Bab 7

. Tio bersikeras agar Gibran dijatuhi hukuman meski ayahnya sudah memberi kompensasi pada guru untuk menutup kasusnya. Ia masih geram pada Wijaya karena ketika kedatangan Arisa, Wijaya memakinya dengan menyebut Arisa adalah biang masalah kasus ini.

Arisa melirik Gibran yang tersenyum puas menatap ke arahnya. Tanpa di duga, Arisa berjalan menghampiri Gibran membuat seisi ruangan yang semula bising menjadi hening. Lalu 'plak' semua mata membulat menyaksikan Arisa menampar keras pipi Gibran di depan ayahnya sendiri. Reski hanya tersenyum puas melihat wajah Wijaya begitu kesal melihat putranya di tampar orang lain.

"Kau..." geram Wijaya hendak meraih Arisa, namun tangannya mendadak kaku saat Arisa menoleh padanya dengan tatapan datar nan dingin seperti orang yang sudah setengah mati.

"Tuan menuduh saya sebagai biang masalahnya kan? Maka saya buat kenyataan tuduhan anda. Anda ingin menampar saya? Silahkan! Saya sarankan di sebelah kanan." Tutur Arisa memalingkan wajahnya seakan memberikan pada Wijaya dan siap untuk di tampar kapan saja.

"Bagaimana kalau sebelah kiri? Aku lebih suka melukai hal yang kau lindungi." Mendengar penawaran Wijaya, Arisa menghadapkan seluruh tubuhnya pada Wijaya dengan begitu santai. Kemudian ia menyingkapkan rambutnya sehingga memperlihatkan luka memar yang sudah membiru bersemu merah menandakan ia telah terkena pukulan keras.

"Sudah di pukul oleh putra anda Tuan." Sontak Wijaya melotot menatap Gibran yang tak memberitahunya akan hal ini. Ia sudah memaki Tio habis-habisan dan yang sepenuhnya salah ternyata putranya sendiri. Ia pikir penjelasan Gibran mengenai pukul memukul itu hanya dengan siswa laki-laki yang memperebutkan perempuan saja, tapi nyatanya Gibran memukul siswa perempuan juga. Tio yang sudah memuncak emosinya pun berjalan menghampiri Gibran lalu meraih kerah kemejanya dengan kasar.

"Sebelumnya sudah saya jelaskan. Tapi tidak ada yang percaya." Ucap Reski dengan menghela nafas malas seraya memangku tangan bersandar di pinggiran tembok.

"Kau apakan adikku?" Geram Tio yang sudah terlanjur emosi. Ia hampir memukul wajah Gibran dengan tenaga penuh, namun hatinya luluh saat mendengar suara Arisa yang melarangnya dengan lirih. Arisa meraih dan memeluk kakaknya dengan menenangkan agar Tio tak bertindak terlalu jauh.

"Aris tak apa kak." Tio terdiam seketika, bisa-bisanya ia mempunyai adik yang bodoh seperti Arisa.

Setelah perdebatan yang panjang dan menguras emosi, akhirnya kasus Gibran selesai meski Tio tak menerima keputusan guru yang hanya menjatuhkan hukuman ringan. Setelah semua dirasa selesai, Tio keluar setelah Wijaya lebih dulu keluar sejak tadi. Ia enggan bersama dengan orang yang memaki keluarganya tanpa tahu fakta yang sebenarnya.

Tio bergegas pergi dari sekolah Arisa kembali menuju kantor. Begitupun dengan Dimas yang ikut berlalu setelah urusannya selesai. Reski, Arisa dan Rama segera kembali ke kelas karena pelajaran sudah berjalan jauh meninggalkan mereka.

. Setelah sampai ke kantor, Tio memasuki ruangan kerjanya sebagai staf, di sana ia sudah di tunggu oleh Yugito dan asistennya. Melihat ekspresi ayahnya, Tio tahu apa yang akan terjadi. Benar saja, Tio di suruh menemui Yugito di ruangan presdir dan segera menginterogasinya.

"Kau ribut dengan Wijaya? Apa aku pernah mengajarimu untuk melawan orang yang lebih tua?"

"Anak mana yang akan terima jika ayahnya di maki oleh orang lain?"

"Apa harus dengan cara yang tidak sopan?"

"Aku sudah sopan ayah. Tapi dia terus memojokkan ku."

"Tio. Bagaimana ayah akan mewariskan perusahaan ini padamu jika kesabaranmu saja setipis kertas?"

"Lantas, bagaimana aku akan sabar dan diam saja saat tahu adik perempuanku menjadi korban kekerasan anaknya?" Mendengar apa yang Tio lontarkan, Yugito terdiam seketika kemudian menatap Tio dengan penuh tanya.

"Maaf ayah. Tio sibuk, banyak pekerjaan. Ayah lihat sendiri saja nanti di rumah setelah Aris pulang." Ucap Tio kemudian berlalu kembali ke ruangannya yang sudah di sajikan pekerjaan yang menumpuk.

. Sepulang sekolah, Arisa berjalan menyusuri koridor bersama teman-teman sekelasnya. Namun, pandangannya tertuju pada sosok yang tengah bersandar di tiang kelas. Siswa itu tersenyum ketika Arisa semakin dekat ke arahnya.

"Kau belum pulang?"

"Aku menunggumu." Jawab Rama beranjak dan mulai berjalan beriringan dengan Arisa. Di parkiran khusus, terlihat Tio sudah menunggu Arisa di samping mobilnya. Kali ini Rama memberanikan diri menghadap Tio dengan percaya diri. Pada akhirnya, mereka akan berpisah di tempat ini, dan besoknya pun akan bertemu di sini.

. Malamnya, Yugito memanggil Arisa untuk menemuinya, namun kali ini bukan di ruang kerja, melainkan di gazebo taman. Meski seharusnya Arisa dilarang terkena dingin, ia masih menemui ayahnya dengan memakai jaket tebal. Yugito penasaran dengan yang di katakan Tio sebelum Arisa menyusul ke sana. Perlahan ia meraih rambut putrinya dengan hati-hati dan mencari alasan agar Arisa tidak curiga. Namun Arisa bersikap seolah ia sengaja menyembunyikan pelipis kirinya dengan berbagai alasan.

"A-Aris memotong poninya sedikit." Ucapnya gugup.

"Pantas saja sedikit berbeda. Biasanya kau selalu pakai jepitan rambut. Jadi ayah belikan ini untukmu." Yugito memberikan sebuah jepitan rambut pada Arisa dan ia berniat untuk memakaikannya agar Arisa merasa bahwa ia tak mengabaikan Arisa.

"Di sebelah kanan saja ayah. A-Aris suka pakai jepitan di kanan." Ucapnya lagi mencari alasan. Karena terlanjur penasaran separah apa luka yang di maksud Tio, Yugito sengaja menyentuh letak memar sehingga Arisa meringis kesakitan dan setelahnya Arisa bersikap seolah tidak terjadi apa-apa, namun ayahnya melihat mata Arisa mulai berkaca-kaca menahan linu di pelipisnya.

"Jangan menyembunyikan apapun dari ayah." Tegas Yugito akhirnya membuat Arisa menurut dan membiarkan ayahnya melihat pelipis kirinya itu. Yugito merasa dadanya mendadak sesak mendapati memar yang begitu jelas, ia tak habis pikir sekeras apa Gibran memukul putrinya. Arisa mendadak sendu dengan embun yang terjatuh dari pelupuk matanya ketika Yugito memeluknya dengan penuh kehangatan.

"Kenapa tidak beritahu ayah?" Meski Yugito bertanya, namun Arisa memilih diam tak ingin menjawab. "Sudah ke dokter?" Kali ini Arisa menggeleng menanggapi. Ia memilih diam seribu bahasa merasa bicara pun percuma. "Ke dokter saja ya?"

"Tidak ayah. Aris tidak apa-apa."

"Tapi memarmu parah Aris. Sekalian visum! Ayah ingin memberi hukuman pada orang yang melukaimu."

"Jangan ayah. Tak apa. Aris tak ingin menambah masalah untuk ayah."

"Masalah apa? Justru kau begini menjadi masalah bagi ayah. Ayah tak bisa diam saja jika membiarkanmu dilukai orang."

"Maaf ayah. Aris ingin tidur. Terima kasih jepitan rambutnya." Tutur Arisa kemudian bergegas pergi dari hadapan Yugito.

Yugito hanya bisa menghela nafas dalam seraya menatap nanar kepergian putrinya. "Apa sesalku masih berlaku?"

-bersambung

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!