“Ingat, prioritas kita kali ini adalah mencari informasi, jadi jangan bertindak ceroboh." Fathian menjelaskan tujuannya.
“Aku mengerti, tapi Fathian ... Apa yang akan kita katakan pada penjaga gerbang nanti?" Tanya Rain.
Pelu diketahui, tidak sembarang orang boleh mamasuki kota dengan sembarangan. Untuk memasuki sebuah kota, diperlukan kartu identitas diri.
Cara seperti ini bertujuan agar mengurangi resiko kejahatan dan penyusupan dari luar kota.
“Tenang aja, kita akan lewat jalan rahasia," Ujar Fathian.
“Apa? Jalan rahasia? apa kau serius? Fathian." Rain penasaran dengan perkataan Fathian.
“Percayalah," Ujar Fathian.
Dengan berbekal ingatan Fathian, Fathian berencana masuk lewat jalur rahasia di bawah kota. Namun sebelum melakukannya, Fathian memastikan terlebih dahulu agar tidak ada orang lain yang mengikutinya.
****
13 menit kemudian.
Sesampainya di tempat yang direncanakan. Fathian dan Rain sampai disebuah tempat, yaitu terowongan saluran air bawah tanah.
“Oke, kita masuk lewat lubang ini." Fathian membuka penutup lubang.
“Apa ini aman? Fathian ... Aku ku—"
“Dibawahnya udah ada tangga, jadi tenang aja, nah sekarang kamu buruan masuk!"
“Baiklah!" Rain turun ke dalam lubang.
Sambil menunggu Rain masuk, Fathian melihat situasi sekitar.
“Oke, aman! Kamu udah di bawah belum! Rain!" Panggil Fathian.
“Aman!" Teriak Rain di bawah.
Fathianpun masuk dan menyusul Rain ke bawah. “Tunggu aku! Aku akan turun!"
Setelah berhasil masuk, Fathian mulai membimbing perjalanan. Terowongan yang begitu besar dan gelap, tidak membuat Fathian menyerah dalam mencari jalan.
“Di sini, aku ada korek api, dan ... Minyak tanahnya sisa sebotol lagi," Ujar Fathian
“Itu kan sudah lebih dari cukup, kenapa tidak digunakan saja sekarang?" Rain kebingungan.
“Masalahnya, korek api ini cuman sisa dua biji! Belum lagi kita gak punya bahan untuk membuat obor." Fathian yang kesal dengan segala cobaan.
Perlu diketahui, korek api yang dibawa oleh Fathian adalah korek api gesek atau kayu.
“Oh!? aku lupa, Rain! Keluarkan pedangmu lalu salurkan manamu kedalam pedang"
Mendengar hal itu, Rain menuruti perkataan Fathian. Rain mencabut pedang dari sarungnya, lalu mempraktekkan apa yang Fathian katakan.
“huf ... Haa!" Rain menyalurkan mananya ke dalam pedang.
Seketika, pedang itu mengeluarkan cahaya di bagian bilahnya. Ini disebabkan karena mana yang disalurkan oleh Rain kedalam pedang tersebut, sehingga menghasilkan cahaya yang muncul dari pedangnya.
“Padahal ini teknik dasar, tapi aku malah melupakannya, hadeuh~" Fathian menepuk jidat.
“Rain, maaf Aku memintamu melakukannya, ya ... Itung-itung latihan mengontrol mana melalui pedang," Ujar Fathian.
“Tidak masalah, justru aku tidak keberatan melakukan ini." Rain menatap kedepan sambil menerangi jalan.
Berkat cahaya tersebut, akhirnya Fathian dan Rain tidak kesulitan lagi dalam mencari jalan. Rain menerangi jalan sambil mengikuti arahan Fathian.
“Fathian, apa masih jauh?" Tanya Rain.
“Bentar, aku inget-inget dulu." Jawab Fathian sambil mencari jalan.
Rain dan Fathian tetap sabar dengan cobaan yang mereka hadapi. Karena, kesabaran dapat menentukan keberhasilan mereka untuk mencari jalan.
****
Setelah 1 jam mencari jalan, akhirnya Fathian dan Rain tidak menemukan jalan.
“Gusti!!! Ujung-ujungnya aku gak inget jalannya!!!" Batin Fathian berteriak.
“Hm? Fathian, Sepertinya Aku melihat tangga besi di depan sana." Rain berjalan mendekat ke arah tangga besi yang disebutkan.
Karena Fathian merasa sudah pasrah, kali ini Fathian hanya bisa mempercayai Rain. Fathian berjalan mengikuti Rain, ke arah tangga yang disebutkan tadi.
“Apa ini benar? Fathian?" Tanya Rain.
“Hah ... Aku udah cap— huh? Tunggu! Ini bener!!!" Jawab Fathian.
“Mantap!! Akhirnya ketemu, tapi sebelum itu, biar aku yang naik duluan, aku harus lihat situasinya dulu diatas sana." Fathian menaiki tangga.
Setelah sampai di ujung tangga, Fathian membuka perlahan tutup lubang terowongan. Fathian melihat situasi sekitar, apakah aman untuk keluar atau tidak.
“Hmmm, Rain, kayaknya diluar aman, kamu cepat naik ikuti aku," Ujar Fathian.
“Baiklah." Jawab Rain.
Mereka berduapun sampai diatas, dan berhasil keluar. Fathian bernafas dengan leluasa, karena berhasil keluar dari saluran air bawah tanah.
Mereka berdua keluar dan muncul di gang sempit yang jarang dilewati banyak orang. Namun, justru itu lebih baik. Jika mereka muncul di tempat umum, maka para penjaga akan menangkap mereka.
“Fathian, sekarang kita sudah berada di dalam kota." Rain bersiap dengan pedangnya sambil waspada.
“Hm? tenang Rain, kita disini bukan untuk menyusup atau membunuh, tapi untuk keperluan." Fathian menahan bahu rain.
“Aku mengerti." Jawab Rain dengan serius.
“Oh iya, kalau kupikir-pikir, sepertinya gaya bicaraku kurang sesuai dengan dunia ini, sepertinya aku harus merubah gaya bicaraku mulai sekarang." Batin Fathian.
“Ehm! Oke, Ayo pergi, kita tidak boleh menyia-nyiakan waktu kita," Ujar Fathian.
“Baik!" Jawab Tegas Rain.
Fathian berhasil masuk ke dalam kota, tanpa diketahui oleh para penjaga. Alasan Fathian masuk diam-diam, bukan tanpa alasan. Jika mereka masuk tanpa kartu identitas diri, maka mereka berdua pasti akan dicurigai.
“Tap ... Tap ... Tap ...." Suara langkah kaki.
Fathian dan Rain, keluar dari gang sempit nan gelap.
“Wah ... Ini, Aku gak nyangka ... Ini melebihi ekspektasiku!" Batin Fathian.
Fathian terkejut, melihat suasana di dalam kota. Susana di dalam begitu ramai, seperti yang dijelaskan dalam novelnya.
Rain menoleh ke arah Fathian, sambil kebingungan. Melihat Fathian yang terdiam menatap sekitar, seakan Fathian baru pertama kali memasuki kota.
“Ini di kota apa ya? Aku lupa." Tanya Fathian.
“Kalau tidak salah ... Hmm ... Ini kota Iris." Jawab Rain.
Fathian menoleh ke arah Rain. “Kau pernah ke sini?"
“Tidak, hanya saja ... Sebelum aku bebas, tujuan kedua orang itu bersamaku, adalah ke tempat ini.
“Ah~ Aku ingat sekarang, oke, sekarang ... Hmm ... Kita cari tau tentang Guild petualang," Ujar Fathian.
Fathian berencana menjadi seorang petualang, bersama Rain. Maka dari itu, mereka berdua harus mencari tahu terlebih dahulu, tentang Guild petualang.
Mereka mulai bertanya kepada orang-orang yang ada di kota. Dimulai dari anak kecil, remaja, hingga orang dewasa sekalipun, mereka tanyai satu persatu.
“Kalian bertanya soal Guild Petualang? Kalau soal itu, kalian lurus saja ke depan, nah di sana kalian akan melihat toko roti," Kata seorang Pejalan kaki di kota.
“Terus? Guildnya?" Tanya Fathian.
“Ada di sebelah toko rotinya." Jawab si pejalan kaki.
“Ah ... Terima kasih pak, maaf sudah mengganggu waktunya," Ujar Fathian.
“Baiklah, kalau begitu aku permisi." Pejalan kaki tersebut, melanjutkan perjalanannya.
Akhirnya Fathian dan Rain, pergi ketempat yang sudah ditunjukkan oleh pejalan kaki tadi. Mereka berdua berlari menuju Guild, berharap tidak terlambat mendaftar.
“Fathian, sepertinya ... Itu Guild Petualang." Tunjuk Rain.
“Ah!? Iya benar, Ayo!" Fathian berlari ke arah Guild.
Sesampainya di depan Guild, Fathian dan Rain masuk kedalam. Mereka berdua ingin mendaftar menjadi Petualang, agar bisa mendapatkan kartu Identitas untuk mereka.
“Jadi ini Guild Petualang? Luas sekali ...." Rain terpukau dengan suasana di dalam Guild.
“Rain, di depan ada meja resepsionis, kita langsung kesana," Ujar Fathian.
“Baiklah, ayo!" Rain mengikuti Fathian.
Merekapun sampai di depan meja resepsionis. Di situ, Fathian mulai menemui seorang pria yang ada di meja. Yang di mana, Pria itu adalah resepsionis Guild.
“Permisi pak! Saya mau tanya, apa Aku bisa mendaftar menjadi petualang di sini?" Tanya Fathian.
“Hm? Oh! Iya benar, apa ... Kalian berdua ingin mendaftar?" Pria itu merespon Fathian.
“Oke, langsung ke intinya, beri kami formulirnya pak," Ujar Fathian.
“Baiklah, akan segera saya siapkan, mohon tunggu sebentar." Pria itu pergi sebentar untuk mengambil formulir pendaftaran.
Fathian menunggu sekitar 10 menit, demi mendapatkan formulir pendaftaran. Sambil menunggu, Fathian dan Rain berbicara mengenai rencana untuk kedepannya.
“gimana? Mengerti? Kalau begitu ka—"
“Tuan yang disana, ini formulirnya, silakan diisi dengan jelas dan rapi." Resepsionis itu memberikan formulirnya.
Sebelum mengisi formulir, Fathian mengecek bahasa yang di gunakan di dunia ini, melalui tulisan formulir pendaftaran.
“Hmm ... Oh! Syukurlah~ ku kira bahasanya tidak akan ku mengerti, ternyata sudah di sesuaikan agar bisa dimengerti olehku, terima kasih gusti!!" Batin Fathian.
Setelah menerima formulir, Fathian dan Rain mulai mengisi kertasnya. Dengan arahan resepsionis, Fathian dan Rain bisa dengan cepat dan lancar, dalam mengisi formulir tersebut.
“Oke, ini pak!" Fathian dan Rain memberikan formulirnya.
“Hm? Biar kulihat dulu ya ... Hmm, hmm ... Oke ... Ah ... Eh!? Kalian!? Umur 14 tahun!?" Resepsionis itu terkejut ketika membaca formulir Fathian dan Rain.
Resepsionis itu terkejut, karena melihat data yang di isi oleh Fathian dan Rain. Bagaimana tidak, meski Fathian dan Rain berumur 14 tahun, tinggi badan mereka terlihat seperti orang dewasa.
“Ya ampun ... Anak jaman sekarang, pertumbuhannya luar biasa ... Haha." Resepsionis itu takjub sekaligus heran.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 39 Episodes
Comments