. Setelah kue matang, Arisa terlihat bahagia ketika melahap makanan buatan calon mertuanya itu. Diah yang semula ragu untuk menerima Arisa sebagai pacar putranya, kini ia merasa kasihan setelah melihat sikapnya yang begitu menikmati perhatian sederhana yang ia berikan. Seperti halnya dengan saat ini, Arisa yang hendak melahap kue di tangannya, dengan cepat Diah merapikan rambut Arisa yang terurai dan hampir menghalanginya untuk makan. Arisa termangu lalu menatap Diah dengan tatapan sendu. Arisa malah menyimpan kembali kue tersebut dan tak jadi memakannya.
"Oh! Ibu mengganggu makan mu?" Tanya Diah seraya kembali melepaskan rambut Arisa.
"Tidak Bu. Justru Aris senang jika ibu memperhatikan Aris. Terima kasih ya Bu." Balasnya dengan tersenyum haru, namun bagi Diah ini bukanlah hal yang istimewa. Ini hanya tindakan sederhana tanpa kesan apapun, tapi Arisa terasa berlebihan menyikapinya.
"Emm apa ada jepitan? Sini ibu bantu rapikan rambut kamu." Ucap Diah kembali meraih rambut Arisa dan merapikan agar tak lagi menghalangi wajahnya. Gilang memberikan sebuah ikat rambut berukuran kecil pada ibunya, sedangkan Rama hanya menyimak seraya menyantap camilan yang tersaji.
"Kebersamaan ini yang ingin aku lihat beberapa tahun kemudian. Dimana saat itu aku sudah menjadi bagian dalam hidup Aris. Ya Tuhan! Jika aku meminta keajaiban, tolong sembuhkan aku. Aku masih ingin melihat senyumnya." Batin Rama semakin lekat menatap Arisa dari tempatnya.
"Ehem.... tatap teruuussss" sindir Gilang membuyarkan lamunan Rama seketika.
"Apa Lang? Sirik? Cari pacar sana!" Balas Rama.
"Bu... tuh Bang Rama..." Gilang mengadu dengan mendadak bersikap manja.
"Rama..." tegur Diah hanya memanggil nama saja.
"Iya bu!" Rama menjawab seraya mendelik dari Gilang yang mengadu pada ibunya.
"Tuhan. Keluarga seperti inilah yang aku inginkan. Minimal dengan ayah pun tak apa. Asal Aris bisa merasakan kebersamaan meski hanya sedikit." Batin Arisa yang menyimak candaan Gilang dan Rama seraya terus tersenyum. Ia berharap bisa bercanda seperti ini dengan keluarganya, dan ia tak lagi merasa kesepian.
. Malamnya, Arisa mengetuk pintu kamar Tio terlebih dahulu sebelum masuk meski pintu sudah terbuka dengan lebar. Arisa menghampiri Tio yang tengah sibuk dengan laptopnya karena terlalu banyak pekerjaan.
"Kakak sibuk ya?" Tanya Arisa seraya duduk di ranjang kakaknya lalu meraih dan memeluk bantal dengan manja.
"Kenapa memang?" Tio balik bertanya merasa lebih penasaran dengan kedatangan Arisa ke kamarnya.
"Nanti kalau ayah tidak jadi ambil raport ku, kakak harus bersedia ya! Kalau bukan kakak, siapa lagi?" Mendengar permintaan adiknya ini, Tio menghentikan aktivitasnya saat itu juga. Tio memutar kursi lalu menghadap Arisa dan menatap adiknya dengan lekat. Ia melihat sebuah pengharapan yang di lemparkan padanya, ia sendiri merasakan bagaimana sakitnya jika di hari kelulusan tak ada ornag tua yang datang.
"Akan kakak usahakan ya! Kakak tidak janji."
"Aris sudah tahu jawabannya kak. Tak apa! Mang Ujang saja yang ambil." Keluh Arisa kemudian beranjak dan berlalu dari hadapan Tio.
"Aris!" Panggil Tio menghentikan langkah Arisa seketika, namun ia tak berniat untuk berbalik dan bertatap muka dengan kakaknya.
"Tanggal berapa acara pembagian raport dan perpisahaannya?" Sontak Arisa tersenyum dan kali ini ia berbalik lalu berlari dan memeluk Tio dengan erat.
"Masih 2 bulan lagi kak." Jawabnya mendongak dengan mata yang berbinar.
"Aih kakak kira sudah dekat."
"Hehe... kalau tidak sekarang, Aris takut kakak sibuk."
"Kalau untukmu, kakak akan usahakan apapun itu."
"Terima kasih kakak jelek."
"Tapi adiknya lebih jelek." Terdengar suara tawa dari keduanya setelah saling melempar ejekan bernada candaan tersebut. Raisa yang melewati kamar Tio pun hanya menunduk dengan sendu, tatapannya begitu sayu, dan hatinya begitu hampa. Ia benar-benar menginginkan kebersamaannya dengan Tio seperti Arisa.
"Tio. Aris. Sudah waktunya makan malam." Tawa Arisa seketika terhenti mendwngar panggilan ayahnya, ia segera berlalu dari kamar Tio dan berniat untuk kembali ke kamarnya.
"Kalau tidak makan malam, kakak tak akan datang. Dan kakak akan melarang Mang Ujang juga." Ucap Tio menghentikan langkah Arisa. Ini lebih menakutkan dari pada uji nyali di tempat yang kosong.
Melihat Arisa yang terdiam di ambang pintu, Tio segera menyusul lalu merangkul bahu Arisa dan mengajaknya ke ruang makan. Terlihat Rahma keheranan, tak biasanya Arisa ikut makan malam sehingga ia penasaran dengan trik yang di mainkan oleh Tio untuk membujuk Arisa.
Saat acara makan berlangsung, Arisa terkejut saat rambutnya terurai ke depan dan hampir menghalangi makannya. Ia mencoba membenahkan rambutnya dengan hanya di gulung-gulung saja tanpa menggunakan karet ataupun jepitan.
"Harusnya di ikat dulu Aris. Kalau sudah begini, kan kamu yang kerepotan sendiri." Tegur Rahma membuat Arisa terdiam seketika. Ia mendongak membalas tatapan ibunya dengan dalam, lalu berpaling kembali dengan perasaan kesal yang mulai menyesakkan dadanya.
"Maaf." Lirih Arisa langsung membandingkan sikap Rahma dan Diah yang jauh berbeda. Arisa beranjak kemudian berlalu tanpa menghabiskan makanannya.
"Habiskan makananmu Aris!" Yugito menegur dengan menghela nafas gusar melihat Arisa yang tiba-tiba pergi hanya karena di tegur oleh ibunya.
"Perut Aris sakit ayah." Jawabnya tanpa menoleh kembali ke belakang. Tio ikut menyelesaikan makannya dan langsung menyusul Arisa ke ruang tengah. Di tariknya tangan Arisa dengan tiba-tiba sehingga adik kecilnya itu berbalik dan terhuyung karena hilang keseimbangan.
'Bugh', 'prang' terdengar suara gaduh dari ruang keluarga membuat Yugito segera menyusul kedua anaknya. Alangkah terkejutnya ia saat melihat tangan Arisa berlumuran darah di atas pecahan guci yang tak sengaja ikut terjatuh. Di sampingnya Tio baru beranjak dari posisinya yang tak jauh dari Arisa.
"Aris!" Pekik seluruh anggota keluarga yang terkejut mendapati situasi yang kacau ini.
"Akhhh..." rintih Arisa yang tak ingin menggerakkan tubuhnya sedikitpun. Rasa sakit di tangannya mampu membekukan seluruh tubuhnya seketika. Rasa perih itu menjalar ke setiap syaraf tangan dan akhirnya hanya air mata yang mewakili rasa sakit itu. Arisa lalu menunduk dengan terisak keras seakan tengah meluapkan semua kesedihan yang sudah terpendam di hatinya. Tangisnya semakin menjadi saat Tio dan Yugito membanyunya untuk bangun. Mereka tak berpikir bahwa Arisa menangis karena sikap ibunya yang jauh berbeda dengan ibunya Rama. Mereka hanya mengira Arisa menangis karena tangannya saja yang berdarah karena goresan guci yang cukup besar.
"syukurlah tidak di dekat nadi. Aris maafkan kakak. Kakak tak berniat mencelakaimu." Tio terus memohon seraya membawa Arisa menuju sofa lalu ia mengambil kotak peralatan medis yang ada di lemari. Tio ikut menangis dan menyesal akan ti dakan yang ia lakukan.
-bersambung
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 70 Episodes
Comments