“Gyaaaaa!!!!!!!"
Suara teriakan terdengar dimana-mana. Suasana di dalam stadion mulai ricuh. para penonton berlarian, berusaha menyelamatkan diri.
Sementara itu, Fathian dan Mita keluar dari tempat istirahat untuk melihat apa yang terjadi.
“Huh? Ini kok orang pada lari-lari? Ada apa ini?" Fathian yang kebingungan.
Tanpa pikir panjang, Fathian memberhentikan seorang pemuda yang ikut berlari keluar.
“Mas! Berhenti! Ngomong-ngomong ini ad—"
“Minggir!!! Lu gak tau? Di dalam ada orang bawa pistol!!" Ujar pemuda tersebut sambil ketakutan.
Pemuda itu mengabaikan Fathian, dan mendorong Fathian kearah samping.
“Ugh!!! Gila! Hampir aja aku jatuh!" Ujar Fathian.
Melihat suasana yang kacau, Fathian bergegas untuk pergi masuk ke dalam stadion.
“Mit, kamu tetep diluar, biar Aku yang masuk!"
“Tapi Kak! Itu bahaya!"
“Mit! Denger kata saya, mending kamu kasih tau orang-orang diluar sana, biar gak masuk ke stadion!" Fathian berlari masuk ke arah stadion.
“Kak!"
Fathian pergi meninggalkan Mita.
****
Kemudian di dalam Stadion.
“Sip! Aku udah di dalam, terus dimana yang lainnya?" Batin Fathian.
Fathian kemudian melihat pak Sanjaya dan anak-anak yang lainnya, sedang bersembunyi dibalik tembok.
Melihat hal itu, Fathian bersyukur, semuanya selamat.
“Keluar!!!! Keluar!!!! Hahahahahah!!!!"
“Hm? Orang itu, jangan-jangan dia penyebab utamanya!" Batin Fathian.
Fathian melihat orang yang menjadi dalang dibalik semua ini. Orang itu memiliki ciri bapak-bapak berjaket hitam, dengan rambut gondrong.
“Hahahaha!!! Ayo!! Keluar!!!! Hahaha"
Orang itu berteriak tidak jelas sambil mengacungkan pistol keatas. Sementara Fathian bersembunyi dibalik meja juri dekat Arena.
“Orang yang ngamuk itu, dia kok kayak gak sehat? Gimana ya bilangnya ... Kayak tahanan RSJ, mungkin." Batin Fathian.
Sebagian orang yang masih ada di dalam Stadion, bersembunyi dibalik kursi penonton dan meja.
Diwaktu yang sama juga, pak Sanjaya melihat Fathian yang bersembunyi di balik kursi.
“Hm? Eh? Itu bukannya Fathian ya?" Tanya pak Sanjaya.
“Eh iya bener pak, ngapain dia masuk? Ini kan bahaya," Ujar Doni.
“Saya gak tau, tapi yang pasti, kita harus amanin dulu anak-anak," Ujar pak Sanjaya.
“Pak ... Gimana nih, kita semua takut ..."
“Pak ... Aku mau pulang hiks ... Hiks!" Salah satu murid menangis."
Karena suara tangisannya yang cukup kencang, hal ini membuat orang dengan pistol tersebut menyadarinya.
“DI SANA!! HAHAHAH, KETAUAN~~ KYAHAHAHAH!!" Orang itu tertawa sambil memainkan pistol ditangannya
“Gawat! Kalian! Tetap di belakang bapak!" Pak sanjaya melindungi peserta dan muridnya.
“Pak! Biar saya aja! Bapak bawa anak-anak yang lain keluar!" Tegas Doni.
“JANGAN!! KAMU AJA SAMA ANAK-ANAK!! DI SINI BIAR BAP— eh?"
Belum saja pak Sanjaya menyelesaikan kalimatnya. Pak Sanjaya melihat Fathian yang berlari menuju orang berpistol itu.
Dengan Cepat Fathian menyerang orang tersebut dari belakang, dengan tendangan lurusnya sambil melompat.
“Kena kau!!!!" Batin Fathian.
Fathian melancarkan serangannya ke arah Bapak-bapak tersebut.
“Aghhhh!!!!!" Bapak-bapak itu terjatuh.
Fathian berhasil menghempaskan orang itu, cukup jauh. Namun, dia tidak menyadari satu hal.
“Pak!!! Doni!!! Sekarang!! Semuanya pergi keluar!!!" Fathian berteriak, menandakan sebuah kode untuk pergi.
“Semuanya!! Cepat keluar dari sini!!" Pak Sanjaya menyuruh sebagian orang yang masih di dalam, untuk segera keluar.
Sementara itu, Fathian mencari pistol yang di pegang oleh orang gila tadi. Fathian juga menghampiri orang gila tadi, yang sedang pingsan terbaring saat ini.
Namun, ketika Fathian menghampiri orang itu.
“Harusnya dia udah pingsan, tapi aku mending jaga-jaga dul— huh!?? Tunggu! Dia masih gerak!?" Fathian melompat mundur.
Fathian yang kaget, melihat tangan orang itu bergerak. Spontan, Fathian menjaga jarak sejauh mungkin.
“Gila!! Aku harus keluar! Dari sini secepatnya! Jantungku gak bisa berhenti berdetak kencang!" Batin Fathian.
“Fathian ayo kelu—" (ucapan pak Sanjaya terputus)
“Brakkk!!!" Suara pintu terbuka.
Mita kemudian muncul dari pintu masuk lain, di stadion.
“Huh!!? Kak!! Kamu disini? Kak buruan kelu—"
Diwaktu yang bersamaan, orang berpistol itu mengangkat tangannya lalu menodongkan pistol kearah Mita.
“kenaaaa~" Ucap orang berpistol.
“Orang ini!!? Dia masih sadar!!!" Batin Fathian terkejut.
“MIT!!! MENJA—"
“DOORR!! DOOR!! DOOOR!!"
Sura tembakan terdengar, seisi stadion.
Pak Sanjaya dan Doni terkejut, melihat apa yang ada di depan mata mereka.
Dalam kejadian itu terlihat, Fathian yang sedang menghalangi arah tembakan itu, dengan tubuhnya. Sambil memegangi pistol Bapak tersebut ditangannya.
“Fathian!!!!!!!" Teriak pak sanjaya dan Doni.
“Huh? Kenapa gak bisa nembak lagi!!! Kenapa!!!" Teriak orang berpistol tersebut.
“Fathian!!!!" Teriak Doni memanggil.
Fathian hanya tertunduk diam, namun perlahan, kesadarannya mulai hilang. Fathian seperti mendengar samar-samar suara di sekelilingnya.
“Cu-cuman ... Tiga ... Pelu ... Ru ya ...." Fathian terkapar.
Doni dan Pak Sanjaya berlari menghampiri Fathian. Di sisi lain, Doni menendang kepala orang gila itu sampai pingsan.
“FATHIAN!! Nak! Bangun!! Bapak bakal panggil ambulan! Tunggu sebentar!!" Pak Sanjaya berusaha membuat Fathian sadar.
Melihat Fathian seperti sekarat, Mita bergegas lari menuju Fathian, sambil menangis.
“KAK!!! KAKKK!!! KAKKK!!!" Mita memegangi bahu Fathian.
Fathian yang masih bisa mendengar suara Mita, namun agak samar. Fathian berusaha mengangkat tangannya untuk meraih pipi Mita.
“Mi ... ta ...." Fathian yang berusaha berbicara.
Dengan pandangannya yang mulai pudar. Fathian berusaha tetap sadar, walaupun dia tau, itu akan sia-sia.
“Kaaaak!! Hiks hiks hiks! Kak!!" Mita memegangi tangan Fathian, dan meletakannya di pipi kirinya.
“Kak!! Kak!! Maaf!! Hiks! Maaf!" Mita menangis sambil memegangi tangan Fathian di pipinya.
“Doni!! Segera cari Bantuan!!!" Tegas pak Sanjaya.
“Tenang pak!! Saya juga ini lagi hubungi ambulan!!" Jawab Doni sambil panik.
“ohok! Ohok!! Ahh ... Ma ... af.... Semuanya ..."
Darah bercucuran dari perut Fathian, membuat Fathian lemas dan kehabisan darah.
“Kak!! Ka— huh? ... Kak?"
Mita terkejut, melihat Fathian yang sudah tidak berekspresi. Matanya masih terbuka, namun tatapannya kosong.
Fathian, sudah tidak bernyawa.
“...."
“...."
Doni, Mita dan pak Sanjaya terdiam. Mereka seakan tidak percaya dengan apa yang ada di hadapan mereka.
“Fa ... FATHIAN!!!!!!!!" Pak Sanjaya menangis, melihat kepulangan Fathian.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 39 Episodes
Comments
Yasser M.
kesel nying
2023-05-29
1