Episode 8 Perjalanan

“Oke, kalo gitu, ayo bangun." Fathian menarik Tangan Remaja laki-laki tersebut.

“Makasih," Ujar remaja tersebut.

Fathian kemudian menanyai beberapa pertanyaan pada laki-laki tersebut. Dimulai dari nama, asal, sampai kenapa dia bisa di sini.

“Aku Fathian, lalu, siapa namamu?" Tanya Fathian.

“Namaku, Rain." Jawab laki-laki tersebut.

Rain digambarkan memiliki ciri fisik kulit putih, rambut hitam lurus dan panjang sedang. Serta mata yang berwarna emas.

“Umurmu?" Tanya lagi Fathian.

“14"

Mendengar semua jawaban tersebut, Fathian tersenyum lalu mengatakan sesuatu kepada Rain. “Kamu yakin? Kamu mau ikut aku? Aku Mau pastikan sekali lagi."

Fathian menanyakan penawarannya kembali pada Rain, agar Rain yakin dengan keputusannya, untuk mengikuti Fathian.

“Aku yakin! Aku sangat yakin"

Rain menatap mata Fathian, tatapannya seolah mengatakan, bahwa dia yakin dan bersungguh-sungguh. Meski Rain tidak tahu apa yang akan terjadi nanti, tapi dia percaya kepada Fathian.

Mendengar keputusan Rain, Fathian bernafas lega.

“Oke, kalau gitu Rain, tolong kubur mayat-mayat ini, sementara aku akan lihat apa isi kereta kudanya," Ujar Fathian.

Rain kemudian menuruti Fathian, dan pergi untuk mengubur mayat yang sudah dihabisi Fathian sebelumnya.

Sementara Fathian menunggu Rain mengerjakan tugasnya, Fathian melihat-lihat isi yang ada di dalam kereta tersebut.

“Hm? Wah ... Ini serius!? Kalo gitu aku akan pakai yang ada di dalamnya." Fathian mengambil sesuatu di dalam kereta kuda.

Fathian hari ini cukup beruntung, kereta kuda yang ia temukan memiliki banyak perlengkapan dan persediaan yang cukup.

“Aku beruntung, kereta kuda ini adalah kereta dagang." Fathian memilih-milih barang.

Sementara Fathian menjarah kereta kuda, Rain baru saja menyelesaikan tugasnya.

“Anu ... Fathian? Apa sudah selesai?" Tanya Rain ke Fathian.

“Sebentar! Aku ganti baju dulu!" Jawab Fathian agak terburu-buru.

“Baiklah, kalau gitu, aku akan tunggu." Rain duduk menunggu dekat kereta kuda.

****

5 menit kemudian, Fathian selesai berganti baju. Fathian kemudian turun dari kereta.

“Rain! Bagaimana, cocok gak?" Tanya Fathian.

Rain kemudian melihat ke arah Fathian. Rain terkejut melihat penampilan Fathian yang berubah drastis.

“waah ... baju yang bagus, kau seperti petualang." Rain memuji Fathian.

“makasih, sekarang kamu ganti baju, oh! Aku lupa melepas belenggu yang ada di tangan dan lehermu." Fathian lalu menebas belenggu tersebut dengan pedangnya.

“Oke, beres, dengan begini, kau bukan seorang budak lagi." Fathian tersenyum.

Melihat hal tersebut, Rain diam dan tak berbicara. Bagaimana tidak, Rain sudah menjadi budak selama 6 tahun dan di paksa untuk bekerja.

Dan sekarang, dia bebas.

“Yosh, selamat datang, rekank— Huh?" Fathian terjejut.

Rain dengan cepat memeluk Fathian sambil meneteskan air matanya.

“Terimakasih .... Terimakasih ... Hiks! Hiks hiks! Terimakasih!" Rain menangis.

“... Hm~ gak perlu, Rain ... Santai aja." Fathian membalas pelukan Rain.

****

Setelah selesai bersiap, Fathian dan Rain siap berangkat.

“Oke, sekarang baju kita udah ganti, oh ya, Rain! ambil jubah di dalam kereta kuda"

“Baik! Tunggu sebentar!" Rain mengambil jubah.

“Selagi menunggu, Aku mau lihat peta dulu, hmm .... Ini ... Aku dimana!?" Fathian melihat gambar peta namun kebingungan.

“Fathian, ini jubahnya, dengan begini penampilan kita akan terlihat seperti pengelana." Rain memberikan jubahnya.

Fathian kemudian memakai jubahnya, begitupun dengan Rain. Penampilan mereka kali ini sudah berbeda, mereka terlihat seperti pengembara yang berpergian.

“Wah Rain, kamu bahkan lebih cocok ... Dan juga ... matamu berwarna emas ditambah rambut hitamnya, makin badass keliatannya." Fathian memuji Rain.

“Badass?"

“Ah? Maksudku hebat, hehe." Fathian menggaruk kepalanya.

“kamu udah bawa pedang?" Tanya Fathian.

“Aku sudah membawanya." Jawab Rain.

“Baiklah, waktunya berangkat." Fathian berjalan pergi.

Sebelum Fathian pergi, Fathian menghancurkan kereta kuda tersebut dan membakarnya. Beruntungnya Fathian menemukan korek api dan minyak tanah di dalam kereta.

Setelah itu, Merekapun pergi menaiki kuda yang mereka ambil dari kereta kuda tersebut. Namun hanya ada satu kuda, jadi mereka berdua naik bersama.

“Rain, maaf aku gak bisa nyetir kuda," Ujar Fathian.

“Tidak papa, lagi pula aku sudah terbiasa," Ujar Rain.

Merekapun memulai perjalanannya dan pergi menuju Kota.

****

Setelah 3 jam perjalanan, Fathian dan Rain akhirnya bisa melihat sebuah kota. Walaupun agak terlihat samar, tapi itu menandakan mereka akan sampai.

“Rain, lepasin kuda itu, dari sini kita akan berjalan."

“Baiklah." Rain menuruti Fathian.

Mereka berdua turun dari kuda, laku melepaskan kuda tersebut.

“untung saja ... Kalo bukan karena kamu, kita gak bakal bisa sampai sini, Rain," Ujar Fathian.

“Jadi? Apa yang akan kita lakukan sekarang? Fathian." Tanya Rain.

Fathian kumudian menjelaskan rencananya kepada Rain, sebelum tiba di kota nanti.

****

“Hmm .... Berpedang ya ... Aku bisa," Ujar Rain.

“Dia sudah bisa berpedang!? Lalu kenapa dia tidak melawan orang jahat itu!?" Batin Fathian.

“terus, waktu kamu ditahan oleh mereka berdua, kenapa kamu tidak melawan?" Tanya Fathian.

“Itu ... Kau tahu? Awalnya aku juga berpikir seperti itu ketika menjadi budak mereka, mereka melatihku teknik berpedang dengan keras, tapi itu semua sia-sia ketika kalung besi itu menempel di leherku." Jawab Rain.

Oh ya, Dalam novelnya, Rain diceritakan akan menjadi salah satu pemimpin pemberontak, yang ikut kudeta di ibu kota kerajaan.

Namun, karena Fathian sudah mengubah sedikit alurnya, maka kejadian itu tidak akan terjadi di masa depan nanti.

“Aku baru tahu, ternyata dia sudah terbiasa waktu pertama kali menjadi budak? Itu gila ... Penderitaan macam apa yang sudah dialaminya?" Batin Fathian.

“Hmm ... Baiklah, kalau begini aku tidak perlu repot, oh? Kamu udah membagkitkan “mana" belum?" Tanya Fathian.

“Kalau itu ... Aku belum bisa." Jawab Rain.

“Baiklah~ kalau gitu, sebelum kita sampai di kota, alangkah baiknya kamu mempelajari mana terlebih dahulu, aku gak mau ketika sampai di kota nanti, kamu masih belum membangkitkan mana," Ujar Fathian.

“Aku mengerti." Jawan Rain serius.

Setelah itu, Fathian dan Rain berencana untuk mendirikan kemah di hutan, untuk malam nanti. namun sebelum berkemah, Fathian mulai mengajari Rain untuk membangkitkan “mana" nya.

Fathian mengajak Rain, untuk mencari sungai terlebih dahulu. Alasannya, karena aliran air sungai dapat membantu melancarkan ketenangan pikiran. Apalagi ditambah suasana hutan yang sunyi dan suara burung yang bernyanyi.

“Untuk sekarang kita cari sungai dulu, lalu jika sudah ketemu, cari pepohonan untuk berteduh, mengerti?" Ujar Fathian.

“Mengerti"

Rain pergi mencari sungai bersama Fathian, meski waktu sudah hampir siang. Cuaca akan semakin panas karena sinar matahari.

“Fathian, aku menemukan sungainya!" Rain memanggil Fathian.

Fathian melihat sungai yang ditunjukkan oleh Rain. “Ho~ sip, langsung aja, cari pohon dekat sungai."

Rain kemudian mencari pohon dekat sungai, untuk berteduh.

“Ini sepertinya sudah pas!" Rain lalu duduk berteduh dibawah pohon.

“Hm? Ini udah bagus, sekarang kamu duduk bersila, kita akan mulai," Ujar Fathian.

Fathian, kemudian bersiap mengajari Rain, untuk membangkitkan mananya.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!