, rumah ini tidak membuatmu bahagia?" Tanya Yugito selanjutnya seraya menjelaskan maksud dari apa yang ada di benaknya.

"Mungkin." Hanya kata itu saja yang terlontar dari mulut Arisa. Rasanya untuk menjelaskan apa yang ia inginkan pada ayahnya, hanya akan sia-sia saja.

-bersambung

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!