Episode 20 Sampai Di Kota

Empat hari telah berlalu, setelah Fathian dan Rain pergi meninggalkan kota Iris. Dengan menempuh perjalanan yang lumayan jauh, akhirnya mereka berdua bisa bertahan sampai saat ini.

“Ktuprak! Ktuprak! Ktuprak! Ktuprak!" Suara kereta kuda berjalan.

“Kalian berdua! lihat di depan! kita hampir sampai!" Kata Pak kusir.

“Benarkah? Fathian, Aku akan pergi melihat melalui jendela." Rain pergi membuka jendela kereta.

Saat ini Fathian dan Rain hampir sampai di kota Verdana. Dari kejauhan mulai terlihat jelas, benteng tinggi yang mengelilingi kota Verdana.

“Wah~ ini luar biasa, kudengar katanya, Verdana mendapat julukan anak dari ibu kota," Ujar rain sambil terpukau.

Rain begitu terpukau, ketika dirinya melihat kota Verdana dari kejauhan. Bagaimana tidak, kota Verdana terkenal akan keindahannya dari dalam maupun luar.

Dan yang paling unik dari kota Verdana adalah, setiap bangunannya yang diwarnai cat putih bersih bagaikan susu. Wajar saja, jika kota ini mendapat gelar ‘anak dari ibu kota.'

“Baiklah semua, pegangan erat-erat! kali ini Aku akan menaikan kecepatan!" Ujar Pak kusir.

Pak kusir pun mulai menaikan kecepatan kereta kudanya. Kereta kuda itu melaju cukup cepat dibawah kendali Pak kusir.

“Hiiiiihahhh!!!" Teriak Pak kusir kegirangan.

“WADUH!! WOY! KERETANYA GOYANG!!!" Fathian merasa panik.

“Tenang saja! Semua akan baik-baik saja!!" Pak kusir yang percaya diri.

“Gdubrak! Gdubrak! Gdubrak!" Suara kereta melaju cepat.

“GUSTI!!! PAK! NYEBUT PAK!" Teriak Fathian kepanikan.

“Apa!? ngebut? SIAAP!! HYAAAH!!!" Pak kusir mulai bersemangat.

Dan begitulah cerita mereka, sebelum mereka sampai di kota Verdana.

****

Beberapa saat kemudian.

“Ktuprak! Ktuprak! Ktuprak! Ktuprak!"

“Ckiiitt!" Kereta kuda berhenti.

Disaat mereka sampai di depan gerbang kota, Fathian langsung turun dari kereta dengan cepat.

“Tap! Tap! Tap! Tap!" Fathian berlari.

“UWWEEEKKK!!!" Fathian mabuk kendaraan.

“OHOK! OHOK!! ADUH KEPALAKU BERASA JEP AJEP!" Fathian pusing tujuh keliling.

“Gimana? tadi itu keren, bukan?" Pak kusir mengacungkan jempol.

“Hah ... Hah ... itu gila!" Fathian berlutut kelelahan sambil muntah-muntah.

“Tap! Tap tap!" Rain turun dari kereta kuda.

“Ugh ... Ohok! Ohok! aduuh~ kepalaku ...." Fathian yang pusing.

“Apa separah itu, Fathian?" Ujar Rain sambil memijat punggung Fathian.

Berbeda dengan Rain, dia tidak merasa pusing sedikitpun. Malahan baginya hal ini sudah terbiasa, Karena pengalamannya dulu sebagi budak yang diangkut kereta ke sana ke sini.

“Fathian, sebaiknya Aku memapahmu sampai ke dalam kota," Ujar Rain.

“Ohok! Ohok! makasih ... Rain." Fathian yang lemas.

“Baiklah semua, kalau begitu Aku duluan!" Ujar Pak kusir.

“Tunggu! Bayarannya?" Rain memanggil Pak kusir.

“Bayaran? simpan saja uang itu, bagiku nyawa adalah hal yang paling penting dalam hidupku!" Ujar Pak kusir.

Pak kusir pun pergi meninggalkan Fathian dan Rain sambil melambaikan tangannya. “Sampai jumpa! Fathian, Rain!"

“Ktuprak! ktuprak! ktuprak! ktuprak!" Kereta kuda melaju masuk ke gerbang kota.

“...."

“... Fathian, ayo kita per—"

Fathian pun kemudian melepas tangannya dari pundak Rain. “Aku baik-baik saja, sekarang ... ayo pergi."

Mereka berdua pun pergi memasuki kota, tanpa perlu memikirkan identitas mereka. Berkat kartu identitas yang mereka punya saat ini, mereka tidak perlu khawatir lagi untuk memasuki kota.

****

“Tap Tap Tap Tap ...." Suara langkah kaki terdengar di mana-mana.

Fathian dan Rain saat ini, sedang berada di dalam kota Verdana.

“Hah~ Aku tadi sempat gugup, ketika penjaga gerbang bertanya padaku, itu sungguh memalukan, untung saja penjaga itu baik dalam perkataannya," Ujar Rain.

“Itulah yang ingin kukatakan padamu tadi, Rain." Fathian tersenyum.

“Hm? maksudmu!?"

“Maksudku, Kota Verdana itu terkenal dengan keramahannya, bahkan para prajurit sekalipun." Jawab Fathian.

“Apa!? memangnya ada! hal yang seperti itu?" Rain yang terkejut.

“Terus yang kau lihat di gerbang tadi, apa?" Tanya Fathian dengan wajah datar.

Setelah itu, mereka berdua pun pergi menuju Guild Petualang. Kali ini sebelum mereka bergerak, mereka harus beraktivitas terlebih dahulu di Guild Petualang.

“Tap Tap Tap Tap!"

“Kita sampai, ayo masuk," Ujar Fathian.

Fathian dan Rain pun pergi memasuki bangunan Guild. Dengan langkah kaki yang pelan, perlahan mereka membuka pintu gedung Guild Petualang.

“Hmm, Ini terlihat normal, namun ... Suasana di dalamnya ... Kok cuman sedikit, ya? orang yang hadir di sini?" Tanya Fathian kebingungan.

“Hmm, mungkin saja ... mereka sedang pergi keluar untuk menyelesaikan Quest?" Ujar Rain sambil mengira-ngira.

Disaat Fathian dan Rain kebingungan dengan suasana Guild, tiba-tiba seorang Pria datang menghampirinya.

“Permisi Tuan, ada yang bisa saya bantu? sepertinya anda baru datang ke sini," Ujar pria tersebut.

Fathian pun menoleh ke arah pria tersebut. “Hm? oh? apa kau salah satu pekerja di sini?"

“Benar, Saya bekerja di sini sebagai resepsionis." Jawab pria tersebut.

“Bagus kalau begitu, Aku akan langsung saja, ehm! begini, kedatangan kami kemari ingin menjalankan sebuah quest," Ujar Fathian.

“Quest? apa kalian petualang?" Tanya pria tersebut.

“Ya, kami sebenarnya adalah petualang rank E," Jawab Fathian.

“Hmm, Aku mengerti ... kalau begitu, akan kupilihkan quest yang cocok untuk kalian berdua," Ujar pria tersebut.

Pria itu kemudian pergi meninggalkan Fathian dan Rain di kursi tunggu. Sambil duduk menunggu, Fathian sesekali mengingatkan Rain agar selalu berlatih.

“Aku mengerti, Aku akan mengikuti arahanmu, Fathian." Tatapan mata Rain yang penuh tekad.

“Kau paham? kalau begitu besok kita latihan bareng, nanti Aku siapkan jadwal latihannya, biar teratur," Ujar Fathian.

“Ngomong-ngomong ... kita akan latihan apa, mulai besok?" Tanya Rain.

Mendengar pertanyaan yang keluar dari mulut Rain, Fathian sontak tersenyum kecil.

“Aku akan mengajarimu ... cara menggunakan Sword Aura~" Ujar Fathian.

“Apa!? Kau akan menga—"

Lalu tiba-tiba seseorang datang menghampiri Fathian.

“Permisi Tuan, ini silakan." Resepsionis memberikan lembaran quest.

“Oh! akhirnya! coba kulihat." Fathian kemudian melihat-lihat lembaran quest.

“Bagaimana? Saya sudah memilihkannya untuk anda, dan lembaran-lembaran itu terdiri dari quest tingkat E ke atas, maupun ke bawah," Ujar resepsionis.

Fathian melihat-lihat lembaran quest, satu persatu. Dimulai dari tingkat bawah, menengah, sampai yang ke atas.

“Hmm, quest ini tidak buruk, malahan ... justru ini quest yang paling mudah menurutku." Batin Fathian.

“Fathian, kenapa ekspresimu tidak berubah? apa questnya sangat sulit?" Bisik Rain ke Fathian.

“Hmm, bukannya Aku keberatan, tapi hasil imbalan dari questnya ... lihat." Bisik Fathian sambil menunjukan lembarannya ke Rain.

“Hm? coba kul— eh!? ini ...." Rain yang terkejut melihat lembaran quest.

“Kecil, kan? kalau begini tidak ada pilihan lain, selain mengambil lebih dari satu quest," Ujar Fathian menghela nafas.

“Tuan-tuan? apa quesnya terla—"

“Yosh! Aku akan mengambil 10 quest secara bersamaan," Ujar Fathian.

“Baikla—Hah!? tunggu! sepuluh!? Anda yakin!?" Resepsionis yang terkejut.

Pada akhirnya, Fathian, Rain terpaksa mengambil quest lebih dari satu secara bersamaan. Meski agak terpaksa, tapi apa boleh buat. Karena mereka tidak ingin mendapatkan imbalan yang kecil.

****

Beberapa saat kemudian. Di jalanan kota.

“Oke, kita sudah mendapat persetujuan dari Guild, dengan syarat, misi ini harus selesai dalam dua hari." Fathian mengingatkan Rain.

“Aku mengerti, kalau begitu kita langsung mulai saja," Ujar Rain.

“Yosh~ kita mulai dari yang termudah dulu, di sini Aku melihat misinya adalah mencari tanaman herbal, dan ... hm? Bukannya tanaman seperti ini ... mudah ditemukan?" Fathian membaca lembaran quest.

“Mu—mudah!? bahkan bagiku yang sudah berkelana sebagai budak, tetap saja sulit!" Ujar Rain.

“Percayalah~ kalau kau tau tempatnya, maka kau bisa menemukannya." Ujar Fathian sambil tersenyum.

Setelah mereka memutuskan, akhirnya Fathian dan Rain pergi bersama untuk menjalankan quest.

Sebenarnya mereka berdua bisa saja berpencar dan membagi beberapa tugas. Dengan begitu, pekerjaan mereka akan menjadi lebih mudah dan cepat.

Namun, karena Fathian tidak mau ada sesuatu yang merepotkan, Fathian lebih memilih bergerak bersama dibanding bergerak sendiri-sendiri.

Karena bagi Fathian, Rain masih belum terbiasa bergerak sendiri-sendiri. Apalagi Rain yang baru saja bebas dari perbudakan beberapa hari yang lalu.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!