Bab 15

. Setelah mengetahui Arisa yang sudah tak ingin satu kampus dengannya, Raisa selalu murung akhir-akhir ini. Apa lagi saat melihat kebersamaan Arisa dan Tio yang tak pernah ia rasakan semenjak di nyatakan sakit. Selama pengobatan dan perawatan berlangsung, ia menghabiskan waktunya hanya dengan orang tuanya saja. Tio sudah jarang menemuinya, sekalipun keduanya ada waktu bersama, namun sikap Tio tak seperti saat bersama Arisa. Begitu pun dengan malam ini, dimana tak seperti biasanya Tio tak makan malam bersama. Rahma mencoba mencari keberadaan Tio, dan sesuai perkiraan, Tio tengah berada di balkon kamar Arisa. Keduanya bercanda dengan perang bantal sehingga beberapa kali Arisa terkena pukulan dari Tio. Rahma yang semula ingin menegur mereka, niatnya seketika urung melihat betapa bahagianya Arisa dengan Tio. Kebahagiaan yang tak bisa ia berikan pada putri bungsunya, dan ia justru lebih sering memarahi Arisa tanpa sebab. Rahma memutuskan untuk kembali ke ruang makan tanpa membawa Tio dan Arisa.

"Mana Tio?" Tanya Yugito setelah menunggu lebih lama sejak istrinya kembali dan Yugito tak mendapati Tio menyusul.

"Sedang bermain dengan Aris." Sontak Raisa berhenti mengunyah mendengar jawaban ibunya. Makanan di mulutnya mendadak terasa hambar dan bahkan nafsu makannya menjadi hilang entah kemana.

"Kenapa tidak di suruh makan?"

"Aku tak ada hati mas. Mereka terlihat menikmati kebersamaan mereka."

"Tapi Aris tak akan makan jika tidak di suruh."

"Mau bagaimana lagi mas. Kita yang membuatnya tak mau makan di rumah."

"Kita bagaimana? Kau ibunya, harusnya kau lebih memperhatikan Aris."

"Yah... peran ibu yang selalu di salahkan. Tak apa. Aku memang salah mas."

Raisa beranjak setelah ia meneguk air di dalam gelas. "Maaf Rais izin ke kamar sekarang." Tuturnya kemudian berlalu tanpa menghiraukan panggilan orang tuanya.

Ketika di ujung tangga, ia berpapasan dengan Tio dan Arisa yang terlihat akan pergi ke luar malam ini.

"Kau sudah makan?" Raisa mengangguk menanggapi pertanyaan kakak sulungnya. Tio pun mengangguk tanda ia mengerti lalu kembali merangkul pundak Arisa dan berlalu dari hadapan Raisa. Keduanya berjalan dengan santai melewati ruang keluarga yang di sana ada Yugito yang baru muncul dari ruang makan.

"Mau kemana?" Tanya Yugito merasa penasaran pada kedua anaknya yang begitu saja melewati ruang keluarga.

"Oh... aku dan Aris mau ke depan."

"Ke depan kemana?"

"Ke minimarket. Kenapa? Ayah mau beli sesuatu?"

"Apa yang akan kau beli?"

"Camilan."

"Di rumah sudah banyak makanan, dan kau mau beli dari luar?"

"Yaa camilan Aris sudah habis ayah. Jadi--"

"Kenapa tidak makan di rumah?" Suara Yugito kian meninggi membuat Arisa menghimpit di belakang Tio.

"Apa tak boleh jika aku dan Aris ingin ke luar?"

"Terserah kau saja." Yugito beranjak pergi dari hadapan Tio dengan wajah yang sudah begitu kesal. Bukan karena Tio yang melawan, tapi karena Yugito tak tahu caranya membuat Arisa agar mau makan di rumah. Tio bergegas ke luar dari rumah sebelum malam semakin larut. Kendati demikian, Tio malah mengajak Arisa untuk berjalan kaki menyusuri jalanan komplek yang luas. Dan membutuhkan waktu 20 menit untuk sampai di minimarket yang terletak di persimpangan. Setelahnya, mereka kembali dengan keadaan kelelahan. Tio yang sama-sama sudah pegal di bagian kaki, ia memilih untuk beristirahat di pos gerbang rumahnya.

"Tuan... apa tuan baik-baik saja?" Tanya salah satu bawahannya dengan khawatir.

"Tak apa. Aku baik-baik saja." Melihat kakaknya yang kelelahan, Arisa malah tertawa kecil dengan lirikan mengejek pada Tio.

"Kenapa tertawa?"

"Kakak ini bagaimana? Kakak yang mengajak jalan kaki, tapi kakak sendiri yang kelelahan."

"Hehe... yaaa itu karena kakak sudah tua..."

"Hemmm mengaku tua? Ya tapi memang kakak sudah sangat tua."

"Ehhh kau mengejek kakak?" Tio mulai usil pada adiknya setelah ia merasa di ejek. Ia mengacak rambut Arisa sampai berantakan tak karuan. Di tengah keusilannya yang begitu senang melihat adiknya tersiksa, terdengar suara ponselnya berbunyi. Dilihatnya siapa yang menelepon, lalu dengan cepat Tio menjawab panggilan dari gadis yang di ketahui adalah pacar dari sahabatnya. Diana, pacar Seno yang sangat dekat dengannya.

"Kenapa Di?" Tanya Tio setelah menggeser tombol untuk menjawab telepon.

"Tio... apa kau bisa menemuiku di taman?" Tio menyernyit mendengar suara Diana yang tertahan, seperti tengah menahan tangis atau menyembunyikan tangis.

"Bi... sa. Tapi apa akan baik-baik saja jika Seno tahu kau dan aku bertemu?"

"Tak apa. Dia sudah tahu kalau aku akan bertemu denganmu."

"Kalau ada apa-apa jangan salahkan aku ya!"

"Iya." Setelah mendengar tanggapan singkat Diana, Tio beranjak lalu mengajak Arisa ke rumah, sekalian ia mengambil mobil. Sudah biasa jika Tio berpergian tanpa adanya pengawalan. Selain karena ia laki-laki, Tio juga tak suka jika terus di anggap lemah oleh ayahnya. Tio berjalan dengan cepat di ikuti Arisa dari belakang.

"Kakak... pelan-pelan jalannya. Aris tertinggal." Protes Arisa dengan langkah yang mulai gontai.

"Kakak buru-buru. Kamu diam saja dulu di sini! Nanti akan kakak bawa pakai mobil." Balas Tio menoleh sesaat lalu kembali berlari semakin jauh dari Arisa. 'Bugh' Tio terhenti mendengar suara Arisa yang terjatuh lalu meringis kesakitan di belakangnya. Dengan cepat ia kembali menghampiri Arisa yang memegangi lututnya dengan celana yang sudar sedikit robek seraya terus meringis dengan mata terpejam. Terlihat pula jajanan Arisa yang tergeletak dan berantakan.

"Kenapa tak hati-hati?"

"Kaki nya malah tersandung." Rengek Arisa kemudian menaikkan celananya sampai lutut sehingga menampakkan luka yang terlihat berdarah.

"Sakit?"

"Perih." Arisa menjawab dengan wajah polosnya.

"Tuh kan. Sini kakak gendong." Dengan wajah berseri, Arisa mengangguk antusias lalu merentangkan tangannya.

"Dasar manja." Cetus Tio seraya bersiap untuk menggendong Arisa dan mengambil semua camilan yang sudah berantakan. Arisa tersenyum dengan riang memeluk leher Tio dan keduanya menyusuri taman seperti anak yang masih menginjak sekolah dasar. Raisa mencengkram gorden saat melihat betapa bahagianya Arisa yang bisa begitu dekat dengan kakaknya. Tanpa ia sadari, Arisa pun merasakan hal yang sama ketika melihat dirinya yang begitu dekat dengan Rahma. Raisa berpaling dan beralih menaiki tempat tidurnya, ia menyelimuti seluruh tubuhnya tanpa ada yang nampak sedikitpun. Matanya terpejam perlahan dengan air mata yang mengalir membasahi sebagian pelipisnya.

. Setelah mengantarkan Arisa ke dalam rumah, Tio meminta Bi Ina untuk merawat luka Arisa dan ia bergegas menemui Diana. Sampai di tempat Diana, Tio yang hendak meminta maaf pun mematung ketika gadis itu tiba-tiba memeluknya sembari menangis.

-bersambung

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!