Bab 5

. Rama beranjak diam-diam dari kamar inapnya. Belum sempat menutup pintu, terdengar suara yang begitu familiar. Rama perlahan berbalik dan menatap kedua manik hitam yang mengintimidasinya.

"Mau kemana kau?" Tegur Dimas dengan memangku tangan.

"Hehe. Mau sekolah." Jawabnya memasang wajah konyol dan berharap Dimas akan mengizinkannya.

"Kau pikir aku tak tahu? Jangan kira karena aku masih magang, aku tak tahu penyakitmu." Rama terdiam, ia menunduk dengan lesu meraih dadanya yang didalamnya terdapat hati yang sudah rusak.

"Tolong jangan beritahu ibu." Lirih Rama menjatuhkan bulir bening dari pelupuk matanya.

"Apa kau juga mengira aku bodoh? Bagaimana mungkin aku menyembunyikan ini dari ibu. Apa kau tidak berpikir nanti ibu akan sesedih apa saat dia tahu kebenarannya dan saat itu juga kau sudah semakin parah." Dimas tak kalah menunduk dengan air mata berderai lebih deras dari adiknya.

"Aku tak ingin membebani ibu dengan biaya pengobatanku kak. Untuk biaya sekolah Gilang saja ibu sudah kesulitan. Bersyukur kita masih bisa sekolah karena beasiswa, dan kakak bisa tamat karena kecerdasan kakak."

"Tapi aku tak mau kehilangan 1 orang lagi di keluarga kita Li..."

"Ali tak akan pergi jauh kak. Ali akan bersama kalian, di hati kalian. Jadi, izinkan aku untuk pergi sekolah ya! Aku tak akan bisa sekolah setelah mati."

Setelah lelah membujuk, akhirnya Dimas luluh dan mengizinkan Rama untuk bersekolah.

. Jam sudah memasuki pelajaran kedua dan Rama baru muncul di permukaan. Arisa menghela nafas lega melihat keadaan Rama yang terlihat baik-baik saja.

"Dari mana Ali?" Tanya Pak Harun yang merupakan guru tergalak sejagat raya.

"Hehe dari rumah sakit pak."

"Ngapain di rumah sakit?"

"Liburan pak. Lumayan kemarin di skors terus di pakai liburan di rumah sakit."

"Ohhh kenapa baru masuk? Harusnya tadi pas jam pertama kamu sudah ikut belajar."

"Dokter sama susternya bandel Pak. Ali ga di izinin pulang." Pak Harun yang sudah tahu kepribadian Rama pun memilih tak menanggapi. Rama sengaja memutar jalan agar ia bisa menepuk dahi Arisa yang sedari tadi menatapnya tanpa ingin berpaling sedikitpun.

. Saat istirahat, Arisa yang sudah kesal pada Rama pun terus mendiamkan Rama.

"Kesayangan aku ini kenapa marah?" Bujuk Rama yang duduk di kursi Dania untuk menemani Arisa di sisa jam istirahat setelah makan siang.

"Kemarin kemana? Aku hubungi berkali-kali tapi tak ada jawaban."

"Ohhhh jadi kau yang menelepon? Maaf ya! Ponselku di sita kakak."

"Kau sakit apa?"

"Aku sakit....... apa ya kata dokter kemarin. Hemmm yang aku tahu hanya demam tinggi saja."

"Aku juga demam tinggi tapi tidak sampai di rawat Rama." Arisa mulai sedikit kesal.

"Benarkah? Kau sakit? Ah iya kau masih hangat. Kenapa tadi tak minum obat?" Menyembunyikan rasa sakitnya, Rama meraih dahi Arisa lalu kedua pipinya untuk sekedar meyakinkan bahwa dirinya baik-baik saja. Rama sengaja bersikap ceria hanya untuk menutupi sakitnya yang parah. Bahkan ia pun membeli sebuah lip balm agar bibirnya tidak terlihat pucat. Meski demikian, semua teman sekelasnya tak ada yang sadar bahwa bibirnya sedikit berwarna cerah dari sebelumnya.

"Palingan mereka mengira aku dan Aris sudah berciuman." Batinnya tersenyum tipis sehingga Arisa menatapnya dengan penuh curiga.

"Kenapa senyum? Lihat siapa?" Sontak Rama langsung menarik senyumnya dan mencubit hidung Arisa dengan gemas.

"Dari tadi yang aku lihat itu hanya kau saja bodoh."

"Bohong."

"Aku serius."

Ditengah keasyikan mereka bercanda, bel masuk pun berbunyi dan membuat Rama harus kembali ke kursinya yang berada di paling belakang.

. Selepas pulang, Arisa bergegas ke kamar untuk berganti pakaian. Ia mendengar suara mobil Tio yang ternyata sudah pulang meski jam masih siang. Sebelum menyambut langsung ke bawah, Arisa melihat lebih dulu dari balkon untuk memastikan bahwa yang datang itu benar-benar kakaknya atau bukan. Setelah pasti itu Tio, Arisa dengan gembira keluar dari kamar dan menuruni tangga dengan wajah yang berseri.

"Kakak." Panggil Arisa dengan manja dari teras. Kemudian ia merangkul lengan Tio dan bergelayut seperti anak kecil.

"Katakan saja kau mau apa." Terlihat tawa konyol Arisa yang pikirannya mudah terbaca oleh Tio. Tio sudah tahu apa maksud perlakuan Arisa terhadapnya jika sikapnya sudah manja dan tatapan yang penuh arti.

"Nanti malam antar ke bazar ya! Aris mau beli sesuatu."

"Aih kenapa harus dengan kakak? Kemana pacarmu?"

"Dia sakit. Harus banyak istirahat."

"Nah kan benar dia pacarmu hahahah" Arisa menutup mulutnya seketika saat menyadari bahwa ucapannya kebablasan.

"Ihh kakak." Rengeknya memukul lengan Tio dengan keras sampai ke dalam rumah.

Raisa mencengkram gagang pintu mendengar candaan kakak dan adiknya yang tak pernah ia rasakan. Raisa yang hendak ke lantai bawah pun mengurungkan niat dan memilih kembali masuk ke dalam kamar.

Malamnya, Tio memenuhi permintaan Arisa untuk datang ke sebuah bazar yang tak jauh dari sekolah. Beberapa teman-temannya menyapa Arisa dan Tio tertegun mendapati sikap Arisa yang lebih ramah dari yang ia kira. Tio semakin menyayangi Rama jika perubahan Arisa sampai ke tahap ini. Di benaknya teringat ucapan Tio dulu pada Rama jauh sebelum Arisa dan Rama menjadi pacar.

*kilas balik

[Di depan sekolah, Tio menunduk meminta maaf atas permintaan Arisa dan atas kesalahpahaman dirinya pada Rama.

"Dari kemarin Aris merengek memintaku untuk melakukan ini, dia bersikeras membelamu. Hemmm kau tahu Rama? Aris bukan seorang yang suka memuji atau membela orang lain, tapi dia melakukan itu padamu. Kau menyukai adikku?"

"Eh?" Rama tak habis pikir, ia memiringkan kepalanya dengan keheranan dan tak mengerti maksud Tio apa.

"Apa tidak menyukainya? Ehhh padahal adikku cantik loh! Dia juga pintar. Kau tak tertarik padanya? Apa dia galak? Atau jahat? Atau...."

"Maaf tuan. Saya tidak bermaksud menyela ucapan anda, hanya saja saya lebih sadar pada keadaan keluarga saya yang tak sebanding dengan keluarga anda. Jika pun saya menyukai adik anda, belum tentu Aris akan menyukai saya dan keluarga tuan pun belum tentu akan menerima saya." Lagi-lagi Tio tertawa terbahak-bahak menanggapi penuturan Rama yang begitu merendah.

"Kalau begitu, dekati dia perlahan. Jika kau bisa mengubahnya, maka aku pastikan seluruh keluargaku akan menerima kau sebagai pasangan Aris." Rama terdiam seketika, apa ia mendapatkan kesempatan untuk menjadi menantu keluarga Putra? Rama segera menggelengkan kepalanya kasar dan tak ingin berharap lebih pada harapan yang di berikan Tio padanya.]

Ketika mengingat kembali, Tio tersenyum seraya berharap Rama akan menjadi pendamping Arisa kelak.

-bersambung

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!