. Ketika pelajaran tengah berlangsung, Arisa memegangi perutnya. Ia mencari-cari obat di dalam tasnya namun tak satupun ia temukan. Teman sebangkunya meraih pundaknya dan ia menyipit tak mendengar apa yang di katakan oleh Dania. Arisa terlelap di atas meja sehingga guru yang tengah mengajar pun menghampiri dan menyuruh beberapa siswa untuk membawa Arisa. Rama segera memburu Arisa dan ia sendiri yang membawa Arisa menuju UKS. Naufal dan Reski saling melempar pertanyaan ada apa dengan Arisa. Sampai di UKS, petugas kesehatan langsung menangani Arisa dan mencari penyebab Arisa pingsan.
"Boleh kau tunggu disini? Ibu ingin ke ruang guru sebentar. Jika dia sudah sadar, tolong berikan obat ini ya." Meski ragu dan penasaran mengapa petugas UKS terburu-buru ke ruang guru, namun Rama menurut dan menunggu Arisa sadar. Ia melirik nama obat di tangannya dan sempat mengingat jenis obat ini untuk sakit apa.
"Kau punya penyakit lambung?" Lirih Rama menatap dalam pada wajah pucat Arisa yang masih terlelap. Tak lama, terlihat Arisa membuka mata lalu meraih perutnya yang masih terasa perih.
"Aris. Jangan bergerak. Ini minum obatnya." Rama memberikan sebutir obat beserta air minum yang tersedia di ruangan tersebut. Setelah meminum obat, Arisa hendak turun dari tempat tidurnya berniat ingin ke toilet. Namun tubuhnya tidak seimbang sehingga ia terjatuh menimpa Rama di bawahnya.
"Kalian sedang apa?" Sontak Arisa dan Rama terhenyak mendengar teriakan petugas UKS yang memergoki mereka yang dianggap tengah melakukan hal tidak senonoh.
"Apa ini hanya alasan kamu agar bisa berpacaran di ruang UKS?"
"Tidak bu. Saya tidak--"
"Ahh sudahlah. Kamu mau mengelak apapun saya tidak akan percaya. Kalian akan saja jatuhi hukuman sesuai sanksi yang berlaku. Kalian di skors selama 3 hari dan akan saya beri surat peringatan untuk orang tua kalian." Mendengar apa yang di ucapkan petugas, Arisa mendadak lemas seketika. Ia tak bisa membayangkan kemarahan ayahnya jika tahu ia berbuat hal yang mungkin membuatnya akan di hukum berat oleh ayahnya. Rama yang santai hanya bisa menenangkan Arisa agar tidak panik. Namun Arisa tak terima, ia menepis tangan Rama kemudian berlari keluar ruang UKS dan Rama pun bergegas menyusulnya.
"Kau tak mengerti Rama. Kau tak tahu kemarahan ayah bagaimana."
"Iya. Tapi kita hadapi sama-sama."
"Hadapi apanya? Justru jika kau bicara di depan ayah, ayah malah akan menyalahkanku." Arisa kembali berlalu dari hadapan Rama yang masih mematung di tempatnya. Ia sendiri tak tahu harus berbuat apa.
. Sepulang sekolah, Arisa ragu-ragu memasuki rumah karena di hari yang masih siang, mobil ayahnya sudah terparkir di depan rumahnya. Setelah mang Ujang meminta Arisa menemui Yugito, Arisa bergegas memasuki ruang kerja ayahnya dengan perasaan cemas seraya membawa surat yang di berikan guru untuk orang tuanya.
"Sebenarnya apa maumu Aris?" Tanya Yugito tepat setelah Arisa duduk di kursi yang berada di depan ayahnya.
"Ayah... dengarkan penjelasan Aris dulu."
"Dengarkan apa lagi?" Teriak Yugito penuh amarah melempar cangkir berisi kopi panas ke tembok di samping meja kerja. Arisa menciut dan meringis pelan saat sikutnya terasa perih terkena pecahan kaca yang mungkin terpental saat di lempar.
"Aris tidak melakukan apa-apa ayah." Jawab Arisa mencoba memberitahu yang sebenarnya.
"Kau masih SMA. mau jadi apa kau dewasa nanti? Kau berbuat.... argh Aris! Ayah tak pernah mengajarimu hal seperti itu. Kau memang tidak malu, tapi ayah. Ayah malu Aris!" Arisa tersentak mendengar suara ayahnya yang meninggi dan membentaknya. Arisa hanya bisa menunduk dengan mencengkram ujung baju seragamnya, ia benar-benar tak bisa menjelaskan apapun.
"Kau akan ayah beri hukuman. Dan seminggu ke depan, uang jajanmu ayah potong." Lanjut Yugito dengan tegas lalu meninggalkan ruang kerja menyisakan Arisa yang termenung sendiri.
"Kenapa aku tidak mati saja? Gumamnya menunduk di atas meja.
Setelah Arisa kembali ke kamarnya, ia berbaring dan menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut, ia terlelap perlahan dengan rasa perih menusuk di perutnya. Sampai malam, Arisa masih enggan beranjak dengan bunyi perut yang sudah berisik sejak tadi. Sudah lama Arisa tak lagi menyantap makan malam dan sarapan di rumah. Meski bi Ina dan Tio setiap malam menjemputnya ke kamar, namun Arisa selalu berpura-pura tidur dan tak menanggapi mereka. Begitu pun dengan malam ini, Yugito langsung yang meminta Arisa untuk makan malam. Sudah beberapa kali Yugito memanggil Arisa dari sisi ranjang lainnya, namun tak mendapati jawaban. Justru ia malah mendengar gumaman Arisa tanda putrinya tengah mengigau. Ketika ia berbalik dan hendak meninggalkan Arisa, Yugito terhenti saat mendengar Arisa terisak, dan dengan cepat ia memastikan sendiri dengan membuka selimut di bagian kepala Arisa. Dan ia terkejut melihat Arisa menangis di mimpinya yang terbawa ke dunia nyata, alisnya berkerut dan yang membuatnya heran, mengapa air matanya ikut keluar.
Yugito hendak meraih dahi Arisa agar Arisa tidak terus mengerutkan alisnya saat tidur, namun belum sempat tersentuh, terdengar Rahma memanggil dirinya dan menyuruhnya kembali ke ruang makan meninggalkan Arisa.
"Biarkan saja mas. Kita ikuti saja maunya. Dia sangat susah di atur." Rahma terus bicara sampai ke ruang makan dan melanjutkan makan malam mereka.
. Esoknya, Yugito menoleh ke arah kamar Arisa yang tertutup. Meski begitu, Yugito menyuruh Tio untuk mengecek kamar Arisa dan memastikan bahwa Arisa baik-baik saja. Ia tahu bahwa putrinya hari ini tidak sekolah karena di skors. Dengan sigap, Tio bergegas menaiki tangga dan membuka pintu kamar adik kesayangannya. Ia masuk dan menghampiri Arisa yang masih berada di bawah selimut.
"Aris.. kau tidak sekolah?" Namun Arisa tak menanggapi, ia terus meringis memegangi perutnya yang sudah keram sejak subuh tadi. Tio yang berniat hanya menepuk pipi Arisa saja, malah menjadi terkejut karena ia merasakan hawa panas di tubuh Arisa.
"Aris. Kau sakit?" Pekik Tio yang mendadak panik mencari alat penurun panas yang sempat ia beli minggu lalu. Karena Tio tak kunjung keluar dari kamar Arisa, Yugito segera menyusulnya dan ia termangu mendapati Tio tengah merawat Arisa yang sudah memakai pakaian sekolah, lalu Tio memberikan obat pada adiknya dengan hati-hati.
"Aris. Apa kau sakit?" Tanya Yugito membuat Tio mengepalkan tangannya karena ia tak habis pikir pada ayahnya. Sudah jelas Arisa sangat lemas dan terpasang alat penurun panas di dahi adiknya, dan ayahnya masih saja bertanya seperti tak peduli.
"Panas tinggi suhunya 39 derajat dan lambung." Jawab Tio terlanjur kesal.
-bersambung
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 70 Episodes
Comments