. Selama 3 hari Arisa tak masuk sekolah, selama itu pula ia tak mendapati kabar dari pacarnya. Meski ragu ia mencoba menghubungi nomor Rama beberapa kali dan sayangnya tak mendapat jawaban apapun. Esoknya ketika Arisa hendak masuk sekolah, tubuhnya masih terasa lemah dan gemetaran sehingga Tio melarangnya untuk berangkat sekolah.
Yugito yang penasaran akan keadaan putrinya, ia mencoba melihat secara langsung ke kamar Arisa yang tengah terduduk di atas ranjang bersama Tio yang memijit kepala Arisa. Selama 3 hari Arisa di skors, Yugito tak sedikitpun menemui putrinya yang sama-sama merajuk tak ingin keluar kamar. Ia pikir Arisa sudah sembuh saat Bi Ina merawatnya selama 2 hari.
"Aris. Kau masih sakit?" Suara Yugito berhasil membuat Arisa tersentak karena terkejut.
"Tidak ayah. Aris mau berangkat. Kak Tio saja yang berlebihan. Aris baik-baik saja." Jawab Arisa mendadak segar dan beranjak dari tempat tidurnya mengambil tas di atas meja belajarnya. Yugito menatap iba pada Arisa yang terlihat sehat namun tangannya terus berada di perutnya dan alisnya berkerut seakan tengah menahan sakit. Wajahnya pucat dan tubuhnya terlihat sangat lemas. Arisa perlahan memakai sepatu lalu berpamitan pada kakak dan ayahnya dengan mencium tangan keduanya. Yugito terhenyak saat merasakan hawa dari tubuh Arisa yang terasa sangat panas. Ia berniat untuk melarang Arisa agar tak berangkat ke sekolah, namun Rahma berteriak memanggilnya dari kamar Raisa.
"Ada apa? Kenapa teriak-teriak?" Tanya Yugito yang sudah menyusul ke kamar Raisa.
"Lihat Rais. Dia sakit tapi tetap mau sekolah." Jawab Rahma dengan kesal saat Raisa sudah menggendong tasnya dan bersiap untuk berangkat.
"Aku tidak sakit ayah. Ini hanya flu biasa. Tubuhku juga tidak lemas." Raisa menimpali tak kalah kesal.
"Ma... yang sakit itu Aris." Dari ambang pintu kamar, Tio berkata dengan lebih keras, ia terdengar seperti sedang memarahi ibunya.
"Tio. Bukannya 3 hari kemarin Aris tidak sekolah? Bi Ina sudah merawatnya selama 2 hari kan? Sekarang mungkin dia pura-pura karena tak mau ke sekolah. Mama tahu dia buat masalah di sekolah lalu di beri surat peringatan dan di skors 3 hari." Tio mendelik dengan menghela nafas kasar mendengar jawaban sang ibu yang jelas tak mempercayai ucapannya.
Arisa keluar dengan wajah yang sangat datar melewati kamar Raisa, lalu ia menuruni tangga dengan pikiran yang sudah sangat kosong. Rasa sakit di perutnya sudah tak lagi ia rasakan, perkataan ibunya lebih menyakitkan dari lambungnya yang kambuh pagi ini.
"Aris. Kau jangan sekolah. Atau kakak akan potong uang jajan kamu!" Arisa terhenti di tengah tangga mendengar teriakan Tio dari atas. Ia berbalik dan merogoh saku mengeluarkan uang jajan kemudian memberikannya pada Tio dengan tersenyum.
"Ini aku berikan sisanya pada kakak." Tio menyernyit, ia tak paham maksud adiknya tentang kata 'sisa'.
"Ayah sudah memotong uang jajanku seminggu ke depan. Dan ini sisanya. Kakak juga akan memotongnya selama seminggu kan?" Tio benar-benar mematung, ia tak habis pikir pada ayahnya yang bisa begitu tega pada Arisa. Tanpa bicara dan tanpa tak ingin mendengar celotehan orang rumah, Arisa bergegas pergi dari hadapan Tio. Ia merasakan tubuhnya sudah gemetar hebat sehingga langkahnya terasa berat. Tepat ketika ia melangkah keluar dari pintu, ia merasakan ada cairan keluar dari hidungnya. Arisa terhenti lalu meraih apa yang keluar tanpa isyarat itu.
"Non... ya ampun. Ini mamang kasih tissue. Non sakit lagi?" Tanya mang Ujang setelah memberikan tissue pada Arisa. Arisa hanya menggeleng tanpa ingin menjawab pertanyaan mang Ujang.
"Sebaiknya jangan sekolah non. Mamang tak tega lihat non begini. Di rumah saja sudah mimisan, bagaimana kalau nanti di sekolah, non bisa pingsan." Lanjut mang Ujang dengan iba memperhatikan wajah Arisa yang sudah pucat pasi.
"Aris baik-baik saja mang. Ayo antarkan Aris sekarang!" Belum sempat Arisa membuka pintu mobil, Tio meraih tangan Arisa lalu membawanya ke mobil miliknya.
"Berangkat dengan kakak." Teriaknya penuh penegasan.
Sesampainya di sekolah, ia terheran karena teman-temannya sudah menyambut kedatangannya di kelas. Dania dan teman-temannya yang lain berlari lalu memeluk Arisa dengan gembira.
"Kau sudah sembuh? Syukurlah....."
"Eh? Apa kalian tidak membenciku?" Arisa tak bisa lagi menyembunyikan rasa penasarannya akan sikap teman-teman yang seharusnya marah dan bahkan membencinya karena kejadian tempo hari.
"Siapa yang membencimu. Kau tahu Arisa? Kemarin kita demo di depan ruang guru karena Reski melihat rekaman CCTV bahwa kau dan Rama tidak melakukan hal yang mengerikan itu. Kau terjatuh karena tak sengaja kan? Dan beruntung Rama ada di sana jadi kau tidak terbentur ke lantai." Dania menjelaskan dengan perasaan yang antusias.
"Jadi? Hukuman kemarin itu....."
"Itulah kenapa kita protes. Kau dan Rama itu anak paling berprestasi di kelas kita. Kita tak rela jika kalian tertinggal pelajaran. Kalau bolos, bolos saja sekalian." Naufal ikut menimpali.
"Oh Rama mana?" Tanya Arisa setelah menyadari akan ketidak hadiran Rama di kelas.
"Dia sakit. Aku bertemu dengannya di rumah sakit kemarin." Jawab Reski kembali mengingat pertemuannya dengan Rama. "Aku dengar kau juga sakit. Kau sakit apa Aris?" Lanjut Reski beralih bertanya keadaan Arisa.
"Sakit hati Res."
"Hah? Kau dan Rama putus?"
"Eh tidak. Aku hanya bercanda." Elak Arisa yang sudah panik atas tuduhan Reski.
"Aih kau bisa bercanda juga ternyata?" Ejek Naila yang duduk di depan meja Arisa.
"Ya kalau di perhatikan, Arisa ini memang cantik. Tak heran kalau Gibran menyukainya." Ucap seseorang dari bangku paling ujung.
"Iya memang. Aku masih tak percaya kalau Rama itu pacar Arisa. Status sosial mereka kan beda jauh. Mana mungkin Rama akan mengimbangi kebutuhan Arisa."
"Tapi menurutku Arisa itu tidak seperti anak pengusaha yang lain. Dia terlihat sederhana dan tidak menonjolkan kekuasaan ayahnya."
Di tengah riuhnya gosip anak-anak kelas, seorang petugas keamanan mengetuk pintu kelas dan memanggil Arisa. Arisa maju dan langsung menghadap pada petugas tersebut kemudian ikut ke ruang guru. Pikirannya mendadak dipenuhi berbagai macam pertanyaan ketika ia melangkah melewati setiap koridor kelas.
"Ayah?" Pekik Arisa mulai ketakutan mendapati wajah serius ayahnya saat menatap pada dirinya.
"Duduk." Titah Yugito dengan tegas yang langsung di turuti oleh Arisa.
"Katakan yang sebenarnya Aris!" Arisa terlihat tersentak lalu mulai membuka suara menjelaskan hal yang sebenarnya terjadi.
"Sudah jelas. Putriku tidak bersalah. Aku tegaskan! Sebelum kalian menghukum, pastikan dulu faktanya benar atau tidak." Tegas Yugito memberi peringatan setelah Arisa selesai menjelaskan.
-bersambung
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 70 Episodes
Comments