. Tio ragu-ragu untuk membalas pelukan Diana yang terasa seperti sedang frustasi. Namun, perlahan ia meraih kepala Diana dan mengelusnya dengan lembut berharap gadis di pelukannya ini bisa tenang. Tio tak ingin bicara sebelum Diana yang memulainya sendiri, dan ia tak ingin tangsi Diana semakin menjadi karena pertanyaannya. Tangis Diana kian mereda meski masih terdengar sesenggukan keras karena belum reda sepenuhnya. Setelah itu, Diana melepas pelukan dan mulai membersihkan wajahnya yang susah berantakan karena air mata.
"Tio. Apa keluarga kaya selalu ada perjodohan?" Kini Diana bertanya dengan menunduk dan belum sepenuhnya tenang dari tangisnya.
"Sebenarnya tergantung keluarga." Jawab Tio ikut menunduk setelah ia mengerti maksud dari pertanyaan Diana. Yang tak lain adalah adanya perjodohan Seno dengan gadis lain.
"Apa karena ini kau putus dengan Seno?"
Diana menggeleng pelan seraya terus berusaha agar dirinya tidak menangis lagi. "Awalnya bukan. Dia bilang sudah tak mencintaiku lagi, tapi aku merasa janggal dengan alasannya yang tak masuk akal. Aku melihat dia bagaimana sebelumnya padaku, dan tak mungkin hanya karena hilang perasaan dalam sehari, ia langsung memutuskan hubungan denganku. Dan tadi sore, aku tak sengaja mendengar percakapannya dengan Lusi. Mereka di jodohkan oleh orang tuanya." Diana menjelaskan dengan suara yang kian lirih meski sebelumnya ia begitu lantang.
"Lusi ya? Maaf Di. Tapi aku benar-benar tak tahu tentang ini. Beberapa bulan ini aku dan Seno jarang bertemu. Aku pikir kau dan dia baik-baik saja."
"Aku tak tahu harus bagaimana, jadi aku langsung memintamu ke sini. Rasanya untuk pulang saja aku tak mau. Aku tak punya semangat hidup lagi Tio."
"Sut... hei... jangan bicara begitu. Kita semua sebagai manusia pasti punya masalah sendiri." Tio meraih kedua pipi Diana seraya menyeka air mata yang terus keluar dari kelopak mata Diana.
"Kau berkata begitu karena kau tak merasakan apa yang aku rasakan." Pekik Dinda menepis kedua tangan Tio dengan kasar. Tio hanya bisa tersenyum getir menanggapi ucapan Diana tersebut.
"Dalam masalah percintaan, aku memang tidak merasakannya Di. Tapi aku merasakan hal yang sama dari masalah lain. Dan itu lebih membuatku putus asa dari sekedar patah hati." Sontak Diana mulai terdiam, dan tangisnya pun mendadak mereda. Hatinya terenyuh melihat Tio mulai menitikkan air mata dengan begitu deras. Diana merasakan rasa sakit yang mendalam dari setiap tetesan air mata Tio yang jatuh begitu saja tanpa melewati pipinya.
"Tio... apa aku menyinggung perasaanmu?" Diana mulai merasa khawatir pada Tio yang menangis tiba-tiba.
"Di... jika kau ingin melupakan Seno, di sisiku saja. Aku juga butuh seseorang untuk menguatkan ku. Tolong.... aku tak peduli jika kau pernah menjadi pacar sahabatku, tapi selama kau bersamaku, aku merasa tenang. Selama ini aku menjaga jarak karena kau milik orang lain, tapi sekarang aku tak akan ragu lagi. Di! Aku mohon temani aku. Dan aku akan menemanimu dalam proses penyembuhan hatimu yang mungkin sekarang tengah hancur karena Seno." Mendengar permintaan Tio, Diana hanya terdiam membisu, ia tak mengiyakan ataupun menolak. Kendati demikian, dalam hati kecilnya, Diana bersedia menemani Tio jika benar Tio akan menemaninya juga. Ia sudah tahu karakter Tio bagaimana, dan ia juga akan dengan mudah menghadapi sikap Tio jikalau nantinya Tio membuat kesalahan. Ada satu hal yang membuatnya tertarik pada Tio ialah, kesetiaan dan sikap acuhnya pada gadis manapun sehingga Diana beranggapan bahwa siapapun gadis yang menjadi pendamping Tio, ia akan menjadi gadis paling beruntung.
"Apa pantas aku berharap bisa menjadi gadis beruntung itu?" Batin Diana meraih wajah Tio lalu menyeka embun yang nyaris terjatuh dari pelupuk mata Tio.
"Kita berjalan sama-sama." Ucap Diana seraya tersenyum memberi semangat pada Tio.
. Jadwal setelah ujian memang sudah tidak efektif. Hal itu di gunakan Arisa dan Rama untuk mendaftar ke kampus Xxxx. Dan keduanya sama-sama mengambil jalur prestasi dan dengan jurusan yang sama. Selama masa bebas dan tak belajar, Arisa, Rama, Naufal dan Reski hanya menghabiskan waktu di perpustakaan. Mereka berempat hanya membaca buku random untuk sekedar mengisi waktu kosong mereka. Dan pulangnya, Rama selalu mengajak Arisa ke rumahnya dan itupun hanya sekedar mengisi waktu luang Arisa. Jika di bandingkan pulang ke rumah, Arisa lebih suka jika berada di rumah Rama. Hari ini, tepat ketika Arisa sampai, Rama mendapati ibunya tengah membuat camilan untuk Arisa. Dengan antusias, Arisa ikut serta membuat camilan yang spesial di buat untuknya.
"Telurnya?" Arisa terlihat keheranan dengan bahan-bahan brownies yang tak seperti biasa.
"Rama bilang, kamu alergi telur. Jadi ibu coba buatkan yang hanya memakai 1 telur saja. Siapa tahu berhasil ya." Mendengar hal ini, senyum Arisa mengembang dengan mata yang berbinar. Bisa-bisanya orang lain lebih peduli padanya dari pada ibunya sendiri.
"Terima kasih ya bu.... Aris bersyukur bisa bertemu dengan ibu. Aris juga bisa merasakan bagaimana kasih sayang seornag ibu." Arisa yang sudah tak bisa menahan dirinya, kini memeluk Diah dengan erat layaknya seorang anak pada ibu kandungnya. Diah merasa termangu, ia membalas pelukan gadis kecil yang ia pikir sudah bergelimang kasih sayang dari orang tua, dan sudah merasa bahagia dengan harta yang ia punya. Tapi nyatanya, anak ini begitu kesepian, sampai hampir setiap hari ia datang ke rumah dan selalu membawakan apapun untuk di makan bersama.
"Pantas saja." Batin Diah mengingat kebiasaan Arisa akhir-akhir ini.
"Nak... ayo lanjut buat kue nya." Seketika itu Arisa langsung melepas pelukannya dengan tersenyum kikuk.
"Hehe iya bu maaf." Diah hanya tersenyum melihat tingkah Arisa yang ternyata begitu berbeda dari sebelumnya.
Setelah dirasa selesai, Arisa terlihat begitu gembira karena ia bisa membuat sesuatu dengan peran seorang ibu. Rama tersenyum dari ambang pintu dengan bersandar dan memangku tangan.
"Cieee di tatap terus. Makin cinta ya Bang?" Ejek Gilang yang tiba-tiba berada di samping Rama.
"Eh... anak kecil dari mana tahu cintan" pekik Rama tak kalah mengejek dengan ekspresi seolah ia terkejut. Gilang tertawa puas seraya berlari karena takut jika Rama akan memukulnya.
"Eh tapi Bang. Mbak Aris itu baik ya? Biasanya kan orang kaya sikapnya selalu angkuh, sombong, terus.... kurang enak lah di pandangnya meski cantik juga. Hmmphh Abang beruntung dapat bidadari seperti mbak Aris." Mendengar ungkapan Gilang tersebut, Rama hanya bisa tersenyum seraya meraih dadanya berpikir ia tak seberuntung itu, ia bisa mati kapan saja karena penyakitnya.
-bersambung
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 70 Episodes
Comments