Bab 18

. Tio membalut luka Arisa dengan perban dan berharap pendarahannya segera terhenti. Ia kemudian mendekap sang adik dengan penuh kehangatan sehingga Arisa sendiri merasa lebih tenang setelah lelah ia menangis.

"Sebenarnya kalian kenapa? Guci di dekat dinding bisa sampai jatuh dengan tangan Aris." Rahma mencoba mencari tahu akan rasa penasaran yang terus memenuhi pikirannya.

"Apa kau tersandung?" Yugito ikut bertanya dengan mengelus kepala Arisa dengan lembut.

"Sudah tak apa.... kalau masih perih, nanti kita ke dokter ya!." Tio menenangkan seraya membujuk dan Arisa hanya mengangguk saja menanggapinya. Wajahnya sudah terlihat pucat karena rasa sakit yang menusuk ketika Tio mempererat ikatan perbannya.

"Mau ke kamar." Pinta Arisa di sela isak tangisnya yang belum reda.

"Iya ayo. Kakak temani." Dengan sigap, Tio beranjak lalu menemani Arisa ke kamarnya dan ia sekalian menemani tidur Arisa malam ini. Ia khawatir jika tengah malam nanti, Arisa ingin sesuatu. Entah itu makanan, minuman, atau pun sekedar ke toilet. Beberapa panggilan masuk dari Rama tak satupun ada yang di jawab oleh Arisa.

Rama yang mulai khawatir pada Arisa pun berniat untuk mencari tahu sendiri dengan datang langsung ke rumah Arisa. Namun, langkahnya terhenti saat ia melihat Dimas sudah berada di depan pagar rumahnya.

"Mau ke mana?" Tanya Dimas dengan tegas.

"A-anu Bang... mau ke...."

"Kemana?" Tanya Dimas sekali lagi, dan Rama masih terlihat gugup. Ia seakan tak bisa menjawab pertanyaan kakaknya yang dirasa begitu menekan. Tepat ketika Rama akan menjawab kembali pertanyaan Dimas, bunyi ponselnya berhasil menyela obrolan canggung mereka.

"Aris... kau kemana saja? Kau baik-baik saja kan?" Tanyanya begitu panik setelah menggeser tombol di layar ponselnya.

"Tak apa Rama. Aku ada masalah sedikit di rumah. Ugh." Jawab Arisa dengan sebuah rintihan kecil yang sengaja di tahan. Arisa menatap tajam pada Tio yang tak sengaja menyenggol tangan Arisa sehingga menyebabkan adanya rasa linu yang menjalar ke seluruh bagian tangannya.

"Kau gila." Ucap Arisa tanpa suara.

"Maaf. Tak sengaja. Hehe." Begitupun dengan Tio yang sama-sama meminta maaf tanpa mengeluarkan suaranya sedikitpun. Setelahnya Arisa kembali berbincang dengan Rama dan secara tak langsung ia sudah mengabaikan keberadaan Tio di sampingnya. Kemudian Arisa melihat Tio mendapat sebuah panggilan dari seseorang yang mengharuskan Tio untuk pergi menjauh dari Arisa. Meski merasa penasaran siapa penelepon tersebut, namun Arisa memilih fokus pada obrolannya dengan Rama.

Diluar, Tio menghela nafas sesaat sebelum ia memulai obrolan.

"Kenapa Di? Ada masalah?" Tanyanya kemudian.

"Tidak." Jawab Diana dari seberang dengan begitu singkat dan terdengar santai.

"Lalu?"

"Hanya ingin menghubungimu saja."

"Benarkah?"

"Heem! Tapi.... sebenarnya aku ada satu permintaan. Apakah boleh?"

"Apa itu?"

"Aku ingin kau datang ke acara fashion minggu ini. Temani aku ya! Bisa kan?"

"Emmmm bisa tidak ya?"

"Ihh serius Tioooo...."

"Akan aku usahakan."

"Baiklah. Bisa atau tidaknya, kau harus datang."

"Aih memaksa."

"Memang weeeee..." mendengar ejekan Diana dari seberang, Tio terkekeh lalu tertawa terbahak-bahak membuat Diana sendiri merasa terheran.

"Kenapa tertawa?" Gerutu Diana membuat Tio semakin ingin tertawa lebih keras.

"Apa aku sudah bisa memanggilmu pacar?"

"Eh?"

"Kenapa eh?"

"Maksudmu apa Tio?"

"Maksudku ya itu. Apa aku sudah bisa memanggilmu pacar? Kau pacarku kan? Bukankah kau bersedia akan menemaniku dan aku juga bersedia menemanimu. Kalau bukan pacaran, terus menurutmu itu apa?" Tanya Tio seraya menjelaskan maksudnya. Diana hanya diam dan tak memberi tanggapan apapun, semula Tio mengira panggilan teleponnya terputus, namun saat ia lihat sendiri, telepon masih tersambung.

"Hemmm apa aku terlalu berharap? Yahh wajar saja. Kau pasti belum bisa lepas dari Seno. Maaf ya aku lancang. Lupakan ungkapanku barusan! Anggap saja aku tak mengatakannya ya!" Ujar Tio selanjutnya dengan menghela nafas dalam dan gusar. Ia seperti menyesal sudah mengatakan hal yang tak perlu di ungkapkan.

"Ya sudah Di. Aku tutup ya. Dan nanti akan aku usahakan untuk datang." Ucapnya lagi setelah menunggu Diana yang tak berucap sama sekali.

"Aku rasa begitu Tio." Kini baru terdengar suara Diana, sehingga Tio yang hendak memutus panggilan pun berubah pikiran. Ia semakin sendu dengan tanggapan Diana yang ia kira jawaban atas ungkapannya tentang Diana yang belum bisa lepas dari Seno. Ia berpikir sudah terlalu berharap pada mantan dari sahabatnya ini.

"Maaf ya Di. Lupakan saja ucapanku tadi." Kali ini giliran Diana yang terheran dengan penuturan Tio yang berubah haluan.

"Ternyata kau sama saja dengan Seno." Cetus Diana membuat Tio menyernyit tak mengerti maksudnya.

"Seperti Seno? Maksudnya?"

"Ihhhh dasar playboy. Sudah membuatku tersentuh karena ungkapanmu, terus sekarang kau malah memintaku untuk melupakannya? Jangan menggangguku lagi. Lupakan tentang aku yang mengajakmu ke acaraku. Aku membencimu." Teriak Diana dari seberang dan langsung memutus panggilan tanpa ingin mendengar suara Tio lagi.

"Eh? Kenapa dia? Aku playboy? Argghhh siapa yang playboy? Pacar saja tak punya. Apa ucapanku salah? Tidak kan? Justru aku tak mengerti. Aku menyuruhnya melupakan ungkapanku karena aku pikir dia masih mencintai Seno. Dan dia menjawab 'aku rasa begitu'. Dasar wanita. Sulit sekali membaca pikirannya." Geram Tio dengan suara keras sehingga Arisa bisa mendengarnya dengan jelas kemarahan Tio di luar.

"Ehemmmm ada yang bertengkar dengan pacar!" Sindir Arisa dari pintu balkon. Sontak Tio menoleh pada Arisa yang menatapnya penuh ejekan. "Aku juga wanita loh kak." Lanjutnya sedikit mengeluh.

"Aris. Kalau kau marah pada Rama, tapi itu hanya salah faham. Kau ingin Rama melakukan apa untukmu?" Tanya Tio mendadak antusias dengan meraih bahu Arisa.

"Ya... aku mau dia menemui ku dan menjelaskan dengan detail bahwa semua itu hanya salah faham." Jawabnya seraya berpikir. Tio bergegas berlalu dari hadapan Arisa dengan tiba-tiba.

"Terima kasih Aris. Kakak pergi dulu ya." Teriaknya yang sudah berada di pintu lalu menutupnya perlahan. Arisa teringat sesuatu lalu menyusul Tio dan segera memberitahu Tio.

"Bawa bunga dan coklat kak." Teriak Arisa dari atas. Tio memberi kode 'ok' pada Arisa seraya terus berlari keluar rumah. Tak lama, terdengar suara mobil Tio melaju menjauh dari kediamannya lalu menembus jalanan yang mulai sepi karena sudah malam.

. Sampai di tempat tujuan, Tio menghela nafas dalam sesaat lalu mengetuk pintu dan mencoba memanggil pemilik rumah. Tak lama, ada seseorang yang membuka pintu, dan seketika itu juga Tio menyodorkan bunga dengan menunduk dan mata terpejam.

"Aku minta maaf, dan aku mencintaimu Diana." Pekiknya tanpa tahu siapa yang berada di depannya.

-bersambung.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!