Episode 9 Hampir Sampai

Disuatu tempat, disebuah hutan.

“PTANG!!! PTING!!!"

Suara benturan pedang yang keras, terdengar di sekitar hutan. Suara itu, seolah menandakan ada sebuah pertarungan yang sengit.

“PTANG!! PTING!!! PLANG!!!!"

“Bagus! Pertahankan! Pusatkan aliran mana ke bilah pedangmu, dan jangan biarkan mananya menghilang!" Ujar Fathian.

Suara itu berasal dari Fathian dan Rain, yang sedang tarung pedang. Mereka berdua berlatih mengasah skill mereka, sebelum tiba di kota.

“Haaa!!! Hyaaa!!!" Rain mengayunkan pedangnya.

“Hm? Heup!!!" Fathian mundur dan menghindar.

Menikmati pertarungan tersebut, Fathian merasa bangga dengan perkembangan Rain.

Rain sudah bisa membangkitkan mana dalam tubuhnya.

Namun, Rain masih belum bisa mengontrol mananya dengan baik. Ini dikarenakan, Rain masih belum terbiasa menggunakan mana.

“Haah ... Aku ternyata terlalu berharap tinggi, butuh waktu 4 jam untuk Rain membangkitkan mananya, namun ... Dia masih belum terbiasa." Batin Fathian.

Dalam pertarungan tersebut, Rain nampak kelelahan. mana yang dikontrol olehnya, masih belum bisa dikendalikan sepenuhnya.

“Fathian! Aku masih sanggup! Jadi! Ayo lakukan lagi!" Tegas Rain.

“Aku akui tekadmu itu, tapi ... Apa staminamu masih banyak~?" Fathian menghentikan serangannya.

“Ha ... Ha ... Ugh." Rain menelan ludah.

“Lihat, kan? Baiklah, karena langit udah mau gelap, kita berhenti dulu sampai sini." Fathian berbalik dan pergi.

“Tapi! Aku mas—"

“Memaksakan diri, hanya akan membuat aliran manamu tidak stabil, kita berhenti dulu aja, besok kita lanjut." Fathian bersiap mendirikan tenda.

****

Lalu malamnya, Fathian dan Rain berkemah di dekat sungai. Mereka duduk sambil menatap api unggun.

“Rain, kamu tunggu di sini sebentar, aku mau nyari ikan dulu, kali ini aku udah laper banget." Fathian berjalan menuju sungai.

“Baiklah, aku akan berjaga di sini"

“Hahahaha, gak usah terlalu serius, Rain," Ujar Fathian.

Fathian kemudian pergi mencari ikan di sungai. Fathian melihat sekeliling sungai, Namun Fathian kali ini merasa kerepotan.

“Aduh, kalau tau gini harusnya aku berburu ikan di siang hari, bukan malam!" Fathian menepuk jidat.

****

Sementara itu, Rain memandangi perapian sambil melamun.

“Aku sekarang sudah bebas ... Dan ... Aku tidak terkurung lagi seperti dulu." Batin Rain.

“ ...."

“Huh~ aku tidak boleh berleha-leha, aku harus bisa mengontrol manaku." Rain mengepalkan tangannya lalu bertekad.

Dalam suasana malam yang sepi, Rain berusaha memikirkan bagaimana caranya, agar dia bisa menguasai mana sepenuhnya.

Rain tidak mau, dirinya menjadi beban bagi Fathian di kota nanti.

“Aku ... Aku akan memenu—"

“Rain! Aku dapet ikan!" Fathian muncul secara tiba-tiba.

“Huh!? Fathian? Kau membuatku kaget." Rain mengelus dadanya.

“Ya maaf, aku tadi liat kamu ngelamun," Fathian membawa beberapa ikan yang ditusuk di pedangnya.

“Oke, sekarang kita langsung bakar aja ikannya," Ujar Fathian.

Dibawah langit malam berbintang, mereka berdua menikmati suasana hutan sembari membakar ikan hasil tangkapannya.

“Oke sip, kita tinggal tunggu aja ikannya matang, kalau gitu, Rain aku mau cari ranting dulu." Fathian pergi sebentar.

“Jangan terlalu lama, kudengar di sekitar sini ada monster," Ujar Rain.

Fathian pergi mencari ranting, jaraknya tidak terlalu jauh dari tempatnya berkemah. Karena Fathian hanya perlu menebas pohon di sekitaran sungai, untuk dijadikan sebagai kayu bakar.

Pringatan, jangan tiru hal ini di dunia nyata, karena tindakan ini bisa menyebabkan longsor.

Sepuluh menit berlalu, Fathian kembali ke tempat kemahnya.

“Oke, kayu udah ada, sekarang tinggal—"

“ROARRRRR!!!!"

Belum selesai berbicara, Fathian mendengar suara Auman yang keras, dari jarak yang lumayan jauh.

“Ini!? Sial! Aku harus cepat ketempat Rain!" Fathian berlari menuju ke tempat Rain.

****

“Suara monster!!? Tidak salah lagi," Rain melihat ke arah hutan.

Disaat yang sama, Fathian muncul dari arah hutan sambil berlari kencang.

“Rain! Ayo lari!!! Oh!? Dan bawa juga ikan kita yang lagi dibakar!" Teriak Fathian.

Fathian berlari ke arah Rain, sambil berteriak. Tidak lupa juga, Fathian memberi perintah mendadak kepada Rain.

“Apa!!? Tap—"

“Gak perlu tapi-tapian!! Biarpun setengah matang! Masih bisa dimakan!!!"

Rain menuruti apa kata Fathian, dan langsung membawa lima tusuk ikan yang masih dibakar.

“Good job Rain!! Sekarang ayo lari!!!!"

Mereka berdua lari dengan cepat, menuju arah kota.

“Sial, tempat kota dari sini lumayan jauh! Rain gunakan “mana" untuk mempercepat langkah!" Ujar Fathian.

“Dimengerti!"

Fathian dan Rain menggunakan mananya untuk mempercepat pergerakan mereka. Mereka berdua melesat bagaikan kilat.

“Rain! Aku harap kau terbiasa lari dengan cara seperti ini! Kalau enggak, kamu bisa aja mati!" Ujar Fathian.

“Aku sedang nengusahakannya!" Jawab Rain.

Meski suara auman monster itu jauh, Fathian dan Rain lebih memilih lari menjauh. Ini dikarenakan, Fathian khawatir monster itu melacak keberadaan mereka.

****

“Hah ... Hah ... Hah ... Akhirnya ... Hah~ tadi itu gila! Kalau saja aku dan Rain tidak segera menjauh, pasti akan merepotkan!" Batin Fathian.

“Fathian ... Hah ... Hah ... kau memilih langkah yang tepat, ku kira kau tidak akan lari menjauh." Rain yang terengah-engah.

“Kamu pikir aku bodoh? Gini-gini juga, aku ini waspadaan! Apa lagi jika mendengar auman mengerikan tadi!" Ujar Fathian.

Mereka akhirnya bisa bernafas lega, setelah kejadian tadi. Namun sebelum itu, Fathian menanyakan kondisi makanannya

“Rain, ikannya?"

“Ah!? ... Soal itu ... Karena kita bergerak dengan cepat ... Ikannya terlepas dari tusuk kayunya." Jawab Rain.

“Aduh gusti~" Fathian menepuk jidat.

Namun disisi lain, mereka bersyukur bisa selamat. Walaupun, perut mereka keroncongan.

“Kali ini, ayo cari tempat tidur dulu," Ujar Fathian.

Setelah itu, mereka berencana melanjutkan perjalanan mereka kembali. Setelah mereka menemukan tempat yang nyaman, untuk tidur.

****

Keesokan paginya. Fathian dan Rain melanjukan perjalanan. Mereka berdua menyusuri hutan sambil mengikuti jalan setapak.

“hwah~ hari ini aku kurang tidur," Fathian menguap karena ngantuk.

“Kita berakhir tidur diatas pohon ... Hwah~" Begitupun Rain yang senasib dengan Fathian.

Namun betapa beruntungnya mereka. Mereka melewati sebuah pepohonan yang tinggi.

“Hm? Oh ... Dari sini pohonnya berbe—HEH!? EH ITU DURIAN!!!!" Fathian melirik keatas pohon.

“Huh? Durian? Apa it—"

“Rain! Tebas pohonnya! Aku udah gak ada tenaga, dari kemarin belum makan." Fathian menahan rasa sakit.

“Serahkan padaku"

“SHING!!!" Rain menebas pohon tersebut sampai tumbang.

“BRAK!!" Pohon tumbang.

Mereka berduapun, mengambil buah yang ada di pohon tersebut. Dengan pedang yang mereka bawa, mereka membelah buah Durian.

“Nih Rain, coba." Fathian menawarkan Durian.

Namun, belum saja Rain menyentuh buah tersebut, Rain langsung menjauh karena bau dari durian.

“Huh!!? Ugh!! Baunya!" Rain mundur karena bau buah durian.

“Huh? Kenapa kamu menjauh!? Ini gak beracun!" Ujar Fathian.

“Fathian ... Sepertinya aku tid—"

Fathian dengan cepat memasukan daging buah Durian kedalam mulut Rain.

“Hufff!!! Umm!"

“Telan ... Rain!" Tatap tajam Fathian.

Rain hanya pasrah, dengan apa yang terjadi. Fathian terus memasukan daging buah durian kedalam mulut Rain dengan paksa.

****

5 menit kemudian, Rain terkapar lemas di tanah.

“A ... Aku ... Tidak kuat lagi ...." Rain terkapar.

“Padahal ini enak, ini buah kesukaanku," Ujar Fathian.

Setelah mereka sudah mengisi perut mereka, mereka berdua bisa bernafas lega untuk saat ini. Kemudian, Fathian dan Rain melanjutkan kembali perjalanannya untuk pergi ke kota.

“Rain, aku gak mau bilang ini, tapi ... Kita harus sampai di kota secepatnya, meski kita punya uang hasil dari jarahan kereta kuda kemarin, kita masih saja kesulitan mencari makanan," Ujar Fathian.

“Aku mengerti, untuk saat ini, aku sudah mulai menstabilkan manaku, jadi kau tidak perlu khawatir." Jawab Rain dengan serius.

Mereka terus berjalan menyusuri hutan, hingga menghabiskan waktu 4 jam. Dengan pergerakkan mereka yang cepat, mereka terus berlari menyusuri hutan.

Namun, perjuangan mereka membuahkan hasil.

****

“Akhirnya! Kita sampai, kotanya sudah terlihat di depan sana, Rain, ayo!"

“Baik!"

Fathian dan Rain, siap memasuki kota. Entah apa yang akan mereka hadapi kedepannya, tapi yang pasti, mereka akan bertahan hidup.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!